Anjana Paramita
Di sebuah dapur mewah yang tertata rapi. Seorang wanita berusia 27 tahun sedang fokus memasak. Memasak untuk sang majikan.
"Waduh...aku harus selesaikan dengan cepat. Takut kena macet ntar," ungkap wanita itu setelah melihat jam di dinding dapur menunjukkan angka 11:00.
"Hmmm...baunya harum banget neng," terdengar suara salah satu asisten paruh baya menghampirinya.
"Simbo, bikin kaget aja," ucap wanita itu dan menoleh ke asal suara.
*
Wanita itu, Anjana Paramita 28 tahun. Dia sebenarnya bukan asisten rumah tangga. Tetapi, dia kadang sibuk di dapur jikalau sang majikan meminta masakan buatannya.
Seperti sekarang misalnya. Dia sedang memasak makanan kesukaan anak majikannya dan harus mengantarkannya ke kantor.
Arya Wijaya dan Anita Anggita adalah majikannya. Pak Arya sedang ke luar kota untuk mengurus urusan cabang kantornya. Sedangkan Bu Anita, dia seorang Designer dan memiliki butik yang terkenal dan juga langganan para artis.
Anjana adalah asisten pribadi keluarga Wijaya. Baru 7 bulan dia bekerja disana.
Dulu suami Anjana adalah asisten pribadi keluarga tersebut. Namun, Tuhan sudah mengambilnya lebih dulu setahun yang lalu sewaktu bertugas dengan anak majikannya.
Lima bulan setelah mendiang suaminya meninggal, Anjana menerima tawaran majikan suaminya untuk menggantikan posisi mendiang suaminya.
Suami Anjana meninggalkannya dengan seorang putri yang berusia 6 tahun. Dan mengharuskan Anjana menafkahi anaknya seorang diri.
*
"Salah sendiri neng Ana fokus banget masakny," lanjut asisten paruh baya itu sambil terkekeh. Mbok Tamini namanya.
"Aku harus buru-buru soalnya. Udah jam 11 dan aku harus segera berangkat. Takut kena macet ntar Mas Kana ngamuk," jawabnya.
"Kenapa kalian tidak menikah saja. Toh, kamu janda dan Mas Kana duda," tanya Mbok Tamini dalam hati.
"Lagian, Mas Kana ada-ada saja, kamu itu 'kan asisten pribadi bukan asisten rumah tangga. Semenjak neng Ana disini, Mbok jadi kangen masakin buat dia," ungkap Mbok Tamini dengan memajukan bibirnya dan mendapat kekehan dari Ana.
"Gak apa-apa, kok, Mbok. Lagi pula, aku senang kok ngerjainnya."
"Sudah siap, aku mau ganti baju dulu terus langsung berangkat."
"Ya, sudah, hati-hati," ucap Mbok Tamini.
Ana pun pergi ke kamarnya untuk siap-siap berangkat mengantarkan makanan itu.
Tibalah Ana di kantor sang majikan pukul 11:30. Dia masuk ke lobi dengan tersenyum ramah pada setiap orang. Satpam disana pun sudah mengenalnya.
"Siang, mba Ana?" sapa satpam itu yang bernama Sapto.
"Siang juga, Pak Sapto." Jawab Ana dengan ramah.
"Makin hari, mba Ana makin cantik deh. Coba kalau saya masih muda, sudah saya tarik ke penghulu." Ucap satpam itu yang berusia 50 tahun.
"Pak Sapto nih ada-ada saja. Makin hari, makin ambyar gombalnya," balas Ana dengan berlalu ke meja resepsionis.
"Kenapa tuh, Satpam ganjen. Makin hari, kelakuannya makin jadi." Ucap resepsionis yang mendelik pada Pak Sapto dan Ana menahan tawa dengan sikap resepsionis itu yang bernama Sarah.
Ana dan Sarah berteman akrab semenjak Ana sering mengunjungi kantor. Apalagi semua karyawan tau kalau Ana adalah asisten pribadi keluarga Wijaya tempat mereka bekerja.
"Issshhh...kamu juga, makin hari makin jutek aja, sama Pak Sapto. Awas, benci jadi cinta," ledek Ana.
"Enak, aja. Aku tuh sebel aja sama aki-aki itu. Tiap liat cewe bening dimodusin. Risih liatnya," jawabnya sambil tertawa.
Sarah bukannya tidak suka pada Pak Sapto. Tapi, memang mereka suka bercanda.
"Nganterin makan siang Pak Kana, ya, An?" tanya Sarah.
"Gak perlu dijawab juga kamu dah liat apa yang kubawa," jawab Ana dengan menenteng kotak makan yang dia pegang.
"Tumben banget datang lebih awal? Biasanya 'kan kamu kalau nganterin makan siang si bos itu pas jam keteter." Ungkap Sarag sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sengaja, aku berangkat agak awal, biar gak kena macet. Lagipula, Pak Arya 'kan sedang ke luar kota. Jadi, gak terlalu repot dan padat kerjaanku." Jelas Ana panjang lebar.
Sarah hanya membulatkan bibirnya. Mereka pun mengobrol sampai waktu jam makan siang tiba. Ana bergegas pamit pada Sarah dan akan memasuki lift tetapi berhenti karena ada seorang pria yang memanggilnya.
"Ana..." panggil si pria itu. Namanya Dika, dia Menejer pemasaran di kantor itu.
Ana pun menoleh ke sumber suara itu, "eh, hai, Dika." Sapa Ana padanya.
Ana batal masuk ke dalam lift dan Dika menghampirinya.
"Hai, An, apa kabar? Seminggu ya, kita gak ketemu." Ucap Dika, karena dia jarang berada di kantor dan mengurus di bagian pemasaran yang mengharuskan dia terjun ke lapangan.
Wijaya Group, perusahaan yang bergerak di bidang perindustrian. Perusahaan ini cukup terkenal di Indonesia. Cabangnya pun sudah beberapa di luar negri.
"Cuma gak ketemu seminggu aja dah nanya kabar." Seloroh Sarah menghampiri.
"Iya, ya, padahal tiap hari juga kamu hubungi aku terus." Ana menanggapi.
"What...ckckck. Tega banget sih kamu, Dik. Masa Ana tiap hari kamu hubungi, tapi aku gak pernah. Sedihnya dicampakkan sama sohib sendiri...hiks." Ucap Sarah dengan dramatis.
"Apa-an sih, Sarung." Timpal Dika dengan merangkul bahu Sarah.
"Issshhh... Don't touch me!" Ledek Sarah dan melepaskan rangkulannya.
Mereka tertawa dan hampir saja Ana melupakan tugasnya.
"Kebetulan nih, kita ngumpul. Gimana kalau kita makan siang bareng. Dah lama loh kita ga maksi bareng," tawar Dika.
"Ya, ampun, aku hampir lupa sama tugasku. Aku harus nganterin ini sama buat Pak Kana," Ana ingat tugasnya dan langsung memencet tombol lift untuk membuka.
"Kalian sih, bikin aku lupa," seloroh Ana sambil menunggu pintu lift terbuka.
"Dih, kita yang disalahin. Dika doang kali, aku mah nggak," protes Sarah.
Yang disalahkan malah nyengir kuda, "heee...maaf...!"
"Ya, udah, aku ke atas dulu, ya. Bay..." pamit Anna.
"Makan siang kita, gimana?" Tanya Dika lagi sebelum pintu lift tertutup.
"Lain kali aja, ya. Atur aja lagi," jawab Ana dengan pintu lift tertutup.
*
Sampailah Ana di lantai 10. Dia langsung menghampiri sekretaris bos-nya yang bernama Bu Linda.
"Siang, Bu Linda," sapa Ana.
"Eh, hai, An. Siang juga," jawab Bu Linda menghampiri Ana dengan mengitari meja kerjanya.
"Bu Linda, belum pergi makan siang?"
"Ini baru mau turun cari makan siang."
"Bareng aja, sama kita. Aku bawa banyak, sengaja biar Bu Linda ikut makan." Tawar Ana.
"Soto ayam sama kentang balado, ya?" Tanya Bu Linda.
"Kok tau, aku kan belum ngasih tau," heran Ana.
"Ya, tau, dong. Tadi waktu Pak Kana telpon kamu saya denger," jelas Bu Linda.
"Bu Linda, nguping," tuduh Ana.
"Enak, aja. Waktu Pak Kana telpon kamu tadi, saya ada di ruangannya. Makannya nguping," kekeh Bu Linda.
"Sama aja atuh," balas Ana dengan kekehan.
"Yuk, saya anterin ke dalam. Dia pasti sudah nungguin!"
Ana dan Bu Linda pun beriringan berjalan menghampiri pintu bos mereka.
Tok...tok...tok...
Bersambung...