Pertama kali melihat pria bernama Jacob, jantung Tania berdebar kencang. Bukan karena mengagumi kesempurnaan pria Italia itu. Ia merasakan hidup kembali dari kematian singkatnya setelah kehilangan Joe. Melihat tatapan teduh Jacob, seakan pria itu sanggup memberikan sejuta kebahagiaan. Ia pun tidak menyangka semudah itu menilai Jacob, hanya saja intuisinya mengatakan hal seperti itu. Kenyamanan dan kasih sayang. Suara Jacob terdengar lembut saat bicara. Mengingatkannya pada Joe. “Maafkan kami memaksamu datang ke sini. Pasti perjalananmu melelahkan,” sapanya setelah memperkenalkan diri. “Ya.” Tania menjawab singkat, meski tatapannya lekat pada senyum ramah Jacob. “Mengapa Joe tidak pernah membicarakanmu?” Ia melangkah mengikuti Jacob yang mengiringinya memasuki rumah besar itu. Jacob mem

