Bab 8 Danu Mencarinya

1742 Kata
Saat pesawat menembus awan tebal, Zaskia memejamkan mata sejenak. Dalam hitungan detik, dunia di luar berubah menjadi putih seluruhnya—tak ada daratan, tak ada horizon. Ia merasa melayang di ruang kosong, di antara bising mesin dan detak jantungnya sendiri. Kebebasan yang dulu ia rindukan kini terasa seperti ruang hampa. Dan di sanalah Zaskia sadar—ia tidak sedang terbang menjauh dari masalah. Ia sedang terbang menjauh dari dirinya sendiri. Di sini, ia merasa bebas. Namun kebebasan itu hanya bertahan sampai pesawat mendarat di bandara asal. ** Langit sore di atas bandara tampak berwarna keemasan, membias di sayap pesawat yang baru saja berhenti di apron. Suara mesin yang mereda menyisakan dengung lembut yang masih menggetarkan d@da Zaskia. Penerbangan pertamanya sebagai co-pilot trainee seharusnya menjadi hari yang ia kenang dengan bangga. Tapi di balik senyum profesional yang terpampang di wajahnya, ada sesuatu yang mati—sebuah ruang kosong yang dulu dipenuhi oleh cinta. Ia menatap dirinya di kaca kokpit yang memantulkan bayangan samar seragam barunya. Semua tampak sempurna dari luar: rambut disanggul rapi, badge nama berkilau di d@da, dan senyum sopan yang bisa menipu siapa pun. Tapi jari-jarinya yang dingin dan d@da yang terasa sesak membongkar semuanya. “Good job, Zaskia,” ujar Kapten Wiranto, pria jelang paruh baya yang menjadi mentornya hari itu, sambil menepuk bahunya. “Sedikit tegang di awal, tapi kamu bisa menanganinya dengan baik. Nanti evaluasiku akan bagus untukmu.” Zaskia memaksa tersenyum. “Terima kasih, Kapten.” Suaranya tenang, tapi di dalam, ia seperti sedang berteriak. Begitu semua penumpang turun, Zaskia duduk sejenak di kursinya, menatap langit senja di luar jendela kokpit. Awan tampak begitu dekat—menyentuh, tapi tak bisa digenggam. Ia menatap jemarinya sendiri di atas tuas kendali. Jemari yang dulu sering digenggam Danu setiap kali mereka melewati badai, dalam perjalanan hubungan mereka. Kini genggaman itu hanya tinggal bayangan. Di ruang istirahat pilot, Zaskia merapikan penampilannya. Ia menghela napas panjang di depan cermin, menyentuh pipinya yang dingin. Tidak ada air mata hari ini. Ia sudah berjanji pada diri sendiri—tidak akan menangis lagi untuk seseorang yang memilih menghancurkannya. Setelah beristirahat sejenak, Zaskia melangkah ke pintu keluar ruang kru. Udara bandara terasa berat dan lembab, tapi bukan itu yang membuat napasnya tercekat. Sosok itu berdiri di ujung koridor. Masih mengenakan seragam pilot lengkap dengan jaket tersampir di lengan, rambut hitam tersisir rapi, wajah tampan yang dulu selalu menenangkan hatinya. Danu. Sesaat dahi Zaskia mengerut. Apakah dia juga hanya melayani penerbangan pendek? Dia menatap pria itu dengan mulut terkatup rapat. Danu berdiri bersandar pada dinding, menunggu, seolah tak terjadi apa-apa. Senyumnya muncul pelan, senyum yang dulu selalu membuat Zaskia luluh. Tapi kini senyum itu terasa seperti jebakan. Tubuh proporsional dan menjulangnya mengusik perasaan Zaskia. Emosinya kembali bergejolak mengingat pemandangan semalam, dan tubuhnya seketika bergetar, marah. Sekilas, ia ingin berbalik arah. Tapi tubuhnya terpaku di tempat. Tatapan mereka bertemu. Tatapan yang dulu membuatnya merasa aman, kini terasa seperti jerat. Danu melangkah mendekat. Tak ada senyum, tak ada kata sapaan. Hanya sorot mata yang tajam, seolah menuntut penjelasan yang bukan haknya lagi. Zaskia memulai dengan ekspresi dingin, “Ngapain kamu di sini?” suaranya datar, tapi nadanya bergetar halus di akhir. Danu lebih mendekat. Tatapan matanya seperti magnet—dalam, tajam dan berbahaya. “Aku nunggu kamu,” jawabnya tenang. “Untuk apa?” “Ngomong. Kita belum selesai, Kia.” Zaskia menahan napas, menatap lurus ke matanya. “Sudah selesai,” katanya tegas. “Justru sudah selesai sejak kemarin. Sejak kamu—” suaranya tercekat, “—memilih Vanessa.” Danu tersenyum miring. “Kamu datang ke apartemenku tanpa bilang, terus marah karena lihat sesuatu yang nggak kamu pahami.” Zaskia menatapnya tak percaya. “Sesuatu yang nggak aku pahami?” ia hampir tertawa, tapi yang keluar hanya isak pendek. “Aku lihat kamu, Dan. Aku lihat wanita itu bergayut manja di lenganmu setelah kamu memuaskannya di ranjang. Kamu bahkan nggak repot menyembunyikannya. Kamu sengaja agar aku melihat penampilan kalian, kan?” Danu mendekat lagi, langkahnya mantap. “Aku cuma… hilang kendali sesaat. Tapi kamu tahu siapa yang aku mau, Kia. Kamu tahu aku nggak bisa lepas dari kamu.” Zaskia mundur, tapi Danu semakin dekat. Aroma cologne-nya—aroma yang dulu membuat Zaskia merasa aman—kini membuatnya ingin muntah. “Kamu udah bohong, Dan. Udah cukup.” “Aku nggak bohong!” Danu membentak pelan, lalu menurunkan suaranya, “Aku cuma… terjebak. Vanessa dan keluarganya bantu karierku, tapi kamu tahu aku tetap cinta kamu.” “Cinta?” Zaskia tersenyum pahit. “Kamu nggak tahu apa arti kata itu.” Ia berbalik, melangkah menjauh. Tapi suara Danu menghentikannya. “Kia,” panggilnya pelan tapi tajam, “aku nggak akan biarin kamu kabur kayak gini. Kamu milikku.” Zaskia berhenti di tempatnya, bahunya menegang. Ia tak berbalik, tapi kata-katanya keluar dengan nada dingin yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. “Aku bukan milik siapa pun, Danu. Termasuk kamu.” Zaskia menegakkan tubuh, mencoba melewati pria itu. Namun sebelum ia bisa menghindar, tangan Danu mencengkeram lengannya. “Jangan di sini,” ucap Danu pelan tapi tajam, nadanya rendah dan berbahaya. “Jangan buat keributan. Kamu sendiri yang akan rugi.” Zaskia menoleh perlahan. Tatapannya dingin seperti kaca beku. “Lepaskan aku, Danu. Kita tidak punya urusan lagi.” “Kamu salah. Urusan kita belum selesai,” balas Danu cepat. Rahangnya mengeras. “Kamu pikir bisa pergi begitu saja setelah semalam? Setelah kamu—” “Setelah aku apa?” potong Zaskia dengan suara bergetar tapi mantap. “Melihat kamu dengan dia? Vanessa? Kamu bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.” Beberapa orang di sekitar mereka mulai memperhatikan. Danu sadar, lalu menarik Zaskia sedikit ke sisi dinding yang lebih sepi. Cengkeramannya tetap kuat, seperti seseorang yang takut kehilangan kendali atas apa pun yang tersisa dari dirinya. “Kia, tolong dengarkan aku.” Nada itu rendah, tapi cukup untuk menghentikan detak jantungnya sesaat dan membuat tubuhnya melemas. Namun, Zaskia lagi-lagi teringat apa yang dilakukan oleh pria itu dengan Vanessa. Luka hatinya kembali terasa perih. “Tolong lepaskan aku, Dan. Kamu sudah memilih, jalani saja pilihanmu,” Danu mencengkeram lengannya lebih kuat. “Kenapa kamu nggak jawab teleponku?” Suara Danu serak, dalam, tapi bukan nada rindu. Ada kemarahan di sana. Zaskia menelan ludah. Kenapa dia malah yang marah? Emosinya kembali tersulut. “Kamu pikir kau masih pantas bicara denganku setelah apa yang aku lihat?” Danu menelan ludah, berusaha bicara, tapi kata-katanya terdengar patah. “Kia, tunggu dulu—ini nggak seperti yang kamu pikir—” “Nggak seperti yang kupikir?” suara Zaskia keluar bergetar, separuh tawa, separuh isak. “Danu… aku nggak bodoh.” Sekilas, wajah Danu mengeras. Ia mengembuskan napas berat, menunduk sesaat seolah menahan emosi, lalu menatapnya lagi. “Kamu nggak ngerti. Semuanya cuma salah paham.” Zaskia tertawa pelan — tawa getir yang nyaris seperti isak. “Salah paham? Aku lihat kamu sendiri, Dan. Dengan mata kepala aku sendiri.” Beberapa orang melirik mereka sekilas sebelum berlalu. Tapi bagi Zaskia, dunia di sekelilingnya sudah menghilang. Yang tersisa hanya tatapan Danu — tatapan yang dulu membuatnya merasa aman, kini berubah menjadi belati dingin. Danu mendekat satu langkah. “Kia, aku bisa jelaskan—” “Kamu nggak perlu jelaskan apa-apa,” potong Zaskia cepat. Suaranya bergetar tapi tegas. “Aku udah lihat semuanya. Udah cukup.” Namun Danu bukan tipe yang berhenti hanya karena kata “cukup”. Gerakannya cepat — tangannya terulur dan mencengkeram pergelangan tangan Zaskia. Rahang Danu menegang. Suara napasnya terdengar jelas dalam jarak sedekat itu. “Kamu ingin membuat kita berdua jadi tontonan?” bisiknya, sangat pelan, tapi mengandung ancaman yang terasa seperti besi dingin menyentuh kulit. Zaskia tidak menjawab. Tapi diamnya bukan lagi diam ketakutan. Itu adalah diam perlawanan. Dan justru itu yang memicu ledakan. Sebelum ada orang yang menyadari, Danu menariknya—bukan ke arah keramaian, melainkan ke belakang, ke lorong servis yang lebih sepi, menuju area toilet kru yang jarang dipakai saat jam sibuk. Langkahnya cepat, terkendali, penuh irama orang yang terbiasa memegang kendali. Zaskia terseret, berusaha menyeimbangkan langkah, tapi tidak menjerit. Ia menolak memberi Danu kepuasan melihatnya panik. Pintu toilet terdorong, lalu tertutup dengan bunyi klik—terkunci. Ruangan itu dingin, kosong, suara aktivitas bandara mendadak terasa jauh. Hanya ada gemuruh napas mereka berdua. Danu memutar tubuhnya dan—tanpa seruan, tanpa drama—menempatkan satu tangannya di dinding di samping kepala Zaskia, matanya memerah dab berkilat penuh emosi. “Kamu memancing kemarahanku,” katanya dengan suara serak. Tubuhnya condong sedikit. “Aku sudah bilang… bersabarlah. Tapi kamu terlalu keras kepala. Kamu mau lihat apa yang bisa aku lakukan?” Wajahnya begitu dekat hingga Zaskia bisa melihat denyut amarah di pelipisnya. “Dan, lepaskan—” Tapi Danu tak lagi mendengarkan. Dia malah menciumnya dengan brutal, penuh emosi dan tekanan. Zaskia sampai sesak napas dibuatnya. “Kamu memancingku, Kia,” ucap pria itu di sela ciumannya yang penuh frustrasi. “Aku terus berusaha semalaman meneleponmu, tapi kamu mengabaikanku. Kamu akan mendapat ganjarannya.” Cetus pria itu, suaranya dan napasnya makin berat Zaskia makin terdorong ke dinding toilet yang sempit itu. Tubuh Danu yang kokoh mengungkungnya, sementara kedua tangan Zaskia terangkat ke atas, terkunci oleh tangan Danu di dinding di atas kepalanya. Bibirnya kembali menciumnya, kali ini lebih kasar. Sebelah tangannya membelai punggungnya, lalu bergeser menyentuh titik-titik sensitif Zaskia. “Ja-jangan, Dan. Tolong..” Pikiran Zaskia yang sadar sepenuhnya dengan niat pria itu berusaha berontak. Tapi tubuhnya terlalu lemah. Ketakutannya memuncak saat tangan pria itu turun lebih ke bawah lagi dan terdengar bunyi risleting celana panjangnya. “Berhenti, Dan. Ini tempat umum..” “Kamu memintaku berhenti? Kenapa? Merasa malu?” Danu tertawa sinis. Hanya suaranya dan napas mereka yang terdengar di sana. “Tadi kamu terus menantangku. Sekarang kamu akan menerima ganjarannya, Kia!” dengan kekuatannya, Danu membalikkan tubuh Zaskia hingga menghadap ke dinding dan kedua tangannya masih terkunci di atas kepala. Zaskia terkesiap. Danu dengan tiba-tiba menarik celana panjangnya ke bawah. Hembusan napas pria itu mengenai belakang kepalanya. Dia tidak main-main. Terlebih toilet itu sepi. Sejak tadi tidak terdengar suara orang datang. “Kamu yang memintanya, Kia,” Danu berbisik di belakang telinganya. Suara Zaskia meminta berhenti hanya tertahan di ujung lidahnya. Dia ketakutan ada yang memergoki mereka. Hari ini penerbangannya yang pertama. Dia baru saja memulai karirnya, dia tidak mau semua itu kacau karena pria yang sedang kalap di belakangya. Zaskia menahan teriakannya saat celana panjangnya semakin terdorong ke bawah dan Danu semakin tak terhentikan. Dia mendorong punggung Zaskia, lebih membungkuk. Air mata Zaskia mulai mengalir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN