Bab 6. Godaan Sang Mantan

1165 Kata
"Katanya kita nggak ketemu dulu hari ini?" tanya Dela ketika Ivan tiba-tiba datang ke rumahnya. "Aku pergi dari rumah. Kami habis ribut besar tadi pagi," ujar Ivan sambil duduk di ruang tamu. "Istriku melihat kita sedang makan di restauran kemarin dan dia juga menemukan struk belanja dan syal milikmu!" jelasnya kemudian. Dela memberikan masukan, "Seharusnya kamu beritahu saja tentang hubungan kita. Pasti dia tidak terima dikhianati dan menggugat cerai!" "Dia tidak mau berpisah karena sangat mencintaiku," ujar Ivan memberitahu. "Ya sudah, kalau begitu ceraikan saja dia!" saran Dela yang secara langsung mendesak Ivan untuk menjatuhkan talak. "Kamu nggak kenal siapa istriku. Di balik sifat genit dan bucinnya sama aku, dia itu orangnya nekat. Aku takut dia menyakiti kamu dan memviralkan hubungan kita sebagai perselingkuhan di media sosial. Nama baikku sebagai pengusaha bisa tercoreng. Lagipula aku tidak punya alasan yang kuat untuk menceraikannya," ujar Ivan menjelaskan alasannya tidak mau menceraikan Viona. Dela tampak menghela nafas panjang dan berkata, "Aku yakin kamu bisa memutuskan yang terbaik. Terus apa rencanamu selanjutnya?" "Aku berencana mau menginap di hotel untuk sementara waktu," ujar Ivan yang perlu tempat tenang untuk mencari solusi mengatasi masalahnya dengan Viona. Mendengar itu Dela langsung menawarkan tempat untuk Ivan menginap, "Aku rasa lebih baik kamu tinggal bersamaku saja. Kebetulan aku sendiri dan di rumah ini ada dua kamar. Jadi kita tidak perlu repot-repot mencarinya tempat dan waktu yang tepat untuk bertemu!" "Bukan aku tidak mau, nanti kalau ada tetangga yang tahu akan jadi masalah. Lebih baik di hotel saja lebih aman!" Ivan menolak tawaran Dela. "Ya sudah terserah, tapi seharian ini kamu di rumahku saja ya. Nanti malam baru nginap di hotel!" sahut Dela yang dijawab anggukan oleh Ivan. "Ini kesempatanku untuk membuat Ivan melupakan istrinya!" batinnya yang mulai menjalankan rencana. Sementara itu di rumah Viona sangat terkejut ketika mendapat kiriman foto dari supir pribadinya. Di mana Ivan pergi ke rumah minimalis dan disambut oleh seorang perempuan cantik. "Jadi Mas Ivan pergi ke rumah wanita itu?" lirih Viona dengan d**a yang mulai bergemuruh. "Tidak salah lagi pasti mereka punya hubungan khusus. Apa kurangnya aku, sampai Mas Ivan lebih memilih dia?" tanya Viona dengan hati yang perih. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi suaminya, tetapi tidak tersambung. Viona tidak menyangka Ivan mematikan ponsel. "Keterlaluan, pasti Mas Ivan sengaja karena tidak mau diganggu. Aku tidak akan membiarkanmu berpaling Mas." Ia kemudian berpikir untuk mencari tahu siapa wanita itu sebenarnya sampai Ivan yang terkenal dingin, tiba-tiba berubah jadi bucin. Viona kemudian menelepon Pak Adi dan memberikan perintah untuk terus mengawasi ke mana pun Ivan pergi. "Pokoknya kalau Bapak pergi dari rumah itu, Pak Adi langsung pulang ikuti saja dan cari tahu siapa nama wanita itu!" "Baik Bu," sahut Pak Adi dengan patuh. Sambil menunggu kabar dari supir pribadinya, Viona mulai mencari tahu siapa wanita itu melalui media sosial milik suaminya. Ivan tidak banyak memiliki akun media, hanya satu saja dan itu pun diprivasi. Dia tidak suka kehidupannya diketahui orang lain. Ivan tidak tahu, kalau berteman dengan istrinya di media sosial karena Viona memakai akun samaran. Namun, Viona tidak menemukan apa pun karena suaminya jarang membuat status atau memposting sesuatu. Ia kemudian menelusuri satu persatu teman media sosia Ivan yang terdiri dari para relasi bisnis. "Semua teman Mas Ivan adalah pebisnis dan wanita karir. Jadi tidak mungkin wanita itu ada di pertemanan. Aku saja tidak diperbolehkan memfollownya," lirih Viona yang tahu Ivan sangat menjaga nama baik. Tidak mendapatkan petunjuk apa pun, Viona segera menutup akun media sosial suaminya. Namun, ia tidak akan menyerah sampai tahu semuanya. Seharian ini Ivan benar-benar dibuat dejavu akan kenangan terindah masa lalunya. Dela melayani seperti sedang menyambut kedatangan seorang kekasih. Mulai dari menyetel lagu kenangan, membuat makanan dan minuman kesukaan Ivan. Bahkan wanita itu berpakaian dan memakai parfum ketika masih kuliah dulu. Sehingga membuat Ivan terbuai oleh nostalgia dan sejenak melupakan masalahnya dengan Viona. "Nanti untuk makan malam kita pesan online lagi?" tanya Dela sambil merebahkan punggungnya di d**a bidang Ivan. "Terserah kamu," jawab Ivan sambil membelai rambut Dela. Dela memberikan saran, "Bagaimana kalau kita makan iga bakar lada hitam?" "Boleh," jawab Ivan yang sudah lama tidak menikmati makanan kesukaannya itu. Cinta terkadang membuat seseorang lupa akan statusnya. Tidak peduli sudah mempunyai istri atau anak sekali pun. Bahkan ada yang tega meninggalkan keluarganya, demi mengejar cinta. Padahal belum tentu orang yang dicintai mau berkorban untuk pasangannya. Contohnya seperti Ivan, tidak peduli dan mau mengerti perasaan Viona sedikitpun. Padahal ia tahu istrinya itu sangat mencintainya. Bahkan mau melayani dan menjalankan kewajibannya dengan sebaik mungkin. Namun, semua yang telah Viona lakukan seakan tidak ada artinya karena cinta Ivan hanya untuk Dela seorang. Mentari kian menyongsong ke ufuk barat, Viona tampak resah menunggu kabar dari supir pribadinya. Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering, ia segera menerima telepon itu. "Bapak baru saja pergi Bu, berdua sama seroang wanita. Sekarang saya sedang mengikuti mereka," ujar Pak Adi melaporkan. "Terus ikuti Pak dan beritahu saya mereka pergi ke mana!" seru Viona yang ingin tahu apa saja yang dilakukan oleh suaminya dan wanita itu. Tidak lama kemudian, Viona mendapat kiriman sebuah foto salah satu restauran elit di Jakarta. Setengah jam kemudian, Viona kembali mendapat laporan lagi. "Bu, mobil Bapak sudah tidak ada di parkiran. Padahal saya cuma tinggal salat sebentar," ujar Pak Adi yang membuat Viona tampak kecewa. "Ya sudah, Pak Adi pulang saja!" seru Viona dan bertanya pada diri sendiri, "Kamu pergi ke mana Mas?" Jujur Viona takut Ivan dan wanita itu melakukan hal yang lebih jauh lagi. Bulir-bulir air matanya berjatuhan ketika membayangkan pengkhianatan yang suaminya lakukan. "Kamu akan membayar mahal kalau sampai terbukti mengkhianati aku, Mas," desis Viona yang sampai kapan pun tidak terima diduakan. Setelah makan malam bersama, Dela mengantar Ivan ke salah satu hotel bintang lima yang berada tidak jauh dari restauran tadi. "Sebelum mengantar kamu pulang, aku mau mandi dulu ya," ujar Ivan yang dijawab anggukan oleh Dela. Sambil menunggu Ivan mandi, Dela melepas jaket crop yang dipakainya dan hanya mengenakan dress dengan tali satu. Ia kemudian memutar salah satu lagu kenangan, berjudul from this moment yang membuat suasana kamar hotel jadi romantis. Tidak lama kemudian, Ivan sudah ke luar dari toilet. Dengan memakai celana pendek dan kaos ketat yang membuat otot badannya tercetak jelas. Sehingga Dela yang melihatnya tampak terpukau. "Kamu nggak usah antar aku, nanti capek!" ujar Dela sambil menghampiri Ivan dan memuji, "Tubuhmu semakin atletis saja!" Mendapat pujian dari wanita yang dicintainya membuat hati Ivan bergetar. Apalagi ia melihat Dela hanya memakai dress yang membuat gairah pejantannya langsung bergejolak hebat. "Milikku aku sepenuhnya, Van!" rayu Dela sambil menyelusuri d**a Ivan yang bidang dengan jemarinya. Sekuat-kuatnya iman lelaki akan runtuh juga, kalau berdua dengan orang yang dicintainya. Apalagi mereka sudah lama memendam perasaan. Cinta telah membuat Ivan lupa akan prinsip yang selama ini dijunjung tinggi. Sentuhan-sentuhan yang Dela lakukan membuat Ivan semakin terlena oleh godaan sang mantan. Bahkan ia tidak bisa menolak ketika diajak melakukan yang lebih dari itu. Ivan juga tidak memikirkan apa yang terjadi jika istrinya tahu dikhianati dengan cara seperti ini. Bahkan ia tidak peduli ada hati yang terluka sangat dalam BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN