“Kamu kelihatannya banyak masalah, Jen. Ada apa?”
Aku mendongak waktu mendengar suara menegurku. Seekor ikan pesut dengan busana yang tidak mampu menyembunyikan lemak di sekujur tubuhnya, terlihat di atas komputerku. Aku menyipit awas. Memasang kuda-kuda di dalam batin, semoga saja ikan pesut dengan timbunan lemak mendunia itu tidak melakukan tindakan-tindakan di luar akal sehatku—meledakkan komputer misalnya.
“Ehn.” Enaknya dijawab apa, ya? Pagiku kali ini benar-benar buruk, dan aku tidak mau menambahinya dengan masalah lagi; berhadapan dengan ikan pesut merupakan hal yang paling berhasrat mengundang masalah. “Aku nggak kenapa-kenapa, Bu, terima kasih perhatiannya,” ucapku sangat tidak tulus. Senyumku muncul ala kadar. Aku memutar bola mata di dalam hati, berharap dan berdoa, semoga si Ikan Pesut segera melenyapkan galonan lemaknya dari hadapanku.
Sebenarnya sih nama perempuan itu bukan ikan pesut. Tapi, kalau kau melihat seperti apa postur tubuh yang didompleng dengan kelakuannya, ikan pesut merupakan panggilan paling layak untuk disandingkan kepada perempuan empatpuluh tahun yang luar biasa menjengkelkan itu.
Namanya Bu Amber, asli Sidoarjo, staf administrasi—satu departemen dengan Anye. Orang yang akan bersikap baik kepadamu, tetapi di belakangmu, akan membuang hajat saat menggosipkanmu; maksudku, mengeluarkan hal-hal busuk serupa berakan. Dan merupakan orang yang gemar sekali menjilat siapa pun yang kelihatan memiliki kontribusi besar di perusahaan ini. Aku membencinya. Sebentar lagi kau pasti tahu alasan kenapa aku menomorsatukannya di daftar orang-orang yang patut dicibir sepanjang masa.
Aku melirik sekilas penampakan jin itu dan mendengus sesamar mungkin. Kaulihat kemeja bermotif kembang mawar besar-besar dan rok sepan hijau muda menyala yang dia kenakan? Kaulihat aura apa yang terpampang dari penampilannya? Rambut dibiarkan tergerai—aku akan memprotes keras siapa pun penasihat gaya busananya, sampai berani sekali mencetuskan ide pada kuda nil itu untuk membiarkan rambut tebal sebokongnya tergerai. Gincu merah terang. Blush on merah bata. Eye shadow kuning menyala. Eyeliner putih. Aku bakal katarak dalam waktu sesingkat-singkatnya apabila mataku dibiarkan melihat penampakan keponakan genderuwo itu. Terjemahan: kemampuan berdandannya benar-benar mengerikan; selera busananya benar-benar mirip orang gendeng.
Kaulihat tiga kalung besar di lehernya—aku tidak bisa memastikan dia memiliki leher atau kepalanya sekadar menempel gitu saja di atas pundak. Kaulihat gelang-gelang emas di pergelangan tangannya? Kaulihat cincin-cincin dengan mata merah, hijau, biru, di kesepuluh jarinya? Mengerikan. Menakutkan. Mengundang maling untuk menjambret perhiasannya. Terjemahan: selera perhiasannya sungguh menyerupai orang sinting.
Aku mendengus lagi.
“Pasti karena masalah Galang dan Kin, ya, Jen.”
Aku hanya menggumam sebagai jawaban, berpura-pura menyibukkan diri agar Ikan Pesut segera melenyapkan wujudnya di hadapanku.
“Memang berat sih tinggal di kota besar seperti Surabaya dengan dua anak yang beranjak dewasa tanpa dampingan suami. Kamu pasti kesepian dan selalu sedih ya setiap saat.”
Anak-anakku masih kecil, imut, menggemaskan, dan sama sekali belum dewasa, ya Tuhan. Siapa sih dia sampai bisa sok akrab begini padaku? Aku kan tidak suka sama dia. Lagian, demi apa pun ya, aku tidak merasa kesepian, apalagi sedih setiap hari. Cuih. Hidupku sudah teralu ramai dengan suara kedua anakku. Dan, aku lebih memilih hidup bersama Galang dan Kin dengan status janda, daripada harus tinggal satu atap bareng laki-laki hasil peranakan jin dan jenglot yang dulu khilaf aku kawini. Stipo onggokan mantan dari benakku. Aku tadi khilaf memikirkannya. Aku tahu itu najis. Aku harus membasuh otakku agar hilang saripati najisnya.
“Kamu memang perempuan kuat, Jen. Janda berkualitas. Nggak seperti kebanyakan janda yang suka main tikung suami orang. Kamu menjanda dengan dua orang anak dewasa, dan kamu sendirian menghidupi mereka. Kamu hebat.”
Di kupingku terdengar: kamu janda seksi yang suka merebut suami orang. Sekali lagi aku tekankan: ANAK-ANAKKU BELUM DEWASAAA!! MEREKA MASIH KECIL. YA TUHAAAN.
Sialan sekali, sih. Tadi habis diceramahin Anye di minimarket, sekarang dirusuhi ikan pesut beranak sepuluh itu. Aku geram bukan main. Siapa saja tolong usir hasil peranakan kebo dan kuda nil itu dari sini.
Kali ini aku mengecek dokumen-dokumen dari salah satu klienku yang meminta bantuan untuk mencairkan dana asuransi. Aku harus ke rumah sakit tempat dia dirawat inap. Belum ada stempel rumah sakit di setruk biaya ini soalnya.
“Aku kasihan tahu, Jen, setiap melihatmu berjuang mati-matian seperti ini. Kamu sendirian nggak punya suami. Jauh dari keluarga. Jauh dari sodara. Aku sampai heran deh, kamu dapa stok kekuatan sebesar itu dari mana, sih, Jen? Kadang-kadang, ya, aku tuh suka berpikir untuk menyumbangkan beberapa persen gajiku demi kelangsungan hidupmu dan kedua anakmu, deh. Karena aku rasa, kalian lebih membutuhkan uang dariku. Aku dan suamiku yang polisi itu, alhamdulillah, sih, nggak pernah kekuarangan duit. Aku tahu kamu pasti selalu hidup dengan pas-pasan.”
Nah, ini yang tidak aku suka darinya. Ini. Selalu seperti ini. Mengasihaniku. Sok-sokan menyumbang untukku dan kedua anakku lagi—itu berita hoax asal kalian tahu, Ikan Pesut itu adalah salah satu produk Tuhan paling kikir sepanjang masa. Kok menyumbang, beli makan aja kadang nunggu adanya traktiran.
Aku memang janda, tapi aku tidak butuh dikasihani. Aku tidak pernah suka ada orang lain iba terhadapku—sampai mau menyumbang segala, mereka pikir kami ini kaum tidak mampu? Aku memiliki harga diri. Dan aku tidak akan membiarkan harga diriku diinjak-injak atas sebuah alasan bernama: kasihan. Karena ketika ada orang yang bilang iba padaku, aku merasa usahaku membesarkan kedua anakku akan sia-sia. Usahaku mendidik kedua anakku gagal. Aku merasa seperti perempuan lemah yang butuh diperhatikan. Aku bukan seperti itu. Aku tegaskan sekali lagi: Aku bukan perempuan yang mengemis rasa iba dari orang lain.
“Maaf, Bu Amber, bukannya saya nggak mau melayani Bu Amber ngobrol, tapi saya sedang sibuk. Sebentar lagi saya harus ke Wonokromo untuk mengurus klaim asuransi klien saya. Bu Amber bisa meninggalkan saya. Dan tidak. Saya nggak sedang bermasalah seperti dugaan Ibu. Saya sedang berbahagia bersama kedua anak saya. Terima kasih.” Aku menyambar gagang telepon, berpura-pura menghubungi pihak rumah sakit hanya agar Ikan Pesut itu hengkang dari tempat kerjaku.
“Aku kan nggak ngomong apa-apa, kenapa kamu sewot seperti ini, sih, Jen? Benar juga ya kata orang-orang, janda itu sensian. Seperti kamu. Ya sudah kalau kamu nggak butuh teman ngobrol.”
Aku memutar bola mata—emang sejak kapan aku membutuhkan teman ngobrol serupa stupa itu? Sialan. Aku meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya. Kemudian aku bingung harus berbuat apa. Semingguan ini, klien yang aku datangi sama sekali tidak tertarik dengan presentasiku; seorang dokter dari rumah sakit swasta; dan seorang broker saham di daerah Pasar Turi. Mereka sudah memiliki BPJS untuk meng-cover kesehatan mereka. Sehingga, uraian tentang platform dan premi yang aku beberkan, tidak sedikit pun mampu membuat mereka kepingin membeli asuransi dariku. Sementara aku harus mengejar target personalku sepuluh orang dengan total premi lima juta.
Kalau ini bisa dibiarkan terus-menerus, aku pastikan bulan depan, sepak terjangku di perusahaan ini bakal tamat. Kalau aku dikeluarkan, aku harus membayar tanggungan biaya sekolah Galang dari mana? PT-PT yang menjamur di Surabaya tidak banyak yang mampu menggaji seperti tempatku kerja—aku pernah menanyai klienku berapa gaji yang mereka dapatkan di kantor mereka. Kalau aku menjadi tenaga baru, aku pasti akan di-training terlebih dulu. Dengan gaji masa percobaan yang dihitung per harinya. Tidak ada bonus. Tidak ada pemasukan lain. Sedangkan kelulusan sekolah tinggal tiga bulan lagi.
Tigapuluh juta jelas bukan nominal kecil. Aku kudu mendapatkan uang segitu dari mana?
Aku mengurut pelipis.
Meletakkan kepala yang terasa penuh sesak akan masalah di atas meja.
Tanganku sibuk mengklik-klik mouse tanpa tujuan pasti. Bea sekolah Galang yang tertera di email-ku menyala-nyala terang. Memintaku untuk segera melunasinya. Aku menyekolahkan Galang dan Kin di Pakuwon City. Di mana biaya sekolah mereka, mulai dari SMP sampai SMA, mencapai limapuluh lima juta untuk masing-masing buah hatiku. Yang apabila aku jumlahkan keseluruhannya—untuk kebutuhan Galang dan Kin—aku harus mampu mengeluarkan uang paling tidak 110juta-an selama pendidikan enam tahun. Kin baru masuk sekolah tahun ini, jadi aku bisa sedikit lega mengenai biayanya. Sementara perkara Galang ini, aku baru membayar beberapa persen saja.
Kepalaku terasa berat. Perutku melilit—aku tidak sempat sarapan karena perhatianku tersita oleh jerawat Kin dan tetangga-tetangga sialan itu. Aku pun tidak nafsu makan siang. Mataku berkunang-kunang. Keringat dingin mulai merayapi lengan, tengkuk, dan sekujur punggungku. Pikiranku sibuk berkelana ke mana pun ia suka.
Tidak bisa seperti ini, Jen. Tidak bisa seperti ini. Pikiranku berceletuk nyalang. Kalau aku berdiam diri di kantor, kapan aku bisa mendapatkan klien? Kapan aku bisa menunjukkan kepada Pak Galih bahwa aku mampu bekerja menggunakan otak, bukannya tubuhku? Kalau aku terus-terusan mengeluh, bagaimana ada klien yang akan mendengar presentasiku? Kalau aku terus-terusan leha-leha di kantor, bagaiman presentasiku akan membuahkan hasil? Kalau aku terus melamun, bagaimana target sepuluh orang dengan premi lima jutaku bisa sukses?
Tidak bisa seperti ini, Jen. Tidak bisa seperti ini. Aku mencoba menyemangati diriku.
Bangkit, Jen. Bangkit, Jen. Aku tidak boleh menyerah. Tidak sebelum kedua anakku sukses. Tidak sebelum Galang dan Kin mampu hidup di atas kedua kaki mereka sendiri. Tidak sebelum aku mengaku kalah dan menyerah—yang mana, tidak akan pernah aku biarkan terjadi padaku. Aku tidak boleh menyerah.
Aku mengepalkan tangan, meminum air mineral yang tadi dibelikan Anye, menyambar tasku yang terletak di samping komputer, beranjak dari tempat duduk ketika seseorang menyebut namaku.
“Ada apa?” Aku berbalik.
Selama seminggu ini aku tidak berjumpa dengan Malam. Cowok itu adalah SPV di wilayah Sidoarjo, yang mengharuskannya bertanggung jawab penuh atas target di sana. Dia hanya akan berkumpul di Surabaya jika ada rapat nasional atau lagi cuti dari kerja—seperti seminggu lalu.
“Ada rapat dengan pimpinan, Maaak.” ucapnya. “Lo dan seluruh staf marketing wajib mengikuti rapat.”
“Rapat apaan lagi? Aku kudu menyelesaikan masalah klaim klienku,” tolakku. Berusaha menghindarinya. Tapi, yah, kamu tahu, kan, seperti apa Malam itu? Tidak akan menyerah jika keinginannya belum terwujud. Dia mencekal lenganku.
“Lo kenapa, sih, Maaak? Wajah lo mengerikan banget, sumpah! Lo kelihatan lebih tua kalo kayak gini, deeeh. Gue kayaknya benar-benar kudu ngajak lo refreshing deh, biar lo nggak kucel dekil menyeramkan seperti ini. Kalau lo kucel, mana ada lekong yang mau ngewonging lo.”
“Aku nggak punya waktu. Kamu tahu sendiri kan kesibukanku seperti apa?” Aku mengeluh padanya. “Mana ada masalah lagi sama kedua anakku.”
“Well, Anye udah menceritakan itu pada gue, sih. Gue benar-benar ingin nemenin lo saat lo lagi down, tapi lo tahu sendiri, kerjaan gue nggak membiarkan gue memiliki waktu luang. Gue kangen banget ama lo.” Malam memelukku. Aku bisa mencium aroma kayu manis dari tubuhnya. “Gara-gara kesibukan gue di Sidoarjo, sementara laki gue di Waru, gue jadi sering cek-cok dengannya. Kayaknya gue mau mengadop anak, deh, Jen, biar hubungan gue dan laki gue nggak garing. Kalau ada anak di tengah-tengah kami, pasti Siang nggak akan sering ngambek ama gue.”
Aku tersenyum lebar, memutar bola mata di hadapannya. “Kamu bisa menganggap Galang sebagai anak.”
“Tidak terima kasih, Nyonya. Kami membutuhkan anak yang pantatnya masih semulus ibu peri. Bukan seperti remaja yang udah mimpi basah seperti anak lo. Mana ngerokok lagi, kentutnya pasti bau tembakau. Gue nggak akan ngeracuni rumah tangga gue dengan rokok. Itu merusak kualitas s****a, tahuuuk. Gue kan masih kepingin buntiiing.”
Aku tergelak oleh ucapannya. “Aku juga kangen sama kamu.”
“Kita terusin saja acara kangen-kangenannya ini nanti, oke? Sekarang rapat dulu. Perasaan lo udah oke, kan?”
“Nggak pernah se-oke ini tanpa kamu, sih.”
Ada Pak Galih, Malam, beberapa petinggi perusahaan cabang Surabaya, dan para marketing yang ikut rapat kali ini. Aku jadi berpikir-pikir, kenapa ada Malam dalam rapat intern kali ini? Dia kan pegang wilayah Sidoarjo. Ngapain melesakkan b****g di samping Pak Galih?
Pertanyaan itu terus melesat-lesat di dalam otakku sampai Pak Galih memulai pertemuannya.
“Perusahaan minyak wangi Kembang Tujuh Rupa merupakan perusahaan parfum yang lagi maju di kancah internasional. Brand-nya di masyarakat sangat dikenal baik. Dan nilai penjualannya dalam periode tiga bulan ini mampu mengalahkan parfum Casablanca—salah seorang kepercayaan yang kebetulan teman saya, menginformasikan hal tersebut. Dan, dari orang itu pula saya mendapat kabar, bahwa sampai sekarang, pabrik Kembang Tujuh Rupa hanya menggunakan BPJS untuk meng-cover kesehatan para karayawannya.”
Suara pekikan tertahan terdengar oleh kupingku. Perusahaan besar dan belum berasuransi di badan selain BPJS adalah target empuk untuk disantap para perusahaan asuransi. Keuntungan perusahaan asuransi dari mereka bisa berkali-kali lipat. Ini benar berita bagus. Aku merepetkan tubuh pada meja. Kedua tanganku bersedekap. Mataku menatap awas Pak Galih.
“Kalau kita bekerja sama dengan Manajer HRD Kembang Tujuh Rupa, dan bisa meyakinkan padanya untuk menganjurkan sebagian karyawannya berasuransi kepada kita, berapa keuntungan yang akan kita miliki? Ditambah Direktur Utamanya? Tangkapan yang lebih paus: Komisaris? Pasang premi tinggi untuk Manager dan keluarganya. Dua juta. Direktur Utama: tiga juta. Komisaris: sepuluh juta.”
Pak Galih mengedarkan sorot matanya dengan keyakinan penuh. Senyum lebar terkembang di bibir tebalnya. Kali ini ia mengenakan setelan jas berwarna ungu—semakin tidak cocok untuk dipasangkan ke dalam tubuhnya—seseorang jelas harus menggembleng siapa pun ahli mode Pak Galih, selera berbusananya benar-benar merusak ekosistem.
“Jika salah satu dari kalian berhasil mendapatkan Manager beserta para karyawan minimal duapuluh orang: saya akan memberi komisi limapuluh juta. Kalian mendapat Manager, Dirut, dan duapuluh karyawan, komisi limapuluh juta. Dan…, jika salah satu dari kalian berhasil mendapakan Komisaris, Dirut, Manager, serta duapuluh karyawan, komisi seratus juta. Lebih dari duapuluh karyawan: per karyawan berkomisi limaratus ribu.”
Kupingku menegak mendengar apa yang diucapkan Pak Galih baru saja.
“Tapi…, saya hanya akan memilih dia yang siap bertaruh di medan ini. Di kamus saya, hanya ada gagal dan sukses. Sukses akan mendapat semua komisi melimpah tersebut. Gagal… artinya keluar dari perusahaan ini. Saya membutuhkan orang-orang yang siap mengambil risiko tinggi untuk kesuksesan yang lebih besar. Orang-orang yang rela mempertaruhkan apa yang dia punya demi keberhasilan yang menjanjikan. Sukses atau gagal, siapa di antara kalian yang berani mengambil tantangan ini, dan siapa yang lebih memilih untuk tinggal di dalam tempurung kenyamanan? Sukses atau gagal, kalian yang menentukan.”
Adakah yang mau mengulanginya lagi demi aku?
Berapa tadi nominal yang dia sebut?
Seratus juta?
Seratus juta?
Anjir!
Wow. Itu banyak banget, gila. Parah.
Aku tidak lagi melamun, kan? Tidak lagi mendengar opera radio, kan?
Aku tidak hanya bisa melunasi tanggungan biaya sekolah Kin menggunakan uang itu, aku pun bisa mengangsur biaya sekolah Galang yang hampir lunas. Bahkan, aku bisa mencukupi kebutuhan hidup selama beberapa waktu.
Astaga! Seratus juta? Ini benar-benar tidak main-main? Tidak bohongan? Bukan merupakan delusi akutku karena target yang tidak pernah tercapai, kan? Astaga, ini benar seratus juta?
Seseorang yakinkan aku bahwa seratus juta itu nolnya ada delapan. Bukan empat!
Kalimat seratus juta terus berdengung-dengung memenuhi seluruh tubuhku. Menggairahkan hormon di dalam tubuhku. Menggeliatkan semangatku—karena ini jelas, merupakan jawaban dari biaya sekolah Kin. Membuatku—antara sadar tidak sadar—mengangkat tangan secara tegas, tak terbantah. Membuat suara Pak Galih terhenti. Dan, pandangan semua orang terfokus padaku.
Pada saat itu, kelakuan sinting itu, kenekatan yang patut ditempeleng itu, bayang-bayang kenikmatan komisi sebesar itu—tanpa sedikit pun pemikiran aku akan dikeluarkan dari perusahaan jika gagal—dan entah kesurupan setan edan dari mana, aku mengluarkan suara: “Saya bersedia menerima tantangan ini.”
….
“Saya besedia mengambil risiko ini.”
….
“Saya bersedia, menghabiskan waktu saya demi perusahaan itu.”
….
“Pilih saya, Pak Galih. Dan, saya jamin, Pak Galih tidak akan menyesal.”
Satu kejadian paling sedeng di dalam hidupku itu, aku menamainya: melakukan tindakan t***l.