Bab 8

1857 Kata
“Kamu benar-benar bego, Jen.” “Lo tahu, Mak, lo sedang mempertaruhkan karier yang udah lo bangun selama sebelas tahun. Kalo lo gagal dengan tantangan ini, lo bakal tamat. Menggelandang. Nelangsa. Lalu sakit jiwa. Ew, mengerikan.” “Apa sih yang ada di pikiranmu, Jen? Kenapa kamu gendeng kayak gini? Kamu nggak mau kan kehilangan pekerjaan ini? Katanya kamu mau berjuang demi Galang dan Kin, tapi kenapa kamu malah bikin tantangan paling gila seperti sekarang?” “Gue ngajak lo ikut rapat bukan untuk menerima tantangan gila dari Pak Galih, Jen, keleees. Lo kudu waras demi Tuhan. Lo masih punya tanggungan banyak.” “Biaya sekolah anak-anak gimana? Biaya kontrakan gimana? Biaya listrik? Air? Jen, gila, cepat ke ruangan Pak Galih dan batalkan tantangan ini. Aku nggak setuju kamu bertindak senekat ini, Jen. Pake pikiran kamu.” “Benar apa yang dikatakan Anye. Batalkan segera taruhan sedeng ini, Mak.” Oke. Oke. Oke. Kalian dipersilakan untuk mengata-ngataiku bego, gila, tidak punya otak, apalah itu namanya. Aku tidak peduli. Aku sangat membutuhkan duit demi Galang. Dan apa pun akan aku lakukan—asal bukan dengan cara haram—demi bisa melunasi biaya sekolahnya. Aku tidak memiliki ladang berdaun duit. Aku pun tidak memiliki tambang emas. Jadi jelas, satu-satunya jalan agar aku bisa keluar dari masalah ini adalah menerima tantangan Pak Galih—walaupun aku sadar, itu merupakan langkah paling bego yang pernah aku ambil sepanjang masa. “Masalah biaya sekolah Galang? Em? Gue kan udah bilang ke lo dari dulu, lo nggak perlu memasalahkan biaya sekolah mereka. Gue bisa meminjami lo uang berapa pun lo menyebutkan angka. Lo bisa mengangsurnya sebisa lo, kapan pun lo ada duit, Mak. Jangan malah melakukan tindakan t***l ini, pehliiiis.” Aku tidak masalah dikatain bego atau t***l oleh kedua sahabatku ini, tapi untuk yang baru saja dibicarakan Malam, tidak bisa aku tolerir. Aku menegakkan kepala—sedari keluar dari ruang rapat tadi, aku, Anye, dan Malam pergi ke depot makan seperti biasa kami nongkrong—mataku menyipit tidak setuju. Kepalaku menggeleng tidak terima dengan apa yang diucapkan Malam. “Dan menyerahkan harga diriku sebagai ibu di tanganmu?” “Maksud lo?” “Nggak, Lam. Nggak kayak gitu. Aku memang nggak punya banyak uang untuk menghidupi kedua anakku, tapi jangan pernah pisahkan aku dengan kebanggaanku menjadi ibu. Kalau aku berhenti berjuang demi Galang dan Kin, lalu menyerah dengan keadaan, apa lagi yang bisa aku agungkan dari diriku? Satu-satunya yang menjadi kebanggaan seorang ibu adalah berjuang untuk anaknya. Kalau aku nggak berjuang, aku bukan apa-apa. Sudah cukup aku hina di mata masyarakat dengan status jandaku ini, aku nggak akan membiarkan diriku semakin nggak punya harga diri kalau kamu membiarkan aku menyerah.” “Yang bilang memisahkan lo dengan kebanggan lo menjadi ibu siapa, sih, Jen? Gue cuma mau mengutangi lo, astaga. Dan lo bisa membayarnya kapan aja. Lo tetap bisa terus bekerja dan berjuang untuk anak-anak lo, Allohu Akbar. Bukannya membiarkan lo berongkang-ongkang kaki.” “Aku bener-bener nggak tahu deh, Jen, dengan jalan pikiran kamu. Kamu memilih jalan rumit sementara ada jalan mudah menjadi ibu di depan mata dengan menerima utangan Malam. Kenapa hidupmu ruwet banget, sih?” “Aku nggak akan pernah menggantungkan nasib keluargaku pada siapa pun. Nggak pada kamu, Nye. Nggak pada kamu juga, Lam. Aku yang akan membawa ke mana arah keluargaku berlabuh. Aku yang akan menentukan nasib keluargaku sendiri. Kalau toh nanti aku gagal dan dipecat dari perusahaan ini, itu lebih baik daripada aku nggak pernah berusaha. Pertaruhanku dengan Pak Galih ini emang judi. Peluangnya 50:50. Aku bisa gagal kapan aja. Tapi, aku pun memiliki kesempatan sama besarnya untuk sukses. Aku nggak punya cara lain. Mungkin suatu saat aku akan menyesal dengan tindakan yang aku lakukan, tapi yang jelas, aku nggak pernah akan membiarkan diriku berhenti sebelum berusaha. Itu prinsipku. Berusaha bagiku sebuah keharusan.” “Ya ampun, Jeeen. Gue benar-benar kudu mengingatkan diri sendiri sebelum beradu argumen ama lo, deh. Lo satu-satunya cewek paling keras kepala yang pernah gue kenal. Terserah lo, deh, Jen. Terserah lo. Gue nggak akan ngebiarin lo gagal sih asal lo tahu aja. Gue sampai kaget tadi ngelihat lo angkat tangan dan menyerahkan diri.” “Dan, jelas, kita harus mengubah gaya presentasimu terlebih dulu.” Anye memberi usul. Dia menegakkan tubuh setelah menyedot habis es cincaunya. “Menilik sebulan lalu kamu nggak pulang membawa satu klien pun, kamu pasti akan kesusahan mendekati klien kali ini.” “Apalagi ditambah dengan kenyataan klien kita yang nggak akan bisa didekati begitu aja.” Informasi yang ditawarkan Malam membuatku menggeser p****t mendekatinya. “Kamu punya informasi tentang klien kita kali ini?” “Jen, lo nggak akan berpikir Pak Galih menyerukan perang tanpa tahu sedikit pun musuh yang akan kita hadapi, kan?” Aku sih mikirnya memang seperti itu. Siapa nama calon klienku saja, aku tidak tahu. Aku mengangkat tangan dan mencemplungkan diri ke dalam masalah juga, karena didorong keinginan besar melunasi tanggungan biaya sekolah Kin dan Galang. Coba kalau aku tidak punya masalah, mungkin melirik taruhan itu saja aku tidak sudi. Aku tahu. Aku tahu. Aku tahu. Sikapku ini sama saja dengan bunuh diri. Aku bisa saja menerima uluran tangan dari Malam seperti yang selalu dia coba dan aku tolak selama ini. Tapi tetap saja aku tidak bisa. Di dalam benakku, sudah terprogam ilmu pasti bahwa aku dilarang keras berpangku tangan, soalnya. Aku diwajibkan untuk bekerja dan menyelesaikan masalah dengan kedua tanganku sendiri—aku mendapatkan ilmu itu dari Mami yang ditinggal mati Papi saat usiaku masih delapan tahun. Itu prinsipku. Dan aku tidak akan membiarkan satu orang pun menggugat apa yang menjadi pedoman hidupku. Walaupun jujur saja, aku sangat tidak siap dengan tantangan ini. Maksudku, lihat saja diriku sekarang. Aku seorang agen mengenaskan. Dalam satu bulan kemarin, aku tidak membawa satu klien pun. Aku tidak menghasilkan sepeser premi pun. Empat bulan sebelum itu, targetku tidak pernah tersampai; kadang target personal yang tidak sampai; kadang target kuota yang gagal terpenuhi. Sebagai informasi, seorang agen asuransi sepertiku ini, selalu diberi target dari atasan setiap bulannya. Baik target secara personal (subjek yang membeli asuransi), maupun target secara kuota (jumlah premi yang dibayar pembeli asuransi). Untuk kasusku, aku memiliki target sepuluh klien tiap bulannya. Dengan premi lima juta (satu klien dengan premi limaratus ribu). Satu bulan kemarin, aku gagal total mencapai angka-angka itu. Empat bulan sebelum itu pun, angka-angka yang aku peroleh terjun drastis dari ketentuan. Dan sekarang, dengan songongnya, seperti orang kehilangan udel, aku menceburkan diri ke dalam tantangan gila ini? Semua orang yang mengalami nasib menjadi agen asuransi mandul sepertiku, pasti akan memiliki pemikiran serupa. Ini memang gila! Sangat-sangat gila! Aku—entah bagaimana bisa—kehilangan cara presentasi yang memikat. Aku sama sekali tidak tahu siapa lawan perangku ini. Aku tidak tahu latar belakang Manager HRD; namanya, pendidikannya, pergaulannya, kebiasaannya, prestasinya, keluarganya. Main menerima tantangan dengan mempertaruhkan karierku selama sebelas tahun bekerja menjadi agen asuransi? Apa namanya kalau tidak gila? Kau mau menyebut ulahku sebagai kelakuan tidak waras? Kau mau menyematkanku sebagai perempuan tidak punya otak? Silakan. Apa saja. Aku memang seperti itu pada kenyataannya. “Klien yang akan kita hadapi kali ini bukan orang biasa. Ketika gue mengatakan dia bukan orang biasa, itu artinya seluruh kepribadiannya memang benar-benar luar biasa.” Kalimat-kalimat Malam dan Anye bergulung-gulung seperti awan gelap di dalam kepalaku. Kemudian terurai menjadi hujan yang nantinya akan menenggelamkanku. Tentu saja aku memiliki pemikiran gagal. Bahkan, kalau aku boleh jujur, pikiran gagal justru yang menguasaiku sedari aku mengacungkan tangan, dan seperti orang kerasukan jin, mengeluarkan kalimat yang aku sendiri tidak tahu muncul dari mana: aku mau menerima tantangan ini. Namun, sungguh, sebagian besar diriku menyuruhku untuk mundur. Tapi, nuraniku sebagai ibu, melarangku untuk berhenti. “Dia pria paling keras yang aku ketahui sepanjang masa.” “Kamu tahu siapa klien ini, Nye?” “Kamu pikir, aku nggak tahu perusahaanku sedang ingin menangkap mangsa besar? Biarpun aku hanya staf administrasi di sini, aku tahu apa yang sedang terjadi pada perusahaanku. Kamu nggak akan pernah bertemu orang seegois itu di Surabaya selain dia, Jen. Pak Galih lewat.” “Dia memiliki prinsip untuk nggak percaya pada siapa pun, well setiap pebisnis emang kudu memiliki prinsip itu, sih. Untuk urusan bisnisnya, dia merupakan pimpinan ulung. Tapi untuk masalah di luar bisnisnya—seperti asuransi ini, gue belum tahu, deh.” Kepalaku menoleh ke arah Malam. “Aku sudah mencari profilnya. Tapi yang kudapatkan hanya artikel bahwa dia orang yang berdisiplin tinggi. Kamu tahu kan seperti apa orang yang berdisiplin tinggi? Yap, dia nggak mau hal-hal yang membuang-buang waktu. Itu artinya, kamu wajib menarik perhatiannya pada satu–dua menit pertama. Atau kamu akan kehilangan dia dan pekerjaanmu.” Kali ini, kepalaku menoleh ke arah Anye. “Mengingat betapa arogannya dia, hal itu akan sulit kalau lo nggak bisa masuk ke dalam teritori pribadinya. Mengenalnya selayaknya teman. Bercengkerama dengannya layaknya sobat lama yang nggak ketemuan. Menepuk pundaknya seperti sohib memberi dukungan. Dia nggak akan terpengaruh dengan tampang lo kalau lo nggak memiliki daya jual tinggi. Dia hanya akan menanggapi hal-hal berbau duit dan sahabat-sahabatnya.” Aku menoleh lagi seperti orang bego ke arah Malam. “Informasi lebih pentinya…. Dia seorang duda juga, Jen. Bercerai saat dia berusia tigapuluh. Majalah bisnis pernah mengulas profilnya. Asumsiku, hal itu membentuk semacam rasa nggak percaya pada perempuan—kebetulan, dia dicampakkan mantan istrinya. Sehingga, sampai detik ini, dia belum memutuskan untuk menikah.” Kembali sendi putar kepalaku bergulir menatap Anye. “Yang artinya, sayang gueee, dia nggak menginginkan perempewi cantik atau apa pun itu, perempewi seksi seseksi apa pun itu, perempewi ber-boobs besar, sebesar apa pun itu. Dia menginginkan perempewi yang bisa dipercaya.” “Kesimpulannya, kamu harus mendekatinya bukan sebagai pegawai asuransi, melainkan sebagai teman menarik yang bisa dipercaya.” “Dan tugas utama lo adalah… pedekate. Dekati dia. Pepet dia. Dan jadilah orang yang nggak akan pernah mengkhianati dia, atau lo akan kehilangan semuanya.” Di kupingku itu artinya: TAMAT RIWAYATMU, JEN. TAMAT! “Oh, satu hal yang belum gue ceritakan pada lo.” “Apa lagi?” Aku mendesah frustrasi. Siapa pun klienku ini, jelas, terlihat amat sangat sulit sekali untuk didekati. Kepalaku berdenyut nyeri. “Perusahaan asuransi yang ingin mengikatnya bekerja sama bukan hanya kita doang. Tapi ada banyak. Dan salah satunya adalah….” “Perusahaan Asuransi Gonjang-ganjing Life.” “Lo tahu kan siapa marketing hebat yang ada di Gonjang-ganjing Life?” “Aw… aw… aw…. Orang yang sangat kita kenal sekali.” “Yap, lo nggak akan lupa, Jen.” “….” “Mariana.” Perutku ambles ke dasar jurang. Kepalaku tertebas semena-mena. Jantungku mencolot dari mulut. Oke. Kalau ini sih bukan hanya menggantung diri sendiri namanya, melainkan turut mengubur diri sendiri. Mariana…. Ya, Tuhan. Kenapa dia masih hidup aja, sih? Kenapa dia tidak meninggal saja akibat tertimbun lumpur Lapindo atau apa gitu? Kenapa dia tidak dideportasi saja ke daerahnya di Gilimanuk? Kenapa dia tidak pindah planet saja? Kenapa dia masih di sini? Dan kenapa dia…. Ya, Tuhan. Haruskah aku berhadapan dengan klien paling sulit yang pernah aku jumpai selama sebelas tahun aku bekerja di perusahaan asuransi, dan berhadapan dengan lawan yang tidak pernah aku harapkan wujudnya seumur hidupku? Mariana…. Astaga, bunuh saja aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN