Di suatu pagi hari yang cerah, terdengar suara kicauan burung saling bersahutan, suaranya sangat amat merdu, para burung itu seolah sedang menyambut hadirnya matahari pagi yang mampu menyinari seluruh penjuru dunia dan memeluk semua mahluk hidup dalam kehangatannya yang tiada tara.
Di pagi hari yang indah itu, seorang pria duduk diam di dalam kamarnya, ia sedang bersedih karena telah kehilangan orang yang sangat ia cintai, bahkan keindahan alam dan udara pagi yang sejuk tidak dapat menghiburnya atau hanya sekedar membuatnya tersenyum saja.
"Sudah Bibi bilang kalau Audrey bukan wanita baik-baik!" ucap seorang wanita paruh baya yang bernama Mawar itu.
"Mbak Mawar, tolong jangan buat suasana hati putraku semakin—"
"Memang benar apa yang dikatakan oleh Mbak Mawar, Mas! Audrey memang bukan wanita baik-baik, contohnya sekarang ini dia malah menikah dengan Abian!" ucap Saskia seraya memotong ucapan sang suami.
"Memang rumah tangga Audrey dan putra kita baru satu tahun tapi kita sudah mengenal Audrey dengan baik, menurutku dia—"
"Audrey bukan wanita baik-baik!" ucap Mawar seraya memotong ucapan adik iparnya.
"Cukup! Diam!" Marah Felix.
"Felix, Audrey telah meninggalkanmu! Jadi, sudah jangan ditangisi kepergiannya!" ucap Saskia.
"Audrey pergi karena terpaksa! Audrey menikah karena terpaksa! Dan ini juga salah kalian, seandainya kalian nggak mengusirnya dan mau merawatnya maka dia tetap ada di sini, dia nggak akan pergi dariku!" jawab Felix.
***
Di sebuah rumah mewah berlantai dua, seorang wanita muda yang baru saja bangun tidur terkejut sebab melihat jam di dinding yang menunjukkan jam setengah delapan pagi.
"Astagfirullah, aku kesiangan!" ucap wanita yang tak lain adalah Audrey. Audrey pun segera turun dari kasurnya untuk pergi membersihkan diri.
Ini adalah pagi pertamanya sebagai seorang menantu keluarga Satria dan sudah seharusnya ia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan.
Pukul 08.30 Wib, Audrey yang sudah mandi dan merias rambutnya pun segera turun ke lantai satu untuk pergi ke dapur.
Namun, di depan pintu kamar ia berpapasan dengan seorang pria berseragam loreng yang tak lain adalah Abian sang suami.
"Em, sebaiknya kamu ganti baju, Drey! Ada kegiatan jadi kamu harus pakai seragam!" ucap Abian seraya memberikan seragam yang baru ia dapatkan, seragam itu berwarna hijau muda yang dibuat khusus untuk para istri tentara.
"Apa aku harus menggunakan itu?" tanya Audrey pada Abian.
"Iya, kamu sudah resmi menjadi istriku yang merupakan seorang tentara jadi kamu berhak mengikuti kegiatan Persit (Persatuan istri tentara), kamu tidak pergi sendirian sebab Mamaku juga akan pergi. Sebaiknya kalian bersama-sama saja!" jawab Abian sambil tersenyum.
"Apakah harus sekarang?" tanya Audrey seraya menerima seragam yang terdiri dari atasan lengan pendek dan bawahan rok panjang itu.
"Iya, nanti jam sembilan pagi kalian semua harus sudah hadir!" jawab Abian.
"Tapi aku ingin masak dulu, Bie! Untuk sarapan kita sekeluarga?" ucap Audrey.
"Tidak perlu, Drey! Mama dan Bik Ningsih sudah menyiapkannya!" jawab Abian.
"Baiklah jika begitu!" ucap Audrey kemudian masuk kembali ke dalam kamar untuk memakai seragam pemberian sang suami.
Beberapa saat kemudian, Audrey dan keluarganya hendak keluar namun seorang pria tiba-tiba datang bertamu.
"Kak Nicho?" ucap Audrey sambil tersenyum bahagia karena akhirnya sang kakak kandung mau menjenguknya.
Audrey pun dengan segera melangkahkan kakinya untuk menemui saudaranya yang masih berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah map.
"Aku kesini bukan untuk melihat kondisimu dan keluarga barumu tapi aku ke sini hanya butuh tanda tangan darimu!" Ucapan Nicho membuat langkah Audrey berhenti, raut wajah bahagia kini hilang dan diganti oleh raut wajah sedih dengan tatapan sendu. Audrey ternyata sudah salah sangka atas tujuan saudaranya yang datang tanpa diundang itu.
Nicho kini berjalan ke arah Audrey yang berhenti di samping sofa ruang tamu dan lantas menyodorkan map berwarna merah yang berisi berkas-berkas penting itu.
"Buka dan tandatangani ini!" titah Nicho seraya memasang wajah datarnya.
"Ini apa?" tanya Audrey pada Nicho dengan penuh rasa penasaran.
"Itu adalah surat yang harus kamu tandatangani! Rumah peninggalan bunda kita yang berada di Bandung akan aku jual!" jawab Nicho tanpa melihat ke arah adiknya. Pria itu nampak enggan bertemu dengan sang adik, jika tidak terpaksa maka dia tidak akan pernah datang.
"Mengapa di jual, Kak? Kakak sudah menjual restoran dan semua peninggalan bunda dan sekarang hanya tersisa rumah itu saja. Audrey nggak ingin rumah itu dijual sebab bunda pernah berpesan bahwa rumah itu nggak boleh dijual karena banyak kenangan masa kecil bunda di sana!" Audrey menolak permintaan sang kakak dan ia masih tetap mempertahankan wasiat sang bundanya.
"Rumah itu harus dijual! Aku butuh uang, jadi cepat tandatangani surat itu!" bentak Nicho yang sudah merasa tidak sabar menjual rumah peninggalan bundanya itu.
Mendengar istrinya dibentak, Abian pun berjalan ke arah Nicho dan istrinya yang sedang berdiri di samping sofa ruang tamu itu.
"Maaf, jangan membentak seorang perempuan! Terlebih dia adalah istriku!" ucap Abian yang memperingatkan Nicho yang kini sudah menjabat sebagai kakak iparnya.
"Lo sebaiknya nggak usah ikut campur sebab ini urusan gue sama adek gue, pendapat Lo nggak dibutuhkan di sini!" jawab Nicho dengan ketus.
"Rumah warisan adalah hak kalian berdua dan kamu nggak bisa memaksa Audrey untuk menandatangani surat itu bila Audrey nggak mau!" ucap Abian.
"Dia harus menandatangani surat ini, sekarang juga!" bentak Nicho lagi.
"Enggak! Audrey nggak mau mengecewakan bunda, enggak mau!" Audrey menolak permintaan sang kakak secara tegas.
"Bunda sudah tiada dan untuk apa dipertahankan rumah itu, hah?!" bentak Nicho lagi pada adiknya yang di mana matanya sudah berair.
"Kak Nicho jangan serakah! Sudah banyak peninggalan bunda yang kakak jual, apakah itu masih kurang?" tanya Audrey pada Nicho seraya menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kamu nggak mau rumah itu dijual sebab selama ini kamu nggak pernah mendapat sepeserpun uang dari penjualan harta warisan bunda, kan? Apa kamu mau perhitungan dengan kakak kandungmu sendiri, hah?!" marah Nicho.
"Kakak kandung? Kakak kandung yang mana? Di mana Kak Nicho ketika Audrey membutuhkan kakak? Di mana Kak Nicho ketika Audrey celaka? Di mana?" tanya Abian seraya meninggikan suaranya.
"Tanda tangan sekarang!" titah Nicho.
"Enggak!" bantah Audrey dengan sangat tegas.
"Kau!" teriak Nicho seraya mengepalkan tangannya hendak menampar Audrey, namun tangannya berhenti di udara kala dicekal oleh seseorang.
"Jangan sakiti menantu saya!" ucap Satria sambil terus menahan tangan Nicho di udara.
"Sebaiknya Anda pergi dari sini, jangan buat keributan!" ucap Diandra sambil menghampiri Audrey untuk menenangkan Audrey yang hendak menangis itu.
"Kenapa sih? Kenapa kakak lebih sayang pada Bianca yang sudah jelas saudara tiri kakak? Dan sejak Audrey kecil kakak selalu kasar pada Audrey, kakak selalu memukul Audrey, kenapa?" tanya Audrey sambil meneteskan sebutir air matanya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
"Semua kekerasan mu sudah tidak berlaku lagi sekarang, sebab aku nggak akan pernah membiarkan kamu menyakiti istri dan calon anakku!" ucap Abian dengan tegas.
Audrey langsung menatap Abian dengan tatapan yang sulit diartikan, ia terkejut dan juga terharu kala Abian menyebut bayi yang ia kandung adalah calon anaknya padahal yang sedang dikandung oleh Audrey adalah anak Felix bukan anak Abian, namun Abian dengan mudah bisa menerima anak yang bahkan bukan darah dagingnya itu.
"Oh, anak? Itu bukan anakmu tetapi anak Felix suami pertamanya!" ucap Nicho sambil tersenyum mengejek setelah Satria melepaskan tangan kanannya.
"Audrey sudah menjadi istriku dan anak yang dia kandung adalah anakku!" jawab Abian.
"Oh, begitu ya?" ucap Nicho sambil tersenyum kecut.
"Bagaimana Drey? Dulu kamu menghabiskan malam pertamamu dengan Felix dan sekarang dengan Abian?" lanjut Nicho yang mengejek dan merendahkan adik kandungnya sendiri.
"Setidaknya adikmu suci dan dia bersama dengan seorang pria yang sudah sah menjadi suaminya, namun kamu ...? ucap Abian yang hendak memojokkan Nicho. "Apa kamu lupa bahwa kamu menikahi wanita yang sudah hamil? Kamu membuat kekasihmu hamil diluar nikah dulu baru menikahinya, kan?" lanjut Abian yang mengungkit masa lalu Nicho yang nyaris mencoreng nama baik keluarga Argantara itu.
"Tutup mulutmu! Itu hanya kecelakaan!" marah Nicho yang merasa telah direndahkan oleh adik iparnya sendiri.
"Usiamu memang tiga tahun lebih tua dariku dan kamu adalah kakak iparku, tapi kelakuanmu buruk! Jadi, saya minta jangan pernah menghina Audrey! Karena sebenarnya yang hina dan pendosa adalah kamu!" ucap Abian.
Karena merasa telah dipojokkan dan direndahkan, Nicho pun pergi dari sana, pergi dengan tangan kosong tanpa mendapatkan tanda tangan Audrey.
"Bie, darimana kamu tahu tentang masa lalu Kak Nicho dan Mbak Naura?" tanya Audrey pada suaminya yang mengetahui masa lalu sang kakak, padahal dia belum menceritakan segalanya pada sang suami.
"Panjang ceritanya! Tapi sudahlah, setidaknya pria itu sudah pergi!" jawab Abian.
Audrey pun kini berjalan ke arah sang suami dan kemudian berkata, "Terima kasih karena telah membelaku dan terima kasih sudah mau mengakui anakku sebagai anakmu!"
"Jika aku menerima ibunya, lalu mengapa aku nggak bisa menerima anaknya?!" jawab Abian sambil tersenyum.
"Drey, kami telah menerimanya dengan baik!" sahut Saskia sambil tersenyum.
"Terima kasih!" ucap Audrey sambil mencoba tersenyum meski hatinya masih terluka.
Hidup Audrey sangat tidak bahagia, ia mencintai keluarganya namun ia tidak dicintai dan ia selalu ada namun ditiadakan oleh keluarganya sendiri, ia juga selalu mencoba tersenyum meski sedang terluka.
Anak mana yang tidak sakit hati dan sedih apabila kehadirannya tidak diakui oleh keluarga kandungnya sendiri serta selalu disia-siakan?
"Nak, bunda harap nasibmu baik! Bunda harap kamu mendapatkan cinta dan kasih sayang dari keluargamu!" batin Audrey sambil mengelus perut buncitnya.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang saja! Papa takut telah!" ajak Satria pada semua anggota keluarganya yang sudah rapi dengan seragamnya masing-masing.
***
Siang hari kemudian, Audrey keluar sendirian dari sebuah gedung untuk membeli s**u guna memberinya kekuatan agar tidak lemas sebab kegiatannya belum juga selesai.
Namun, di luar ia berpapasan dengan seorang pria yang masih sangat ia cintai dan kasihi itu.
"Drey?" panggil Felix.
Audrey terdiam sejenak dan matanya menatap mata Felix yang terlibat sembab itu.
"Kak, Drey rindu kakak!" ucap Audrey kemudian.
"Kakak juga, Drey! Kak Felix belum bisa melupakanmu!" jawab Felix dengan tatapan sendunya.
"Drey masih mencintai Kak Felix!" ucap Audrey dengan mata yang sudah berair.
"Kak Felix juga, tapi untuk bersama sangat nggak mungkin, kan?" jawab Felix dengan tatapan sendunya. Pria mana yang bisa dengan mudah merelakan istri dan anaknya untuk orang lain meski orang itu adalah sahabatnya sendiri. Meski lisan bisa berkata merelakan namun hati tidak.
"Aku nggak bisa meninggalkan seorang pria yang telah berjasa dalam hidupku! Tanpa dia mungkin janin ini nggak akan baik-baik saja?!" ucap Audrey sambil menundukkan kepalanya.
"Tetapi dia nggak mencintaimu, Drey! Dia menikahimu karena kasihan dan karena kamu adalah istri dari sahabatnya. Jadi, sebaiknya kamu lepaskan Bie, ijinkan dia menikah dengan wanita yang ia cintai!" jawab Felix yang belum tahu bahwa sahabatnya juga mencintai Audrey.
"Kak, sebenarnya Bie juga—"
"Felix!" Panggilan seorang wanita membuat Audrey menghentikan kalimatnya.
"Siapa dia Kak?" tanya Audrey pada Felix.
"Dia Devina!" jawab Felix.
"Devina mantan pacarmu yang pernah kamu ceritakan kepadaku dulu?" tanya Audrey lagi untuk memastikan dugaannya.
"Iya! Dan dialah yang telah menolongku ketika aku hilang, sebenarnya dia tinggal di luar negri tapi—"
"Tapi waktu itu aku pulang ke Jakarta dan di saat aku sedang liburan aku menemukan Felix terdampar di suatu daerah. Jadi, aku membawa Felix ke rumahku!" jawab Devina seraya memotong ucapan Felix.
"Tenang aja! Sebab hubunganku dan Felix sudah berakhir, aku hanyalah mantan pacarnya saja, kok!" lanjut Devina sambil tersenyum.
"Waktu itu aku nggak bisa berjalan dan kondisinya sangat nggak memungkinkan untuk aku kembali, Drey! Jadi, Devina memutuskan untuk merahasiakan keberadaan ku dari semua orang sebab ada seseorang yang mencoba melenyapkan ku. Kecelakaan kapal itu disengaja, Drey!" ucap Felix sambil menatap wanita yang ia cintai itu dengan tatapan sendunya.
"Disengaja?" Audrey terkejut kala sang suami mengatakan bahwa kecelakaan itu disengaja.
"Ya, jadi untuk menyelamatkan suamimu aku harus menyembunyikan suamimu dan setelah dia sembuh baru aku bawa dia pulang!" sahut Devina.
"Drey?!" Panggilan Abian membuat Audrey dan kedua orang itu langsung menoleh.
"Kalian sedang sibuk?" tanya Felix pada Abian dan Audrey.
"Ya, masih banyak kegiatan di dalam. Ayo masuk, Drey! Biar aku saja yang mencarikan s**u!" ucap Abian seraya mengulurkan tangannya.
"Oh, iya sudah jika begitu aku bawa Felix pergi ya? Soalnya aku dan dia ingin membicarakan soal bisnis yang akan kami kelola!" ucap Devina.
Felix dan Audrey akhirnya pergi ke tempat tujuannya masing-masing bersama dengan orang lain.
"Entah bagaimana akhirnya kisah cinta kita, Kak?" batin Audrey seraya memasang tatapan sendunya.
"Aku sangat berharap kamu kembali, Drey!" batin Felix seraya memasang tatapan sendunya juga..
Mereka berdua berjalan ke arah tujuannya masing-masing, berjalan dengan posisi saling membelakangi. Arah dan tujuan dua orang yang saling mencintai itu kini sudah tak searah dan tak sehaluan lagi, mereka telah dipisahkan oleh keadaan.