“Aku nggak pernah tahu, ternyata seperti ini tugas dari seorang ibu?” Aku menegakkan punggung seketika. Tangan-tanganku yang penuh dengan seragam kotor Galang dan Kin langsung menegang. “Apa maksudmu, Nak?” ucapku menipiskan bibir. Aku berbalik, menatap anak sulungku yang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. “Sudah siang. Sudah saatnya untuk sekolah. Berangkat sekarang! Mama nggak mau mendengar kamu bolos lagi.” “Aku nggak mau diprivat laki-laki itu.” “Kenapa?” “Apa gunanya aku diprivat, Ma? Hanya untuk meluluskanku dari sekolah? Ogah! Aku nggak mau!” “Jangan main-main sama Mama, Galang. Mama nggak pernah mendidikmu nggak punya sopan-santun seperti ini. Cepat ke sekolah sebelum kamu terlambat. Mam—“ “Mama nggak mendidikku nggak punya sopan-santun?” Pemuda itu mendengus. Tertawa

