Hari demi hari berlalu, tidak terasa sebulan sudah Ivan menikah dengan Dela. Ia mulai merasakan perbedaan pelayanan yang diberikan oleh Viona dan Dela sebagai seorang istri. Dulu setiap hari Viona selau membangunkan Ivan ketika subuh. Terus menyiapkan pakaian kantor dan membuat sarapan. Sekarang justru kebalikannya, Dela yang sering dibangunkan karena kerap bangun siang.
"Del, pakaian kantor aku mana?" ujar Ivan yang terburu-buru karena bangun kesiangan.
"Itu Sayang," tunjuk Dela asal dengan mata yang masih terpejam.
Ivan mengambil pakaian kantor yang sudah disediakan olah Dela. Akan tetapi, ia melayangkan protes, "Kenapa dasinya yang ini, kurang cocok sama warna kemeja aku?"
"Ya sudah, pilih saja sendiri!" sahut Dela yang enggan bangun dari tempat tidur.
Ivan tampak menghela panjang dan segera mencari dasi yang lebih cocok. Setelah rapi memakai baju kantor, ia kemudian berpamitan, "Aku mau berangkat.
"Hati-hati Sayang!" sahut Dela yang memilih tetap berada di balik selimut daripada mengantar suaminya pergi kerja.
Lagi-lagi Ivan tampak menggeleng melihat sikap Dela yang selalu membuatnya mengelus d**a. Ia segera ke luar dari kamar dan tanpa sengaja berpapasan dengan asisten dari rumah lama.
"Sarapannya sudah siap Tuan," ujar Diah yang ditugaskan untuk membuat sarapan dan menyiapkan makan malam buat Ivan.
"Di kantor saja Mbak, aku buru-buru," tolan Ivan sambil berlalu. Ia segera masuk ke mobil dan meluncur pergi ke kantor. "Aku harus bicara sama Dela, dia tidak bisa seenaknya seperti itu kepadaku!" lirihnya sambil fokus menyetir. Ivan memang tidak mau memakai supir karena sudah terbiasa membawa mobil sendiri.
Menjalang makan siang, Dela baru bangun tidur. Ia kemudian mengambil ponselnya untuk melihat ada chat dari siapa saja. Setelah membalas beberapa pesan, Dela langsung ke luar kamar dan menuju ke dapur.
"Tuan, nggak sarapan Diah?" tanya Viona ketika melihat sarapan buat suaminya masih utuh di atas meja makan.
"Nggak Nyonya, katanya buru-buru," jawab Diah.
Mendengar itu Dela langsung mengomel, "Dari tadi kenapa nggak dirapihkan? Ngapain saja kamu, pasti main ponsel terus kan?"
"Nggak Nyonya, saya nyiapin sayuran buat masak makan malam," jawab Diah yang jadi serba salah. Kemarin dirapikan dituduh makan sarapan.
"Alasan, oh ya sekarang kamu masak buat makan siang. Soalnya keluarga saya mau datang, masak capcay sama daging teriyaki yang enak ya!" sahut Dela sambil berlalu untuk mandi.
Diah tampak menghela nafas panjang karena Dela suka mendadak memberikan perintah. Dengan dibantu dua asisten lainnya ia segera buru-buru masak.
Pas ketika jam dua belas, keluarga Dela pun datang. Mereka langsung makan siang bersama.
"Kok sayurannya masih setengah mateng, Del?" tanya Ibunda Dela sambil membuang makanan yang sedang dikunyah.
"Dagingnya juga masih keras dan alot," sahut adiknya Dela menimpali.
Kakaknya Dela pun ikut melayangkan protes, "Jadi nggak selera makan aku, kita makan siang di restauran saja lah!"
"Diah, ke sini kamu!" panggil Dela dengan lantang.
Diah langsung menghampiri dan bertanya, "Iya Nyonya, ada apa?"
"Kamu sudah lama kan kerja sama Tuan, kenapa masakan ini semuanya belum mateng?" tanya Dela dengan emosi.
"Nyonya bilangnya mendadak jam sebelas siang tadi. Terus ada bumbu yang harus dibeli dulu, jadi saya buru-buru masaknya!" sahut Diah dengan apa adanya.
Namun, Dela yang tidak mau tahu jadi marah-marah, "Banyak alasan, pokoknya gaji kamu saya potong dua puluh lima persen!" Ia segera pergi untuk mengajak keluarganya makan di restauran.
"Sepertinya aku nggak sanggup kerja di rumah ini lagi," lirih Diah yang sudah tidak tahan diperlakukan semena-mena oleh Dela.
Senja tampak merona di ufuk barat ketika Ivan baru pulang kantor. Ia kemudian membuka pintu dan tidak melihat Dela menyambutnya. Padahal dulu setiap berangkat dan pulang kerja. Viona selalu mengantar dan menunggunya dengan senyum yang mengembang.
"Aku tidak boleh memikirkannya," ujar Ivan yang segera menepis ingatan itu sambil masuk ke kamar.
Selesai mandi Ivan kemudian menuju ke dapur dan melihat Diah sedang sibuk masak buat makan malam.
"Nyonya, ke mana Mbak?" tanya Ivan sambil duduk di meja makan.
"Pergi Tuan, tadi keluarga Nyonya datang ke sini. Sepertinya mereka makan siang di luar!" jawab Diah dengan jujur.
Ivan menghembuskan nafasnya dengan kasar dan segera menghubungi Dela. Ketika tersambung, ia langsung bertanya, "Kamu di mana?"
"Aku lagi di coffee shop Sayang. Habis menemani keluargaku makan siang dan shoping. Aku nggak sengaja ketemu teman sosialita di mal jadi kami ngobrol dulu sebentar," jawab Dela dengan santai.
"Ya sudah, sebelum makan malam kamu harus sampai di rumah!" seru Ivan yang segera mengakhiri percakapan itu. Ia
kemudian beranjak dan menuju ke ruang tengah untuk beristirahat.
Waktu terus bergulir dan tidak terasa waktu makan malam pun tiba. Setelah salat isya, Ivan menuju ke meja makan di mana hidangan sudah tersedia. Namun, Dela belum pulang juga. Ia tampak menghela nafas panjang karena harus mengambil nasi dan lauk pauk sendiri.
"Sayang, maaf ya aku baru pulang. Tadi jalanan macet banget. Tanya saja Pak Adi kalau tidak percaya!" ucap Dela sambil duduk di hadapan Ivan.
Ivan tidak menyahuti dan tetap mengunyah makanannya dengan perlahan. Akan tetapi, baru beberapa suap ia segera menyudahi makan malamnya.
"Kenapa nggak dihabisin, katanya kamu lebih suka makan masakan rumah daripada beli di restauran?" tanya Dela yang melihat nasi dan lauk pauk di piring Ivan masih banyak.
"Rasanya aneh," jawab Ivan yang kurang suka dengan menu makan malam kali ini.
Dela kemudian memanggil, "Diah sini. Kamu bisa masak nggak sih, tadi siang masih mentah sekarang nggak enak."
"Memang begitu rasa masakan saya Nyonya karena selama ini yang bikin sarapan dan masak makan malam buat Tuan, Ibu Viona," jawab Diah dengan apa adanya.
"Jangan bawa-bawa nama orang, bilang saja kamu nggak bisa masak!" sahu Dela dengan ketus.
Mendengar itu Ivan langsung menengahi, "Sudah cukup, tinggalkan kami Mbak! Katanya kamu mau menjadi istri yang lebih baik dari Viona. Tapi tidak ada satu pun yang kamu kerjakan."
"Maksud kamu apa membandingkan aku sama Viona?" tanya Dela yang tidak suka mendengar Ivan menyebut nama mantan istrinya.
"Viona selalu membangunkan aku sebelum azan subuh. Mengantar dan menyambut ku setiap pulang kerja. Dia juga masak setiap hari," ujar Ivan memberitahu apa saja yang Viona kerjakan.
Mendengar itu Dela langsung meradang dan menyahuti dengan sengit, "Kamu sudah tahu dari dulu, kalau aku nggak bisa masak dan soal tidur aku yang sudah biasa bangun siang. Jadi kenapa baru sekarang dipermasalahkan?"
"Karena kamu sekarang sudah punya suami, Dela!" balas Ivan yang ingin Dela mengerti akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Memangnya tugas apa yang tidak aku lakukan sebagai seorang istri? Ingat ya istri itu bukan pembantu, makanya aku pekerjakan dua asisten lagi. Katanya kamu mencintaiku dan mau menerima apa adanya. Baik kelebihan maupun kekuranganku," tukas Dela yang tidak merasa bersalah.
"Aku memang mencintaimu Dela, tapi tolong layani aku dengan baik seperti Viona!" ujar Ivan yang membuat Dela jadi semakin murka.
Dela berdiri menatap Ivan dengan tajam seraya berkata, "Jangan sebut-sebut nama wanita itu lagi dan membandingkan aku dengannya karena kami tidak akan pernah sama." Ia segera meninggalkan Ivan yang tampak bergeming.
Ivan mengusap mukanya dengan kedua tangan. Ternyata sifat Dela berbeda jauh ketika sebelum mereka menikah.
Benar kata orang kalau sudah menikah baru tahu watak asli pasangan. Sekarang ia baru menyadari kalau Viona dan Dela bagaikan dua sisi mata uang.
Namun, Ivan mencoba untuk sabar menghadapi Dela. Ia sudah memilih jadi mau tidak mau harus menerima kekurangan istrinya itu. Entah mengapa tiba-tiba Ivan jadi teringat Viona yang kini entah berada di mana. Orang suruhannya gagal melacak keberadaan wanita itu.
"Kamu di mana dan sedang apa Vi?" tanya Ivan pada dirinya sendiri. Tanpa ia sadari benih-benih rindu mulai tumbuh di hatinya.
BERSAMBUNG