Bab 9

2190 Kata
Menguncir rambut menggunakan ikat karet, dan membiarkan angin malam berembus mendinginkan tengkukku, aku membuka pagar rumah. Berjalan melewati pohon mangga yang berdiri kokoh di halaman, aku melepas sepatu begitu sampai di teras. Aku membuka pintu, dan mataku langsung melihat seorang laki-laki tengah bermain gitar bersama Galang—Kin terlihat sedang membaca di seberangnya duduk. Ujung bibirku refleks terangkat. Laki-laki itu mendengak, menatapku, kemudian tersenyum lebar. Dia berdiri dari tempatnya duduk, berjalan mendekatiku, dan memberiku pelukan hangat. “Kangen banget ama lo, Mbak.” Ajidharma, adekku. Berusia tigapuluh tahun. Memiliki badan tinggi, dengan kulit cokelat akibat terbakar matahari. Pekerjaannya kontraktor, memiliki seorang istri perawat dengan dua orang anak menggemaskan. “Mbak juga kangen sama kamu, Ji.” Aku mengacak-acak puncak kepalanya. “Kapan ke sini? Kok nggak SMS Mbak?” “Tadi siang, Mbak. Rini kebetulan mau ke rumah sodara di Mojokerto, jadi gue mampir, deh. Sekarang Rini ama anak-anak lagi di rumah sodara. Belum bisa gue ajak ke sini. Capek. Baru nyampe pukul enam pagi dari Bali soalnya.” “Ouh.” Mataku melirik Galang. Tuh anak kalau ada om-nya bisa banget anteng di rumah, giliran tidak ada Aji, ke rumah jarang banget. Saat ini pemuda itu tengah bermain gitar. Kalimat Anye di minimarket tadi siang kembali terngiang-ngiang di kepalaku. Sampai sekarang, aku masih sangat tidak setuju dengan ucapan Anye. Menjadikan musik sebagai karier? Yang gila saja. Aku tidak akan membiarkan Galang sampai kecemplung ke dunia tidak keruan itu. “Mbak kelihatan tambah kurus, deh.” Aji mengikutiku ke ruang makan. Duduk di salah satu kursi sementara aku memasuki kamar untuk menaruh tas. “Aku nggak sempat makan akhir-akhir ini,” alasanku, keluar dari kamar, lalu membuka pintu kulkas untuk mengambil sebotol air mineral segar dari sana. “Kerjaan lagi banyak-banyaknya banget, Ji. Mana banyak klien yang komplain masalah klaim asuransi lagi. Aku dimarahin bos berkali-kali. Targetku nggak ada yang nyampai. Masalah anak-anak. Pusing kepalaku.” Aku melesakkan b****g di samping Aji. Mendesah pelan akibat air es yang masuk ke tenggorokanku. “Mana sempat aku makan? Meletakkan b****g sambil istirahat saja rasanya sangat sulit.” “Puji Tuhan, Mbak. Mbak tu manusia, bukan robot. Mbak harus memiliki waktu untuk diri Mbak sendiri biar nggak roboh. Mbak emangnya mau sakit?” “Ya enggak, lah. Aku dilarang sakit tahu.” “Jangan sampai lupa makanlah gitu. Kita semua sibuk, tapi jangan korbanin diri juga kali.” “Aku tahu, aku tahu, aku tahu. Aku nggak mengorbanin diriku kok. Aku hanya nggak sempat. Gimana kerjaan kamu?” “Baik, Mbak. Gue ada proyek pembuatan jembatan di salah satu dareah Kupang bulan depan. Bakal lama, sih. Tiga–empat bulanan gitu. Rencananya gue mau ngajak Rini, tapi yah, mana boleh dia cuti dari rumah sakit selama itu hanya untuk nemenin suami?” “Tumben sampai lama gitu.” “Daerahnya terpencil soalnya, Mbak. Makanya kudu diperhatiin betul-betul biar nggak salah hitung.” “Mami jadi kesepian dong di rumah.” Kalau boleh aku tambahkan, adikku tinggal satu rumah dengan Mami. Kami tidak mungkin membiarkan Mami sendirian di rumah. Bahaya. Kau tahu kan orang tua sifatnya seperti anak kecil. Yah, walaupun Mami belum tua-tua sekali, sih. Tapi Mami butuh dampingan. Terlebih dengan penyakit gulanya. Kudu ada yang mengawasi Mami minum obat. Orang tua selalu sulit untuk disiplin minum obat, kau tahu kan itu? “Mau gimana lagi, namanya juga kerja. Tapi seriusan deh, Mbak. Lo kurus banget. Lo kena busung lapar, ya?” “Kampret kamu, Ji. Enak aja.” Perut terepesku berkelontangan. Aji menatapku sambil memutar bola mata. Kenapa? Memang dosa perutku berbunyi karena lapar? “Kita cari makan yuk, Mbak. Gue ngerasa jadi penjahat banget deh ngeliat lo kurus kerempeng kek gini. Yang gede di tubuh lo cuma pinggul ama d**a—yang sepertinya emang kelebihan muatan dan makin gede aja, sih. Galang dan Kin juga hanya makan sayur tadi pagi yang diangetin. Lauk telur sama tahu aja. Mereka lagi masa-masa pertumbuhan, Mbak. Seharusnya mereka dapat gizi yang lebih baik dari ini.” Aku putar-putar mata. Kenapa ya orang-orang pada nge-judge telur sama tahu itu makanan tidak bergizi? Padahal mereka merupakan protein nabati dan hewani yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Apa hanya karena kemasan ekonomis dengan harga murah jadi main dipandang sebelah mata—mereka tidak tahu saja, harga telur sekilo sekarang duapuluh ribu; harga tahu satu plastik tiga ribu—? Bilangnya tidak boleh menilai dari penampilan fisiknya, lah sama bangsa telur tahu saja pada mendiskriminasi. Ya, Tuhan, aku ngomong apaan coba. Gule kambing yang ada di daerah Pucang memang tiada tara. Galang dan Kin bernafsu banget menghabiskan makanan. Kayak tidak pernah menyantap makanan enak saja—sebenarnya memang jarang. Er, hampir tidak pernah malah. Aku akan memasakkan makanan enak hanya jika aku mendapat komisi besar. Kalau tidak ya, telur tahu terus. “Gue miris, Mbak, ngelihat cara makan Kin dan Galang. Mereka kek sebulan nggak makan.” Aji seperti menyuarakan kalimat yang berdesing-desing di kepalaku. Otomatis, perhatianku kembali terpusat kepada anak-anakku. Aku menunduk setelah itu. Tidak ingin mengakui bahwa apa yang dibicarakan Aji memang benar. Mereka sampai tersedak saking bersemangatnya makan. Aku sebenarnya juga pengin memberi yang terbaik buat anakku. Memberi gizi paling baik buat mereka. s**u, misalnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku sudah berusaha mati-matian mendapatkan komisi banyak, tapi akhir-akhir ini penjualanku memang tidak berpihak padaku. Aku mendesah. “Mbak.” “Hn.” Depot gule yang ramai membuat obrolanku dengan Aji tidak didengar Galang dan Kin. Aku tidak ingin mereka sampai tahu apa yang sedang kami bicarakan. “Mami menyuruh Mbak pulang.” Sendok di dalam genggamanku otomatis terjatuh. Aku menunduk buru-buru, mengambil sendok dengan segera. Jantungku mencelus seketika. Tubuhku menegang menanggapi kalimat Aji. Aku tidak ingin membahas masalah ini. Aku hanya ingin tenang di waktu istirahatku. Itu saja, Tuhan. Tapi kenapa kok kayaknya ini masih jauh dari kata istirahat ya? “Mbak disuruh kawin lagi.” Aku tersedak sate kambing. Buru-buru aku menenggak es jerukku. Astaga, kalimat itu kenapa frontal sekali ditunjukkan kepadaku? Kawin? Terakhir aku kawin itu setahun lalu dengan mantan pacarku. Itu masuk kategori keinginan Mami tidak, ya? Sudah lama banget. Aku saja sampai lupa siapa nama orang yang telah meggagahiku. Itu sih biasanya pertanda permainannya tidak bagus. Tidak memuaskan. Aku menggeleng, kembali mengunyah makanan. “Aku sibuk. Kamu lihat sendiri sekarang. Untuk makan saja aku nggak punya waktu. Kok pulang ke Bali. Mana bisa? Aku nggak memiliki libur panjang. Liburku pun aku gunakan untuk bekerja. Seharusnya Mami tahu. Seharusnya, kamu pun tahu. Atau jangan-jangan, kamu ke sini disuruh Mami untuk menyeretku pulang, ya?” Terjemahan: aku tidak akan pulang sampai Mami berhenti merecokiku dengan pertanyaan kapan kawin. Aku kan sudah melewati masa itu. Maksudku, masa-masa perawan jauh dari jodoh. “Mbak coba deh lihat Galang dan Kin.” Mataku bergulir ke arah anak-anakku lagi. “Om Aji, sering-sering ngajak kami makan enak dong. Bosen tahu setiap hari dikasih telur mulu sama Mama.” Kin menjilat-jilati jarinya yang terkena kuah sate. Aku menunduk lagi. “Besok kita ke sini lagi, deh. Paginya, kita main basket di GOR, yuk. Udah lama nggak olahraga, pengin ngulur otot.” “Om, serius?” Galang-ku menyambut kalimat Aji dengan antusias. Senyumku terulas kecil. Kapan ya terakhir Galang seantusias itu? Seingatku, Galang menjadi anak berandalan selama beberapa waktu ini. Ya, Tuhan, apa yang telah aku perbuat pada anakku? “Mbak lihat sendiri, kan?” Setelah memberi keseriusan kepada Galang, Aji kembali berbicara padaku. “Mbak tahu apa yang mereka butuhkan sekarang?” Aku hanya diam saja, menyuapkan makanan rasa surga ini dengan beringas ke dalam mulut. Berusaha secuek mungkin terhadap ucapan-ucapan yang dikeluarkan Aji. Meskipun tentu saja tidak bisa. Aji duduk tepat di sampingku. Tidak ada sekat di antara kami. Apa pun yang keluar dari mulutnya, akan sangat jelas sekali diterima kupingku dengan senang hati. Mana mungkin aku bisa cuek meskipun aku berlagak tak acuh, iya, kan? Aku menyeka dahi, menyibak jumputan rambut ke belakang kuping. “Mereka butuh sosok ayah, Mbak. Mereka butuh orang yang bisa menjadi tempat bersandar mereka. Mbak bisa saja menjadi sosok ibu sekaligus ayah bagi mereka, tapi Mbak tetap nggak bisa menggantikan peran seorang ayah di dalam hati mereka. Mbak nggak boleh egois. Mbak harus memikirkan kepentingan Galang dan Kin. Mungkin sekarang emang waktunya untuk Mbak memikirkan kembali menjalin hubungan dengan pria. Menikah. Nggak ada salahnya, kan, Mbak?” Rongga dadaku menyempit. Volume jantungku membengkak. Perutku seperti ditendang kuda. Mataku terasa panas. Perih. Aku meminum kembali es jeruk yang tinggal separuh untuk menenggelamkan perasaan sesak yang memenuhi dadaku. Kali ini kalimat Aji bukan saja seperti menjatuhiku dengan bola-bola besi, melainkan juga menenggelamkanku ke dasar lautan yang membuatku tidak sanggup untuk bernapas. Aku menegakkan tubuh. Mengelap bibirku dengan tisu. Aku menatap Aji. “Apa kamu bilang?” “Gue, Mami, dan semua yang kenal lo, hanya menginginkan yang terbaik untuk Galang dan Kin, Mbak. Mereka sangat membutuhkan sosok ayah dalam hidup mereka. Gue tadi ngejemput Galang di sekolahnya, dan lo tahu, dia seneng banget ketemu gue. Pulang sekolah, gue, Galang, ama Kin main-main ke mal. Kami bertiga bahagia. Terasa lengkap kehidupan mereka jika mereka memiliki dua orang tua utuh. Gue kasihan banget ngelihat Galang dan Kin. Hati gue miris. Karena hal itulah yang gue rasakan saat kita masih kecil dulu. Sendirian bersama Mami dan lo. Menikahlah, Mbak. Demi Kin, demi Galang. Mbak nggak ingin kan mereka tumbuh seperti kita yang nggak mengenal sosok ayah seperti apa?” Tidak seharusnya dia berkata seperti itu kepada mbaknya. Tidak seharusnya dia melecehkanku dengan kalimatnya barusan. Aku memang tidak pernah bisa menggantikan peran ayah di hati anak-anakku. Tapi aku berjuang keras agar aku bisa mempersembahkan yang terbaik untuk mereka. Tidakkah adikku ini tahu, setiap kali aku mencoba untuk bertahan, sama artinya aku menekan sedemikian hebat perasaan sakit hatiku akibat gagalnya rumah tanggaku? Tidakkah dia paham, menyuruhku untuk segera mencari ayah buat kedua buah hatiku, sama saja dengan menyalahkanku karena telah membiarkan mantan suami b******k itu meninggalkan kami? Tidakkah dia mengerti, kalimat yang dia ucapkan barusan sama saja dengan merobohkan seluruh usahaku membesarkan kedua anakku? Aku hanya ingin hidup dengan kedua anakku. Aku hanya ingin berkumpul dengan mereka. Aku tidak membutuhkan pasangan. Aku bisa berdiri di atas kedua kakiku sendiri. Sekali lagi aku tekankan: aku tidak membutuhkan pasangan. “Wow, hebat banget kamu datang-datang ke sini hanya untuk menyalahkan Mbak?” Aku tersenyum miris. Semua selera makanku menghilang sudah. “Kenapa nggak sekalian kamu menghina Mbak berstatus janda seperti orang-orang kebanyakan?” “Tenang, Mbak. Tenang.” Aji mendesis, melirik kiri-kanan. Mungkin, dia tidak ingin ucapan kami terdengar pengunjung depot. “Tekan emosi Mbak. Jangan biarkan Mbak kalap dengan amarah.” Tekan emosiku? Jangan biarkan aku kalap? Aku harus bersabar seperti apa lagi? Aku bukan malaikat yang tidak memiliki perasaan. Aku seharian kerja ngalor-ngidul mencari klien. Bolak-balik kantor, rumah sakit, rumah klien untuk proses pengurusan klaim. Rapat di kantor. Aku capek. Aku butuh istirahat. Tapi pulang-pulang justru aku dijatuhi kalimat yang mengatakan bahwa: aku tidak boleh egois? Permisi, adakah yang tahu makna kalimat di atas selain menyudutkanku memiliki sifat egois selama ini? Aku? Egois? Kalau aku egois, aku lebih mementingkan diriku sendiri daripada anak-anakku. Aku masukkan kedua anakku di sekolah internasional paling baik se-Surabaya. Kedua anakku membutuhkan biaya banyak untuk sekolah, aku mengorbankan hidupku hanya demi memenuhi biaya-biaya itu. Kalau aku egois, aku akan membiarkan mereka mendapatkan pendidikan ala kadar. Aku akan membiarkan mereka minta-minta duit biaya dari ayah mereka yang biadab. Aku tidak mementingkan kesehatanku. Aku tidak peduli aku sudah makan atau tidak. Yang aku pedulikan hanya anak-anakku. Kalau aku egois, aku tidak akan mengambil hak asuh anak dari mantan b******n itu. Aku akan lebih memikirkan karierku. Penampilanku. Prestasiku. Bukan seperti ini. Aku sudah makan hati dihina-hina janda. Dilecehkan para tetanggaku. Ditowel-towel bapak-bapak k*****t, dan sekarang aku dikatain egois? Aku harus berkorban seperti apa lagi? Aku harus merelakan diriku bersimbah darah apa lagi? Aku harus menelan empedu sepahit apa lagi? Semua orang memikirkan kebaikan untuk kedua anakku—berdasarkan versi mereka. Tapi tidakkah mereka melihat posisiku? Kegagalanku dalam berumah tangga merupakan puncak kesakitan yang paling menjatuhkan seluruh hidupku. Merupakan titik di mana aku terperosok ke dalam lubang sakit hati paling dalam. Merupakan hari di mana semua mimpi buruk berkumpul menjadi satu. Aku membutuhkan waktu hampir seluruh hidup untuk bangkit dari masa-masa itu. Setiap aku berhubungan dengan lelaki lain, kesakitan itu terus membayang-bayangiku. Setiap kali aku mencoba percaya kepada lelaki lain, kegagalan itu menguntitku. Menakutiku. Menjerat kedua kakiku untuk melanjutkan langkah. Aku pun ingin membuat anak-anakku bahagia dengan memiliki papa, tapi aku trauma untuk menikah! Aku trauma membangun kehidupan berumah tangga! Aku trauma kehidupanku dicampuri mertua! Aku trauma! Aku trauma! Aku masih merasakan kesakitan itu! Masih! Mungkin waktu sebelas tahun merupakan waktu yang cukup bagi orang-orang untuk melupakan masa-masa terpuruk! Tapi tidak buatku! Karena demi Tuhan, tidak ada satu perempuan pun yang baik-baik saja akibat perceraian. Korban dari dampak perceraian tidak hanya anak-anak, tetapi juga perempuan! Hanya saja, tidak ada yang mengetahui perasaanku. Tidak ada yang tahu posisiku. Semua orang hanya datang untuk mengasihaniku. Datang dan menyuruhku menikah demi anak-anak. Sementara demi aku? Aku hanyalah perempuan hina karena berstatus janda. Maka dari itu, siapa sih yang mau tahu isi hati dari seorang single mom seperti aku? “Aku capek, Ji. Capek banget. Aku butuh istirahat.” Aku membuang napas besar. “Galang, Kin, ayo kita pulang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN