Bintang menatap tajam Naya, untuk sekian kalinya gadis itu mengucapkan kata putus. Bintang benci saat kata itu begitu mudah keluar dari mulut Naya.
Bagi Bintang, Naya miliknya, hanya miliknya. Sekarang, besok, lusa, dan selamanya Naya hanya akan jadi milik Bintang. Apapun yang terjadi.
"Putus?" Bintang mengulangi kata-kata Naya dengan alis yang terangkat sebelah.
Tatapan tajamnya penuh dengan emosi yang siapa meledak kapan saja.
"Kamu milik aku Natasya!" bentak Bintang menggema mengisi ruang kelas Naya yang hening.
"Aku bukan milik siapa-siapa! Kalo pun ada orang yang paling berhak milikin aku di dunia ini, itu cuman orang tua aku!" bentak Naya tak kalah nyaring.
Bintang tertawa pelan. "You are mine!" bentak Bintang menatap tajam Naya.
"Gue bukan milik lo!" balas Naya. Bintang tersenyum sinis lalu mendekat ke arah Naya diikuti langkah mundur Naya hingga punggung gadis itu kembali menyentuh tembok.
"Kamu lupa hari ini orang tua kamu pulang, tepatnya lima belas menit lagi mereka akan landed kamu mau mereka batal landed?" tanya Bintang sambil tersenyum sinis saat melihat wajah Naya yang memucat. Naya melupakan satu hal, Bintang bisa melakukan apapun untuk membuat Naya bertahan di sisinya.
Air mata Naya perlahan mulai mengalir saat menyadari keegoisannya bisa saja membuatnya kehilangan orang-orang yang disayangnya.
"Jadi apa jawaban kamu, sayang?" tanya Bintang sambil mengelus dagu Naya yang terluka karenanya.
Bintang benci melakukan hal ini, tapi hanya ini yang bisa membuat Naya bertahan di sisinya.
"Maaf," lirih Naya akhirnya. Tidak, dia tidak bisa egois dan membiarkan orang lain dalam bahaya apalagi orang itu adalah orang tuanya.
"Untuk?" tanya Bintang tak puas dengan ucapan Naya. Naya mengangkat kepalanya dan menatap Bintang dengan mata merahnya.
"Maaf karena aku ngucapin kata putus, aku salah," ucap Naya dengan air mata yang terus mengalir.
Katakan saja Naya terlalu lemah tapi itulah yang sebenarnya. Naya tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Bintang. Naya hanyalah robot, hanya robot yang selalu berada di bawah kendali Bintang. Naya benar-benar seperti manekin hidup yang tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti perintah Bintang.
"Good girl," ucap Bintang dengan senyum kemenangan, lagi dan lagi Naya kalah.
"Dan lo, ini hanya awalnya! Bintang menunjuk Akbar yang diam menatap Naya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Bintang menghapus air mata Naya lalu mengecup kedua mata Naya yang terpejam.
"You are mine Natasya Allura, only mine." Bintang mengecup hangat kening Naya membuat pipi Naya memerah seketika bagaimana tidak, Bintang menciumnya di depan umum.
Mine. Kata yang selalu diucapkan oleh Bintang.
---
Seperti biasa Bintang sudah menunggu Naya di depan kelas Naya. Dengan posisi coolnya yaitu bersandar di tembok dengan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celana.
"Hm, Bin aku mau ke toko buku, kamu bisa nganterin aku nggak?" tanya Naya saat keluar dari kelasnya.
"Oke," jawab Bintang singkat.
Tidak berapa lama Naya dan Bintang sudah tiba di toko buku. Toko buku itu memang tidak jauh dari sekolah mereka.
Naya tersenyum manis saat melihat deretan novel yang ingin dia beli. Naya sudah menabung selama satu bulan hanya untuk membeli beberapa novel.
Setelah hampir dua jam Naya akhirnya telah selesai memilih sembilan novel yang ingin ia beli.
"Udah?" tanya Bintang yang dari tadi mengikuti Naya.
"Udah," jawab Naya dengan wajah ceria.
"Ya udah yuk." Bintang menggandeng Naya dengan posesif menuju kasir.
"Ini aja Mbak atau ada lagi?" tanya Mbak-mbak kasir.
"Enggak, itu aja Mbak," jawab Naya sambil tersenyum.
"Baik, totalnya 967000 rupiah," ucap Mbak kasir. Naya mengeluarkan uangnya tapi kalah cepat dengan Bintang. Bintang sudah memberikan credit cardnya pada Mbak kasir.
"Eh Bintang," ucap Naya.
"Aku ada kok uangnya," ucap Naya sambil mengeluarkan uang.
"Selama kamu jalan sama aku, aku nggak mau kamu ngeluarin apapun." Bintang menatap Naya tajam tanda tak ingin ditolak.
"Mas nomer pinnya," ucap Mbak kasir itu.
"Tanggal jadian kita," bisik Bintang membuat menatap Bintang tak percaya.
Naya menekan tombol pinnya sesuai dengan apa yang dikatakan Bintang.
"Ini Mbak kartunya dan belanjaannya." Mbak itu memberikan buku-buku yang Naya beli.
"Makasih Mbak," ucap Naya.
"Sini biar aku yang bawain," ucap Bintang mengambil alih buku-buku yang ada di tangan Naya.
"Nih Bin kartu kamu," ucap Naya memberikan credit card Bintang.
"Kamu aja pegang, kan setiap aku jalan sama kamu juga." Bintang tersenyum memamerkan jejeran gigi rapinya.
"Jangan ah kalo kartunya di aku nanti bisa khilaf." canda Naya yang ternyata ditanggapi Bintang dengan serius.
"Belanjain aja, itu unlimited kok," ucap Bintang tepat saat mereka sudah ada di depan mobil.
"Waw unlimited," ucap Naya ingin membuka pintu mobilnya sendiri karena Bintang yang sedang membawa buku-bukunya.
"Aku aja yang bukain," ucap Bintang. Bintang membuka pintu mobil jok belakang dan meletakan buku-buku Naya. Lalu seperti biasa membukakan pintu untuk Naya.
"Aku serius lo yank kalo kamu mau beli apa aja pake aja kartu itu," ucap Bintang, menatap sekilas Naya.
"Hm misalnya aku beliin mobil, rumah, atau perhiasan gimana?" tanya Naya menggoda karena ia pikir Bintang akan melarangnya.
"Beli aja, kan itu buat masa depan kita juga," ucap Bintang seakan tak terpengaruh oleh ucapan Naya.
"Enggak, aku bercanda aja kok," ucap Naya kikuk.
"Tapi aku serius," ucap Bintang menatap Naya dari samping.
"Udah ah, kita makan yuk," ajak Naya mengalihkan pembicaraan.
"Kamu pengen makan apa? hm?" tanya Bintang sambil mengelus kepala Naya.
"Hm, apa aja deh," ucap Naya bingung.
"Oke, ya udah," ucap Bintang.
"Eh tapi bungkus aja makannya di rumah," pinta Naya yang dijawab Bintang dengan anggukan.
"Silahkan Mas-Mbak mau pesan apa?" tanya seorang pelayan.
"Hm Mas, saya mau gurame asam manis, satu. Gurame saos mentega, satu. Cumi goreng tepung, satu. Cumi rica-rica, satu. Udang goreng tepung, satu. Udang galah goreng kering, satu. Itu aja deh, di bungkus ya Mas," ucap Naya.
"Iya Mbak, ditunggu ya," ucap pelayan itu lalu pergi.
"Kamu semua tuh yang makan?" tanya Bintang tak percaya. Tubuh Naya memang mungil tapi porsi makannya bahkan mengalahkan Bintang. Bagi Naya, surga dunia adalah bebas makan apapun.
"Hehe, berdua sama kamu," ucap Naya.
"Kebanyakan ya?" tanya Naya.
"Enggak kok, biar kamu gendut," ucap Bintang.
"Kan makannya berdua sama kamu, jadi gendutnya juga berdua," ucap Naya.
"Aku gendut tetap ganteng," ucap Bintang pede.
"Aku gendut juga tetap cantik," ucap Naya tak kalah pede.
"Kalo kamu gendut ataupun kurus, tetap cantik kok di mata aku," ucap Bintang membuat pipi Naya memerah.
"Oh iya aku keinget anak kecil tadi deh Bin. Aku baru sadar loh namanya mirip sama kamu. Bintang dan Bulan," ucap Naya mengubah pembicaraan membuat ekspresi Bintang berubah, terlihat tidak suka dengan ucapan Naya.
"Bintang dan Naya," ucap Bintang membuat Naya terkekeh.
"Iya-iya Bintang dan Naya," ucap Naya sambil tersenyum manis.
"Aku gak tega deh liatnya, dia sampe mencuri gitu," ucap Naya.
"Terus kamu maunya aku ngapain dia? hm?" tanya Bintang sambil mengelus lembut luka yang ada di dagu Naya.
"Maaf ya, aku gak bisa ngontrol emosi," ucap Bintang sambil terus mengelus lembut dagu Naya.
"Iya gak papa," jawab Naya.
"Please Nay, jangan buat aku emosi lagi. Aku gak mau nyakitin kamu." Bintang menggenggam erat jari jemari Naya lalu mengecupnya lembut.
"Aku boleh nanya?" tanya Naya ragu.
"Apa?" tanya Bintang.
"Kenapa kamu berantem sama Kak Darrel?" tanya Naya dengan nada lembut tak ingin memancing emosi Bintang.
"Maaf Mas-Mbak ini pesanannya," ucap pelayan sambil memberikan pesanan Naya.
Setelah Bintang membayarnya mereka pulang menuju rumah Naya.
---
"Suapin," ucap Bintang saat melihat Naya asik makan sendiri.
"Aku makannya pake tangan, masa aku nyuapin kamu pake tangan," ucap Naya.
"Gak papa, itu kan tangan yang akan ngurusin anak-anak aku dimasa depan," ucap Bintang lagi dan lagi membuat pipi Naya memerah.
Begitulah Bintang, laki-laki yang terlihat sempurna dari luar tapi siapa yang tahu ada sisi tergelap dalam dirinya.