"Kak. Kakak yakin ini keputusan yang bener?" Ivy mengangguk. "Maafin, Kakak. Tapi cuma ini solusi satu-satunya yang bisa Kakak pikirkan, Er. Kalau kamu sama Kakak masih ada di sini, aku gak tahu apa aja yang bisa Vino lakuin ke kita. Nanti Kakak akan cari cara supaya kamu tetap bisa ngelanjutin kuliah." "Bukan masalah kuliah, Kak. Tapi kenapa kita harus pergi? Apa karena dia gak mau bertanggung jawab sama perbuatannya?" Ivy mengangguk. "Dia sudah pasti gak mau tanggung jawab. Kakak juga gak mengharapkan itu. Ada kabut kesedihan yang cukup tebal di mata Ivy. "Tapi masih ada kemungkinan dia melakukan hal yang lebih berbahaya lagi, Er. Please, sekali ini saja kamu nurut kata Kakak, dan jangan terus-terusan bertanya ya," lanjutnya. Ivy makin frustasi dan mulai kehabisan akal membujuk Eri

