Bagian 0.9

1137 Kata
Di sinilah sekarang Naya berada, di kamar Bintang. Menemani laki-laki itu bermain PSnya. Naya pikir Bintang berbeda dengan laki-laki lain yang akan melupakan pasangannya saat bermain games tapi ternyata sama saja, Bintang diam dengan pandangan yang fokus pada layar yang menampilkan permainannya. Namun ada hal yang berbeda, Bintang meminta Naya duduk di pangkuannya. Awalnya Naya menolak dengan alasan berat badan, padahal Naya tau badannya tidak terlalu berat. Tapi Bintang tetaplah Bintang, ia tetap memaksa Naya untuk duduk di pangkuannya selama ia bermain PS. Sesekali Bintang menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Naya membuat gadis itu geli dan kadang dia juga menggigit kecil bagian leher Naya saking gemasnya. Naya mendongakan kepalanya menatap Bintang, "Laper," rengeknya manja seperti anak kecil yang minta dibelikan coklat pada Ayahnya. Bintang menatap Naya sekilas lalu kembali melihat layar TV yang menampilakn permainan gamesnya, "Mau makan apa?" tanya Bintang tanpa menatap Naya. Naya terdiam sesaat memikirkan apa yang akan ia makan, "Hm, pizza aja deh," ucap Naya membuat Bintang mendelik tak suka. Bintang meletakan stick PSnya, "Enggak! Jatah kamu makan makanan junk food cuman sekali dalam sebulan, dan itu udah." Naya mendengus kesal. Untuk apa Bintang bertanya kalo akhirnya Bintang juga yang mengambil keputusan sepihak. "Terus makan apa?" tanya Naya dengan nada kesal. "Salad sayur," putus Bintang tanpa dosa. Naya menatap Bintang tak percaya, "Aku nggak suka sayur," sanggah Naya kesal. "Suka nggak suka, kamu harus makan atau kamu mau cewek jelek tadi sama Ibunya berhenti jualan?" ancam Bintang dengan seringainya membuat Naya menatapnya tajam. Naya menarik tubuhnya yang bersandar pada d**a bidang Bintang, "Bintang!" kesal Naya. "Salad buah aja ya." tawar Naya, setidaknya Naya tidak perlu berhadapan dengan semangkok penuh sayur. "Salad sayur atau mereka aku usir." Bintang kembali memainkan PSnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Oke salad sayur." putus Naya. "Right choice." Bintang lalu meminta salah satu pelayannya untuk membuatkan salad sayur untuk Naya. Naya kembali menyandarkan tubuhnya di d**a bidang Bintang. Bintang tersenyum tipis lalu mengecup kepala Naya. "Den ini salad sayurnya," ucap seorang pelayan wanita sambil memberikan semangkok penuh berisi sayuran yang menurut Naya menjijikan. Bintang mengambil mangkok berisikan salad sayur itu lalu menyuruh pelayannya pergi dengan isyarat. "Makan!" suruh Bintang sambil memberikan mangkok itu. "Bintang ini banyak banget, kamu pikir aku kambing!" kesal Naya. Bintang menatap tajam Naya. Ingin rasanya Naya melempar salad sayur itu ke wajah Bintang. Tapi dapat dipastikan jika Naya melakukan hal itu maka Bintang akan menghukumnya dengan sangat berat. "Makan atau mau mereka nggak bisa jualan lagi," ancam Bintang untuk kesekian kalinya sambil tersenyum penuh makna. Dengan wajah kesal Naya memakan salad itu, beberapa kali ia hampir muntah tapi mengingat apa yang akan dilakukan Bintang pada Nina dan Ibunya, Naya berusaha mati-matian untuk menelan salad sayur itu dan membayangkan kalau itu adalah salad buah yang lezat menurut Naya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah pepatah yang tepat untuk Naya. Sudah terkena kuah bakso yang super panas ditambah dipaksa memakan salad sayur semangkok penuh. Orang baik emang banyak cobaannya, sabar Naya. Batin Naya. "Bintang udah ya, udah nggak tahan," rengek Naya sambil memperlihatkan salad sayur yang sisa setengah mangkok. "Abisin Naya!" perintah Bintang tegas membuat Naya mau tidak mau kembali memakan salad sayur itu dengan wajah lebih kesal. Naya memejamkan matanya saat memasukan sendok terakhir kedalam mulutnya. "Good girl," ucap Bintang lalu mengecup bibir mungil Naya. *** "Sayang," panggil Mama Bintang saat memasuki rumah bersama Papa Bintang. "Mama." Naya lalu memeluk Mama Bintang. "Ya ampun Mama nggak tau kamu mau kesini jadi Mama tadi ikut Papa deh," ucap Mama Bintang. "Idih geer banget sih Ma, orang Naya ke sini buat Bintang," tandas Bintang yang mendapat pelototan dari Naya. Naya tersenyum pada Mama Bintang, "Bo'ong Ma orang Naya kesini mau ketemu Mama sama Papa," ucap Naya membuat Mama Bintang tersenyum puas sambil menatap putranya yang terlihat kesal. "Naya tangan kamu kenapa?" tanya Papa Bintang saat tak sengaja melihat tangan calon menantunya yang merah. "Eh, sayang are you okay? Bintang! Kamu apain mantu Mama? Kamu suruh masak ya? Astaga Bintang, belum jadi suami aja kamu udah gini apa--" "Bukan Bintang kok Ma," potong Naya. "Salahin aja terus anaknya," sindir Bintang kesal. Kalau dilihat-lihat, Mamanya emang lebih sayang pada Naya. Papa Bintang menatap Naya meminta penjelas. "Tadi nggak sengaja ada anak salah satu Ibu kantin numpahin bakso yang Naya pesan," jelas Naya. "Terus kamu diam aja, Bintang?" tanya Mama Bintang pada putranya yang terlihat santai-santai saja. "Udah Bintang usir dari sekolah," ucap Bintang. "Good," ucap Papa Bintang. "Tapi ditahan Naya," sambung Bintang. "Kenapa, Naya?" tanya Mama Bintang yang terlihat mendukung hal yang dilakukan Bintang. Sadis. Kata itulah yang melintas dipikiran Naya. Naya mencoba tersenyum lalu berkata, "Tangan aku nggak papa kok." "Nggak papa gimana, tangan kamu sampe kaya gitu," sanggah Mama Bintang sambil mengamati tangan Naya dan sesekali meniupnya. "Naya nggak papa kok Ma," ucap Naya lembut. "Naya kamu jangan berpikir kalau kami kejam, tapi beginilah cara kami menjaga orang-orang yang kami sayangi," ucap Papa Bingang membuat Naya terdiam sesaat. Bukankah ada cara lain untuk melindungi orang yang kita sayang dengan cara lebih baik, kenapa Bintang dan keluarganya harus memilih cara ini. Semua itu membuat Naya bingung ditambah perhatian keluarga Bintang padanya yang menurut Naya berlebihan. "Iya Naya ngerti kok Pa," ucap Naya sambil tersenyum. "Ya udah Papa sama Mama ke kamar dulu ya sayang," ucap Papa Bintang sambil tersenyum yang dijawab Naya dengan anggukan. Setelah Mama dan Papa Bintang pergj ke kamarnya, Naya duduk di sofa, tepatnya di sebelah Bintang. Naya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Naya takut jika Papa Bintang turun tangan dan Naya tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi untuk Nina. Bintang menyandarkan kepalanya di bahu Naya. "Mikirin apa?" tanya Bintang masih dalam posisi menyandar pada Naya. Naya sebenarnya merasa risih setiap Bintang manja seperti ini, tapi Naya terlalu malas untuk berdebat. "Nggak papa kok," ucap Naya sambil tersenyum. Menurutnya Naya senyum adalah satu-satunya hal kecil yang bisa kita lakukan agar kita terlihat baik-baik saja, meski hal kecil itu sulit dilakukan. "Kamu mikirin cowok lain ya?" tuduh Bintang penuh selidik. "Apaan sih Bin," ucap Naya kesa "Awas aja kalo kamu beneran mikirin cowok lain!" ancam Bintang tegas. Tolong dong Mas, posesifnya dikontrol. Batin Naya. "Iya Bintang Iya," ucap Naya kesal. Bintang memejamkan matanya masih dengan posisi menyandarkan kepalanya di bahu Naya. Tiba-tiba handphone Bintang berdering. "Apa?" "....." "Oke gue ke sana sekarang." Naya menatap bingung ke arah Bintang. "Kenapa?" tanya Naya. "Sayang aku harus pergi sekarang. Kamu di sini aja ya," ucap Bintang mengecup singkat kening Naya lalu mengambil jaket kulit dan kunci motornya. "Tapi kamu mau ke mana?" tanya Naya mengekori Bintang di belakang. "Aku ada urusan bentar," ucap Bintang kembali mencium Naya tapi kali ini ia mencium bibir mungil Naya. "Ta---" "Bye." Bintang mengacak rambut Naya sebelum pergi. Naya mengambil kunci mobil Bintang dan berlari menuju mobil Bintang. Tidak biasanya Bintang pergi meninggalkan Naya dan pasti ada hal penting.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN