Bagian 1.0

1239 Kata
Naya memacu kecepatan mobilnya diatas rata-rata karena harus mengejar motor Bintang yang kecepatannya sangat sulit diimbangi. Naya menghentikan mobilnya sekitar dua puluh meter dari motor Bintang. Dan satu hal yang Naya tahu, Bintang ingin balapan. Naya memarkirkan mobilnya lalu mencari topi Bintang dan memakainya sebagai penyamaran. Naya mendekat kearah Bintang dan bersembunyi di antara penonton balapan. "Oke. One... Two... Three..." seorang gadis melempar sebuah topi dan dua motor sport melaju dengan sangat cepat. Bintang, pengemudi motor sport berwarna hitam itu. Jantung Naya berdetak lebih cepat, Bintang balapan liar dan itu sangat berbahaya. Bagaimana jika hal yang tidak diinginkan terjadi. Lagipula untuk apa Bintang balapan seperti ini? Jika untuk uang, itu sama sekali tidak mungkin. Mustahil. "Hai cantik," goda seorang laki-laki sambil menarik topi Naya membuat rambut indah Naya tergerai bebas. Naya menatap laki-laki itu dengan was-was." Lo mau apa?" tanya Naya menatap setajam mungkin pada laki-laki itu. "Kalo gue mau lo gimana?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba datang, sepertinya dia adalah teman dari laki-laki yang menggoda Naya itu. laki-laki itu mendekat ke arah Naya, yang diikuti langkah mundur Naya sampai tubuh Naya membentur pohon. Laki-laki itu mulai mengelus pipi mulus Naya membuat tubuh Naya merinding. Sedangkan temannya yang lain mengelus bibir mungil Naya. "Waw gue pikir tadi merah karena lipstik taunya emang merah nih bibir." laki-laki itu berdecak kagum sambil tersenyum. Plak Entah keberanian dari mana Naya menampar dengan keras laki-laki yang menyentuh bibirnya itu. "Don't touch me!" bentak Naya membuat laki-laki itu menggeram marah lalu mencengkram kuat rahang Naya membuat Naya menjerit. Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah ketakutan Naya. Laki-laki itu mendekatkan bibir kotornya pada bibir mungil Naya. "Bintang," teriak Naya sambil menutup matanya. Deg Bintang menghentikan motornya padahal pertandingan belum selesai. Dia mendengar dengan sangat jelas itu suara Naya, Bintang tidak mungkin salah mendengar. Bintang turun dari motornya lalu berlari secepat mungkin saat melihat sesuatu yang membangkitkan emosinya. "Anjing!" Bugh Bugh Bugh Bintang memukuli kedua laki-laki itu dengan membabi buta tak memperdulikan sekitarnya. Satu hal yang ada dipikiran Bintang, mereka semua harus MATI. Sampai akhirnya Darrel dan Vano datang melerai mereka. "Udah Bin, biar gue sama Darrel yang ngurusin mereka sekarang lo urusin aja Naya," ucap Deno sambil menunjuk Naya yang sedang menangis ketakutan dengan dagunya. Bintang menendang 'masa depan' salah satu laki-laki itu sebelum berlalu meninggalkan mereka. Bintang menarik tubuh Naya kedalam dekapannya. "Aku takut," lirih Naya mendekat erat tubuh Bintang. Rahang Bintang mengeras saat melihat wajah ketakutan Naya, apapun yang sudah dilakukan laki-laki itu balasan yang harus diterimanya adalah kematian. Bintang membawa Naya ke dalam mobilnya. "Kamu harus dihukum my little girl," ucap Bintang dan memacunya mobilnya diatas kecepatan rata-rata. Sedangkan Napas Naya seakan terhenti, saat Bintang berkata akan menghukumnya. *** Bintang membawa Naya ke sebuah rumah mewah berwarna biru tua, rumah itu sungguh sangat besar bahkan melebihi besar rumah Bintang yang biasa Naya kunjungi. Bintang keluar dari mobilnya terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Naya, lalu menggenggam erat tangan Naya dan membawa Naya menuju rumah itu. Saat berdiri tepat di depan pintu utama Bintang memasukan jari jempolnya pada layar kecil dan seketika pintu rumah itu terbuka hampir saja membuat Naya berteriak. Tanpa menghiraukan wajah kaget Naya, Bintang langsung menyeret gadis itu menuju sebuah kamar yang sangat besar. Bintang mendorong tubuh Naya masuk lalu mengunci pintunya dan membuang kuncinya asal. Tubuh Naya bergetar saat Bintang mendekat ke arahnya. Naya menggenggam erat handphonenya di belakang tubuhnya, jaga-jaga kalo Bintang berbuat melewati batas. Seringai tercetak jelas di bibir Bintang, saat melihat gadisnya mundur ketakutan sampai akhirnya punggung Naya menyentuh tembok. "A---ku bi---sa je---la---sin." sangat sulit bagi Naya hanya untuk mengatakan tiga kata itu. "Come on, I just want to play with you." bisik Bintang tepat di telinga Naya, lalu sesaat kemudian Naya merasakan telinganya basah karena jilatan Bintang. "Di mana saja laki-laki sialan itu menyentuhmu?" tanya Bintang sambil mengelus pipi mulus Naya, membuat tubuh Naya menegang. "Di sini?" tanya Bintang saat menyentuh pipi Naya lalu sedetik kemudian dia mulai menjilat pipi Naya membuat mata Naya melotot, antara kaget dan jijik. Entahlah, Naya tidak biasa. Bintang berhenti lalu menyentuh bibir mungil Naya, "Apa dia juga menyentuh bibir milikku ini?" tanya Bintang, mengelus lembut bibir Naya lalu menjilat bagian luar bibir Naya. Bintang menggigit sudut bibir Naya membuat mulut Naya terbuka. Bintang menyedot darah yang keluar dari sudut bibir Naya, seakan itu adalah minuman favoritnya. Ini menjijikan. Lidah Bintang mulai menjelajahi rongga mulut Naya, namun Naya masih bingung dengan apa yang terjadi. Naya mendorong Bintang beberapa kali saat napasnya hampir habis tapi Bintang seakan tidak perduli. Setelah cukup lama barulah Bintang melepaskan ciuman mereka, membuat Naya menghirup udara sebanyak-banyaknya. Bintang meraih tangan Naya lalu tanpa diduga Bintang menjilati tangan Naya seakan itu adalah eskrim terenak yang pernah ia makan. Bintang kembali menatap Naya lalu pandangannya turun pada d**a Naya membuat Naya menahan napasnya. "You are mine, only mine!" tegas Bintang, tangannya mencengkram kuat kedua lengan Naya. Bintang lalu mulai menengelamkan kepalanya pada lekukan leher Naya lalu mulai menghisap leher Naya meninggalkan bekas kepemilikkan di sana. "Leher ini milikku!" ucap Bintang lalu menggigit kuat leher Naya membuat gadis itu menjerit. Bintang lalu membawa Naya ke kasur yang ada di kamar itu. Bintang membuka bajunya membuat d**a bidangnya terlihat. "Isap!" perintah Bintang. Naya menggeleng dengan tegas, air matanya mulai mengalir, ia benar-benar takut. "Isap Naya!" perintah Bintang lagi. "Aku nggak bisa," ucap Naya sambil terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku pengen kamu isap dan buat d**a aku merah seperti leher kamu," ucap Bintang kembali mendekatkan dadanya pada bibir mungil Naya. "Atau kamu mau, Nina dan Ibunya tidak berjualan di kantin lagi atau bahkan aku akan membuat mereka tidak bisa berjualan di mana pun!" ucap Bintang lalu bangun dari posisinya yang awalnya menindihi tubuh Naya. Deg Naya terdiam, dia bisa membiarkan Nina dan Ibunya tidak bisa berjualan lagi, tapi apa bisa Naya seegois itu hanya karena keselamatannya. Lagipula kenapa Naya harus dihukum? Ia tidak merasa melakukan kesalahan. Ini gara-gara laki-laki b******k yang menggoda Naya tadi. Naya bangun dan memejamkan matanya sesaat lalu berjalan kearah Bintang yang duduk di sofa menunggu kedatangan Naya. Bintang tahu betul, Naya tidak akan tega membiarkan siapapun menderita bahkan orang yang tidak ia kenal. Dengan gemetar Naya mulai melakukan apa yang diminta oleh Bintang. Membuat bercak merah itu di d**a Bintang. Bintang tersenyum senang saat merasakan bibir mungil Naya di dadanya. Bintang terus memaksa Naya membuat bekas merah yang jelek itu menurut Naya sampai-sampai rasanya mulut Naya sangat pegal. "Lagi!" perintah Bintang. "Capek, aus, ngantuk!" ucap Naya mulai kesal. "Lagi Naya, lagi!" perintah Bintang. "Bintang itu udah banyak banget," ucap Naya sambil melirik bekas merah yang ada di d**a Bintang. "Ya udah tidur." Bintang menggendong tubuh Naya dan membawanya ke kasur. Bintang mendekap erat tubuh Naya, ia tidak ingin kehilangan gadis itu. Bahkan dia akan menjadi pembuhuh jika ada yang berani menyentuh gadisnya. Saat merasakan hembusan napas Naya yang mulai teratur Bintang menghubungi seseorang. "Gue mau lo kasih pelajaran sama dua cowok yang ngegoda Naya. Pelajaran yang akan diingatnya sampai dia mati." "..." "Bagus! Gue juga mau lo buang mobil yang dipakai Naya buat ngikutin gue tadi!" "..." "Besok gue bangun, semua sudah harus selesai!" Bintang mencium kedua mata Naya, "This is mine!" Bintang mencium hidung Naya, "This is mine!" Bintang mencium kedua pipi Naya, "This is mine!" Binyang mencium bibir mungil Naya yang terlihat bengkak karena ulahnya, "This is mine!" "Ini bukan hukumanmu, hukuman sebenarnya belum dimulai Naya!" bisik Bintang di telinga Naya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN