Hakekatnya setiap orang itu harus menerima dan melengkapi kekurangan pasangannya masing-masing. Ivan sedang mencoba menerapkan prinsip itu. Setelah Dela marah karena merasa dibandingkan dengan Viona, Ivan tidak lagi protes apa yang istrinya lakukan. Ia
membiarkan Dela bertindak semaunya dan bicara hanya seperlunya saja.
Ivan yakin suatu hari nanti Dela akan jadi istri yang baik karena segala sesuatu itu butuh waktu untuk berubah. Ia kini menyibukkan diri dengan bekerja, sedangkan Dela fokus menjalani dunia sosialitanya. Lama-lama Ivan mulai terbiasa menjalani pernikahannya dengan cara seperti itu. Ia tidak mau mengeluh karena baik buruknya Dela adalah pilihannya sendiri.
"Salah satu keluargaku di luar pulau mengundang kita. Tidak enak kalau nggak dateng, lagi pula kita bisa sekalian liburan. Lusa kita berangkat paling cuma seminggu menginap di sana," ujar Dela memberitahu.
Ivan menjawab dengan acuh tak acuh, "Aku sibuk, kamu saja yang pergi ya nanti aku kasih uangnya."
"Ya sudah, biar aku yang datang mewakili. Tapi aku boleh kan diantar pakai mobil?" ujar Dela yang dijawab anggukan oleh Ivan. "Kamu nggak marah aku tinggal menginap?" tanya wanita itu kemudian.
"Nggak, yang penting kamu bahagia!" sahut Ivan yang membuat Dela senang mendengarnya.
Dela kemudian berucap, "Terima kasih Sayangku. Kamu memang pengertian."
Sebenarnya bisa saja Ivan menemani Dela, tetapi sedang tidak mood. Sikap Dela yang mementingkan diri sendiri, membuat Ivan jadi acuh tak acuh. Tidak ada lagi kehangatan dan debaran seperti dulu lagi. Begitupun dengan urusan ranjang yang jarang sekali mereka lakukan.
Jujur penampilan Dela di rumah membuat Ivan illfeel. Padahal dulu cintanya untuk wanita itu mampu terjaga selama bertahun-tahun. Akan tetapi, kini setelah mereka bersatu, rasa itu kian memudar entah ke mana
Lusa harinya tepat pada hari weekend, Dela langsung terbang ke Lampung dengan diantar Pak Adi. Sementara itu libur Ivan di rumah saja, menikmati kesendiriannya dalam kesepian. Tiba-tiba ia ingat kalau ada undangan pernikahan dari salah satu relasi bisnisnya. Daripada jenuh di rumah Ivan memutuskan untuk pergi ke acara itu.
"Loh, kok datang sendiri Pak Ivan. Istrinya nggak ikut?" tanya salah satu rekan Ivan.
"Iya Pak, istri saya lagi pulang kampung," jawab Ivan apa adanya.
Ivan kemudian beramah tamah dengan kawan-kawannya. Sampai waktunya mereka pulang. Sambil fokus menyetir Ivan tiba-tiba teringat cerita temannya yang membicarakan kelebihan dan kekurangan istri mereka.
"Istriku memang tidak terlalu cantik, tapi dia sabar banget. Selalu support dan menemani aku sampai bisa sukses seperti ini," ujar Budi seorang manajer.
"Kalau istriku bawel, tapi sebenarnya dia perhatian dan pintar mengatur keuangan," sahut Arif yang menjadi wakil direktur.
Tiba-tiba kawan Ivan yang lainnya bertanya, "Ada nggak ya kira-kira yang punya istri cantik, perhatian, sabar, pintar dan selalu melayani kita dengan baik?"
"Ada istri halusinasi," celetuk salah satu yang membuat semua tertawa karena jarang sekali ada wanita seperti itu.
Namun, di dalam hati Ivan berteriak satu nama yaitu Viona. Sampai saat ini mantannya itu masih jadi sosok istri terbaik di mata Ivan.
"Oh ya, kamu masih mendua Dod. Kenapa nggak nikahin saja simpananmu itu?" Salah satu rekan Ivan yang berselingkuh mendapat pertanyaan.
"Sampai kapan pun istriku tidak akan tergantikan karena sudah berkorban banyak untukku, meskipun aku nggak cinta-cinta banget sama dia. Lagipula wanita itu adalah mantan pacarku yang dulu nolak aku karena miskin. Jadi sudah sudah sepantasnya dia hanya jadi kekasih gelap!" sahut pria itu kemudian.
Entah mengapa obrolan dengan kawan-kawannya tadi seolah menampar Ivan. Seburuk-buruknya teman Ivan mereka masih menghargai istrinya. Sehingga membuatnya merasa bersalah karena telah mencampakkan Viona dengan cara seperti itu. Tanpa sadar ia sudah sampai di depan pintu gerbang, tetapi di rumah lamanya.
"Kok aku jadi pulang ke sini?" tanya Ivan dengan heran. Entah mengapa ia jadi ingin singgah barang sejenak.
Ivan segera turun dari mobil sambil mengeluarkan kunci untuk membuka pintu gerbang. Ketika pintu utama terbuka, ia merasa seperti pulang kerja. Ivan mengedarkan pandangan seolah sedang mencari seseorang yang selalu menyambutnya. Namun, hanya harapan semu berkawan dengan kerinduan yang menyapanya.
Kenangannya bersama Viona kembali berputar di rumah ini. Membuat kerinduan itu kian menelusup ke relung hatinya.
"Mas sudah pulang?" sapaan Vio kembali terngiang membuatnya jadi dejavu.
"Mas, masakan aku enak nggak?" Ivan kembali teringat pertanyaan Viona ketika melihat meja makan.
Ivan kemudian menelusuri ruangan demi ruangan di dalam rumah itu. Seolah ia sedang bernostalgia dengan masa lalu. Padahal baru sebulan dirinya bercerai dengan Viona. Namun, entah mengapa terasa sudah begitu lama sekali. Sehingga membuat rasa rindu ini semakin kuat saja.
Ivan bukan hanya ingat kebersamaannya dengan Viona saja. Pertengkaran mereka pun seperti film yang kembali diputar secara otomatis. Ia jadi membayangkan Viona yang menangis setelah beberapa kali ribut dengannya. Sehingga Membuat Ivan merasakan sesak dan membuahkan sesal di d**a.
"Apa salah dan kurangnya aku, Mas?" tanya Viona sambil berderai air mata.
"Sekarang kamu di mana Vi? Aku mau minta maaf karena telah membuat hatimu terluka," ujar Ivan yang ingin bertemu dengan Viona secara langsung.
Ivan kemudian masuk ke kamar utama untuk mencari jejak keberadaan Viona. Namun, ia tidak mendapatkan petunjuk apa pun. Hanya sebuah gaun malam yang terakhir Viona pakai pada anniversary pernikahan mereka. Ia mengambil gaun itu dan menciumnya dengan penuh kerinduan.
Ivan menghembuskan nafas dengan kasar untuk mengurai rasa sesak di dadanya. Ia tidak sanggup kalau berada di rumah ini lama-lama. Ivan segera menaruh gaun itu kembali di tempat semula. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kotak. Ivan pun teringat kalau itu adalah kado dari Viona.
"Aku ingin Mas, mengingatku setiap waktu," ujar Viona ketika menyerahkan hadiah itu di malam anniversary mereka.
Ivan segera mengambil jam itu sambil mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Cari petunjuk keberadaan Viona di apartemen elit itu. Aku akan bayar berapa pun dananya!" seru Ivan yang kembali mencari mantan istrinya.
***
"Aku sanksi rencanamu akan berhasil," ujar Regan setelah mendengar keinginan Viona.
"Semua butuh proses, tidak semudah membalikan tangan," sahut Viona dengan optimis.
Regan tampak menghela nafas panjang melihat semangat Viona dan berujar, "Tapi aku takut kamu akan semakin terluka."
"Kamu bilang luka itu perlu untuk membuat kita jadi kuat bukan. Tapi selain untuk itu aku akan buat sebagai pengingat agat tidak terluka lagi," timpal Viona kemudian.
Regan memperjelas maksud perkataannya, "Bukan luka, tapi cintamu."
"Rasa itu sudah mati, kita lihat saja hasilnya!" tegas Viona yang telah memposting sebuah cincin berlian di salah satu grup sosialita di Jakarta.
"Buat apa kamu masuk grub itu?" tanya Ivan ingin tahu.
Viona menyahuti sambil tersenyum simpul, "Nanti juga kamu akan tahu."
Regan menatap Viona dengan saksama seolah sedang membaca jalan pikiran wanita itu. Katanya Viona mau balas dendam, dengan minta data perusahaan Ivan. Setelah diberikan ia justru masuk ke grup sosialita.
"Ya sudah, terserah kamu!" ujar Regan yang segera meninggalkan Viona. Ia kemudian masuk ke kamarnya yang ada di rumah mewah itu.
Saking penasarannya Regan mengecek semua anggota grub sosialita Viona. Ia tampak tertegun membaca salah satu nama. Regan yang memiliki daya ingat kuat tentu saja tahu siapa pemilik nama itu. Ia kini sudah bisa meraba jalan pikiran Viona. Padahal kalau Viona mau mudah baginya untuk menghancurkan perusahaan Ivan dalam sekejap.
"Dasar wanita suka yang ribet," lirih Regan yang diam-diam menyadap ponsel Viona atas perintah Mami Linda.
Regan sengaja melakukan penyadapan itu untuk mengantisipasi kalau rencana Viona gagal. Ia kembali terkejut melihat pesan dari seseorang yang memberitahu keadaan Ivan sekarang.
"Buat apa Viona masih mencari tahu kabar mantan suaminya? Jangan-jangan dia ingin .., aku tidak akan membiarkanmu melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, Vio!" desis Regan yang sudah bisa menebak rencana Viona.
BERSAMBUNG