"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Bintang sambil mengelus pipi mulus gadisnya, pipi itu bagaikan candu bagi Bintang.
Saat ini Bintang dan Naya sedang ada di kantin sekolah untuk makan, saat bel istirahat berbunyi Bintang langsung menyeret Naya menuju kantin. Bahkan Naya belum memasukan buku-bukunya ke dalam tas. Bintang itu sangat disiplin tentang jadwal makan Naya.
"Aku mau bakso sama jus jeruk deh," ucap Naya sambil tersenyum. Senyum itu milik Bintang, hanya karena dan untuk Bintang.
"Ya udah aku pesenin dulu ya," ucap Bintang lalu pergi memesan makanan yang Naya inginkan.
"Nih jusnya, baksonya nanti dianterin," ucap Bintang sambil memberikan jus pesanan Naya, yang disambut Naya dengan senyum manisnya.
"Pulang sekolah ke rumah aku ya, Mama kangen," ucap Bintang sambil menatap gadis di depannya yang sedang meminum jusnya.
Bintang tersenyum tipis saat melihat ada noda jus di sudut bibir Naya, Bintang mendekatkan wajahnya pada wajah Naya membuat Naya menahan napasnya, jangan sampai Bintang menciumnya saat ini, di sini.
"Awww." jerit Naya tiba-tiba saat semangkok penuh bakso yang masih dalam keadaan panas mengenai tangan.
"Naya." Bintang menarik tangan Naya dan melihatnya. Tangan Naya mulai memerah akibat kuah bakso itu.
Bintang menatap tajam gadis yang membawa bakso itu. Kini seisi kantin melihat ke arah Bintang dan Naya.
"Maaf," cicit gadis itu pelan dengan tatapan bersalah. Melihat dari pakaiannya Bintang yakin dia adalah anak dari penjual bakso itu.
Tatapan Bintang menggelap saat seseorang membuat gadisnya terluka, baik itu sengaja atau pun tidak.
Padahal tanpa cowok itu sadari yang sering membuat Naya terluka adalah dia.
"Astaga Nina, Nak Bintang maafin anak saya ya," ucap Bu kantin penjual bakso itu sambil menunduk.
Siapapun tahu siapa Bintang Edward yang terkenal dengan tangan besinya.
"Lo mulai besok nggak usah jualan di sini lagi!" bentak Bintang dengan tatapan tajamnya. Ia tidak bisa menerima gadisnya terluka.
"Ya Allah Nak kalo saya nggak jualan di sini, saya mau makan apa," mohon Bu kantin itu dengan mata memerah.
"Gue nggak perduli!" bentak Bintang dengan tidak sopannya lalu menatap Naya yang sudah mulai menangis karena nyeri di tangannya.
Bintang langsung menggendong Naya menuju UKS, padahal yang sakit tangan Naya bukan kaki. Setelah sampai di UKS Bintang mehubungi dokter keluarganya untuk datang ke sekolahnya sekarang. Bintang tidak percaya dengan petugas UKS yang menurutnya abal-abal itu.
"Sayang kamu tahan ya," ucap Bintang sambil meniupi tangan Naya. Air mata Naya terus mengalir karena kuah bakso tadi memang benar-benar panas.
Sekitar sepuluh menit kemudian dokter keluarga Bintang datang dan mulai mengobati Naya.
Bintang menatap tajam dokter yang menangani Naya, kenapa ia bisa begitu bodoh dan lupa kalau dokter keluarganya adalah seorang laki-laki.
"Gimana dok? apa perlu Naya saya bawa ke rumah sakit? atau dioperasi?" tanya Bintang berturut-turut, bagaimana pun ia sangat mengkhawatirkan gadisnya itu. Sedangkan Naya melemparkan tatapan kesal saat Bintang menyebutkan kata operasi.
"Keadaannya baik-baik saja, dan tidak perlu dibawa ke rumah sakit apalagi dioperasi. Tapi mungkin lukanya akan membekas cukup lama, nanti saya tuliskan resep yang bisa kamu tebus di apotek," jelas Dokter itu lalu memberikan secarik kertas kecil yang berisi resep yang harus Bintang beli.
Setelah Dokter itu pergi, Bintang meminta supirnya datang untuk menebus resep.
Bintang dengan rajin meniupi tangan Naya, sesekali Bintang meringis seakan merasakan nyeri yang Naya rasakan.
"Kita ke rumah sakit aja ya," bujuk Bintang khawatir.
"Bintang ini nggak papa." Naya menarik tangannya dari genggaman Bintang.
"Nggak papa gimana? itu merah Naya!" bentak Bintang membuat Naya terdiam.
Bintang menghembuskan napasnya kasar. "Maaf, aku... aku khawatir," ucap Bintang lirih terlihat jelas dia sedang khawatir. Naya sangat berharga baginya. Lebay, Bintang tidak perduli dengan kata itu.
Air mata Naya perlahan mulai turun membuat Bintang tambah merasa bersalah. Harusnya Bintang tidak membolehkan Naya makan bakso atau bahkan tidak membawa Naya ke kantin.
"Maaf," ucap Bintang lagi lalu mengecup lembut tangan Naya yang terluka. Bintang menarik Naya ke dekapannya lalu mencium kening Naya cukup lama.
"Aku nggak nangis karena dibentak kok, udah kebal," ucap Naya sambil menggesekan hidungnya yang berair ke baju Bintang.
"Terus karena apa?" tanya Bintang lembut.
"Nggak papa, aku terharu aja," jawab Naya sambil tersenyum manis.
"Terharu kenapa?" tanya Bintang lagi dengan nada menggoda sambil mengelus lembut rambut Naya.
Naya semakin menyembunyikan kepalanya di d**a Bintang. "Tau ah," ucap Naya salah tingkah.
"Permisi Kak," ucap seorang gadis memasuki UKS.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Bintang dingin dengan tatapan tajamnya. Gadis itu berjalan mendekat dengan kepala menunduk.
Naya melepaskan pelukannya dari Bintang membuat cowok itu melemparkan tatapan tak sukanya.
"Kak maafin aku ya," ucap gadis itu lalu berlutut dan memegangi kaki Bintang.
"Eh, astaga." kaget Naya menatap gadis itu lalu dengan cepat Naya turun dari tempat tidurnya.
"Naya, kenapa bangun?!"
Naya berdecak kesal. "Yang sakit tangan aku, Bintang. Bukan kaki."
"Kak maafin aku, aku nggak sengaja. Kakak boleh nyiram aku pake kuah bakso tapi jangan nyuruh ibu akan berhenti jualan Kak," ucap gadis itu, kali ini memegangi kaki Naya.
"Ya ampun, kamu bangun dulu," suruh Naya tapi gadis itu tetap kekeh tidak ingin bangun. Akhirnya Naya ikut berlutut untuk menyamakan posisi tubuhnya dengan gadis itu.
Bintang semakin menatap tajam gadis yang membuat Naya terluka itu. "Naya," geram Bintang tak suka.
Naya menggigit bibir bawahnya bingung. "Kak aku beneran nggak sengaja," ucap gadis itu sambil menangis membuat Naya bingung.
"Nama kamu siapa?" tanya Naya sambil memegang bahu gadis itu dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya sedang terluka.
"Nina Kak," jawab gadis itu dengan kepala menunduk.
Naya tersenyum hangat pada Nina. "Nina nggak ada yang ngusir Ibu kamu. Ibu kamu tetap boleh kok jualan di sekolah ini. Dan aku juga tau, kamu nggak sengaja jadi gak usah dipikirin ya," ucap Naya lembut sambil mengelus tangan Nina.
"Naya, tangan kamu itu luka!" seru Bintang kesal dengan sikap gadisnya yang terlalu baik itu.
"Nina bangun ya," bujuk Naya tidak menghiraukan kekesalan Bintang yang menurutnya unfaedah itu.
"Bintang tangan aku nggak papa," ucap Naya setelah melihat tatapan tajam Bintang seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Tapi lukanya membekas Naya, susah ngilanginnya," tandas Bintang dengan suara yang naik satu oktaf.
"Tapi kan masih bisa ilang," ucap Naya tak mau kalah.
"Aku nggak suka liat kamu kesakitan kaya tadi," kata Bintang.
"Tapi kan sekarang udah nggak sakit," bujuk Naya sambil menggenggam tangan Bintang yang terkepal keras karena emosi.
Bintang menatap malas ke arah Naya, "Terserah kamu," ucap Bintang akhirnya.
"Nina kamu pergi aja, dan bilang sama Ibu kamu kalian masih bisa jualan seperti biasa," yakin Naya dengan senyum manisnya.
"Alhamdulillah makasih Kak," ucap Nina girang lalu pergi setelah berpamitan dengan Naya.
"Kenapa?" tanya Naya saat melihat wajah kesal Bintang.
Bintang hanya diam dengan tatapan datarnya, "Nggak papa," jawab Bintang ogah-ogahan
Naya kembali duduk di atas tempat tidur lalu menarik Bintang mendekat. Bintang berdiri tepat di depan Naya dan Naya meletakan kedua tangannya di atas bahu Bintang.
Naya menatap Bintang lekat, "Bintang, coba kamu pikir kalo mereka berhenti jualan di kantin mereka mau jualan di mana? mereka mau makan apa?" tanya Naya lembut, mencoba memberi pemahaman pada kalau tidak semua orang semampu dia dan keluarganya.
Bintang berdecak kesal, "Terserah." Bintang mengalihkan pandangannya, enggan menatap Naya.
Bintang menarik hidung mancung Bintang dengan gemas. "Kan tadi dia udah minta maaf juga," ucap Naya lalu mengekus pipi mulus Bintang. Kadang Naya merasa iri pada cowok itu, pipinya mungkin lebih mulus dari Naya.
"Trus emang kalo dia minta maaf tangan kamu jadi sembuh?" tanya Bintang datar sambil melirik tangan Naya yang merah.
Naya menghembuskan napasnya kasar, sangat sulit untuk memberi pengertian pada Bintang. Harus extra sabar.
"Oke, kamu mau apa supaya kamu maafin dia?" tanya Naya membuat Bintang tersenyum penuh kemenangan. Naya hanya tidak ingin Nina dan Ibunya kehilangan tempat usahanya.