Chapter 7

1206 Kata
Ananta sedang meregangkan tubuhnya begitu ia menyelesaikan shift untuk hari ini. Sudah waktunya untuk pulang dan Ananta melepas jas dokternya. Suara pintu diketuk membuat Ananta langsung menoleh. Benar saja, Sarah sudah membuka pintu dan memunculkan hanya kepalanya. “Udah selesai shift?” tanya perempuan itu. Ananta mengangguk. Sarah membuka pintu lebih lebar dan dirinya pun kemudian melangkah masuk. “Sama dong. Makan bareng yuk?” ajak Sarah. Ananta terkekeh. “Boleh. Mau makan dimana?” Sarah mulai berpikir ketika Ananta membereskan mejanya. Bersiap agar bisa pergi dari sini. “Nggak tau. Ada ide?” tanya Sarah. “Ada. Kamu bawa mobil?” tanya Ananta kemudian. “Bawa.” “Ya udah mobil taroh sini aja. Pake mobil aku. Nanti aku anter pulang sekalian,” ucap Ananta. Sarah pun tersenyum manis padanya. *** Mira menatap jam di layar ponselnya. Sudah pukul sembilan malam. Sebenarnya ini adalah langkah yang gegabah untuk menyiapkan makan malam. Ia tidak tahu jadwal Ananta. Bisa saja lelaki itu pulang dini hari. Akan tetapi dirinya cukup gengsi untuk bertanya. Lagi pula ia berniat membuat kejutan. Kalau begini, semua makanan yang dimasaknya sudah menjadi dingin hingga tidak enak dimakan. Entah jam berapa lelaki itu akan datang. Ini adalah bagian dari rencananya. Mira sudah berubah pikiran. Awalnya dia ingin segera berpisah dari Ananta karena baginya tidak ada guna mempertahankan pernikahan semu. Toh baik dirinya maupun Ananta sudah sama-sama mendapatkan apa yang mereka inginkan. Setidaknya jika Ananta tidak bertingkah dan mengancam, Mira bisa berusaha lebih keras agar perusahaannya menjadi lebih stabil. Sementara ibu Ananta juga sudah meninggal. Seharusnya tidak ada alasan lagi lelaki itu bersikeras mempertahankan pernikahan ini. Akan tetapi karena Mira baru tahu sebuah informasi. Bahwa Ananta yang menjadi penyebab dari masa-masa seperti neraka itu, maka Mira tidak akan tinggal diam. Entah apapun itu alasannya. Mira akan balas dendam. Dan sejauh ini, satu-satunya cara ialah tetap menjadi istri lelaki itu. Ananta sendiri yang bilang agar Mira memanfaatkannya. Maka Mira akan lakukan yang Ananta katakan. Memanfaatkan lelaki itu untuk menghancurkannya. Mira kemudian memilih untuk mengirim pesan kepada Wita. Ia tidak terlalu akrab dengan perempuan itu namun berhubung Wita cukup ramah, sepertinya tidak masalah kalau Mira mengajaknya bertemu. Hanya sekadar berbincang ringan saja. Mencoba mengakrabkan diri dengan orang-orang di dunianya Ananta. *** Mobil Ananta berhenti di gedung apartemen Sarah. “Mau mampir?” tawar perempuan itu. Ananta terkekeh sambil menggeleng. Sarah pun melepas sabuk pengamannya. “Terima kasih untuk makan malamnya, Ananta. Lain kali aku yang traktir.” “Santai saja. Biasanya juga kamu sering bawain makan siang.” Sarah hanya tersenyum. “Hati-hati di jalan, Ananta.” Perempuan itu keluar dari mobil Ananta dan kemudian berdiri di teras. Ananta membuka kaca jendelanya dan perempuan itu melambaikan tangan. “Good night, Sarah. Aku pulang.” “Bye, hati-hati.” Suara klakson mobil terdengar dan mobil Ananta itu pun melaju pergi. Meninggalkan Sarah yang masih melambaikan tangan di tempatnya. “Kita harus sering-sering seperti ini, Ananta. Harus,” ucap Sarah penuh tekad. *** Ananta tiba di rumah pukul sebelas. Sebenarnya ini berkat obrolan panjang dengan Sarah mengenai pasien yang dioperasi Dokter Pedro. Perbincangan mereka jadi kemana-mana dan justru seperti rapat pasca operasi saja. Asisten rumah tangganya membukakan pintu dan menyapa Ananta. “Pak. Tadi Ibu masak makan malam dan menunggu Bapak.” Ananta mengernyitkan keningnya. “Mira?” tanyanya tidak yakin. “Iya. Bu Mira yang masak sendiri untuk makan malam. Beliau juga menunggu tapi karena Bapak tidak pulang-pulang, Bu Mira makan satu jam yang lalu.” Ananta menatap jamnya dan kemudian berdecak. “Kenapa nggak ada yang telepon saya?” tanya Ananta kesal. Ini sudah seperti keajaiban dunia dan bisa-bisanya tidak ada yang menghubungi Ananta. “Maaf, Pak. Ibu niatnya buat kejutan dan kami juga tidak tahu Bapak pulang jam berapa hari ini.” Ananta melangkah dengan tergesa. “Mira dimana sekarang?” tanyanya. “Sudah tidur sepertinya, Pak.” “Dan makanannya?” “Masih ada di dapur. Tidak habis sendirian oleh Ibu.” Ananta menghentikan langkahnya. “Tolong hangatkan. Saya mandi dulu. Selesai mandi saya makan masakan Mira.” Ananta lantas menatap asisten rumah tangganya itu. “Besok-besok kalau Mira ada melakukan apapun, langsung telepon saya. Kalau saya tidak angkat, ketikkan lewat pesan. Paham?” “Paham, Pak.” *** Begitu Mira membuka pintu karena akan keluar dari kamarnya, tahu-tahu sudah ada Ananta di depan pintu. Lelaki itu sepertinya memang berniat mengetuk pintu kamar Mira. Tanpa suara, kerutan di kening Mira saja sudah cukup membuat Ananta paham bahwa perempuan itu mempertanyakan apa yang membuat Ananta berdiri disini. “Semalam kamu memasak untukku. Kenapa tidak kirim pesan?” tanya Ananta. “Aku iseng saja,” ucap Mira cuek. Perempuan itu sudah rapi sementara Ananta masih mengenakan kaus santai. Karena memang Ananta shift sore. Ananta langsung memegang tangan Mira. Agar langkah perempuan itu terhenti. Karena apabila tidak begitu, maka Mira akan melenggang pergi begitu saja meninggalkannya. “Aku minta maaf karena membuatmu menunggu. Aku makan masakanmu semalam. Sangat enak.” Mira mengangkat sudut bibirnya. Tersenyum mencemooh. Ia sama sekali tidak tersinggung karena Ananta pulang malam. Entah jam berapa pun itu. Hanya saja tingkah Ananta ini lucu. Lelaki itu bahkan tidak perlu minta maaf karena Mira juga sengaja tidak bertanya atau memberi tahu. “Santai saja.” Mira melepaskan pegangan tangannya dari Ananta. “Aku shift sore. Mau aku antar ke kantor?” tanya Ananta. Mira menghentikan langkah dan kemudian mengangkat satu alisnya. “Tidak perlu repot-repot. Istirahat saja. Kamu kan jarang ada waktu luang. Cukup temani saja aku sarapan.” Mira lantas melanjutkan langkahnya menuju ruang makan. *** Ananta meletakkan korannya begitu anak buah yang memiliki tugas khusus mengawasi Danu datang. Kemarin ia sudah terima laporan bahwa Danu dan Mira benar-benar tidak ada berhubungan selama ini. Pertemuan dan komunikasi mereka pure hanya lusa. “Kemarin juga tidak ada pergerakan apapun, Pak. Ibu Mira menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak ada pergerakan mencurigakan juga dari perusahaan. Bu Mira menggunakan dana yang diperoleh dari Syailendra Grup.” Ananta sangat sadar bahwa sikap Mira mulai aneh. Meski ia merasa senang dengan perubahan itu. Dirinya tetap harus tenang dan tidak boleh gegabah. Buktinya tiba-tiba ia dan Danu bertemu. Bukan tidak mungkin keduanya sedang merencanakan sesuatu. “Mengenai Atmadja Grup. Apa mulai ada perjodohan yang diatur untuk Danu?” tanya Ananta. “Sepengetahuan saya. Belum ada, Pak. Saya akan mencari tahu lebih lanjut.” Ananta mengetukkan jemarinya. “Atmadja grup itu masih butuh pergerakan ekspansif melalui perjodohan. Jadi seharusnya mereka sudah bergerak sejak membuang Mira begitu saja. Tapi sudah hampir dua tahun, masih belum ada apapun. Mengesankan.” “Sepertinya memang karena dari pihak Danu yang masih mencintai Bu Mira, Pak. Sudah jadi rahasia umum kalau-” “Kalau Danu pengecut. Jika dia memang mencintai Mira, dia seharusnya tidak diam saja.” Ananta menjentikkan jari. “Justru itu. Dia pasti mempersiapkan sesuatu,” ucap Ananta seraya menunjuk anak buahnya tersebut. Ananta menjadi menyesal karena terlalu membebaskan Mira selama ini. Perempuan itu jadi seenaknya dan Ananta tidak tahu apa saja yang ia lakukan. “Aku tidak ingin membuat Mira tidak nyaman karena terlalu ku awasi. Jadi cukup awasi Danu saja.” Ponsel Ananta di atas meja berdering. Ia kira itu panggilan darurat dari rumah sakit, ternyata telepon dari kakaknya. "Halo, Kak." "Malam sabtu bisa kosongkan jadwal? Angelic ulang tahun. Datanglah untuk kumpul keluarga."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN