Chapter 9

1120 Kata
“Lama tidak bertemu,” ucap Mira. Ucapan yang menyambut Ananta begitu ia memasuki ruang makan. Mira sudah duduk disana. Menanti dengan tenang. Hidangan untuk makan malam juga sudah siap. “Kau merindukanku?” tanya Ananta seraya tersenyum. Ia langsung duduk di kursi. Mengabaikan fakta bahwa dirinya baru saja kembali dari rumah sakit. “Sebaiknya kau mandi dulu. Aroma rumah sakit itu masih menempel.” Ananta langsung menghirup aroma dari pakaiannya. “Kalau begitu aku mandi dulu. Kau makan duluan saja jika sudah lapar.” Ananta bangkit dari duduknya. Ia akan mandi secepatnya agar begitu ia kembali lagi kesini, Mira masih makan. Setidaknya mereka bisa makan malam bersama meski sebentar. “Aku akan menunggumu. Santai saja.” Ananta mengangkat satu alisnya. “Aku tidak akan lama,” sahutnya kemudian. *** “Angelic berulang tahun hari jumat ini. Pesta ulang tahunnya diadakan malam hari. Aku ingin kau ikut.” Mira sedikit pun tidak berminat untuk hadir dalam acara keluarga Syailendra itu. Akan tetapi ia harus melakukannya. “Baiklah. Kalau begitu aku akan datang.” Ananta tersenyum. “Angel pasti akan sangat senang.” Ananta lanjut menyuap makanan ke mulutnya. Sementara Mira kini meminum jus alpukat. Ia kemudian menggenggam erat gelasnya. “Seberapa jauh,” ucap Mira sambil menatap sisa jus di gelasnya. Ananta yang sedang mengunyah pun mengernyitkan kening menatap Mira. “Seberapa jauh Dokter Wina mengetahui kebenaran pernikahan ini?” Mira mengalihkan pandangan dari gelasnya menuju ke Ananta. Menanti dengan sabar jawaban lelaki itu. Ananta mengambil gelas berisi air mineral, meminumnya sebelum kemudian menjawab pertanyaan dari Mira. “Kenapa tiba-tiba membahas Wina?” “Dia mengajakku untuk makan siang bersama. Aku harus tau jawabannya agar bisa menentukan seperti apa aku harus bersikap.” Ananta terdiam. “Wina mengajakmu makan siang? Kapan?” “Kenapa? Kau ingin melarangku?” Ananta menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau bisa menolak atau menerima tawaran itu atas keinginanmu sendiri.” “Jadi. Seberapa jauh yang Wina ketahui?” Ananta menghela napasnya. “Dia tahu kebenarannya. Kontrak kita.” Mira pun kemudian hanya mengangguk. Ia melanjutkan makannya. Fokus menatap makanan dan bisa merasakan Ananta tengah menatapnya saat ini. “Kenapa? Lanjutkanlah makanmu,” ucap Mira tetap fokus pada sendok di tangannya. *** Mira tidak percaya akhirnya ia melakukan hal yang paling tidak pernah ia lakukan selama menikah dengan Ananta. Izin untuk pergi ke klub malam. Dirinya hanya butuh tempat untuk berpikir. Lucunya, klub seolah menjadi tempat paling cocok untuk itu. Setidaknya akhir-akhir ini Mira merasa tempat itu yang paling pas. Ananta memberi izin. Lelaki itu juga sepertinya terkejut karena Mira meminta izin. Baguslah karena lelaki itu shift pagi besok jadi tidak bisa menemani. Mira berani jamin bahwa ia hanya ingin mencari hiburan. Bukan untuk minum. Jadi disinilah ia sekarang. Open table untuk dirinya sendiri dengan minuman yang kemudian ia berikan kepada meja sebelah. Keberadaannya disini pure untuk menikmati dentuman musik sambil menatap orang-orang dengan urusan mereka masing-masing. Meski terlihat seperti memantau lingkungan sekitar, Mira sebenarnya sedang memikirkan mengenai rencana dalam waktu dekat. Ia akan bertemu Wina dulu di makan siang besok. Setelah itu lusa dirinya akan menghadiri pesta ulang tahun keponakan Ananta. Mira sungguh penasaran dan ingin tahu lebih banyak mengenai Sarah dan dirinya berpikir bahwa rumah sakit adalah satu-satunya tempat untuk menggali informasi. “Apa Wina bisa dipercaya?” gumam Mira. Mira kemudian bangkit dari duduknya. Bahkan belum satu jam sejak ia datang namun Mira sadar bahwa yang dibutuhkannya adalah night drive. Ketika dirinya tiba di parkiran, sebuah suara cukup mengejutkan membuatnya mematung. “Aku ingin bicara, Mira.” Mira diam. Ia menatap Danu yang berjarak tiga mobil darinya. Lelaki itu ada disini. Entah sebuah kebetulan atau mungkin saja Danu mengikutinya. “Kau mengikutiku?” tanya Mira curiga. “Aku sudah disini sejak tadi dan hanya bisa diam saat melihatmu datang.” Mira tidak tahu harus merespon apa. Ia kemudian memilih untuk mengabaikan Danu dan melanjutkan langkahnya. “Aku tahu kau membenciku, Mira. Dan aku memang pantas dibenci.” Mira mempercepat langkahnya karena Danu terus mengejar. Lelaki itu apa masih tidak paham juga kalau Mira tidak ingin bertemu dengannya lagi. Akhirnya Mira mencapai mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan tangan Danu dengan cekatan menahan pintu mobil perempuan itu. Sehingga tidak ada gunanya bahkan jika Mira masuk. Dalam keadaan berdiri itu, Mira menatap Danu. “Lepas,” ucapnya. “Kita harus bicara, Mira.” Mira menghela napasnya. Ia tidak ingin menatap Danu. Rasa sakit itu masih berkecamuk di benaknya. Semuanya terasa begitu segar seolah baru kemarin. Hatinya terasa bergemuruh setiap melihat Danu. Seolah menabur garam di atas lukanya. Mira kemudian menatap lelaki itu. Matanya sudah berkaca-kaca kini. “Kumohon,” pinta Danu. Mira pun terkekeh. “Bukan seperti itu caranya untuk memohon, Tuan Atmadja.” Danu membuka pintu mobil itu lebar-lebar. Ia kemudian berlutut di hadapan Mira. “Kumohon, Mira. Kita benar-benar harus bicara. Aku ingin membantumu.” Mira menatap Danu yang saat ini sedang berlutut di depannya. Seingat Mira, kali terakhir Danu berlutut padanya adalah saat Danu melamar. Kenangan sialan. Mira membenci semua ingatan tentang masa-masa itu. “Aku tidak butuh bantuanmu,” ucap Mira. *** Mira terkejut begitu ia menutup pintu mobil, dirinya bisa melihat Ananta berdiri di depan pintu penghubung garasi dengan ruang tengah. “Bukankah kau besok shift pagi?” “Aku tidak bisa tidur karena kau pergi sendiri.” Mira tersenyum mencemooh. “Tidak perlu khawatir. Aku tidak minum dan aku sudah sampai di rumah.” Mira melangkah melewati Ananta begitu saja. Ananta pun kemudian ikut masuk ke dalam, seraya menutup pintu penghubung ke garasi itu. “Baguslah. Aku baru saja hendak menyusulmu tadi.” Mira menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya. “Kau sepertinya tidak bisa percaya padaku, ya? Mengecewakan sekali. Padahal aku ingin agar hubungan kita ini membaik. Dimulai dari saling percaya.” Ananta terus melangkah hingga membuat Mira reflek mundur. Tangan lelaki itu kemudian melingkar di pinggang Mira. Agar langkah perempuan itu terhenti. “Aku percaya padamu. Tapi tidak dengan lelaki di luar sana.” Mira cukup terkejut dengan ucapan lelaki itu. “Maksudku lelaki yang melihatmu di klub. Tidak ada yang pernah tahu apa yang bisa mereka lakukan.” Hampir saja Mira mengira kalau Ananta tahu bahwa Mira tidak sengaja bertemu Danu tadi. Lebih tepatnya lelaki itu yang menghampiri. Mira pun tersenyum dan kemudian mengusap pundak lelaki itu. “Tidak perlu khawatir. Sekarang tidurlah. Kau harus istirahat yang cukup. Pasienmu sangat bergantung padamu.” Tangan Ananta yang melingkar di pinggangnya bisa ia lepaskan begitu saja. Mira kemudian berlalu. Sementara Ananta masih di pijakannya menatap punggung perempuan itu. “Kau bilang ingin agar hubungan kita membaik,” ucap Ananta. Langkah kaki Mira pun terhenti. Ia tidak membalikkan tubuh atau merespon ucapan Ananta. Melainkan hanya diam saja. Ananta mulai melangkah mendekat. “Bisakah kita tidur satu ranjang mulai dari sekarang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN