20. Malam Pertama

1406 Kata

Raut kesal masih tercetak jelas di wajah Naya. Celana jeans dan blus berwarna biru laut yang ia kenakan terlihat sedikit berantakan. Namun ini jauh lebih baik dibanding gaun pernikahan luar biasa berat tadi. Naya mau tidak mau harus menuruti semua keinginan orang tuanya dalam menggelar pesta pernikahan. Dia hanya bisa menurut saat pernikahannya digelar dengan sangat megah. Beruntung Naya bisa nego untuk membuat acara satu hari saja, seminggu lebih singkat dari yang diinginkan Satrio. "Kusut banget mukanya." Dean meletakkan sepiring mie instan ke depan Naya. Mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri selama beberapa jam. "Lagian ayah ada-ada aja. Aku udah bilang mau hang sederhana aja pestanya. Ini malah pakai WO mahal segala, nyewa hotel. Coba kalau cuma di rumah, pasti sekaran

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN