Keesokkan harinya, Audrey pergi ke mall bersama dengan Satria sebab Diandra sedang tidak enak badan hari ini.
"Pa, sebaiknya belanja bahan pangan saja dulu!" pinta Audrey pada pria paruh baya berseragam dinas TNI AD tersebut.
"Papa nggak pernah belanja, jadi terserah kamu mau kemana dulu, Papa hanya mengikuti!" jawab Satria.
"Baiklah, Pa!" ucap Audrey yang kemudian pergi ke toko sembako untuk belanja bulanan.
"Silahkan, Bu. Mau cari apa!" ucap sang penjaga toko sembako sambil tersenyum.
"Saya mau beli berasnya 20 kg, Bu!" pinta Audrey.
"Baik, Bu. Tunggu sebentar!" jawab sang penjaga toko yang kemudian pergi untuk mengambilkan pesanan Audrey.
"Kemari, Bu!" panggil Audrey pada sang penjaga toko yang hendak mengambil beras.
"Iya, Bu!" ucap sang penjaga toko yang kembali.
"Saya mau belanja banyak, jadi lebih baik, Ibu mencatatnya saja!" pinta Audrey sambil tersenyum.
"Baik, Bu!" ucap sang Penjaga seraya mengambil buku dan pena.
"Beras 3 kg, minyak sayurnya 5 liter, tepung ...," Audrey mengatakan semua pesanannya, setengah lembar kertas kini sudah penuh dengan catatan Audrey.
"Baik, Bu. Saya tinggal cari daging dulu ya? Nanti saya kembali lagi untuk mengambil pesanan!" Audrey berpamitan untuk pergi membeli bahan pangan lainnya sembari menunggu pesanannya siap.
"Baik, Bu!" jawab Penjaga toko.
Audrey dan ayah mertuanya kemudian pergi ke toko daging.
"Silahkan, Mbak!" ucap penjual daging.
"Saya mau beli daging sapinya 5 kg, kemudian daging ayam 3 kg, cumi 3 kg dan udang 4 kg!" pinta Audrey.
"Baik, Mbak!" ucap sang penjual yang kemudian dengan segera menyiapkan daging pesanan Audrey.
Satu jam kemudian, Audrey sudah selesai belanja dan belanjaannya di bawa oleh tiga orang anak buah Satria yang sejak tadi menunggu di luar mall.
Anak buah yang di antaranya adalah tukang kebun, tukang pembersih kolam renang dan sekuriti di rumah Satria.
Setibanya di luar mall, Audrey dan Satria istirahat sejenak di kursi yang berada di sekitar halaman mall.
"Lama juga ya belanja!" ucap Satria sambil melepas topinya dan menggunakan topi itu untuk mengipasi wajah dan lehernya.
"Iya, Pa. Inikan kita belanja bulanan, jadi ya harus banyak yang dibeli!" jawab Audrey sambil tersenyum.
Melihat sang papa mertua yang sepertinya lelah dan gerah, Audrey pun segera mengambil dua botol air minum dingin yang tadi ia beli dan lantas memberikan salah satunya pada Satria.
"Ini, Pa. Minum dulu!" ucap Audrey sambil tersenyum dan menyodorkan sebotol minuman dingin itu pada Satria.
"Terima kasih!" jawab Satria seraya menerima botol berisi minuman dingin itu dan langsung meminumnya.
Audrey kini hendak minum juga, namun matanya melihat ke arah penjual ayam krispi yang ada di pinggir jalan.
"Pa, Audrey mau ke sana!" ucap Audrey sambil menunjuk ke arah tujuannya.
"Oh, Drey mau makan ayam krispi? Beli saja di dalam mall, buat apa beli di pinggir jalan, belum tentu itu sehat!" jawab Satria yang melarang menantunya untuk jajan di luar.
"Tapi Drey pengen yang itu!" bujuk Audrey pada sang papa mertua.
"Di K*C aja, Drey!" ucap Satria.
"Ya sudahlah nggak usah!" jawab Audrey yang kemudian meminum minuman dinginnya.
Satria kini menaruh botol yang sudah kosong itu dan ia diam sejenak menatap wajah menantunya yang seperti kecewa sebab tidak diperbolehkan beli apa yang diinginkan.
"Sepertinya kamu sedang nyidam? Jadi, baiklah. Kamu boleh membelinya!" ucap Satria yang akhirnya mengizinkan menantunya untuk membeli ayam krispi di pinggir jalan tersebut.
"Benarkah?" tanya Audrey sambil mengubah wajah murungnya menjadi bahagia.
"Iya!" jawab Satria sambil tersenyum.
"Baiklah, Pa! Makasih!" ucap Audrey yang kemudian segera pergi ke sana untuk membeli apa yang ia mau.
Setibanya di sana, Audrey segera memesan satu porsi ayam krispi.
Beberapa saat kemudian, pesanannya sudah siap, Audrey pun segera mengambil dan membayar makanan itu dengan selembar uang berwarna merah senilai seratus ribu.
"Bu tunggu! Ini kembaliannya belum!" panggil sang penjual kala Audrey hendak pergi tanpa mengambil kembaliannya yang masih 85 ribu lagi sebab ayam krispi itu hanya 15 ribu.
"Kembaliannya buat bapak saja! Terima ya? Semoga bermanfaat!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Terima kasih, Bu. Semoga rezeki ibu semakin banyak dan lancar!" ucap sang penjual.
"Sama-sama, Pak!" jawab Audrey sambil tersenyum.
Audrey adalah wanita yang sering bersedekah, sejak kecil ia selalu menyumbangkan uangnya pada orang yang membutuhkan, meski dalam kondisi sulit, ia tidak pernah lupa bersedekah. Terlebih sekarang ketika ia sudah punya banyak uang, sudah pasti ia akan semakin rajin bersedekah.
"Wah, sepertinya ini enak?!" ucap Audrey seraya berjalan sambil melihat ke arah ayam krispi miliknya.
Namun tiba-tiba tangan kekar seorang pria menggenggam tangan kirinya dengan sangat kuat dan lantas menariknya hingga ia jatuh di rerumputan.
Mata Audrey kini melihat lekat ke arah mobil Avanza berwarna hitam yang melaju cepat meninggalkannya.
"Hati-hati, Drey! Untung saja kamu nggak tertabrak mobil tadi!" pinta Satria seraya membantu menantunya untuk berdiri.
"Terima kasih karena papa sudah menyelamatkan Audrey dan calon anak Audrey!" ucap Audrey seraya menatap sang papa mertua dengan tatapan sendu kala ia melihat ada kemarahan di mata sang papa mertua akibat kecerobohannya.
"Hm, lain kali hati-hati!" pinta Satria lagi.
"Iya, Pa!" jawab Audrey.
Sementara itu, di dalam mobil Avanza hitam, terdapat seorang pria bertopeng yang mengemudikan mobil dengan sangat kesal.
"Sial! Harusnya dia sudah mati!" umpatnya sambil memukul tengah kemudi sehingga klakson mobil berbunyi.
"Si tua bangka itu sudah menggagalkan rencanaku!" lanjutnya dengan nada tinggi.
***
Malam harinya, Audrey hendak tidur namun ia mendapat pesan singkat dari Abian.
"Bie?" tanya Audrey pada dirinya sendiri setelah mengetahui siapa pengirim pesan tersebut. "Tumben Bie mengirim pesan?" lanjutnya yang kemudian tanpa berpikir panjang langsung membaca pesan itu.
Abian: Drey, temui aku di Resto Sekar Mayang malam ini juga ya!
Audrey terdiam, rasanya tidak mungkin Abian menyuruhnya keluar rumah di malam hari, namun sebagai seorang istri ia wajib memenuhi permintaan suaminya.
"Lebih baik aku ke sana saja! Siapa tahu Bie ingin bicara penting padaku?" ucap Audrey yang kemudian pergi ke arah lemari pakaian untuk mengambil jaket agar ia tak kedinginan nantinya.
Tak beberapa lama kemudian, Audrey turun ke lantai satu dan hendak keluar, namun ia berpapasan dengan Satria yang baru saja tiba di ruang tamu setelah mengambil air putih.
"Mau kemana, Drey?" tanya Satria pada menantunya.
"Ke Resto Sekar Mayang, Pa!" jawab Audrey.
"Mau ngapain? Ini sudah malam, loh?" tanya Satria pada menantunya.
"Bie tadi mengirim pesan di aplikasi hijau, Pa. Dia memintaku untuk menemuinya di Resto Sekar Mayang!" jawab Audrey dengan jujur.
"Hah?" Satria merasa terkejut setelah Audrey mengatakan bahwa Abian mengundangnya ke Resto Sekar Mayang.
"Enggak mungkin, Drey! Putraku nggak mungkin tega menyuruh istrinya keluar di malam hari begini!" lanjut Satria yang menyangkal hal itu.
"Tapi pesan itu benar-benar dari Bie, Pa!" jawab Audrey.
"Jika memang putraku ingin bertemu denganmu, maka dia akan menjemputmu! Lagipula dia sekarang sedang menjalankan tugas besar. Papa rasa, nggak mungkin itu dia yang mengundangmu?" ucap Satria yang tidak mempercayai semuanya.
"Tapi itu nomor telepon suamiku, Pa?" tanya Audrey.
"Bisa jadi ada yang sedang menjebak mu, bisa jadi nomor telepon suamimu di bajak orang, Drey!" jawab Satria. "Sebaiknya kamu kembali ke kamar saja, Drey!" lanjut Satria.
"Baiklah, Pa!" jawab Audrey yang kemudian segera kembali ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya untuk tidur.
***
Pukul 22.30 Wib, seorang pria bertopeng kembali masuk ke dalam mobilnya setelah apa yang dia tunggu tidak datang juga.
"Sial! Dia lolos lagi!" umpatnya. "Tapi nggak apa! Aku punya banyak cara untuk menghabisinya!" lanjutnya sambil tersenyum miring.
Pria bertopeng itupun segera menginjak gas mobilnya dan pergi meninggalkan halaman Resto yang sudah tutup sedari tadi.
***
Keesokkan harinya, Audrey sedang sarapan bersama dengan Diandra dan Satria di meja makan.
"Mama sudah sehat?" tanyanya pada sang ibu mertua.
"Iya, Drey. Sudah jauh lebih baik!" jawab Diandra sambil tersenyum.
"Syukurlah!" ucap Audrey sambil tersenyum dan hendak mengambil sambal buah berwarna jingga.
"Drey, apa yang mau kamu makan itu?" tanya Satria ketika Audrey mengambil sambal buah yang tak seharusnya ia ambil.
"Drey, kamu nggak boleh makan sambal nanas!" sahut Diandra.
"Kenapa? Drey sangat suka makan nanas dan sudah beberapa bulan ini Drey nggak memakannya!" tanya Audrey pada mertuanya.
"Drey, wanita hamil nggak boleh makan nanas sebab itu bisa menyebabkan keguguran!" jawab Diandra.
"A—apa? Keguguran?" tanya Audrey yang baru tahu bahwa wanita hamil tidak boleh makan nanas.
"Iya, wanita hamil nggak boleh makan nanas!" sahut Satria.
"Oh, maaf, Ma, Pa! Audrey nggak tahu jika nggak boleh makan nanas saat hamil!" ucap Audrey yang meminta maaf sebab hampir saja ia ceroboh dan membahayakan keselamatan anak yang ia kandung.
"Baiklah, nggak apa-apa, Drey!" jawab Diandra. "Lebih baik makan sambal cumi saja!" lanjut Diandra seraya menaruh satu sendok sambal cumi ke piring Audrey.
"Terima kasih, Ma!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Makan rendang ini juga, agar tidak kekurangan gizi!" ucap Satria seraya menaruh satu iris daging rendang ke piring Audrey.
Audrey terdiam, matanya mulai berair kala ia terharu akan sikap kedua mertuanya itu.
"Hey, kenapa menangis?" tanya Diandra pada menantunya.
"Drey sangat terharu, Pa, Ma. Sejak kecil Drey nggak pernah dipedulikan oleh ayah dan ibu tiri Drey! Sejak bunda meninggal, Drey sudah nggak pernah merasakan kasih sayang dari orangtua Drey lagi!" jawab Audrey sambil menjatuhkan beberapa butir air matanya hingga membasahi kedua pipi mulusnya itu.
"Drey, dalam hidup kita harus selalu berpikir optimis! Dalam hidup kita harus selalu berpikir ke depan jangan ke belakang! Lupakan semua masa lalumu yang kelam itu, sekarang kamu sudah punya keluarga, kamu punya papa dan mama!" ucap Satria sambil tersenyum.
"Iya, Drey. Kami siap menggantikan posisi kedua orangtuamu!" sahut Diandra sambil tersenyum.
"Terima kasih, Pa, Ma!" ucap Audrey sambil menyeka air matanya.
"Sekarang habiskan makananmu nanti ikut mama ke rumah sakit untuk periksa kandungan!" pinta Diandra.
"Baik, Ma!" jawab Audrey yang kemudian segera memakan makanannya dengan sangat lahap.