Pesta Aniversary

1100 Kata
Kana tertegun melihat penampilan Ana. Bagaimana tidak? Penampilan Ana malam ini sangat cantik dengan polesan make-up yang natural. Begitu juga dengan tatanan rambut yang digelung modern dengan menyisakan sedikit helaian rambut di pinggirnya. Baju yang Ana kenakkan juga sangat cocok dengan postur tubuhnya yang bisa dikatakan mirip penyanyi Raisa Andriana. Ana tidak menyadari bahwa Kana memperhatikannya ketika keluar dari kamar yang beberapa saat lalu diketuknya. Ana seperti kelihatan sibuk dengan ponselnya. "Iya, Bu. Paling pulang jam 9." "[.....]" "Ya, udah, Ana berangkat dulu ya." Setelah telpon terputus, Ana memasukan ponselnya ke dalam tas selempang yang dia sampirkan di pundak kirinya. Ana menoleh ke arah Kana yang duduk di sofa dekat kamar Ana yang sepertinya sedang fokus pada ponselnya. Padahal dia pura-pura. "Maaf, ya. Nunggu lama." "Dah karatan nih, nunggunya." "Yuk, berangkat. Ntar takut macet dan kemalaman lagi." Tampak Kana mendengus, "harusnya, aku yang ngomong seperti itu." Ana hanya nyengir kuda. "Pasti, mama, ya, yang telpon?" tanya Kana sambil berjalan menuju ke mobilnya. "Ibu bilang, jangan pulang kemalaman." jawab Ana dan mendapat dengusan lagi dari Kana. Kana gak habis pikir, kok mamanya lebih kuatir sama Ana dibandingkan dengannya. Yang anaknya 'kan Kana bukan Ana. Bu Anita memang sangat menyukai Ana. Ana sudah dia anggap menantu sendiri karena pada mendiang Adit pun menggapnya anak sendiri. Sebenarnya, Bu Anita ingin Ana menjadi anaknya. Tatapi, Ana menolak dan lebih memilih menjadi asisten pribadi seperti mendiang suaminya. Kana masuk ke bagian kemudi mobil, sedangkan Ana masuk ke bagian penumpang di sebelah kiri Kana. Hening di dalam mobil sepanjang jalan menuju ke tempat tujuan. Hanya suara musik yang melantunkan lagu dengan volume tidak terlalu besar. Ana terlihat fokus pada ponselnya, sesekali Kana melirik sekilas ke sebelah Ana. Hingga tidak berapa lama Kana pun berkomentar. "Senyum-senyum. Lagi chatingan sama siapa, sih?" "Dika." jawab Ana singkat. "Dika...hmmm yang Menejer pemasaran itu?" "Iya. Dia lucu, suka bikin aku sama Sarah ketawa kalau deket sama dia." tutur Ana dan membuat Kana mengernyit. "Heleeehhh...dia itu tukang gombal." timpal Kana. "Dia itu humoris, suka mencairkan suasana yang lagi beku." "Beku apa-an, emangnya es batu." Ana tertawa dibuatnya dan itu membuat Kana terpana dengan tawa Ana yang menurutnya menenangkan jiwanya. "Hmmm...boleh aku tanya sesuatu?" tanya Kana tiba-tiba. "Apa-an...?" "Dika, kayaknya, suka sama kamu?" "Hussshhh...mana ada." sanggah Ana. "Aku sering perhatiin, Dika itu kayanya menaruh hati sama kamu." Ana menggeleng cepat. "Nggak mungkinlah, Dika itu emang baik sana-sini. Lagi pula, nggak mungkinlah Dika suka sama aku. Mending sama Sarah yang masih sama-sama single." ucap Ana panjang lebar. "Di dunia ini tak ada yang tak mungkin." timpal Kana. "Aku aja suka sama kamu," tentu saja dalam hati Kana berbicara. "Nggak mungkin. Aku sama Dika lebih cocok jadi seorang teman." Tak berapa lama, mereka sampai di tempat tujuan. Yaitu, rumah Romi. Tempat diadakannya pesta aniversary Romi dan istrinya. Sebenarnya, Romi bukan sekedar mengadakan pesta aniversary. Melainkan, bersamaan dengan acara 7 bulanan istrinya. Istri Romi, Arini sedang hamil 7 bulan dan bertepatan di hari jadi pernikahan mereka yang ke 2 tahun. Mereka menikah 2 tahun yang lalu, dan tidak menunda kehamilan. Kana dan Ana berjalan memasuki area pesta dan menghampiri sang empu pesta. Disana sudah ada Denis dan istrinya, Maya, serta putri kecilnya yang berusia 3 tahun benama Aqila. "Hai, bro. Akhirnya Lo dateng juga." ucap Denis pada Kana dan mereka berpelukan singkat, begitu pun dengan Romi. Pun dengan para wanita, Ana, Arini dan Maya. Ana memang sudah mengenal akrab pada mereka. Karena Kana atau Ibu Anita selalu membawa Ana ikut serta kemanapun. "Nungguin anak mami ampe karatan, gw." jawab Kana sambil terkekeh memandang Ana dan mendapat delikan dari Ana. "Enak, aja. Ibu, tuh, yang teleponnya kelamaan." sanggah Ana. "Dosa apa gw sama mama. Masa' yang dikuatirin si Ana, aja." tutur Kana dan mereka menertawakannya. "Hei, Aqila, sayang?" tanya Ana pada gadis kecil yang bernama Aqila, yaitu putri Denis dan Maya. "Say hai, sayang. Itu aunty Ana nanya kamu." ucap Maya pada gadis kecil itu. "Hai, auty..." dengan suara cadelnya. Sebenarnya, Maya dan Arini sudah berapa kali ingin menjodohkan Kana dan Ana. Namun, para suaminya, Denis dan Romi melarang para istrinya melakukan seperti itu setelah tahu apa yang terjadi. Kana akan sangat merasa bersalah bila harus memiliki Ana, istri dari mendiang Adit. Asisten yang tak lain adalah seseorang yang menyelamatkan nyawanya. Acara berjalan dengan lancar. Denis dan Maya sudah pulang lebih awal karena Aqila rewel. Lalu, tepat pukul 9 malam Kana dan Ana pun pamit pulang. * "Lucu, deh, Aqila. Jadi kangen Alea..." ucap Ana tampak murung. Kana yang sibuk menyetir menoleh pada Ana, "dua minggu lagi kita bakal ketemu dia, kok." "Eh, beli bakso, yuk. Aku masih laper, nih." ucap Kana mengalihkan perhatian Ana supaya tidak sendih mengingat Alea. "Boleh. Di tempat biasa, ya!" akhirnya Ana setuju dan Kana kembali fokus menyetir untuk menuju bakso tempat mereka biasa beli. * "Mang, bakso 2 posi ya!" pesen Kana pada penjual bakso itu. "Eh, den Kana sama neng Ana. Mari duduk sambil nunggu pesanan jadi!" sapa pemilik bakso dan menyilahkan duduk terlebih dahulu. Tak berapa lama pesanan pun datang. Seperti biasa, Ana selalu menambahkan sambal rawit dan itu membuat Kana bergidig. "Jangan pedas-pedas. Mama kalau lihat kamu kaya gitu, marah loh." "Mumpung nggak ada Ibu...heee" ucap Ana sambil mengaduk-aduk bakso yang ada di hadapannya. "Aku sering lihat kamu makan pedas. Tapi, kok gak pernah liat kamu diare, ya?" Kana heran dengan Ana yang tak pernah diare walaupun sering makan pedas. "Udah kebal, kali." jawab Ana sambil memasukan suapan bakso pertamanya. Kana mengernyit melihat betapa banyak Ana menambahkan sambal rawit ke mangkuk bakso bakso itu dan reaksi seperti biasa saja. Namun, dia penasaran dengan rasanya dan tanpa permisi menyendok kuah bakso punya Ana. Dan... "Haaahhh..." Ana tertawa dibuatnya, "rasain, emang enak." "Kamu gila, pedas seperti itu...huuuhhh." Kana merasa lidahnya terbakar. Dia benar-benar angkat tangan. "Mang minum, dong!" muka Kana sampai merah dan berkeringat. * Ana masih menertawakan Kana sampai mereka tiba di rumah. Bu Anita yang melihatnya merasa bingung, "Ada apa, kok kayanya seru banget?" "Mas Kana..." "Diem, kamu...!" potong Kana dan berlalu ke kamarnya. "Itu loh, barusan 'kan kita mampir ke kedai bakso tempat biasa. Aku 'kan tambah sambal rawit ke bakso ku. Nah, Mas Kana jago-jagonya nyicipin punyaku." Ana menceritakannya pada Bu Anita. "Addduuuhhh, Kana itu gak bisa makan sambel. Dia bisa langsung diare loh." ucap Bu Anita. "Iya, ya. Lagian, siapa suruh pasang icip." Bu Anita tampak menggeleng melihat Ana. "Kamu juga, jangan keseringan makan pedas. Ntar asam lambung kamu naik." "Insyaallah, nggak akan." "Ya, sudah, istirahat sana! Dah malam." Ana pun masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Begitupun dengan Kana. Namun, Kana merasa menyesal telah mencicipi bakso Ana. Entah apa besok yang akan terjadi. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN