Dewa Tertipu

1005 Kata
Pagi ini cuaca sangat mendung, tak ada matahari yang biasa menyinari. Sama hal nya dengan keluarga Dewa, kicauan lembut yang biasa terdengar di rumah itu hilang sudah. Kemana perginya kebahagiaan dan keceriaan yang biasa mereka tampilkan? Sejak kejadian semalam, Umi Rahmah tampak murung, tak terlihat lagi semangat dalam dirinya. Wanita paruh baya itu merasa terpukul dengan sikap Dewa yang terlalu berlebihan. Ibu mana yang tak sedih saat salah satu anaknya pergi jauh dan tak kan kembali lagi. Tapi, Umi Rahmah berusaha ikhlas, agar perjalanan putrinya untuk menemui Sang Pencipta berjalan dengan mulus. Semua orang terpukul, tapi mereka bisa menyikapi masalah itu dengan baik. Sangat berbeda dengan Dewa, mungkin karena dia anak bungsu, sehingga untuk menerima kejadian itu sangat mustahil baginya. Dewa menatap satu persatu wajah keluarganya saat berada di meja makan. Tak ada satu pun yang menyentuh makanan yang telah dihidangkan. Semua membisu, tatapan datar dengan raut muka sedih, mungkin masih syok dengan kejadian itu. Umi yang biasanya ngomelin Dewa kalau dirinya mengabaikan makanan, dan Abi yang biasanya sering tersenyum mengiyakan celoteh Umi. Kalau Restu jarang di rumah karena dia tinggal di asrama. Hari ini, keceriaan itu, kehangatan itu telah lenyap. Yang tersisa hanya kebisuan dan hawa dingin yang menyeruak masuk ke sana. “Makan lah, Nak. Nanti kamu telat, Umi sudah masak makanan kesukaan kamu,” ujar Umi dengan tatapan kosong. Matanya sembab, seperti habis menangis. Hati Dewa merasa teriris sembilu, ia sudah membuat syurganya bersedih. Pria itu bangkit dan menyalami kedua tangan orang tuanya seraya pamit. “Dewa nggak lapar, Umi. Dewa pamit dulu, assalamualaikum.” Hening. Tak ada satu pun yang membalas salam darinya. Nggak seperti biasanya, Umi dan Abi selalu marah jika dirinya tak mengucap salam. Lantas apa yang terjadi? Hari ini orang tuanya diam membisu, tanpa menoleh dan menjawab salam darinya. Dewa sedih, tak terasa air mata jatuh membasahi pipi pria tampan itu. Dewa segera menghapusnya dan keluar dari rumah. *** Tak seperti biasanya, Dewa yang datang pagi-pagi pasti membuat ulah. Menjaili teman dan mengekori kemana Krista pergi, itu kebiasaannya. Iya, hari ini pria itu tampak tak bersemangat untuk melakukan aktifitas biasanya. Mungkin karena kejadian semalam dan sikap orang tuanya pagi ini, ditambah lagi kabar Krista membuatnya sedih. Padahal, setiap siswa yang lewat di hadapannya sangat berhati-hati sekali agar tak menjadi korban kejailian Dewa. “Numpang lewat, ya?” Inem, gadis polos yang selalu jadi korban bullyng teman sekelas Dewa. Berbeda dengannya, Dewa sangat menghargai Inem karena kepintarannya. Bukan untuk contekan saat ujian, melainkan Inem orangnya baik dan tak pernah mengeluh. Itu yang menyebabkan Dewa nggak mau mengganggunya. “Lewat aja, Nem. Selagi gratis,” jawabnya sembari melirik nakal. Inem bergidik ngeri, dengan secepat kilat gadis itu berlari menaiki anak tangga tempat Dewa duduk sekarang. Dewa tertawa melihat tingkah Inem, sedetik setelah itu Dewa melihat Krista tengah berjalan ke arahnya. Dewa terkejut bukan main, tapi ia juga sangat senang melihatnya. “Pagi cantik,” sapanya sembari berdiri. Krista mendengus kesal, “Lo lagi, lo lagi. Kapan, sih dunia gue tenang tanpa adanya lo.” “Jangan gitu. Nggak baik anak gadis ngomong kasar ke orang tampan,” lanjutnya lagi dengan mengedipkan sebelah mata. Krista menatapnya aneh, gadis itu berlalu tanpa memperdulikan lagi ocehan dari pria tak waras itu. Dewa pun tak mau mengalah, ia terus saja mengikuti kemana langkah kaki Krista. “Neng, udah sehat, ya?” tanyanya lembut. Krista menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap pria itu. “Gue sehat, yang sakit itu lo. Dari dulu nggak sembuh juga penyakit gila lo.” “Iya, Dewa sakit. Sakit karena memikirkan dirimu tengah berdua dengan pria lain.” “Cie.” Suara kompak dari seluruh siswa yang diam-diam menyaksikan adegan gombal Dewa. Pria itu tersenyum tanpa ada rasa malu sedikit pun, berbeda dengan Krista yang langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Jangan malu, cantik. Santai aja, toh mereka juga sudah tahu tentang hubungan kita.” Dewa kembali tersenyum, gemas melihat tingkah Krista yang menurutnya lucu. Gadis itu tak henti-hentinya melayangkan tatapan tajam padanya, kali ini lebih parah karena Dewa sudah membuatnya malu pagi ini. Dari kejauhan, Dewa melihat Danu yang berdiri di sela-sela kerumunan siswa. “Bentar, ya, cantik, Bang Dewa pergi dulu. Jangan rindu, kata Dylan rindu itu berat. Cukup badan Cindai aja yang berat, asal jangan Neng Krista.” Krista hampir saja mengeluarkan jurus jitunya saat mendengar Dewa mengkritik berat badan Cindai. Gadis itu melirik sahabatnya yang merungut kesal karena ulah Dewa. Setelah kepergian Dewa, seluruh siswa membubarkan diri, begitu juga dengan Krista dan sahabatnya. “Sabar, Ndai. Lo kayak nggak tau Dewa aja,” ujar Krista menenangi sahabatnya. “Lo mah enak dipuji terus, lah gue nggak ngapa-ngapain juga kena imbas dari gombalan dia.” Cindai merutuk nggak jelas. Krista pun merangkulnya agar gadis itu sedikit tenang. Di lain arah, Dewa menghampiri Danu yang sedari tadi tersenyum melihat aksi konyolnya. Pria itu merasa geram karena ditipu oleh sahabatnya sendiri. “Kok lo bohongin gue, sih?” “Soal apa?” tanya Danu yang pura-pura tak mengerti. “Soal Krista. Lo bilang dia sakit, nyatanya dia baik-baik saja.” Danu terdiam, bingung harus menjelaskannya. Kenapa Krista berbohong pada Dewa? Apa gadis itu menyukai dirinya? Sehingga rahasia apa pun selalu Danu orang pertama yang dia beritahu. “Sorry, Wa. Gue nggak bermaksud untuk membohongi lo. Habisnya lo terobsesi banget sih sama dia,” ujarnya santai. Dewa mengangkat sudut bibir, memberikan senyum sinis pada Danu. “Nggak lucu, lo udah buat gue khawatir sama dia.” Dewa berlalu, meninggalkan Danu yang tersenyum tipis. Pria itu sedikit khawatir dengan kondisi Krista saat ini. Ia juga tak habis pikir, kenapa gadis itu malah memilih untuk sekolah, bukankah hari ini jadwalnya operasi? Atau mungkin Danu lah yang sedang ditipu olehnya! Entah lah, nanti biar Danu saja yang tanyakan langsung pada Krista.  *** Krista baru saja hendak masuk menuju ruangan kelasnya, namun tiba-tiba ia berhenti saat kepalanya terasa sangat pusing. Cindai yang melihat itu sedikit khawatir. "Kris, Lo kenapa?" Tanyanya bingung. Krista menggeleng, "Gue nggak apa-apa, kok, Ndai," jawabnya berbohong. Kemudian mereka masuk ke kelasnya dengan Krista yang masih merasakan pusing di kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN