Viona membanting dan membakar foto pernikahannya dengan Ivan. Ia tidak mau ada barang kenangan di antara mereka tertinggal di kamar ini. Tidak lama kemudian api itu pun padam. Seperti redupnya cinta Viona untuk Ivan.
Ivan tampak tertegun melihatnya. Tanpa bisa menghalangi atau mencegah apa yang wanita itu lakukan. Ia tahu Viona marah dan kecewa karena tidak terima diceraikan pada malam anniversary mereka.
"Jangan takut, aku tidak akan melakukan tindakan bodoh lagi. Cukup kebodohanku hanya mencintaimu saja!" ujar Viona seolah tahu apa yang dicemaskan Ivan.
Ivan tampak lega karena Viona tidak melakukan tindakan nekat. Ia kemudian menawarkan tambahan kompensasi lagi agar perceraian dengan Viona berakhir secara baik-baik.
"Kalau hakmu sebagai mantan istri kurang banyak dan tidak adil bilang saja, aku akan memberikannya lagi!" ujar Ivan yang siap mengabulkan apa pun permintaan Viona, asalkan semua cepat selesai dengan damai.
"Semua harta yang kamu berikan tidak bisa menggantikan cinta, waktu dan pengorbananku selama menjadi istrimu, Mas. Aku sudah menanda tangani surat perceraian itu," ujar Viona yang akhirnya melepaskan Ivan. Menyerah karena perjuangannya telah usai.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi!" pamit Ivan sambil berlalu.
"Jangan pergi Mas, biar aku saja. Sekarang ke luar lah dari kamar ini aku mau ganti baju karena kita bukan muhrim lagi!" seru Viona tanpa menatap Ivan.
"Kamu mau ke mana, rumah ini milikmu?" tanya Ivan ketika melihat sebuah koper.
"Untuk melupakan kenangan jangan berada di tempat yang membuatmu terluka!" Viona memberikan jawaban telak. Setelah menyerahkan segenap jiwa raga, justru ia dikhianati dan dicampakkan tanpa arti. Sungguh sakit tak berdarah.
Mendengar itu Ivan kemudian berucap, "Maaf Viona. Aku tidak pernah berniat menyakitimu!"
"Kamu tidak salah Mas, tapi aku yang salah telah mencintaimu. Padahal dari awal kita bertemu kamu sudah menolakku. Terima kasih sudah memberikan aku pelajaran dan pengalaman tentang arti cinta," ucap Viona yang membuat Ivan jadi terenyuh mendengarnya.
Pelajaran yang dapat Viona petik dari perceraian adalah jangan terlalu berambisi untuk memiliki seseorang karena belum tentu akan mendapatkan hatinya, meskipun sudah bersusah payah berkorban dan mengejar cintanya.
Entah mengapa setelah melihat Viona seperti ini, tiba-tiba Ivan merasa jadi pria yang sangat jahat sekali. Seharusnya, kalau tidak mencintai jangan menyakiti. Akan tetapi, ia juga tidak mau terus membohongi perasaannya dan Viona. Menurutnya perpisahan ini adalah solusi terbaik, mumpung mereka belum punya anak.
"Semoga kamu kelak mendapatkan pasangan yang lebih baik dariku dan mencintaimu dengan tulus!" doa Ivan merasa gagal menjadi suami yang baik. Ia segera meninggalkan Viona dengan d**a yang mulai sesak.
Setelah Ivan ke luar dari kamar, Viona segera mengganti gaun malam yang dipakainya. Ia kemudian memasukan barang-barang pribadinya ke dalam koper. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Viona segera menghubungi seseorang untuk minta dijemput. Sambil menunggu, ia menatap sekeliling kamar dengan nanar.
Air mata Viona kembali berjatuhan sambil menatap ranjang yang selama ini menjadi saksi bisu. Tempat di mana ia mencurahkan kasih sayang dan cintanya untuk Ivan seorang. Namun, semua akan menjadi kenangan terindah yang paling menyakitkan.
"Ternyata sesakit ini mencintai tanpa dicintai," lirih Viona yang merasa hatinya hancur karena cinta. Ia hanya wanita biasa yang bisa rapuh dan terluka.
Tiba-tiba asisten datang dan memeluk Viona dengan erat. Mereka kemudian menangis bersama.
"Ibu yang sabar ya. Pasti Allah punya rencana yang terbaik untuk Ibu dan Bapak!" ujar Mbak Diah menjadi saksi, kalau Viona adalah seorang istri yang baik dan sangat mencintai suaminya.
"Saya yakin Ibu pasti kuat dan bisa melewati cobaan ini!" sambung asisten itu memberikan semangat.
"Terima kasih Mbak, maaf kalau selama ini saya punya salah. Tolong bersihkan kamar ini ya Mbak!" sahut Viona yang harus segera pergi. Sambil menyeret koper, ia keluar dari kamar itu dengan berderai air mata.
"Vi, tolong pikirkan sekali lagi jangan pergi, kalau kamu tidak mau tinggal di rumah ini jual saja dan beli yang baru!" saran Ivan ketika melihat Viona membawa koper.
"Aku tidak membutuhkan rumah ini. Seharusnya Mas yang tetap tinggal di sini, pasti sebentar lagi penggantiku akan datang bukan?" sahut Viona yang membuat Ivan terdiam. "Selamat tinggal Mas, aku doakan kamu selalu bahagia bersamanya!" ucapnya sambil tersenyum di atas luka.
Ivan memberikan kata-kata terakhirnya
"Jika suatu hari nanti kamu berubah pikiran. Kembalilah karena rumah ini beserta isinya akan selalu menjadi milikmu!"
Sebenarnya Ivan berat menceraikan Viona. Namun, pernikahan ini harus berakhir demi kebahagiaan masing-masing.
Rencana Ivan berjalan sesuai harapan, tetapi kepergian Viona tidak pernah terpikirkan olehnya. Ia mengira wanita itu akan tetap tinggal di rumah ini. Ingin meninggalkan justru dirinya yang merasa ditinggal.
"Jangan takut Mas, aku tidak akan menuntut atau memperpanjang perceraian ini. Aku ikhlas melepaskanmu dan cintaku!" sahut Viona mengakhiri percakapan mereka.
Viona mendapatkan pengalaman baru, kalau cinta itu tidak harus memiliki. Ia akan mengubur perasaannya kepada Ivan jauh di lubuk hati yang paling dalam. Semoga sang waktu dapat membunuh rasa itu dengan perlahan.
Dengan langkah gontai Viona, ke luar dari rumah itu. Ia kemudian menemui Pak Adi yang selama ini menjadi supir pribadinya.
"Saya pergi ya Pak, maaf kalau ada salah," pamit Viona sambil tersenyum.
"Ibu, mau pergi ke mana ayo saya antar!" sahut Pak Adi sambil membukakan pintu mobil.
"Tidak usah Pak, sebentar lagi ada yang menjemput. Nanti tolong bantu bawa dan masukan koper saja ke bagasi. Terima kasih dan maaf kalau saya ada salah!" Viona juga menolak menerima mobil yang dibelikan Ivan untuknya.
Pak Adi kemudian menyahuti, "Sama-sama, semoga Allah selalu melindungi Ibu!"
Viona merasa bersyukur mendapat simpati dari orang-orang baik seperti Mbak Diah dan Pak Adi. Sebenarnya yang ia butuhkan saat ini bukan materi, tetapi dukungan. Untuk meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil Pajero Dakar datang dan berhenti tepat di depan rumah itu. Viona menatap rumah yang pernah menjadi tempat merajut mimpi untuk terakhir kalinya.
Sekarang ia harus bangun dan siap menjalani hidup sesuai takdirnya.
"Ya Allah, tolong berikan Mas Ivan hidayah-Mu. Agar dia mengerti akan arti cinta yang tulus!" doa Viona yang segera masuk ke mobil.
Sementara itu dari balik jendela, Ivan menatap mobil yang ditumpangi Viona dengan saksama. Ia merasa heran kenapa kendaraan semewah itu menjemput Viona, kalau taksi online sepertinya tidak mungkin.
"Siapa orang yang menjemput Viona?" tanya Ivan yang tiba-tiba jadi penasaran karena setahunya Viona tidak punya kerabat satu pun di kota ini.
BERSAMBUNG