"Mungkin aku diberi kehidupan kedua untuk membalas dendam 'ku,"
Ia tidak menyangka bahwa otak cerdasnya yang ia miliki di kehidupan sebelumnya ternyata masih berfungsi. Karena ia sudah berada di masa depan berarti ia akan segera membalaskan dendamnya di masa lalu.
Secara musuh di masa lalu masih hidup, jika diperhitungkan sudah 40 tahun setelah kehidupan sebelumnya, berarti seharusnya musuhnya sudah memiliki cucu.
Tak hanya otak cerdasnya yang terbawa, tapi juga otak cerdas pemilik tubuh sebelumnya. Sungguh perpaduan sempurna untuk melakukan aksinya.
Rena berjalan kaki keluar dari bangunan kumuh tersebut. Ia harus pulang ke kos-kosannya, ia masih ingat jalan pulang sesuai ingatan pemilik tubuh sebelumnya.
Jaraknya cukup jauh dari kota. Ia melihat ada jalan raya. Ya, tempat yang membully tubuhnya tempat yang sangat sepi, sungguh kasihan sekali.
Sudah sangat jauh ia berjalan, lalu ia melihat ada rumah sebuah rumah kosong. Di situ ia melihat ada dua orang laki-laki yang mengenakan pakaian berwarna hitam dan kepalanya ditutupi kain. Dua laki-laki itu berdiri di rumah kosong itu.
"Siapa mereka?" batin Rena.
Rena perlahan berjalan mendekat, lalu ia melihat ada sebuah sepeda motor butut di depan rumah kosong.
Tanpa sengaja Rena menangkap pembicaraan dua laki-laki dengan indra pendengaran.
"Sepertinya dompet yang kita dapat lumayan juga,"
"Yah, ini jauh lebih memuaskan dari korban kita kemarin-kemarin,"
Rena yang mendengarnya langsung memutarkan otaknya untuk berfikir. Dengan otak cerdasnya ia menyimpulkan bahwa laki-laki itu adalah maling.
Rena tersenyum smirk, ia lalu mengambil batu besar yang cukup membuat kepala bocor atau orang yang terkena langsung mati.
Duagh! Duagh!
Kedua maling itu langsung jatuh ke tanah. Rena dengan sigap langsung menghampiri mereka dan tak mengambil dompet yang ada di saku celananya.
Rena mengambil semua uang dari dompet itu. Namun salah satu maling mulai membuka matanya, Rena yang terkejut refleks langsung menginjak-injak wajah maling itu hingga tak sadarkan diri, setelahnya ia langsung pergi dengan mengendarai sepeda motor butut yang terparkir di depan rumah kosong.
Untung saja tadi ia mendapatkan kunci motor dari saku celana salah satu maling. Ia lalu menyalakan sepeda motor bututnya dan pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.
Setelah satu jam lebih Rena di perjalanan ia telah sampai di kos-kosannya. Rena masuk ke dalam kamar, kamarnya cukup kecil, ada kasur dan lemari saja.
"Walaupun tempat ini sedikit tak nyaman dan cukup memprihatinkan, tapi yah sudahlah, ini juga jauh lebih baik."
Karena sudah tak nyaman dengan tubuh yang kotor dan penuh luka. Rena memutuskan untuk membersihkan dirinya. Ia mengambil handuknya, pakaian ganti dan lalu masuk ke kamar mandi yang ada di luar.
***
Setelah mandi dan mengenakan pakaian gantinya Rena lalu mengambil kotak P3K yang tersimpan dalam lemari kecilnya, kemudian ia mengobati lukanya.
Karena pakaian Rena sebelumnya memang sudah lama dan robek, maka Rena selalu menyediakan perlengkapan jahitnya untuk menjahit dengan tangan.
Kali ini Rena mengambil perlengkapan menjahitnya. Ia bukan untuk menjahit pakaiannya tapi menjahit luka sobekan di lengannya. Tak lupa ia meneteskan alkohol sebelumnya agar meringankan rasa sakitnya.
Meski sakit ia sudah terbiasa, apalagi saat ia darahnya menetes. Baginya darah itu sungguh menggairahkan, darah adalah makanannya setiap hari. Melihat darah sama saja membuatnya semakin semangat dan kadang menggila, apalagi itu darah orang lain. Walaupun kali ini darahnya sendiri, ia tak masalah, toh itu sama-sama darah. Rena sedikit mencicipi darahnya, dan yah rasanya sedikit nikmat baginya. "Darahku memang lezat, tidak ada yang bisa membandingkannya," ucapnya sedikit menyeringai.
Namun tiba-tiba ia teringat. "Ah aku lupa kalau hari ini kerja." Ia lalu menggelengkan kepalanya dan berkata kembali. "Biarlah besok aku tinggal berangkat saja, beres."
Setelah selesai mengobatinya ia menatap langit ruangan kamarnya.
"Aku kembali hidup di masa depan, dengan tubuh muda, yah muda. Aku seperti kembali menjadi gadis remaja, yah, setidaknya ini merupakan awalan yang baik."
Rena tersenyum. "Sepertinya kali ini aku harus menikmati masa remaja yang indah. Sayang sekali dulu aku tak pernah menikmatinya," Rena menghela nafas lega,"Baiklah sekarang aku akan menikmatinya."
Di kehidupan sebelumnya ia hanya sibuk bekerja dan bekerja sampai-sampai ia tak menikmatkan masa remajanya, mungkin kini ia bisa menikmati masa remajanya sambil membalaskan dendamnya.
Rena lalu memejamkan matanya karena ia sangat kelelahan. Ia tidur untuk beristirahat, karena besok mau tak mau ia harus menjalankan aktivitas sehari-hari yang biasa dialami pemilik tubuh aslinya.
Pagi harinya. Hari sudah sangat panas, pagi hari ini sungguh sangat cerah. Banyak sekali siswa dan siswi berlalu lalang untuk melakukan aktivitas biasanya.
Jennifer dan gengnya telah duduk di kelas. Kebetulan ia satu ruangan dengan cowok populer di sekolahnya, siapa lagi kalau bukan Leo.
Hari ini adalah hari yang menyenangkan untuk Jennifer karena Rena tidak datang. Tiba salah satu geng Jennifer berdiri, dia adalah Celsi.
Celsi pergi ke toilet tanpa izin, padahal masih jam pelajaran. Guru yang mengajar hanya pasrah padanya. Kalau ditegur pun percuma, ia tak akan menghiraukannya dan bahkan ia akan mengancam guru tersebut.
Celsi berjalan ke toilet, ia masuk ke dalam dan langsung membuang dahaganya. Saat sudah selesai Celsi lalu membuka pintu toilet, namun kejadian tak terduga dialaminya. Ada seember air atuh dari atas.
Celsi terkejut, ia lalu berteriak, "Br3ngs3k!"
Seluruh tubuh Celsi basah karena air. Ia sedikit risih dan ingin segera mengganti pakaiannya. Celsi mengambil telpon genggamnya yang ia taruh di saku bajunya. Untung saja telponnya merek ternama, jadi tak mudah rusak saat terkena air.
"Zena belikan pakaian aku seragam sekolah,"
"Ada apa?"
"Jangan banyak tanya! Lakukan saja!"
"Oke, oke,"
Celsi lalu mematikan telponnya setelahnya berjalan keluar. Ia melihat sosok Rena berdiri di hadapannya.
"Wah ternyata si Cupu sudah berani, apakah kamu belum puas setelah diberi pelajaran kemarin?"
Lalu ia melihat kedua mata Rena, ia terkekeh. "Kau membeli kaca mata baru? Apakah karena membeli kaca mata baru kamu telat masuk kelas? Aku kira kau tidak masuk sekolah."
Ya, itu karena saat mereka membully 'nya mereka tak lupa menghancurkan kaca mata milik Rena.
Rena tak menjawab dengan santainya ia melepas kaca matanya dan menyimpannya di saku kemejanya. Ia mengerutkan dahi saat melihat Rena memakai sarung tangan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Tanpa aba-aba Rena menonjok wajah cantik milik Celsi. Lalu Rena mendorong Celsi dengan kuat hingga kepalanya membentur tembok.
Celsi meringis kesakitan, ia memegangi kepalanya yang sakit. Dengan cepat Rena mengambil ikat pinggang dan langsung mengikat Celsi.
Celsi akan berteriak, namun sebelum berteriak Rena memasukkan pasir mulut Celsi. Tentu saja Celsi terkejut dibuatnya, Rena si gadis cupu melakukan hal di luar dugaannya. Bukankah ini terlalu berani?
Celsi ingin berteriak, tapi apalah dayanya Rena memasukkan pasir ke mulutnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima nasib sialnya.
Saat akan berteriak lagi, Rena melakukan sesuatu yang membuat matanya terbelalak. Ia memegang bagian sensitifnya. Apaan ini? Sialan!
"Benda 'mu lebih besar dari aku. Tubuhku ini memang kurang berisi seperti kamu."
"Hehehe, bagaimana jika aku mengirisnya dan mengambilnya untuk tubuhku agar lebih indah. Kelihatannya ide 'ku bagus."
Rena menatap dingin ke arah Celsi. Celsi yang ditatap langsung gemetaran. Ia tak menyangka Rena membalaskan dendamnya.
Rena terkekeh. "Hey, jangan takut, aku tidak akan memakan 'mu, baru ditatap begini saja sudah ketakutan. Lemah!"
Celsi diam ketakutan ia tak berani menjawab, ia menatap Rena seperti menatap seorang iblis.
"Ingat, kejadian ini jangan kamu beri tahu teman-temanmu dan geng mu, termasuk Jennifer, kalau kamu tidak ingin menderita lebih parah lagi. Kamu mengerti?" ancam Rena dengan santainya dan bertanya. Namun Celsi tetao diam.
Rena menghela nafasnya, ia kembali berkata, "Kalau kau diam berarti kau mengejekku. Tapi terserahlah, jika kau ingin menceritakan ke mereka. Pasti mereka tak akan ada yang percaya denganmu."
Rena tersenyum lembut. "Tapi, besoknya aku akan mencari 'mu dan mulai menyiksamu lagi lalu aku akan mengiris benda itu mu dan aku akan berikan itu pada anjing,"
Rena mengambil dompet di saku baju Celsi. Rena mengambil semua isinya. Semua uangnya diambilnya.
"Sayang sekali basah, tapi tidak apa, bisa dikeringkan."
Celsi terbelalak saat menyadari dompetnya diambil dan isi di dalamnya. "Jangan diambil semuanya!" ucapnya, walaupun agak sulit karena mulutnya dipenuhi pasir.
"Berisik! Diam!"
Bugh!
Rena kembali meninju Celsi, lalu ia menginjak tangan Celsi dengan alas sepatunya.
Rena kemudian pergi, ia lalu melemparkan dompet yang kosong ke wajah Celsi.
"Aku melakukan ini seperti apa yang telah kamu lakukan ke aku dulu," kata Rena.
Dalam ingatan Rena dulu, uangnya selalu dirampas secara paksa oleh Celsi, Jennifer dam gengnya.
Rena kembali lagi saat ingat ikat pinggangnya ketinggalan. "Oh yah, ini ikat pinggangku, kau kan punya, jadi aku ambil kembali, kalau kau ingin tanganmu terikat pakailah ikat pinggang 'mu sendiri."
Celsi diam tak berdaya ditambah dengan sosok Rena yang beda dari biasanya. Apa yang dialaminya sudah membuatnya sedikit trauma.
Setelah selesai Rena menyimpan sarung tangan 'nya. Ia tak mau sembarangan membuangnya, karena tak ingin meninggalkan jejak.
Rena keluar dengan wajahnya yang biasa dan ia kembali memakai kaca matanya. Dengan penampilan culunnya ia takkan ada yang mencurigai dirinya.
Karena sebelumnya Rena terkenal dengan gadis cupu dan tak akan melawan apalagi ia terkenal penakut.
***
Jam pelajaran selesai dan berganti jam istirahat. Mereka bertiga sudah duduk di kursi kantin, tapi ada yang kurang.
"Eh, Celsi mana?" tanya Karina, salah satu anggota geng Jennifer.
"Iya, yah, bukankah tadi dia ke toilet? Tapi kenapa lama sekali? Dan Zena pun, ia juga tidak ada." Keni juga ikut bertanya.
Jennifer tak mempermasalahkan 'nya. Lagipun Celsi hanya ke toilet bukan ke tempat lain.