Kini Audrey sudah bersama sang ayah di sebuah kamar hotel sebab ayahnya itu adalah orang Tanggerang dan dia tidak memiliki rumah di Jakarta sehingga ia menginap di sebuah hotel.
Audrey semakin takut kala sang ayah mengunci pintu kamar nomor 271 itu.
"Ayah, tolong untuk kali ini jangan ringan tangan pada Drey! Drey sedang mengandung, Yah. Janin Drey lemah!" mohon Audrey pada ayahnya.
"Tandatangani surat itu!" ucap Arga seraya melempar map yang dulu sempat dibawa oleh putra sulungnya ke rumah Abian.
"Berarti ayah datang ke Jakarta bukan karena peduli pada, Drey?" tanya Audrey dengan air mata yang mengalir dengan sendirinya.
"Buat apa aku peduli pada anak pembawa sial sepertimu!" ucap Arga dengan tatapan datarnya.
"Enggak, Yah! Audrey tidak bisa menandatangani surat persetujuan itu sebab itu rumah tidak akan pernah dijual sampai kapanpun!" bantah Audrey.
Arga kini melepas gesper yang ia gunakan dan hal itu membuat putrinya semakin takut padanya.
"Tandatangani atau—"
Audrey duduk meringkuk sambil menangis tersedu-sedu kala sang ayah mungkin akan melakukan kekerasan lagi padanya.
"Yah, apa ayah akan menggunakan gesper itu untuk melukai punggung Drey? Yah, tolong jangan! Audrey sedang mengandung cucu ayah!" mohon Audrey sambil menangis.
Sosok ayah yang seharusnya menjadi pegangan, pengayom dan pelindungnya justru menjadi bahaya untuknya. Sosok ayah yang harusnya menjaga putrinya agar tidak terluka namun ini justru sebaliknya.
"Tandatangani!" titah Arga dengan tatapan tajam.
Audrey yang masih ingin mempertahankan wasiat sang bunda agar rumah itu tidak dijual pun segera menggelengkan kepalanya.
"Tandatangani!" bentak Arga seraya menggunakan gespernya untuk mencambuk meja, suara cambukan itu tentu saja membuat Audrey terlonjak kaget.
"Baiklah! Papa boleh memukul Drey! Tapi Drey tidak akan pernah menandatangani surat itu!" ucap Audrey sambil menatap sang ayah dengan tatapan sendu.
"Tandatangani surat itu atau aku celakai bayimu!" ancam Arga pada Audrey.
Mendengar hal itu, Audrey merasa sangat terkejut sebab tak menyangka bahwa ayahnya akan tega menggugurkan anaknya yang merupakan calon cucunya.
"Apa ayah tidak salah bicara?" tanya Audrey yang masih merasa tidak percaya pada ancaman sang ayah yang terdengar begitu kejam itu.
"Dia bukan cucuku! Jadi, mengapa saya peduli padanya?" jawab Arga.
"Apa maksud ayah? Dia adalah anak kandung Drey dan otomatis dia cucu ayah, kan?" tanya Audrey pada ayahnya.
"Kau bukan putri saya!" Ucapan Arga membuat Audrey terkejut dan penuh dengan rasa penasaran.
"Karena aku tidak ingin memiliki seorang putri pembawa sial sepertimu!" Ucapan Arga kali ini membuat rasa penasaran dan bingung Audrey menghilang.
"Drey mohon jangan ambil janin ini, Yah!" mohon Audrey dengan air mata yang menetes tiada henti-hentinya.
"Tandatangani surat itu sekarang!" titah Arga dengan sangat tegas.
Audrey menggelengkan kepalanya lagi sebab ia tidak mau mengecewakan almarhumah bundanya.
Penolakan Audrey justru membuatnya Arga menamparnya dengan sangat kuat hingga meninggalkan bekas merah di pipi Audrey.
Audrey meringis dan air matanya semakin cepat jatuh. Namun, ia masih enggan menandatangani surat itu.
Melihat putrinya hanya diam dan tak bergeming, Arga pun menggunakan gespernya untuk melukai tubuh sang putri.
Audrey merasakan sakit dan perih di bahu tangannya sebab satu cambukan yang kuat itu berhasil mencapai kulit mulusnya.
***
Siang hari kemudian, Audrey pulang ke rumah suaminya dan ia melihat suaminya duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Satria dan Diandra.
"Dari mana, Drey?" tanya Abian pada Audrey.
Audrey hanya diam dan berjalan menuju tangga untuk pergi ke dalam kamarnya.
"Drey, aku sudah pulang dari rumah sakit loh! Mengapa kamu tidak menyambutku?" tanya Abian pada sang istri yang seolah mengabaikannya.
"Aku lelah, mau istirahat Bie!" jawab Audrey dengan tatapan sendunya.
Audrey pun segera pergi ke lantai dua untuk beristirahat di dalam kamarnya.
"Ada apa dengan Drey ya?" tanya Diandra.
"Mungkin dia hanya kelelahan saja, jadi ingin istirahat!" terka Satria.
"Apa mungkin dia merasa marah padaku yang selalu meninggalkan dia?" batin Abian.
"Ma! Pa! Abian mau buat sesuatu untuk Drey!" ucap Abian sambil tersenyum dan kemudian segera pergi ke dapur.
"Rasanya tidak enak jika minta maaf tanpa memberi hadiah! Tapi apa yang bisa aku berikan pada Drey ya?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil berjalan ke arah dapur.
Setelah tiba di dapur, Abian pun segera duduk di atas kursi untuk berpikir.
Tiba-tiba kenangan masa SMA kembali terbesit dalam benak Abian.
"Selamat hari valentine, Drey!" ucap Abian seraya memberikan satu bungkus coklat pada Audrey.
"Drey, selamat hari valentine!" ucap siswa lain seraya memberi jajan keju pada Audrey.
"Terima kasih, Bie, Arsen," jawab Audrey sambil tersenyum.
"Sama-sama!" ucap Arsen yang kemudian pergi setelah Abian meliriknya, Arsen tentu tahu bahwa Abian suka pada adik kelasnya itu yang baru saja duduk di bangku kelas satu sementara dirinya sudah duduk di bangku kelas tiga.
"Drey, kok kamu makan hadiah dari Arsen sih? Bukan yang dari aku?" tanya Abian pada Audrey.
"Karena punya Arsen keju dan kamu coklat! Aku lebih suka keju tahu!" jawab Audrey sambil terus memakan jajan keju hadiah Arsen teman sekelas Abian.
Kembali pada masa kini, Abian tersenyum ketika ingat bahwa Audrey sangat menyukai keju.
"Bagaimana kalau aku buat kue keju?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil tersenyum.
Tanpa pikir panjang lagi, Abian pun segera pergi ke arah lemari untuk mengambil tepung, telur dan semua bahan untuk membuat kue.
"Sebentar! Tapi aku nggak tahu cara membuat kue? Apalagi kue keju!" ucap Abian. Pria itu sangat ingin membuat kue keju namun ia tidak tahu caranya.
"Bagaimana kalau aku tanya Mama?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Abian pun melangkahkan kakinya untuk pergi ke ruang tamu, namun ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Enggak! Aku nggak mau minta bantuan Mama! Ini kue spesial untuk Audrey dan aku harus membuatnya sendiri!" ucap Abian. "Lebih baik aku cara tutorialnya di YouTube, deh!" lanjutnya yang kemudian segera pergi ke arah kursi dan duduk di kursi.
Pria itu lantas mengeluarkan benda pipih berwarna hitam pekat dari saku celananya.
***
Di dalam kamar yang identik dengan warna putih itu, Audrey sedang duduk menangis sambil memeluk boneka bear yang sudah lusuh dan usang itu.
"Drey!" Panggilan seorang pria dari luar kamar membuat Audrey segera menyeka air matanya secara gusar.
Seorang pria kini masuk ke dalam kamar Audrey sambil membawa kue.
Hidung Audrey mencium aroma keju yang sangat ia sukai, namun wanita itu masih sedih, tak ada sedikitpun senyuman yang terukir.
"Drey, ini aku buat khusus untukmu!" ucap Abian setelah duduk di tepi kasur dan menyodorkan kue keju berbentuk love serta ada tulisan, I'm sorry my dear di bagian atasnya pada Audrey.
"Makasih!" jawab Audrey secara singkat, tak ada raut bahagia di wajahnya saat ini.
Abian menarik nafasnya dan kemudian menundukkan kepalanya, "Drey, tolong maafin aku yang sudah terlalu sering meninggalkanmu! Aku bukan suami yang sempurna untukmu, Drey!"
"Aku nggak pernah merasa marah dengan hal ini, Bie. Aku mengerti bahwa kamu adalah abdi negara!" jawab Audrey tanpa melihat wajah suami yang tak dicintainya itu.
Abian kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Audrey dengan tatapan sendu.
"Lalu mengapa kamu saat ini dingin padaku?" tanya Abian pada istri yang sangat ia cintai itu.
"Aku nggak dingin padamu, Bie!" jawab Audrey yang masih belum mau menatap Abian sebab ia takut air matanya akan jatuh lagi karena merasakan cinta dan kasih sayang dari Abian untuknya.
"Aku baru pulang dari rumah sakit dan kamu nggak menyambutku dan kamu juga nggak menyapaku, Drey!" ucap Abian yang masih menatap sang istri dengan tatapan sendunya.
"Aku nggak marah atau membencimu, Bie! Aku hanya sedang ada masalah saja!" jawab Audrey yang tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan ia berposisi miring untuk membelakangi Abian sebab air mata Audrey kembali mengalir kala ia tak kuat membendungnya lagi.
"Masalahmu juga masalahku, Drey! Dalam rumah tangga, suami dan istri harus saling terbuka dan sebaiknya jangan pernah menyembunyikan masalah sebab dukamu adalah dukaku dan bahagianya adalah bahagiaku!" ucap Abian yang tidak tahu bahwa istri yang sedang membelakanginya itu menangis karena kasih sayangnya.
"Duhai semua yang terkasih, terima kasih atas semua cinta yang kalian berikan padaku. Sejak aku kecil, aku nggak pernah mendapatkan cinta dan kasih sayang, hanya ada derita dan tangis saja! Kalian memelukku dengan kasih sayang namun keluarga kandungku justru memelukku dengan derita dan air mata," batin Audrey sambil mengeluarkan banyak air mata tanpa sepengetahuan sang suami.