bc

Satu Hati Dua Cinta

book_age16+
280
IKUTI
2.7K
BACA
BE
stepfather
tragedy
secrets
like
intro-logo
Uraian

Audrey adalah seorang wanita muda berusia 20 tahun yang harus rela kehilangan suami ketika ia sedang hamil tiga bulan.

Felix Daneswara sang suami yang berprofesi sebagai nahkoda kapal mengalami kecelakaan dalam tugas sehingga membuatnya hilang dan dinyatakan meninggal.

Satria Abian Dewantara adalah seorang tentara muda yang tak lain adalah sahabat Felix sang suami Audrey. Namun, sebenarnya Abian sudah lama mencintai Audrey bahkan sebelum Audrey menikah dengan sahabatnya sendiri. Setelah mendengar kabar buruk tentang Felix, Abian memutuskan untuk menikahi Audrey dan menjadi ayah untuk anak Felix, Audrey pun menerima pernikahan itu demi kebahagiaan dan keselamatan anak yang ia kandung. Namun, apa jadinya jika setelah ijab kabul, Felix sang suami yang ternyata masih hidup justru hadir kembali dalam hidup Audrey?

Bagaimanakah hidup Audrey selanjutnya dengan dua orang pria berstatus suami dan bisakah Abian membuat Audrey mencintainya dan melupakan Felix?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Ditinggal Suami Saat Mengandung
"Maaf, Bu Audrey. Sepertinya suami ibu sudah meninggal. Kami gagal menemukannya setelah tiga hari pencarian!" ucap salah satu anggota kepolisian. Membuat hati seorang wanita muda yang tengah mengandung tiga bulan itu hancur meratapi hilangnya sang suami yang merupakan nahkoda kapal. "Apa tidak sebaiknya dicari sampai ketemu?" tanya seorang pria berseragam loreng bernama Abian. Pria yang merupakan teman semasa sekolah dengan Audrey itu sejak tadi memang selalu menemani. "Kami sudah melakukan pencarian semaksimal mungkin, tapi kami hanya menemukan beberapa orang saja, sementara nahkoda kapal dan anak buahnya belum berhasil kami temukan, Pak!" sahut salah satu anggota tim SAR yang juga berada di sana. "Tidak, Pak! Suami saya tidak mungkin meninggalkan saya!" Wanita bernama Audrey itu berteriak histeris. Air matanya tampak luruh tak tertahankan hingga membasahi kedua pipinya. "Drey, tenang ya! Jangan seperti ini, kasihan janin yang ada dalam perut kamu!" ucap Abian coba menenangkan Audrey. "Bagaimana aku bisa tenang? Aku nggak mau kehilangan suamiku." Audrey semakin histeris. Tak memedulikan sedikit pun apa yang Abian katakan. Hingga beberapa detik kemudian, Audrey merasakan perutnya keram. Wanita itu pun tampak meringis kesakitan. "Drey, ada apa?" Abian terlihat panik. "Perutku sakit, Bie!" "Kita ke rumah sakit ya?!" titah Abian, kemudian pria itu langsung membopong tubuh Audrey untuk pergi dari dermaga dan menuju ke rumah sakit. Malam harinya, Abian masih berada di rumah Audrey. Namun, pria itu sudah menghubungi keluarga Audrey yang berada di luar kota dan meminta keluarga dari wanita itu untuk pulang dan merawat Audrey. "Maaf, Bie. Sepertinya kamu pulang saja karena apa yang kamu tunggu pasti tidak akan datang!" pinta Audrey seraya duduk ke sofa ruang tamu. "Enggak! Aku nggak bisa pergi sebelum keluarga kamu datang!" tolak Abian. "Ayah dan saudara-saudaraku tidak akan datang, mereka saja nggak peduli sama aku!" Audrey sebenarnya masih memiliki seorang ayah. Namun, sejak Audrey berusia 12 tahun, sang ayah sikapnya berubah menjadi kasar dan tidak pernah peduli lagi padanya, terlebih ketika sang ayah sudah memiliki istri kedua setelah setahun menduda. "Ayah, kak Nicho, Bianca, dan tante Roseana tidak akan pernah peduli padaku!" ucap Audrey yang masih menyebut ibu tirinya dengan sebutan tante. "Kalau Bianca mungkin tidak peduli karena dia adalah saudara tirimu, tapi Nicho adalah kakak kandungmu dan sebagai seorang kakak, dia punya tanggung jawab untuk melindungi adiknya!" jawab Abian. "Kamu nggak ngerti, hubungan kami tuh beda sama hubunganmu dengan Faya, adikmu! Kalian saling sayang, tapi kami tidak. Hanya aku yang menyayanginya, sementara dia tidak!" ucap Audrey tersenyum kecut. Ada kesedihan terasa sakit saat mengingat perlakuan yang tidak semestinya dari keluarganya. Tiba-tiba suara ketukan terdengar. Membuat Audrey dan Abian seketika menoleh menatap ke arah pintu kamar. "Mungkin itu keluargamu, Drey?!" ucap Abian menebak. Pria itu pun mulai melangkah, menuju pintu. "Drey." Panggilan seorang wanita paruh baya membuat Audrey langsung menatapnya. "Ibu." Wanita paruh baya yang datang dengan dua orang itu pun segera menghampiri Audrey. "Sejak kapan kalian pulang dari Australia?" tanya Audrey setelah sang ibu mertua mendekat dan memeluk tubuhnya yang sedang mengandung. "Ibu, ayah, dan mbak Mawar baru pulang satu jam yang lalu!" jawab ibu mertua Audrey yang bernama Saskia. "Nak, ayah yakin putra ayah akan kembali! Dia tidak mungkin meninggalkan istri dan calon anaknya!" sahut Bram yang merupakan ayah mertua Audrey. "Kalian berduaan di rumah?" tanya seorang wanita paruh baya yang merupakan kakak Saskia sambil tersenyum kecut. Mawar memang sangat membenci Audrey karena ia belum bisa menerima kehadiran Audrey dalam keluarganya hingga detik ini. "Mbak, tolong jangan buat suasana di sini jadi panas!" Pinta Bram pada kakak iparnya. "Bie, kamu tahu kan bila sahabatmu sampai saat ini masih hilang. Lalu kenapa kau di sini bersama dengan istrinya?" tanya Saskia pada Abian dengan pandangan mata yang sinis. "Bie han—" "Sudah aku katakan, Audrey bukan perempuan baik-baik. Lihat saja ini, suaminya hilang dia malah berduaan dengan sahabat suaminya!" ucap Mawar lagi semakin memperkeruh suasana. "Tolong mikir macem-macem karena Bie hanya menjaga Audrey! Asal Tante tahu, tadi dia masuk rumah sakit dan kata dokter kandungannya lemah. Jadi, saya memutuskan untuk berada di sini sebelum keluarganya datang!" jawab Abian meluruskan semuanya. "Sudah! Sudah! Jangan ribut, kasihan Audrey, dia sedang hamil. Drey, pergilah ke kamar, sebaiknya kamu istirahat!" ucap Bram. "Baik, Ayah!" jawab Audrey yang kemudian segera naik ke lantai dua untuk istirahat di kamarnya. "Baiklah, karena kalian sudah datang jadi Bie pamit pulang," ucap Abian, lalu tersenyum, menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu. "Iya, terima kasih telah menjaga menantu saya ya," jawab Bram sambil membalas senyuman Abian. "Sama-sama, Om!" ucap Abian yang kemudian keluar dari rumah sahabatnya itu. Setibanya di kamar, Audrey langsung melempar tubuhnya ke atas kasur. Menenggelamkan wajahnya pada bantal, lalu mulai terdengar suara isak tangis dari wanita itu. Belum sanggup ia menata hati atas kepergian suaminya, ingatan tentang keluarganya seketika membuat air matanya semakin luruh hingga membasahi kedua pipinya. "Aku sangat berharap ayah dan kak Nicho datang, tapi ternyata mereka tidak datang. Apa aku memang anak yang tidak diharapkan ya?" Audrey coba mengatur napasnya. Masih menangis terisak tanpa bisa ditahan. "Bunda, Audrey kangen sama bunda, sudah delapan tahun bunda pergi ninggalin aku di sini." *** Di sebuah rumah mewah, lebih tepatnya di ruangan yang gelap, seorang wanita tampak sedang duduk di sebuah kursi goyang dengan santainya. "Semua yang terjadi sesuai dengan apa yang aku mau! Alam semesta seakan mendukungku!" ucap seorang wanita muda. Senyumnya tipis menyiratkan sebuah rencana jahat. "Inilah saat yang tepat, buat aku gunain foto dan vidio hasil editanku. Dengan begitu, Audrey pasti akan dibenci oleh keluarga suaminya dan setelah itu barulah aku beri Audrey kejutan!" *** Keesokkan harinya. Tepat siang hari di mana keadaan rumah tampak sepi dan hening. Audrey merasa sakit di bagian perutnya hingga ia pun meminta pertolongan. "Ibu? Ayah? Bibi?" panggilnya pada semua orang, tetapi tak ada yang menjawab panggilannya. "Akh, sakit sekali!" rintih Audrey, akhirnya memilih pergi sendiri keluar kamar untuk mencari keluarganya. Tanpa ia ketahui, ternyata ayah dan ibu mertuanya sedang tidak ada di rumah, sementara Mawar juga sedang shoping di mall. Audrey tampak terus berjalan hingga ia tiba di depan anak tangga. Raut wajahnya mulai terlihat pucat. Sekuat tenaga ia terus memegang erat pegangan anak tangga sebelum menuruninya. "Sepertinya tidak ada orang di rumah, aku harus cepat menghubungi ibu atau ayah!" ucap Audrey, kemudian wanita itu langsung mengambil ponsel dari saku celana, sementara sebelah tangannya masih bertumpu pada pegangan anak tangga. Namun, tanpa disangka, benda pipih itu terlepas dari genggamannya hingga jatuh ke lantai satu. "Bagaimana ini?" Audrey melihat ponselnya yang sudah rusak di lantai bawah. Saat ini, rasa sakit kian melemahkan hingga wanita itu terus memegangi perutnya. Di tengah rasa sakit yang semakin mendera, tiba-tiba suara ketukan pintu dari depan rumah terdengar. "Assalamualaikum, Drey." Panggilan itu membuat Audrey lega. Ia pun langsung berteriak, "Bie, masuklah! Tolong aku, perutku sakit!" Mendengar suara Audrey, Abian pun segera masuk ke dalam rumah. "Kamu di mana?" teriak Abian sambil melihat ke sekeliling ruang tamu. "Aku di atas!" jawab Audrey. "Astagfirullah, kamu kenapa?!" tanya Abian seraya berjalan ke arah anak tangga dan setelah tiba depan tangga, ia pun lari cepat menaikinya. "Di mana Om Bram dan Tante Saskia?" tanya Abian begitu pria itu tiba di dekat Audrey. "Aku nggak tahu, Bie!" jawab Audrey seraya terus memegangi perutnya yang terasa sakit. Walaupun sempat ragu, akhirnya Abian terpaksa menyentuh istri sahabatnya. Pria itu pun mulai mengangkat tubuh Audrey karena tidak mungkin jika Audrey harus berjalan sendirian menuruni anak tangga. Baru saja keduanya tiba di depan rumah, suara kamera terdengar saling bersahutan. Menandakan bahwa saat Abian keluar sambil menggendong Audrey, ada yang diam-diam mengambil foto mereka. "Siapa orang itu? Untuk apa dia mengambil fotoku saat aku menggendong Audrey?" Walaupun penasaran, tetapi Abian tidak coba mencari tahu siapa orang itu dan memilih untuk melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah setelah melihat Audrey semakin kesakitan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook