Alina sudah tidak masuk kerja sejak kemarin. Badannya meriang akibat nekat menerobos hujan saat mengejar pencopet. Sialnya, uang yang hilang itu adalah uang yang akan ia gunakan untuk membayar utangnya di perusahaan tempat ia bekerja.
Di sebuah kontrakan kecil—namun cukup nyaman untuk dihuni satu sampai dua orang—gadis itu tengah meringkuk karena demam di atas kasur yang keras dan lusuh.
“Ya ampun, aku lupa membeli obat. Aku harus segera sembuh agar bisa bekerja dan membayar utangku,” gumamnya.
Hatsyi!
Bersinnya terdengar keras.
Apa aku telepon Silvi saja, ya? batinnya, memikirkan sahabatnya itu. Akh, tidak! Aku tidak mau merepotkannya.
Ia terdiam sejenak. Tapi aku tidak kuat... Apa aku minta tolong Liam saja?
Alina menggeleng pelan, menepis pikiran itu. Tidak, tidak. Liam sudah terlalu banyak membantuku. Aku tidak mau merepotkan dirinya lagi.
“Lebih baik aku istirahat saja,” lirihnya. Semoga pusing di kepalanya cepat reda. Tak perlu waktu lama, Alina pun terlelap karena kelelahan.
Di jam yang sama, di kantor DDR Group.
“Siapkan semuanya. Kita akan memberi pelajaran pada gadis itu setelah pulang dari kantor,” titah Damian pada Sekretaris Sam.
“Baik, Tuan.”
Samuel, pria 30 tahun yang masih lajang, adalah tangan kanan kepercayaan tuan mudanya. Ia selalu setia menjalankan perintah. Ketampanannya pun tak kalah dari Damian, meski ia sering dijuluki 'Batu Es' karena sifatnya yang dingin dan kaku. Pendiriannya keras dan tak terbantahkan oleh siapa pun, kecuali oleh Damian sendiri.
Setelah Sekretaris Sam mengundurkan diri, Damian kembali terdiam di ruangannya. Ia tidak bisa fokus. Tiba-tiba ia memikirkan kekasihnya yang hilang bak ditelan bumi.
Aaarrgghh! Damian berteriak frustrasi.
“Kenapa orang-orang yang aku sayangi malah pergi meninggalkanku seorang diri?” lirihnya.
Sam yang baru saja keluar, mendengar teriakan tuannya dan segera masuk kembali tanpa mengetuk pintu.
Ceklek.
Damian mendongak, sudah tahu siapa yang datang.
“Apa Anda baik-baik saja, Tuan?” tanya Samuel.
“Apa dia masih bersikeras tidak mau pulang?” tanya Damian pelan.
Samuel mengerti siapa yang dimaksud tuannya dan ia hanya bisa diam sebagai tanda jawaban 'ya'.
Sekitar jam lima sore...
Di sebuah ruangan yang luas, tampak dua orang pemuda bersiap-siap untuk menemui 'mangsanya'. Ini tidak biasa, karena biasanya mereka akan pulang malam hari.
Damian dan Sekretaris Sam lebih sering memilih pulang larut malam, bahkan menginap di kantor. Rumah Damian terasa sepi, hanya dihuni pelayan dan beberapa pengawal.
“Sam, cepat bersiaplah,” titah Damian.
“Baik, Tuan,” jawab Sekretaris Sam sesuai perintah.
Butuh waktu 20 menit untuk sampai di perumahan sederhana itu. Mereka harus mencari alamat kontrakan yang berada di paling ujung. Pandangan Damian terus mengedari area tersebut. Satu kata keluar dari mulutnya, "Jelek."
“Kita sudah sampai, Tuan,” ucap Sekretaris Sam.
“Kau yakin gadis itu berada di tempat jelek ini, Sam?” tanya Damian, meyakinkan.
“Menurut informasi yang saya dapatkan, gadis itu memang di sini, Tuan,” jawab Sekretaris Sam yakin.
Samuel pun turun dan membukakan pintu untuk tuannya. Keduanya berjalan menuju pintu kontrakan kecil itu—yang oleh Damian dianggap lebih mirip sebuah gubuk.
Tok, tok, tok.
Tak ada jawaban.
“Apa kau yakin, Sam, gubuk ini berpenghuni?” tanya Damian.
“Saya yakin, Tuan,” jawab Sekretaris Sam yang berkali-kali meyakinkan tuannya.
“Ulangi lagi. Jika tidak ada jawaban, dobrak saja pintunya,” titah Damian.
“Baik, Tuan.”
Tok, tok, tok.
Masih tidak ada jawaban.
Di dalam, Alina mengucek matanya, merasa terganggu oleh suara berisik dari luar.
Hoaaam... Ia menggeliat.
Jam berapa sekarang? Siapa yang bertamu ke rumahku? Apa itu Silvi?
“Ya ampun, ini sudah hampir gelap. Kenapa ada orang bertamu tidak tahu waktu begini,” gumamnya, sambil beranjak dari tempat tidur.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Jantung Alina serasa berhenti berdebar. Ia mematung. Pria tampan yang berdiri di depan kontrakannya yang sempit ini adalah Damian—CEO di perusahaannya. Wajah Alina semakin pucat. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis.
Suasana di antara mereka mendadak kaku.
“Ehem.” Damian berdeham, memecah keheningan.
“Apa kau berusaha kabur dan melarikan diri setelah meminjam uang pada Perusahaan?” tanya Damian, to the point dan penuh selidik.
“Maafkan saya, Tuan,” ucap Alina gugup, karena hanya itu yang bisa Alina ucapkan.
“Aku tidak kemari untuk mendengar kata maafmu yang tidak ada gunanya, Bodoh,” sahut Damian tegas.
“Saya akan membayar utang saya, Tuan. Tolong beri saya waktu lagi,” pinta Alina sambil gemetar ketakutan. Rasa lemas karena sakitnya seolah hilang, digantikan oleh teror dari pria di hadapannya.
Cih! Damian berdecak.
“Aku tidak mau tahu. Kau sudah setuju dan menandatangani surat perjanjian sebelumnya,” bantah Damian.
“Apa kau pikir aku akan luluh dengan air mata busukmu itu? Ck! Tidak akan pernah,” decaknya tanpa belas kasihan.
“Tuan, saya mohon. Berikan saya waktu, saya akan melakukan apa pun untuk itu,” pinta Alina terisak. Ia sudah berlutut di kaki Damian.
Damian menyeringai tipis, rencananya berjalan mulus. Di belakangnya, Sekretaris Sam hanya memperhatikan tuannya, berdiri tegak tanpa ekspresi, seolah ini hanya transaksi bisnis biasa.
“Benarkah? Apakah kata-katamu bisa kupegang, setelah kau mengingkari surat perjanjian sebelumnya?” tanya Damian, meragukan.
“Saya berjanji, Tuan,” jawab Alina yakin, meski masih ketakutan dan semakin pucat.
“Baiklah. Karena jika tidak, keluargamu yang akan menanggung akibatnya,” ucap Damian.
“Baik, Tuan. Asalkan Tuan tidak mengusik keluarga saya.”
“Menikah denganku.” Itu adalah penegasan tanpa bantahan.
Deg. Alina kembali mematung.
Mendengar ancaman itu, Alina semakin tidak bisa berkutik. Ia tidak mungkin membahayakan keluarganya.
“Keputusan ada di tanganmu. Aku tidak punya banyak waktu untuk gadis sepertimu,” ucap Damian sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
“Sam, urus semuanya. Aku tidak mau tahu, semuanya harus berjalan semestinya,” titahnya pada sang sekretaris.
Sekretaris Sam, yang dari tadi hanya diam, kini membungkuk hormat.
“Baik, Tuan.”
Sekretaris Sam, yang sudah tahu rencana tuannya, segera mengeluarkan selembar kertas dari map yang dibawanya.
“Silakan Nona tanda tangani surat perjanjian ini,” titah Sekretaris Samuel sambil memberikan surat tersebut.
“Surat perjanjian?” ulang Alina, bingung.
“Benar, Nona. Anda akan menikah dengan Tuan Muda minggu depan,” ucap Sekretaris Samuel.
Bagaikan petir di siang bolong. Alina mematung dan tubuhnya semakin lemas. Ia terduduk, tertunduk tak berdaya.
“Saya tidak punya banyak waktu, Nona. Tanda tangani, atau keluarga Nona yang akan menanggung akibatnya,” ancam Samuel. Pria itu seolah tak punya hati melihat gadis yang ketakutan dan menangis di hadapannya.
Alina masih tak bereaksi.
Melihat gadis di hadapannya hanya diam, Samuel mulai kesal, meski wajahnya tetap datar. Waktunya yang berharga tersita.
“Waktu Anda hanya lima detik dari sekarang.” Pria es batu itu memberi ultimatum.
Tanpa berpikir panjang, Alina segera mengambil kertas itu dan menandatanganinya, tanpa membacanya terlebih dahulu.
“Terima kasih atas kerja samanya, Nona.” Samuel mengambil kertas itu dan pergi berlalu dari kontrakan Alina.