"Maafkan aku Viona, kita tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Cukup tiga tahun saja!" ujar Ivan yang membuat Viona tampak tercengang mendengarnya.
Sambil menggeleng Viona bertanya, "Apa salah dan kurangnya diriku Mas?"
"Tidak ada, kamu istri yang cantik dan baik Viona. Tapi sayang aku tidak mencintaimu," jawab Ivan dengan jujur.
"Selama ini aku sudah berusaha, tapi tidak bisa. Wanita itu adalah Dela, cinta pertamaku dan aku memutuskan untuk menikahinya," jelasnya kemudian.
Rasanya dunia seakan mau runtuh mendengar pengakuan Ivan. Hati Viona terasa sakit sekali seperti diiris ribuan sembilu yang tajam. Kenapa Ivan baru mengatakan yang sebenarnya sekarang. Setelah membuat Viona seolah-olah yang bersalah.
Tanpa bisa ditahan lagi air mata Viona mulai berjatuhan. Kini ia mengerti cintanya selama ini bertepuk sebelah tangan. Ivan hanya menjadikannya sebagai tempat pelarian saja dari masa lalu. Memanfaatkan sebagai seorang istri untuk melayani semua kebutuhannya, tidak lebih dari itu.
"Kamu salah Mas, aku punya satu kekurangan yaitu bodoh. Aku memang bodoh telah mencintai dan berusaha memasuki hatimu. Tapi kamu sungguh keterlaluan dan tidak punya perasaan memberikan aku hadiah seperti ini!" sahut Viona sambil menatap Ivan dengan geram.
Viona menyesal telah mengikuti ambisinya untuk memiliki Ivan. Padahal ibunya sudah menentang niatnya untuk menikahi pria itu. Kini semua sudah terjadi dan sesal pun tiada berguna.
"Terima kasih sudah mencintaiku, tapi aku tidak mau kamu semakin terluka. Jadi tolong maafkan sikapku selama ini dan kamu tenang saja aku akan memberikan kompensasi perceraian yang setimpal. Rumah ini berserta isinya, mobil, juga perhiasan menjadi milikmu. Aku juga sudah mentransfer uang senilai satu miliar ke rekeningmu!" ujar Ivan yang sudah merencana perceraian ini dengan sangat matang.
Selain surat gugatan perceraian, map yang diberikan Ivan juga berisi bukti kepemilikan rumah atas nama Viona.
Namun, kompensasi yang diberikan Ivan tidak membuat Viona senang. Ia justru semakin terisak karena hatinya terasa perih sekali. Setelah tiga tahun berjuang mendapatkan cinta Ivan. Kini ia harus dicampakkan dengan cara yang sangat menyakitkan. Seperti barang yang sudah tidak berguna lagi.
"Kamu jahat Mas, jahat. Kenapa tidak menceraikan aku dari awal pernikahan saja?" tanya Viona yang merasa menyesal telah memilih Ivan.
Berniat mencari pria yang mencintainya dengan tulus. Justru Viona terluka karena cintanya sendiri. Memang seperti itulah prinsipnya, mencintai berarti harus siap terluka.
Andai Viona mengikuti kata-kata Mami Linda untuk mengatakan siapa dia sebenarnya, pasti tidak akan sesakit ini. Namun, manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Apa yang dialami Viona adalah takdir atas pilihannya sendiri.
"Karena kamu tidak pernah berbuat salah dan sangat baik sebagai seorang istri," jawab Ivan memberikan penilaiannya terhadap Viona.
"Jadi seperti ini caramu menghargaiku, keterlaluan!" desis Viona yang sampai kapan pun tidak akan pernah terima diperlakukan dengan cara seperti ini.
Viona berharap malam ini merasakan sedikit kebahagiaan. Setidaknya membuat Ivan senang dan puas dengan gairah panas yang akan mereka lakukan. Namun, takdir berkata lain Viona justru mendapatkan kejutan anniversary yang tidak akan terlupakan seumur hidupnya.
Ivan hanya bisa menghela nafas panjang karena apa yang dikatakan Viona benar adanya. Sebenarnya ia tidak mau menceraikan Viona di hari ini, tetap Dela terus mendesaknya. Terlebih setelah mereka melakukan kencan satu malam dan Dela mengancam akan pergi jauh kalau tidak segera dinikahi. Membuat Ivan terpaksa secepatnya menceraikan Viona.
Tidak mau kehilangan dan berpisah dengan cinta pertamanya lagi, Ivan diam-diam menyewa pengacara untuk mendaftarkan gugatan ke pengadilan. Kepulangannya juga hanya sandiwara agar rencananya berjalan dengan mulus dan semua berhasil.
Seharusnya Ivan membiarkan Viona merasa bahagia malam ini. Namun, dengan tanpa perasaan, ia meremukkan hati istrinya hingga hancur berkeping-keping. Memberikan kejutan berupa racun dan pengkhianatan.
Sementara Viona memberikan hadiah madu cinta.
"Tega kamu Mas, tega!" lirih Viona dengan air mata yang menganak sungai.
Sisi kemanusian Ivan tersentuh melihat Viona yang menangis sambil sesenggukan. Ia kemudian mendekati istrinya dan berkata, "Kita masih bisa berteman Vio. Aku janji akan selalu siap untuk membantumu!"
Kata-kata Ivan membuat cinta Viona perlahan berubah jadi kebencian karena seolah-olah apa yang dilakukan pria itu hal yang wajar.
Sementara itu di salah satu rumah, Dela tampak menunggu kedatangan Ivan dengan harap-harap cemas. Sesuai rencana seharusnya pria itu sudah sampai.
"Jangan-jangan Ivan gagal membujuk istrinya untuk menandatangani surat perceraian itu?" tebak Dela dengan was-was. Ia kemudian menelepon Ivan untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
"Sabar Del, Viona sedang menangis. Dia sangat sedih sekali setelah aku menceraikannya!" Ivan langsung memberikan penjelasan, sebelum Dela bertanya.
"Pokoknya kamu jangan sampai luluh melihat air mata Viona. Kalau sampai gagal, kita tidak akan bertemu lagi dan mungkin aku akan mengandung anakmu!" ujar Dela mengingatkan.
Ivan kembali menyakinkan Dela, "Tidak akan, keputusanku sudah bulat, kalau Viona tidak mau tanda tangan, aku akan menjatuhkan talak secara lisan malam ini juga!"
"Oke, aku tunggu kedatanganmu secepatnya!" sahut Dela mengakhiri percakapan itu.
Dela terlihat senang sekali karena rencana untuk merebut mantannya itu berhasil. Ia sudah tidak sabar untuk menggantikan Viona sebagai istri Ivan. Seorang CEO di perusahaan yang sedang berkembang pesat.
"Sebentar lagi wanita itu akan tersingkir dari hidup Ivan untuk selamanya!" desis Dela dengan yakin karena merasa sudah jadi pemenang.
Sebenarnya sebulan sebelum bertemu dengan Ivan, Dela sudah memantau rumah tangga mantannya itu. Awalnya ia pesimis bisa mendekati Ivan yang sudah menikah dan memiliki istri cantik. Namun, setelah melihat sikap Ivan yang dingin dan acuh tak acuh kepada Viona. Membuat Dela mempunyai celah untuk memasuki kehidupan pria itu lagi. Melalui masa lalu mereka, peluang Dela menjerat Ivan sangat besar.
Rencana Dela pun berjalan dengan lancar, terlebih Ivan ternyata masih mencintainya. Apalagi setelah berhasil merayu Ivan untuk melakukan kencan. Kini tinggal selangkah lagi, ia akan menjadi Nyonya Ivan yang kaya. Tentu saja Dela tidak menyusun rencana itu sendiri. Keluarganya pun turut andil untuk membantu.
Setelah menghubungi Dela, Ivan kembali menemui Viona. Akan tetapi, ia tidak melihat istrinya lagi.
"Viona, kamu di mana?" panggil Ivan sambil mencari. Jujur ia takut Viona mengambil keputusan nekat.
Pikiran Ivan mulai kalut membayangkan hal buruk yang akan terjadi karena sudah merencanakan perceraian ini secara baik-baik. Tiba-tiba ia mendengar suara kaca pecah dari dalam kamar dan teriakan Viona.
"Jangan nekat Viona!" pekik Ivan sambil lari menuju ke kamarnya. Ia segera masuk dan tampak terkejut melihat kondisi kamar yang berantakan dan ada kobaran api.
BERSAMBUNG