Plak, Altaf menampar dengan kencang wajah Udin, meninggalkan bekas berwarna merah di pipi Udin. Altaf menatap tangannya yang sudah tega memukul anaknya, Udin, yang baru sekali ini saja dilakukannya. Udin menatap tidak percaya ke arah ayahnya yang dengan begitu teganya menampar dirinya, tanpa menanyakan terlebih dahulu apakah benar atau tidak dirinya memakai zat aditif yang bisa menyakiti dirinya sendiri. Air mata Udin jatuh menetes, hatinya sebagai seorang anak sangat terlukai, bukannya mendapatkan dukungan dan menguatkan dirinya, ayahnya malah percaya begitu saja tuduhan yang dilayangkan kepadanya. “Aku juga sudah tidak butuh ayah lagi, kalau ayah memang tidak mau membantuku silahkan pergi dan jangan lupa tinggalkan juga perusahaan, karena itu adalah perusahaanku dan Anda hanya mengga

