Bab 12. Luka dan Ambisi

1246 Kata
"Kenapa kamu membohongi Mami?" tanya Mami Linda sambil menatap Viona dengan saksama. "Apa yang telah terjadi Viona, jawab dengan jujur!" serunya kemudian. Viona tidak mampu berkata-kata karena air matanya sudah berjatuhan. Ia kemudian menghambur memeluk ibunya dan menangis tersedu. "Mami, maafkan aku!" ucap Viona sambil terisak. Mami Linda mengelus punggung Viona. "Ikut Mami pulang sekarang juga!" ajak wanita paruh baya itu. Tanpa menunggu putrinya bercerita ia sudah menebak apa yang telah terjadi. Viona menatap Regan seolah minta pembelaan dari pria itu. "Tunggu Mami, aku bisa jelaskan semuanya!" ujar Regan mencoba menahan Mami Linda agar tidak mengajak Viona pergi. Mami Linda menatap Viona dengan tajam dan berkata, "Ikut Mami pulang sekarang juga atau kita tidak akan bertemu lagi, meskipun Regan membantumu!" Ancaman Mami Linda membuat Viona dilema. Pulang dan menerima semua yang telah terjadi atau tetap di Indonesia menjalani kenyataan pahit. "Aku pulang Mi," ujar Viona memutuskan. *** Dela tampak terpukau melihat rumah yang akan ditempati olehnya dan Ivan. Selain terbilang cukup mewah, kediaman itu juga sudah dilengkapi beberapa perlengkapan dan perabotan rumah tangga. Ditambah lagi seorang asisten dan supir pribadi untuk membantu Dela mengerjakan kewajibannya sebagai seorang istri. "Bagaimana kamu suka?" tanya Ivan yang dijawab anggukan oleh Dela. "Bagus banget rumahnya, tinggal nambahin alat-alat rumah tangga yang kurang saja!" sahut Dela sambil melihat-lihat apa yang harus dibeli. Ivan kemudian berujar, "Mulai sekarang aku percayakan kamu yang mengurus rumah ini!" "Iya Sayang tenang saja. Aku akan menjadi istri yang lebih baik dari mantanmu," ujar Dela dengan yakinnya. "Oh ya, rumah lama kamu kosong dong?" tanya Dela ingin tahu. Ivan menjawab dengan jujur, "Rumah itu aku berikan buat Viona agar dia mau menanda tangani surat perceraian kami." "Oh begitu," ujar Dela dan membatin, "Dasar perempuan matre, berarti nanti rumah ini akan menjadi milikku dong, kalau seandainya pisah sama Ivan!" "Oh ya, jangan lupa besok kita pergi bulan madu ke Bali!" ujarnya mengingatkan. Namun, Ivan menolak ajakan Dela,"Pending saja, aku nggak bisa cuti lagi dan harus kembali kerja!" "Masa nggak bisa libur beberapa hari lagi sih. Kamu kan pemilik perusahaan?" ujar Dela terlihat kecewa. Ivan memberikan penjelasan, "Bersabarlah, ada proyek yang sedang berjalan, jadi harus aku awasi terus. Nanti kalau sudah selesai baru kita bulan madu!" Mendengar alasan Ivan, Dela yang tadinya cemberut langsung tersenyum. Membayangkan keuntungan yang akan di dapatkan suaminya. "Ya sudah nggak apa-apa, aku ngerti kok kalau kamu sedang sibuk. Semangat ya Sayang!" ujar Viona yang dijawab anggukan oleh Ivan. Setelah beberapa hari menikah Ivan kembali bekerja. Sementara Dela mulai menjalankan perannya sebagai istri seorang pengusaha. Dia bergaul dengan istri-istri pebisnis lainnya yang mempunyai kehidupan kelas atas. Hampir setiap hari Dela pergi shoping untuk membeli keperluan pribadinya. Seperti tas, sepatu dan baju branded. Untuk mengurus rumah, ia menyerahkan semuanya sama asisten. Bahkan Dela menambah dua orang asisten lagi untuk membantunya melakukan pekerjaan rumah tangga. "Kalian kerja yang benar ya, kalau sampai melakukan kesalahan harus siap potong gaji. Apa kalian mengerti?" ujar Dela yang sudah merasa sebagai nyonya besar. Para asisten itu menyahuti secara bersamaan, "Iya Nyonya. "Pak Adi, selain jadi supir harus merangkap sebagai tukang kebun juga ya!" serunya kembali. "Kalau Pak Adi sedang mengantar saya pergi, kalian bertiga yang harus menggantikannya menjadi tukng kebun!" "Baru saja jadi istri Pak Ivan, maunya dilayani seperti ratu. Ibu Viona saja yang sudah tiga tahun nggak seperti itu, baik dan ramah!" batin Mbak Diah membandingkan. Dela kemudian berseru, "Kalau kalian sudah paham silahkan kembali bekerja!" Para asisten dan supir itu segera pergi untuk menjalankan tugasnya masing-masing. "Ada asisten lagi?" tanya Ivan yang baru saja pulang kerja. "Iya, kasihan Mbak Diah kecapean mengurus rumah sebesar ini sendirian," jawab Dela dengan alasan yang masuk akal. "Sayang, uang aku sudah habis untuk beli keperluan kita yang kurang tambahin lagi ya!" pinta Dela dengan manja. Ivan langsung menyetujui, "Ya sudah, nanti aku transfer. Tapi bulan depan kamu tidak boleh beli barang-barang lagi!" *** Hari demi hari berlalu Viona masih terpuruk setelah bercerai dengan Ivan. Bahkan ia tidak mau pergi jalan-jalan ke manapun dan memilih mengurung diri di kamar. "Mas Ivan pasti sudah menikah sama wanita itu. Seharusnya aku siap dengan kemungkinan ini. Tapi kenapa sulit sekali untuk menerima kenyataan itu." Viona bicara pada dirinya sendiri. "Kamu tidak boleh seperti ini terus Vio!" ujar Regan yang tiba-tiba datang. Ia sengaja menyusul ke Singapura untuk bertemu dengan Viona secara langsung. Viona menyahuti dengan datar, "Jangan khawatir, aku baik-baik saja!" "Bagaimana aku tidak cemas, kata Mami kamu tidak mau ke luar kamar dan selalu menolak diajak pergi ke mana pun," sahut Regan yang membuat Viona tersenyum getir. "Mami terlalu mencemaskanku, terkadang kita perlu sendiri Regan. Agar bis belajar dari kesalahan yang memberikan pengalaman," sahut Viona diam-diam memikirkan semua keputusan yang pernah diambilnya. Regan memberikan pendapatnya, "Benar juga sih, tapi terkadang berdiam diri untuk merenungi kesalahan terus- menerus, tidak akan merubah keadaan jadi lebih baik. Apalagi tujuannya untuk melupakan seseorang, takan pernah bisa. Justru kamu akan terbelenggu oleh masa lalu!" Kata-kata Regan seolah menampar Viona. "Iya kamu memang benar, tapi untuk saat ini aku sedang ingin sendiri. Kamu tidak mungkin datang ke sini untuk melihat keadaanku saja bukan?" sahutnya sambil menatap Regan dengan curiga. Regan tersenyum dan balik bertanya. "Menurutmu apa ada alasan lain?" Regan memang hanya seorang CEO. Akan tetapi, berkat kecakapannya di bidang menajemen bisnis ia bisa memegang beberapa perusahaan dari jarak jauh. "Satu hal yang harus kamu ingat, terkadang kita memang harus terluka untuk bisa bangkit dan menjadi kuat. Aku mau ke kantor dulu, kalau kamu mau ditemani jalan-jalan kapan dan ke manapun telepon saja!" pamit Regan yang dijawab anggukan oleh Viona. Sebenarnya selain ingin menjenguk, tujuan Regan datang adalah untuk melaporkan penelusurannya terkait perceraian Viona dan Ivan. Dengan kekuasaan yang dimiliki tidaklah sulit baginya untuk mendapatkan semua info itu. Tentu saja semua karena perintah Mami Linda yang tidak percaya begitu saja. Ketika Viona mengatakan telah menggugat Ivan karena sudah tidak cocok lagi. Diam-diam ia menyuruh Regan untuk mencari tahu yang sebenarnya. Regan segera menemui Mami Linda yang baru saja pulang. Mereka kemudian masuk ke ruang kerja untuk membahas hal yang sangat penting. Ia kemudian memberitahu apa yang menyebabkan Viona bercerai dengan Ivan. "Kurang ajar Ivan, dasar laki-laki nggak tahu diri. Berani sekali dia mencampakkan Viona, setelah memberikan segalanya!" tukas Mami Linda dengan penuh kemarahan setelah mengetahui apa yang telah terjadi. Dengan geram Regan pun berkata, "Dia harus membayar mahal karena telah menyakiti dan tidak menghargai Viona!" "Kamu betul, buat dia mendapatkan ganjaran yang setimpal. Agar mengetahui siapa Viona sebenarnya!" seru Mami Linda yang sependapat dengan Regan. "Baiklah, aku akan buat Ivan menye--" "Jangan lakukan itu!" seru Viona yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja. "Jangan salahkan Mas Ivan Mi, aku yang salah karena sudah mencintai dan memilihnya!" pintanya dengan serius. "Mami tahu, tapi dia tidak boleh menceraikan kamu dengan cara seperti itu. Ivan benar-benar tidak punya otak dan nurani. Dimana perasaannya sebagai seorang suami?" timpal Mami Linda dengan geram. "Pokoknya Mami dan Regan tidak boleh melakukan pembalasan apa pun sama Mas Ivan!" ujar Viona dengan serius. Mami Linda bertanya dengan sengit, "Jangan bodoh Viona. Ivan sudah mencampakkan dirimu, itu sama saja menginjak-injak harga diri keluarga kita. Sampai kapan pun Mami tidak akan pernah bisa menerima penghinaan yang dia lakukan!" "Apa pun alasan Mami, pokoknya tidak boleh menyakiti Mas Ivan karena yang berhak memberikan ganjaran kepadanya hanyalah aku. Akan aku buat dia mengalami apa yang telah kurasakan!" tekad Viona dengan bulat. Mendengar itu Mami Linda dan Regan tampak saling pandang. Di dalam hati mereka ragu dengan kata-kata Viona yang pasti masih mencintai Ivan. Namun, keduanya dapat melihat pancaran ambisi yang dari sorot mata Viona. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN