Ananta sedikit terkejut begitu tiba di ruangannya, sudah ada Sarah disana. Meski sebenarnya sudah tidak heran lagi. Ini bukan pertama kalinya terjadi seperti ini.
“Sudah dari tadi?” tanya Ananta.
Sarah menoleh dan tersenyum. Baru saja. Bagaimana operasinya?”
“Lancar.”
“Mau makan habis ini?” tanya Sarah.
Perempuan itu lapar dan berniat mengajak Ananta ke kantin. Atau jika Ananta mau makanan delivery juga tidak masalah. Apapun, asal Sarah bisa makan bersamanya.
“Kebetulan aku sangat lapar. Mau makan apa?” tanya Ananta.
“Apapun. Kau ingin apa?”
“Makan di kantin?” tawar Ananta.
“Good idea.”
Ananta menganggukkan kepalanya.
“Sebentar aku ingin ke kamar mandi.”
Sarah mengangguk. Ananta pun kemudian memasuki kamar mandi. Tepat begitu ia selesai mengunci pintu, ponsel di sakunya berdering. Ia kira panggilan darurat ternyata telepon dari Mira. Tumben. Dengan cepat Ananta mengangkatnya. Merasa penasaran kenapa perempuan itu menelpon.
“Halo. Ada apa?” tanya Ananta.
“Pulang jam berapa hari ini?”
Perempuan itu menelpon saja sudah cukup mengejutkan bagi Mira. Lalu sekarang tiba-tiba saja menanyakan jadwal pulangnya. Ananta kemudian ingat mengenai makan malam. Mungkin perempuan itu ingin makan bersama.
“Aku pulang malam. Jam sebelas. Kenapa?”
Ananta sungguh penasaran apa yang membuat perempuan itu mendadak ingin tahu.
***
“Hanya bertanya. Itu saja.”
Mira lantas mematikan telepon tanpa perlu menunggu Ananta menyahut. Ia masih menatap lurus ke ruangan Ananta. Tadinya ia ingin memberikan kejutan dengan datang mengunjungi lelaki itu. Iseng saja sepulang dari kantor. Akan tetapi justru dirinya yang terkejut melihat seorang perempuan memasuki ruangan Ananta tadi. Tidak lama kemudian ia melihat Ananta masuk.
“Dokter Sarah?” gumam Mira sambil terus menatap ke ruangan itu.
Mira tidak tahu seperti apa rupa perempuan itu. Akan tetapi ia yakin bahwa yang dilihatnya tadi adalah Sarah. Mira harus mencari tahu lebih banyak.
Perempuan itu kemudian berbalik dan melangkah. Pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumah, Mira langsung menuju kamar. Ia mandi dan kemudian meminta pelayan menyiapkan teh beserta cemilan untuk dibawa ke taman. Mira akan habiskan waktu di taman saja. Mencari ketenangan sambil berpikir.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Mira saat pelayannya itu membawakan yang ia minta. Setelah sang pelayan pergi, hanya tersisa Mira yang menatap langit petang.
“Sarah,” gumam Mira sambil kemudian meminum tehnya dengan perlahan.
Satu-satunya tempat menggali informasi adalah di rumah sakit. Maka Mira harus punya kenalan dari rumah sakit yang cukup dekat dengan Ananta dan Sarah untuk memberinya informasi. Sementara itu dirinya tidak mengenal siapa pun. Hanya Wita. Itu pun ia baru mengenalnya hanya saat pesta ulang tahun. Terlebih lagi Wita adalah sahabat Ananta. Mira khawatir persahabatan mereka cukup loyal sehingga menggali informasi dari Wita bisa saja membuat Ananta curiga jika lelaki itu tahu.
Ponsel Mira di atas meja berdering, pertanda sebuah panggilan masuk. Ditatapnya kontak si penelpon, Mira memutuskan untuk mengangkatnya.
“Halo.”
“Halo, Mira. Bisa bertemu nanti malam?”
Mira mengetukkan kukunya di atas meja secara perlahan.
“Bisa, Pak.”
Entah apa yang membuat Tama ingin menemuinya. Jika sampai begitu pasti ada sesuatu yang penting.
***
Makan malam sudah habis dan ini saatnya untuk membahas apa yang membuat Tama ingin menemui Mira.
“Jadi apa yang ingin Pak Tama bicarakan?” tanya Mira.
Lelaki itu mengambil tisu dan mengusap bibirnya. Menatap kepada Mira seraya tersenyum hangat.
“Kamu sudah tahu kalau Ananta yang menjadi penyebab kehancuran perusahaan saat itu. Kenapa kamu diam saja?”
Mira menatap lekat lelaki itu. Tama adalah mantan sekretaris ayahnya. Tepatnya Tama mengundurkan diri beberapa bulan sebelum kondisi perusahaan memburuk. Tama juga sudah bekerja cukup lama dengan ayah Mira jadi Mira sudah menganggapnya seperti paman sendiri.
“Maksud Pak Tama?” tanya Mira.
Terakhir pertemuan mereka, Tama memberitahu bahwa Ananta lah dibalik semua itu. Mira kala itu hanya bisa diam karena terkejut.
“Jelas jelas lelaki itu jahat. Jadi kenapa kamu masih saja bersama dengan dia?”
Mira diam.
“Mira. Kamu sudah seperti anak saya sendiri. Sebenarnya saya sangat resah karena kamu tinggal bersama orang jahat. Bukankah lebih baik kalau kamu menjauh dari dia. Lagi pula perusahaanmu sekarang sudah membaik kondisinya, kan?”
Mira sedang menyusun rencana karena ia tahu Ananta tidak akan melepaskannya begitu saja. Entah apa alasan sebenarnya lelaki itu menahan Mira dalam perceraian namun yang jelas Mira tidak akan bisa bercerai dalam waktu dekat dengan lelaki itu.
“Pak Tama tahu bagaimana kuasanya keluarga Syailendra. Lagi pula aku masih butuh uang, Pak. Aku tidak bisa melakukan apapun sampai perusahaanku lebih stabil dan kuat modal.”
Tama menghela napasnya kemudian menganggukkan kepala.
“Benar juga. Masih belum ada investor yang mau membantu?” tanya Tama.
Mira tercekat karena ia seketika ingat terhadap Danu. Hanya lelaki itu yang mau memberikan bantuan. Akan tetapi mau bagaimana pun, Mira tidak bisa menerimanya.
“Belum.”
Tama kemudian menghela napas.
“Saya benar-benar masih merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun untuk membantu kamu saat itu, Mir.”
Mira menggelengkan kepalanya.
“Pak Tama sudah bantu banyak. Semua biaya pemakaman papa, Pak Tama yang tanggung.”
Saat masa kelam itu, hanya Tama yang membantunya. Akan tetapi bantuan yang diberikan oleh lelaki itu terbatas karena pada dasarnya Tama tidak sekaya itu.
Tama kemudian tersenyum.
“Maaf hanya sedikit bantuan yang bisa saya berikan.”
“Saya benar-benar berterima kasih atas semua bantuan itu, Pak. Sangat berarti untuk saya.”
Tama kemudian menegakkan tubuhnya, agar jarak antara dirinya dengan Mira mendekat.
“Saya akan cob acari investor supaya bisa membantu kamu. Siapa tahu kamu bisa menjadi sedikit lebih independen nantinya. Jadi tidak perlu bergantung kepada Ananta yang jahat itu.”
Mira memberikan senyumannya. Meski ia tidak yakin ada yang mau membantu karena bisa dibilang nama besar ayahnya itu sudah di blacklist dalam dunia bisnis.
“Terima kasih banyak atas bantuan Pak Tama.”
“Sudah menjadi kewajiban saya Mira. Hanya ini yang bisa saya bantu.”
Mira kemudian memilih untuk mempertanyakan hal yang mengganjal ini di hatinya.
“Apa Pak Tama tahu apa kira-kira alasan yang membuat Ananta menjatuhkan keluargaku, Pak?”
Mira butuh jawaban untuk menentukan langkah kedepannya. Meski bisa dibilang melawan keluarga Syailendra itu rasanya tidak mungkin. Akan tetapi akan Mira coba.
“Saya tidak akan tahu apa motifnya, Mira. Tapi kemungkinan besar karena kekuasaan. Kamu juga harus berhati-hati. Bisa saja kamu dijebak agar perusahaanmu diambil alih oleh mereka sepenuhnya. Kamu harus berhati-hati kepada Ananta. Jangan percaya dengan dia.”
Mira terdiam. Memikirkan ucapan Tama itu.
“Sudah jangan terlalu dipikirkan. Yang harus kamu pikirkan adalah apa yang sebaiknya dilakukan kedepannya. Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi mamamu?” tanya Tama.
“Mama sehat, Pak.”
“Apa boleh saya menjenguknya? Saya terlalu malu selama ini untuk menunjukkan wajah di depan mamamu. Karena saya tidak bisa banyak membantu dulu. Padahal mamamu sangat baik kepada saya dan keluarga.”
Dengan kondisi ibu Mira yang saat ini sedang depresi dan dirawat di rumah sakit jiwa, tidak banyak yang mengetahui keberadaannya.
“Boleh, Pak. Nanti akan saya temani.”
“Terima kasih, Mira.”
Tama kemudian menenggak minumannya dengan santai, sambil menyunggikan senyum dengan makna yang hanya ia ketahui.