"Selamat datang." Seorang pria tegap menyambut kedatangan Dean. Wajahnya terurus, inilah lelaki yang memiliki rahang tegas yang sesungguhnya.
Pakaian putih yang dia kenakan memantulkan pancaran wajah lelaki itu sehingga terlihat matang dan cerah.
"Ah-se-selamat datang." Dean tergagap.
"Ikutlah," kata lelaki itu.
Sontak Dean menyentuh kalungnya dan tidak ada yang berubah. Bunga tetap bermekaran indah, langit tetap biru dengan awan yang berarak seputih kapas.
Ini nyata, batin Dean terus bergumam. Lelaki itu penuh senyum, sepanjang jalan entah ke mana Dean disambut orang orang yang ramah dan manusiawi. Tidak seperti di pulau Marai yang semua penduduknya tidak pernah senyum dan jika dilihat melalui segara biru maka hasilnya mengerikan.
"Kedatangan kalian di pulau Marai memang sudah diramalkan oleh para ketua di sana," celetuk pria itu.
"Hah?" Dean tersentak.
"Persembahan Dewi Laut selalu menyediakan tumbal manusia sebagai persembahan." Lelaki itu mengungkapkan kenyataan lainnya lagi.
Dean seketika ingat teman-temannya, lelaki itu ingin egois dan mengejar semuanya sendirian. Namun, kenyataan yang diucapkan barusan memaksa dirinya untuk ingat pada Valen, Margareta dan juga Mahesa.
"Bagaimana bisa?"
"Orang pulau Marai membuka pintu gerbang kedatangan mereka, membuat kapal feri dari dunia kalian tersesat dan datang ke negeri mereka."
"Bagaimana dengan teman saya, Pak?"
Dalam getaran suaranya, terdengar begitu cemas dan khawatir, ada sesal kenapa dari awal Dean tidak mengajak ketiga temannya untuk ikut ke sana.
"Ini di mana?" bisik Dean. Terlalu lelah seperti dipermainkan oleh alam.
"Pulau Kabut, dan saya Leon." tandas lelaki itu.
"Menjelang malam kabut akan turun, melindungi seluruh penduduk dari serangan penduduk pulau Marai. Kami bukan tidak berani melawan, tetapi sedang menunggu waktu yang tepat untuk bergerak."
Lelaki itu diam sejenak, kemudian memetik buah berwarna merah dan bentuknya mirip apel.
"Ini beracun, sengaja kami tanam di ujung ujung pulau. Ini seperti jebakan untuk menghalau mereka agar tidak datang."
Buah itu terbelah, sepintas tidak ada yang aneh di dalamnya, Dean mengambilnya dan mencium.
"Apa yang terjadi jika makan ini?"
"Tergantung ketahanan si pemakan. Yang lemah akan meninggal hanya dalam hitungan menit."
"Kenapa kamu membawa saya hingga ke sini?" tanya Dean, dengan takjubnya Dean melihat aktivitas warga di siang hari, manusiawi.
Tidak ada wajah pucat bertaring, atau wajah kemerahan dengan rambut yang menutupi hampir seluruh permukaan wajah.
"Karena sudah digariskan juga." tandas laki laki itu.
Sekujur tubuh Dean merinding membayangkan dirinya menjadi tumbal. Dia ragu untuk kembali melanjutkan langkahnya.
"Tidak ada tumbal Dewi Laut di Pulau Kabut. Kami punya cara sendiri untuk hidup lebih makmur. Dan cara kami diperangi oleh semua penduduk pulau Marai." Lelaki itu berusaha meyakinkan di tengah keraguan Dean.
"Jangan takut, kami tidak akan memangsa kamu," ucap lelaki itu.
Mereka kembali berjalan beriringan, setapak di bawah kakinya ditumbuhi rumput hijau yang tebal, empuk seperti menginjak spons.
"Maaf, siapa nama kamu?" tanya Dean.
Lelaki itu tersenyum, dia bahkan sudah mengatakan siapa namanya sejak awal.
"Leon, tadi kan saya sudah kasih tahu."
"Ah, iya, maaf saya lupa."
Tiba di sebuah perkampungan, kedatangan Dean benar benar disambut antusias oleh penduduk pulau Kabut. Wajah wajah mereka tergurat keceriaan tapi menyimpan ketakutan.
Anak-anak kecil berlarian menyambut, wanita dan orang tua tidak mau kalah.
Dean merasa seperti seorang selebritis yang tersesat di tengah lautan fans.
"Hei, Sudah. Biarkan dia istirahat dulu." Teguran Leon membuat mereka menunduk dan meminta maaf.
"Bagaimana caranya saya bisa pulang ke tempat asal?" celetuk Dean.
"Segara biru," cetus Leon. Dean masih mencerna apa yang dimaksud lelaki itu.
"Ah, kalung yang kamu pakai, itu adalah kunci agar kalian bisa pulang ke negeri kalian sendiri."
Dean menerawang jauh, dia tiba tiba merasa sangat marah mengingat Mahesa sudah menghilangkan Segara Biru yang dia miliki.
Lelaki itu membawa Dean ke sebuah rumah, persis seperti penginapan. Tempat sementara yang lebih dari cukup untuk dikatakan sebagai tempat yang layak.
Di Pulau Marai, Valen merasa kebingungan mencari keberadaan Dean usai mandi di air terjun. Dia yang mulai terbiasa melihat segalanya setelah menyentuh Segara Biru mulai mengentaskan rasa penasaran dirinya.
Mencari kebenaran, dan melihat bagaimana Mahesa selalu terpesona dengan Azarine di aula Kemuning.
Di tengah pencariannya, Valen melihat kepala desa beserta beberapa orang pengawal membawa senjata lengkap berjalan tergesa menuju hutan.
Valen itu terlalu muda untuk mengerti yang namanya sebuah risiko. Dia tidak pernah peduli dengan akibat yang akan dia terima jika menantang bahaya.
Mengendap lelaki itu mengikuti rombongan kepala desa, menyusuri belantara dan belukar.
Menghindari tumbuhan berduri dan harus rela tiarap agar kelakuannya tidak diketahui oleh mereka.
Kepala Desa yang semula dia anggap baik wujudnya berubah kala Valen selesai menyentuh Segara Biru.
Wajahnya merah bertaring, badannya tinggi besar dan cukup mengerikan. Entah ke mana pemburuan mereka. Yang pasti seperti sedang mencari sesuatu.
Persis di tengah hutan, Valen melihat sekelebat bayang Dean. Jika dilihat dari tempatnya berdiri, mereka yang datang dengan kepala desa seperti sedang memburunya.
Valen tercekat, lelaki itu terus mengikuti hingga ujung pulau.
Rasa kaget tidak terbendung lagi kala dirinya melihat Dean menjatuhkan diri ke dasar jurang.
Air mata jatuh tiba-tiba. Valen tidak bisa berkata apa apa lagi selain putar balik dan kembali sambil menangisi kenekatan Dean.