Langit tampak cerah hari ini, tapi tidak dengan hati Viona karena sudah beberapa hari suaminya tidak pulang ke rumah dan tanpa kabar. Sehingga membuat pikiran dan perasaan Viona semakin berkecamuk. Semua usahanya untuk mencari tahu siapa wanita itu dan keberadaan Ivan menemui jalan buntu. Bahkan Viona sampai menulis surat permohonan maaf yang dikirim melalui email.
Namun, tidak ada tanda-tanda kapan Ivan akan pulang. Takut terjadi sesuatu terhadap suaminya, Viona hari ini memutuskan menemui seseorang untuk meminta bantuan. Dengan diantar supirnya, ia pergi ke salah satu gedung pencakar langit. Setelah sampai di tempat tujuan, Viona segera naik lift ke lantai atas di mana orang yang ingin ditemuinya berada.
"Aku merasa senang sekali akhirnya kamu mau datang menemuiku. Apa kabar Viona?" sapa seroang pria tampan yang memakai setelan kerja.
Tanpa membuka kaca mata coklat dan masker yang dipakainya, Viona menyahuti, "Baik, aku ingin minta bantuanmu lagi Regan!"
Pria bernama Regan itu tersenyum dan berkata, "Aku akan selalu ada untukmu. Sekarang katakan apa yang harus kulakukan!"
Viona segera mengeluarkan ponsel dan mengirim foto seorang wanita yang sudah diedit berserta alamat rumahnya ke ponsel Regan.
"Aku ingin kamu menyelidiki siapa wanita itu dan latar belakangnya. Juga temukan di mana suamiku sekarang berada!" pinta Viona to the poin.
"Aku kira kedatanganmu untuk mengundangku makan malam bersama suamimu. Ternyata masih memintaku untuk mengerjakan tugas lama," ujar Regan yang diam-diam langsung mengirim foto kiriman Viona ke staf ahlinya.
"Aku tunggu sekarang juga!" tukas Viona diluar topik yang dibicarakan Regan.
"Apa wanita itu ada kaitannya dengan Ivan?" tanya Regan ingin tahu.
Viona menjawab dengan datar, "Bukan urusanmu, lakukan saja yang aku pinta!"
Regan kembali menimpali dengan santai, "Setelah sekian lama tidak bertemu kamu masih seperti yang dulu Vio. Apakah kamu tidak lelah?"
"Sebagai tanda terima kasih, kita akan makan malam berdua hari ini juga," janji Viona lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.
"Oke, tapi aku ingin kamu melepas kaca mata dan masker sampai info itu kudapatkan!" sahut Regan yang sudah lama tidak melihat wajah Viona secara langsung.
Demi mengetahui di mana Ivan berada. Viona akhirnya menuruti permintaan Regan. Mereka kembali melanjutkan perbincangan dengan membahas kedatangan Mami Linda tempo hari.
"Selama ini Mami selalu memikirkanmu," ujar Regan memberitahu dan membatin, "Sama seperti aku."
"Iya aku tahu, kemarin kami sempat makan siang bersama," sahut Viona tanpa menatap Regan. Baru menunggu beberapa saat, ia sudah tidak sabar. "Kenapa lama sekali?"
"Sabar semua butuh proses. Sambil menunggu minumlah dulu!" sahut Regan yang segera mengambilkan Viona minuman dingin dari dalam kulkas.
Viona segera meneguk minuman yang diberikan Regan. Tanpa ia ketahui hasilnya sudah ada dari tadi. Namun, Regan sengaja mengulur waktu karena bertemu Viona seperti lahan gersang merindukan hujan.
Akhirnya setelah hampir sejam Regan baru memberitahu info yang ingin Viona ketahui.
"Pemilik rumah itu adalah Roky dan wanita itu ngontrak di sana namanya Delarossa," ujar Regan memberitahu.
"Untuk suamimu, sekarang dia berada di Jalan Melati nomor 22 Blok A," sambungnya kemudian.
Viona segera beranjak ketika mendengar alamat itu yang secara tidak langsung memberitahu, kalau suaminya sudah pulang.
"Terima kasih Regan, aku pulang dulu!" ucap Viona sambil berlalu.
"Kamu tidak boleh pergi karena sudah janji mau makan malam bersamaku!" ujar Regan mengingatkan.
Viona menyahuti dari jauh, "Aku tidak akan lupa!"
Regan tampak menghela napas panjang karena tahu Viona sedang tidak baik-baik saja. Akan tetapi, ia tampak senang karena kehadiran Viona cukup mengobati kerinduannya.
Ketika sampai di rumah, Viona langsung mencari suaminya. Ternyata Ivan berada di dalam kamar dan sedang berdiri sambil menatap ke luar jendela.
"Mas jangan pergi lagi!" pinta Viona sambil memeluk Ivan dari belakang.
"Sudahlah, kita lupakan semua!" sahut Ivan sambil berbalik dan membiarkan Viona memeluknya untuk melepas kerinduan.
Mendengar itu hati Viona terasa lega dan lebih tenang. Ia kemudian berucap, "Terima kasih Mas, aku janji tidak akan mengungkit masalah itu lagi."
"Iya, sudah cukup jangan dibahas lagi!" sahut Ivan yang dijawab anggukan oleh Viona.
Sejak kepulangan suaminya, Viona tidak bertanya lagi soal Dela. Hubungannya dengan Ivan kembali seperti semula, meksipun masih dingin dan hambar. Viona tidak memikirkan perasaan Ivan kepadanya yang penting bisa bersama-sama lagi itu sudah lebih dari cukup.
Hari-hari selanjutnya, Ivan pulang kerja seperti biasa. Paling hanya sesekali itu pun masih dengan alasan yang sama yaitu lembur. Viona mempercayai Ivan, meskipun feeling nya berkata lain.
"Bagaimanapun sikap Mas Ivan, aku tidak boleh komplain karena sebentar lagi kami akan merayakan anniversary yang ketiga. Aku akan memberikan hadiah kejutan untuknya," lirih Viona yang sudah menyiapkan kado istimewa. Ia juga berencana akan mengajak Ivan bulan madu sekalian menemui Mami Linda.
***
Waktu cepat berputar, tidak terasa hari ini genap sudah Viona dan Ivan menginjak tiga tahun pernikahan. Dari pagi Viona sudah sibuk di dapur untuk membuat menu makan malam dengan tangannya sendiri. Bahkan ia tidak mengizinkan asisten membantunya.
"Mbak, bersih-bersih dan rapikan rumah saja ya!" ujar Viona selalu berusaha menjadi istri yang baik.
Ketika sore hari, Viona sudah selesai memasak dan membuat kue kesukaan Ivan. Setelah itu ia segera membersihkan diri dan akan berdandan secantik mungkin sebelum suaminya pulang kerja.
Hari ini Ivan pulang lebih cepat dari biasanya. Sehingga membuat istrinya jadi senang sekali karena dua kali anniversary ia tidak pernah ingat. Pria itu melihat keadaan rumah yang bersih dan wangi. Bahkan ketika membuka pintu kamar, Viona menyambutnya seperti raja.
"Mas sudah pulang," sapa Viona yang segera menyalami tangan suaminya.
"Iya, kamu tidak usah masak nanti kita makan di luar saja!" sahut Ivan yang ingin memanjakan istrinya.
Viona segera menolak ajakan Ivan secara halus, "Mas, kita makan di rumah saja ya. Aku sudah masak spesial untuk hari ini!"
"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu," ujar Ivan yang dibalas anggukan oleh Viona.
Setelah mandi dan sejenak beristirahat, Ivan segera menemui Viona yang sudah menunggunya di meja makan, sambil membawa paper bag yang entah apa isinya. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Viona yang tampak lebih cantik. Istrinya itu bahkan terlihat anggun dengan gaun malam yang membalut tubuhnya.
"Ayo Mas, silahkan dicipipi!" ujar Viona yang segera mengambilkan hidangan pembuka.
Mereka kemudian segera makan malam bersama dengan lahap.
Ivan mengakui selain cantik, istrinya juga pandai memasak. Ia juga tidak memungkiri Viona melayaninya dengan sangat baik selama mereka menikah. Selesai makan malam, mereka memotong kue ulang tahun pernikahan sebagai penutup.
"Bagaimana menu makan malam dan kuenya Mas, enak nggak?" tanya Viona sambil menatap Ivan dengan penuh cinta.
"Sangat lezat," jawab Ivan yang membuat pipi Viona bersemu merah.
"Oh ya, aku punya sesuatu buat Mas," ujar Viona sambil menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang. "Silahkan dibuka!" serunya dengan antusias sekali.
Ivan segera membuka kado dari Viona yang berupa sebuah jam tangan. Ia kemudian berkomentar, "Bagus aku suka, terima kasih."
"Ada lagi loh Mas, ini dia kejutan utamanya!" Viona memberikan hadiah istimewa.
Ivan membuka amplop itu dan tempak terkejut melihat tiket bulan madu ke Singapura. Ia kemudian tersenyum simpul sambil menatap Viona dengan saksama.
"Aku juga punya kejutan untukmu!" ujar Ivan sambil memberikan sebuah paper bag untuk Viona.
Viona menerima kado itu dengan jantung yang berdebar-debar karena untuk pertama kalinya Ivan memberikan hadiah pernikahan. Ternyata paper bag itu berisi sebuah map. Dengan penasaran Viona membuka dan membacanya dengan saksama.
Viona tampak terkejut dan wajahnya langsung berubah jadi tegang. Dengan tangan gemetar, ia menatap Ivan lekat seraya bertanya, "Surat gugatan cerai, apa maksudnya Mas?"
BERSAMBUNG