Resah yang meliputi Valen menyatukan jutaan rasa dalam satu mimik wajah. Angin yang berembus tidak cukup menyejukkan raga Valen. Perjalanan kembali ke rumah singgah kini terasa begitu jauh. Valen tiba-tiba marah pada keadaan. Seharusnya dia sedang memetakan mimpi demi mimpi. Seharusnya dia sedang menyulam masa depannya. Bukan terjebak dengan ketidakjelasan yang terjadi di Pulau Marai ini. Valen suka lautan, tetapi kini dia membencinya. Valen suka berpetualang di hutan. Dan kini dia merasa ini adalah penjelajahan terakhirnya. Tidak ada lagi jelajah hutan, tidak ada lagi petualangan. Karena pada kenyataannya, tersesat di pulau asing tidak seasik penjelasan saat ikut ekstra kulikuler Pramuka. Terekam dengan jelas bagaimana sang Ayah pergi meninggalkan dunia ini, meninggalkan Valen dan San

