Syarat pertama adalah Nyali
Desa Karangjati tak pernah masuk peta digital. Bahkan warga desa tetangga pun enggan menyebut namanya jika tak terpaksa. Ada satu tempat yang membuat desa itu ditakuti: Kuburan Tunggul Wulung—yang katanya, bukan tempat orang mati biasa dikuburkan, tapi tempat orang menukar nasib.
Dan malam itu, Gilang berdiri di tepi kuburan itu.
Gilang menggenggam foto almarhum ayahnya yang meninggal dalam kebangkrutan. Dulu mereka kaya. Tapi setelah ayahnya jatuh miskin dan bunuh diri, ibunya sakit-sakitan, rumah disita, dan ia terpaksa putus kuliah.
“Kalau memang ada jalan cepat untuk kaya… aku ambil,” gumamnya. “Apa pun risikonya.”
Langit malam mendung. Tapi suara gamelan lirih entah dari mana mulai terdengar. Gilang memandang ke dalam pagar kuburan. Semua nisan tampak seperti membungkuk. Dan di tengah-tengahnya, ada satu makam paling tua, diselimuti kain hitam. Di depannya... ada wadah sesajen.
Gilang menelan ludah. Ia ingat kata-kata dukun desa:
“Kuburan itu bukan cuma untuk orang mati. Di situ tempat 'mereka' berkumpul. Kalau kau datang untuk pesugihan, siapkan nyalimu. Karena yang kau beri bukan uang… tapi jiwa.”
Tiba-tiba... angin berhenti. Sunyi. Bahkan suara jangkrik pun menghilang.
Lalu, dari balik pepohonan... seseorang muncul.
Bukan manusia biasa. Tingginya nyaris dua meter, berjubah kain kafan kotor, dan wajahnya... diliputi kain putih yang basah oleh darah.
Ia berdiri di depan Gilang. Tak bicara sepatah kata pun.
Gilang bergidik, tapi tak lari. Ia menunduk, dan menaruh foto ayahnya di wadah sesajen.
“Ambil apapun dari masa laluku… asal masa depanku berubah.”
Makhluk itu mengangkat tangannya. Darah menetes dari jarinya. Ia menunjuk makam tua yang dibungkus kain hitam.
“Buka. Kubur sendiri. Kau harus lihat apa yang akan menggantikan hidupmu.”
Gilang gemetar, tapi ia menuruti. Menggali perlahan. Tanahnya lembap, seperti baru dikubur kemarin.
Satu sekop... dua... tiga...
TANG!
Suaranya seperti menghantam kayu peti. Tapi saat Gilang menyibak tanah...
Bukan peti. Tapi cermin.
Dan di cermin itu... bukan dirinya yang terlihat. Tapi sosok Gilang, berdarah-darah, mengenakan jas mahal, duduk di atas tumpukan mayat.
“APA INI?!”
Cermin mulai bergetar. Dan dari permukaannya, tangan kurus menyembul keluar, mencoba menariknya masuk.
Makhluk berjubah bersuara—tapi suaranya bergema, seperti banyak mulut bicara serempak.
“Tukar nasib… berarti tukar nisan. Kau ingin kaya? Kau harus menggantikan yang lama.”
Gilang menjerit, tapi kaki-kakinya sudah diseret ke dalam lubang cermin.
Sebelum tenggelam, satu kalimat berputar dalam kepalanya:
“Tak ada kaya tanpa pengganti...”
Pagi harinya, warga menemukan sebuah nisan baru.
Tak bernama. Hanya bertuliskan:
“Yang Kaya, Yang Mengubur.”
Dan di jalan utama desa, seorang pemuda berdasi lewat dengan mobil hitam mengilap.
Ia tersenyum. Tapi matanya kosong.
Seolah... seseorang lain sedang mengendalikan tubuh itu.