Bab 15. Boros

1230 Kata
"300 ratus juta?" ujar Ivan tampak terbelalak ketika melihat jumlah tagihan kartu kredit yang dipakai istrinya dalam satu bulan. Belum lagi uang cash yang berikannya secara tunai. "Viona saja dulu tidak pernah belanja sebanyak itu," lirihnya dengan spontan membandingkan. Ivan cukup royal sama istrinya dan tidak pernah itung-itungan. Tapi kalau sebanyak itu terlalu boros menurutnya. Apalagi mereka belum punya anak. "Dela pasti marah kalau aku pertanyakan buat belanja apa saja uang sebanyak itu," lirihnya sambil berpikir untuk mengendalikan keuangan istrinya. Diam-diam Ivan segera menghubungi bank untuk mengatur limit kartu kredit yang dipakai Dela. Baru saja Ivan ingin beristirahat tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia melihat Dela menghubunginya. Ivan sengaja tidak menerima panggilan itu sampai mendapatkan pesan. "Sayang, kok kartu kredit aku nggak bisa dipakai sih, over limit tulisannya. Aku kan mau beli tiket buat pulang besok," pesan Dela dengan emoji orang bingung. Ivan segera menghubungi supri pribadi Dela untuk mengecek kebenarannya. "Di, Nyonya sedang apa sekarang?" "Nyonya lagi belanja di mal sama keluarganya Pak. Sepertinya mau borong baju dan beli perhiasan," jawab Adi dengan jujur. Tapi Ivan juga mewanti-wanti jangan sampai Dela tahu. "Ya sudah, jangan bilang saya telepon ya!" pesannya mengakhiri percakapan itu dan berlirih, "Sepertinya Dela sangat royal sama keluarganya." Ponsel Ivan kembali berdering lagi. Mau tidak mau ia menerima panggilan itu. "Kenapa baru diangkat sih, kamu ke mana saja?" tanya Dela dengan kesal. Ivan memberikan jawaban logis, "Aku baru bangun tidur." "Cepat kirimin aku uang sekarang, kartu kreditnya nggak bisa dipakai!" pinta Dela dengan tidak sabar. "Bisa kok, coba kamu kurangi total belanjaannya!" saran Ivan kemudian. Dela menolak saran Ivan, "Nggak bisa dikurangi, mau ditaruh di mana muka aku karena sudah terlanjur milih-milih barang!" "Mobile aku lagi kosong, kalau soal tiket nanti aku belikan!" ujar Ivan sambil memijat pangkal hidungnya. "Sayang tolong aku, malu kalau sampai batal, sekali ini saja. Aku janji besok nggak belanja lagi!" Dela mulai merengek. Ivan tampak terdiam kalau sampai istrinya malu maka nama baiknya bisa tercoreng. Ia kemudian memutuskan, "Oke, tapi jatah bulanan kamu aku kurangi!" "Iya atur saja, cepat kirim uangnya sekarang!" sahut Dela yang sudah tidak sabar. Setelah membayar semua total belanjaan Dela, iseng-iseng Ivan membuka lemari baju istrinya. Ia tampak menggeleng melihat isinya full dengan pakaian branded bebagai model dan aneka jenis make up. Juga perhiasan yang tidak terhitung nilainya dan barusan Pak Adi bilang masih beli lagi. Padahal baru sebulan Dela menjadi istrinya sudah boros. Bukan Ivan tidak suka istrinya membeli semua itu. Akan tetapi, ia tidak habis pikir dengan pakaian dan perhiasan sebanyak itu kenapa Dela tidak pernah dandan di rumah. Justru terlihat tidak menarik sama sekali seperti Viona. Ia jadi meragukan, kalau benar-benar mencinta Dela selama ini. Ivan kembali teringat dengan Viona yang tidak pernah menuntut apa pun. Selalu menerima berapa pun yang diberikannya. Semua kenangan indah dan pahit mereka berperang dibenaknya. Sehingga membuat Ivan jadi merasa bersalah dan menyesal telah mencampakkan Viona. Namun, nasi telah menjadi bubur dan semua tidak sepertinya perkiraan Ivan. Suara ketukan membuat Ivan tersadar dari lamunannya. Ia membukakan pintu dan melihat Mbak Diah yang datang menemui. "Maaf Pak, saya mewakili asisten lainnya mau tanya kapan kami gajian?" tanya Mbak Diah karena sudah telat seminggu gajinya belum dibayarkan. "Memangnya Nyonya belum bayar gaji kalian?" tanya Ivan yang dijawab gelengan kepala oleh asisten itu. Diah juga menyodorkan tagihan listrik bulan ini. Sehingga membuat Ivan semakin terkejut karena Dela pergi awal bulan. Seharusnya sudah membayar semuanya. *** Dela pulang dengan wajah yang masam. Ia tampak kesal sekali karena mengalami pembatasan kartu kredit. Akan tetapi, Ivan bersikap biasa saja ketika pulang kerja. "Kamu pasti telah membatasi limit kartu kreditku kan?" tanya Dela sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. "Iya, kalau non limit kamu terlalu boros," sahut Ivan dengan apa adanya. "Wajar aku boros bulan ini karena masih menyesuaikan menjadi istrimu. Semua aku lakukan demi menjaga nama baikmu sebagai suami," sahut Dela membela diri. "Oke, aku tidak mempermasalahkan uang yang sudah terpakai. Tapi mulai hari ini semua pengeluaran aku yang handel. Termasuk gaji para asisten dan supir!" tukas Ivan yang membuat Dela terkejut. Dela ingat belum membayar pengeluaran rumah tangga. Dengan merendahkan suaranya ia berkata, "Ya sudah, kalau kamu nggak percaya sama aku lagi." "Aku menerimamu apa adanya, maka begitupun sebaliknya! Inilah sifat dan sikapku jadi kita adil bukan?" ujar Ivan yang mulai bersikap tegas. Wajah Dela seketika langsung berubah jadi pucat karena tahu apa maksud perkataan Ivan dan mengaku, "Aku memang lupa bayar gaji mereka. Tapi aku akan segera bayarkan." "Tidak usah, sudah aku talangi!" sahut Ivan sambil masuk ke kamar mandi. "Sial, kenapa Ivan bisa tahu. Aku harus mencari tahu siapa yang telah mengadu!" batinnya dengan geram. *** Setelah pergi belanja sama ibunya, Viona terlihat senang sekali karena baru saja membeli beberapa cincin berlian dan barang-barang pribadi lainnya. "Mami senang sekali kamu sudah kembali seperti dulu lagi. Pokoknya kamu harus melupakan pria itu dan fokus menjadi diri sendiri!" ujar Mami Linda memberikan motivasi. "Iya Mi, aku akan menjadi diriku yang sesungguhnya!" tekad Viona sambil tersenyum yang sulit diartikan. Mami Linda kembali menimpali, "Bagus, menjalani kehidupan itu memang harus realistis. Jangan pedulikan orang suka atau tidak dengan diri kita. Buktikan tanpa cinta kamu juga bisa bahagia!" "Iya Mi, terima kasih atas sarannya. Aku akan ingat selalu nasihat Mami. Sekarang aku mau istirahat dulu ya!" pamit Viona yang dijawab anggukan oleh Mami Linda. Setelah masuk ke kamar, Viona segera membuka grub sosialitanya. Ia kemudian memfoto dan memamerkan cincin berlian yang baru saja dibelinya. Satu persatu semua anggota grub langsung memberikan komentar. Viona tersenyum senang membacanya, tetapi tidak ada pertanyaan yang ditanggapi satu pun. "Biarkan mereka menebak-nebak sendiri berapa harganya!" lirih Viona yang membuat teman-temannya jadi penasaran. Namun, salah satu admin grup langsung memberikan pernyataan. 'Kita mau mengadakan meet and greet pada tanggal empat belas bulan ini. Jadi semua anggota grub wajib hadir, terutama anggota baru, kalau mangkir maka akan dikeluarkan dari grub!' Viona tampak terkejut membacanya. Jujur ia belum siap untuk bertatap muka secara langsung dengan para teman sosialitanya. Akan tetapi, kalau tidak hadir rencananya bisa berantakan dan ia tidak mau hal itu terjadi. "Oke, aku akan hadir. Sepertinya kalian memang harus tahu siapa aku sebenarnya!" desis Viona sambil melihat tanggal empat belas yang jatuh pada lusa. Pada tanggal yang telah ditentukan, di salah satu restaurant elit di Jakarta. Sekelompok wanita terlihat berkumpul di meja VIP. Mereka terdiri dari para istri pengusaha, pejabat setempat dan wanita karir. Semua yang mereka kenakan barang branded dan berkelas atas. Mulai dari pakaian, sepatu, tas dan perhiasan. "Aku penasaran sama Black Rose. Dia selalu update memposting barang-barang mewah, tapi nggak pernah mau membalas komentar," ujar Diana ketua sosialita Red Lily. "Iya, jangan-jangan dia cuma beli perhiasan atau barang-barang palsu makanya nggak pernah komentar," sahut Rosa yang dijawab anggukan oleh teman-teman sosialita lainnya. "Kita lihat saja nanti, nah itu dia sudah datang!" ujar Erika yang paling mengerti barang dan bisa mengorek informasi lainnya. Semua mata tampak tertuju pada seorang wanita yang memakai dress hitam. Begitupun dengan tas, sepatu dan kaca mata yang senada. Wanita yang mempunyai nama akun Black Rose itu berjalan dengan anggun menghampiri mereka. "Senang bisa bertemu kalian semua, kenalkan namaku Black Rose," ujar wanita itu sambil membuka kaca mata hitamnya. Semua orang melihat penampilan Black Rose dengan saksama terutama Delarossa. Mereka tampak tercengang setelah memperhatikan apa yang dipakai wanita itu. Mulai dari ujung kaki sampai kepala membuatnya tampak cantik dan memukau. "Se-selamat datang Black Rose, senang berjumpa denganmu, silahkan duduk!" seru Erica dengan yang tiba-tiba jadi gugup. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN