Malam harinya, Abian hanya berdua dengan sang istri di ruang rawat inap sebab Satria masih sibuk di markasnya, sementara Diandra harus menemani putrinya di rumah.
"Bie?" panggil Audrey pada suaminya yang baru saja selesai membaca Al-Qur'an di sampingnya.
"Iya, ada apa, Drey?" tanya Abian pada istrinya.
"Aku ingin jalan-jalan di luar, aku ingin menghirup udara segar, Bie!" jawab Audrey.
"Enggak, Drey! Kamu nggak boleh keluar!" tolak Abian.
Abian mencemaskan kondisi Audrey yang masih belum pulih dari sakitnya.
"Sebentar saja!" Audrey memohon seraya memasang tatapan sendunya.
"Baiklah, tapi aku panggilkan dokter dulu ya? Biar dokter memutuskan semuanya!" jawab Abian yang kemudian pergi untuk memanggil dokter.
***
Kini Audrey sudah berada di halaman luar rumah sakit, wanita hamil itu duduk di atas kursi roda dan di bawah pohon Cemara.
"Untung hari ini cuacanya cerah dan nggak mendung, kalau mendung kamu nggak akan diizinkan keluar, Drey!" ucap Abian sambil tersenyum.
"Bie, aku mau itu!" pinta Audrey sambil menunjuk ke arah penjual sosis dan bakso bakar yang ada di taman rumah sakit.
"Apa? Kamu mau itu?" tanya Abian pada istrinya.
"Iya, Bie!" jawab Audrey.
"Tapi kamu belum boleh makan makanan luar, Drey!" Abian melarang istrinya untuk makan makanan luar.
"Tapi aku sangat ingin makan itu, em ... mungkin ini adalah keinginan anakku!" ucap Audrey seraya mengelus perut buncitnya.
"Baiklah akan aku belikan!" jawab Abian yang kemudian segera pergi untuk membelikan makanan itu.
Tak beberapa lama kemudian, Abian kembali dengan membawa satu plastik makanan.
"Nih!" ucapnya seraya menyerahkan makanan itu pada Audrey.
Audrey tersenyum bahagia kemudian ia segera mengambil makanan di dalamnya namun ternyata makanan itu masih sangat panas.
Audrey meringis kala merasa panas di jarinya, Abian yang refleks kemudian segera mengambil jari Audrey dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Rasa manis dan pedas yang menempel membuat Abian diam.
Audrey kini menatap Abian dengan tatapan yang sulit diartikan kala Abian menghisap jari telunjuknya.
"Bie, lepas!" pinta Audrey seraya menarik jarinya agar keluar dari dalam mulut sang suami.
Audrey segera mengelap jarinya dengan bajunya, ia tidak ingin ada bekas pria lain di anggota tubuhnya.
"Aku harap jangan pernah menyentuhku tanpa izin lagi!" pinta Audrey seraya terus membersihkannya jarinya.
Abian menatap sendu ke arah sang istri yang membuang bekas dirinya tepat di depan matanya sendiri, berapa hancurnya hatinya kala pertolongannya ditolak mentah-mentah.
"Baiklah, aku nggak akan pernah melakukannya lagi!" jawab Abian seraya duduk di atas akar pohon yang besar.
Setelah sekian lama hening, akhirnya salah satu dari pasangan suami-isteri ini berbicara.
"Mau?" Audrey menawarkan satu tusuk bakso bakar pada suaminya.
"Karena ini pemberian darimu maka nggak mungkin aku menolaknya!" jawab Abian sambil mencoba tersenyum meski hatinya masih sedikit terluka.
Abian pun mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan ringan itu dan lantas memakannya.
Audrey pun menarik satu tusuk sosis bakar dan lantas memakannya dengan sangat lahap sebab rasanya manis dan pedas.
Mata Abian memerah karena jujur saja pria itu tidak terlalu suka makanan yang pedas.
"Mau lagi?"
Kini Audrey menawarkan satu tusuk sosis bakar yang baru pada Abian.
Abian terlihat diam karena ia sedang kepedasan, namun tangannya tiba-tiba tergerak untuk menerima makanan itu.
"Enggak masalah kepedasan karena ini makanan dari Audrey!" batin Abian.
Abian kemudian memaksakan makanan itu masuk ke dalam mulutnya padahal mulutnya saat ini sudah terasa terbakar akan rasa pedas yang sangat mendominasi makanan tersebut.
Saus yang menjadi pelengkap makanan itu memang rasanya kolaborasi manis dan pedas namun yang menang adalah rasa pedasnya, rasa manis hanya di awal dan bila semakin dimakan maka rasa manisnya hilang dan tergantikan oleh rasa pedas.
"Bie, apa kamu tahu jika Kak Felix juga sama sepertiku yang doyan makan makanan pedas?" ucap Audrey seraya menguyah makanannya.
Abian terdiam kala Audrey berkata demikian sebab ia tak menyangka bahwa Audrey akan mengingat mantan suami saat mereka sedang berdua, pantas saja Audrey lupa pada Abian yang tidak suka pedas sebab di dalam pikirannya hanya ada Felix.
"Bie, mau lagi?" Audrey menawarkan makanan lagi, namun ia mengurungkan niatnya kala melihat wajah suaminya sudah berpeluh keringat serta matanya merah.
"Astagfirullah, maafkan aku! Aku lupa kalau kamu nggak suka pedas!" Audrey meminta maaf seraya menatap Abian dengan tatapan sendu.
"Hm, nggak apa-apa!" jawab Abian seraya mengambil satu botol minuman kemasan dan lantas meminumnya.
"Kenapa kamu nggak menolak makanan itu tadi?" tanya Audrey pada suaminya.
"Mana bisa aku menolak makanan pemberian dari wanita yang sangat aku cintai, Drey!" jawab Abian sambil tersenyum.
"Dia sangat mencintaiku tapi aku nggak pernah sekalipun mencintainya! Apakah aku salah yang nggak bisa mencintai suamiku sendiri? Namun hati nggak bisa bohong bahwa aku hanya mencintai Kak Felix, hanya dia!" batin Audrey.
"Jalan-jalannya sudah ya, sekarang kamu harus istirahat!" ucap Abian sambil tersenyum.
"Baiklah, Bie!" jawab Audrey sambil membalas senyuman Abian.
Abian pun hendak mendorong kursi roda istrinya, namun sang istri tiba-tiba menghentikannya.
"Bie, tunggu! Coba lihat itu!" pinta Audrey seraya menunjuk ke arah atas pohon Cemara.
"Wah, indahnya!" ucap Abian setelah melihat ada cahaya kecil berwarna kuning kehijau-hijauan melayang di sana.
"Bie, tolong tangkapan kunang-kunang itu untukku!" pinta Audrey pada Abian.
Sejak kecil, Audrey memang sangat menyukai serangga kecil yang dapat mengeluarkan cahaya di malam hari itu, serta ia punya impian untuk membuat taman kunang-kunang.
"Jangan! Kasihan, nanti mati!" Abian melarang sebab ia takut jikalau kunang-kunang itu mati karena ditangkap dan dikurung.
"Bie, aku mohon?" Audrey mencoba membujuk suaminya.
"Demi kebahagiaanmu akan aku lakukan!" jawab Abian yang kemudian pergi untuk menangkap kunang-kunang kecil itu.
Tak beberapa lama kemudian, Abian berhasil menangkap kunang-kunang itu dan lantas memberikannya pada istrinya.
"Rasanya seperti mimpi bisa memegang kunang-kunang seperti ini, Bie!" ucap Audrey seraya memegang kunang-kunang itu dengan kedua tangannya agar tidak terbang.
"Sepertinya kamu sangat menyukai serangga ini ya?" tanya Abian sambil tersenyum.
"Apa kamu tahu? Sejak dulu aku menyukainya dan mempunyai mimpi membangun taman kunang-kunang dengan rumah pohon sebagai pelengkapnya, aku sangat ingin membaca buku atau sekedar nyantai dengan dikelilingi oleh kunang-kunang!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Jadi itu mimpimu?" tanya Abian seraya mendorong kursi roda sang istri untuk membawanya masuk.
"Iya, hanya mimpi dan nggak mungkin menjadi kenyataan!" jawab Audrey seraya menatap kunang-kunang miliknya dengan tatapan sendu.
"Mimpi akan tetap menjadi mimpi jika kita nggak bergerak dan berusaha!" batin Abian sambil mengulas senyuman di wajahnya, pria itu mempunyai ide untuk mewujudkan mimpi sang istri.
"Aku juga ingin bermain kejar-kejaran di malam hari bersamamu dengan dikelilingi oleh kunang-kunang, aku rasa momen itu sangat menarik dan indah?" lanjut Abian di dalam hatinya.
Keesokkan harinya, Audrey sedang disuapi bubur ayam oleh Abian yang sudah rapi dengan seragam tentaranya.
"Bie, bagaimana dengan kondisi Audrey?" tanya Diandra yang baru datang ke rumah sakit dengan Satria.
"Belum benar-benar pulih, Ma. Dan belum diizinkan pulang!" jawab Abian.
"Semoga lekas sembuh!" sahut Satria.
"Terima kasih sudah datang menjenguk Drey, Pa, Ma!" Audrey mengucapkan terima kasih pada kedua mertuanya sambil tersenyum.