Secantik Bunga Teratai
Angin bertiup lembut membelai dedaunan yang dengan riang bergoyang. Gesekan demi gesekannya menciptakan musik alam yang amat menyejukkan. Ditengah suasana damai itu, seorang bocah berparas cantik nampak tengah asyik membaca buku dibawah pohon yang rindang. Kulitnya yang putih bersih bak boneka porselaine berkilau terkena terpaan sinar matahari.
Bola mata beriris kelam itu bergerak secara perlahan, mengikuti baris demi baris bacaan yang menyita seluruh perhatiannya. Ia sama sekali tidak peduli dengan sapaan sang angin yang sejak tadi asyik menggoda rambut hitamnya yang sangat lembut bagaikan sutra.
Baru saja ia membalik halaman bukunya, terdengar beberapa langkah kaki mendekat. Ia tak bergeming. Membalik halaman bukunya dan kembali membaca.
“Hei, Nona. Apa kau sendirian hari ini?”
Anak itu tak menjawab. Ia masih asyik membaca tanpa memperdulikan tujuh pemuda yang kini berdiri mengelilinginya.
“Tuan Muda, sepertinya Nona Lian Hua ini malu-malu. Apa kita bawa saja dia sekarang?”
“Haaahaaa...benar Tuan Muda. Selagi Kakak gadis ini tidak ada, sebaiknya kita menculiknya saja.”
Pemuda yang sejak tadi dipanggil Tuan Muda itu mulai jengah melihat sikap Lian Hua yang begitu acuh. Dengan kasar ia menarik buku yang ada ditangan Lian Hua dan merobeknya tanpa ampun.
Lian Hua bangkit dari tempat duduknya dan menatap orang yang saat ini sedang menghancurkan buku itu dengan wajah datar.
“Apa kau sudah selesai, Tuan Muda Lei Feng ?” Hua mendesah pelan melihat buku yang sudah hancur itu.
”Awalnya aku ingin menitipkan buku itu untuk Ayahmu. Tapi apa boleh buat, semua sudah hancur. Aku harus berkata apa pada Kepala Desa nanti?”
Mata pemuda pemuda itu langsung terbelalak. Dengan wajah ngeri menatap lembaran lembaran terakhir yang masih ada ditangannya. Yang Ren. Sebuah nama yang tak asing lagi baginya. Ya, nama Ayahnya terukir di sana.
“K-kau! Kau...!”
Kali ini Lian Hua tersenyum melihat kepanikan di wajah pemuda itu.
“Beraninya kau!”
“Akkh...!”
Lian Hua terpekik ketika salah satu teman Lei Feng menarik rambutnya dengan kasar. Pemuda itupun ikut terkejut. Tak menyangka kalau temannya akan berbuat seperti itu pada seorang gadis kecil yang umurnya tak lebih dari dua belas tahun. Menggoda tak masalah tapi kalau sudah bermain fisik, itu sudah keterlaluan.
“Lepaskan tanganmu!”
Suara Lian Hua berubah dingin.
“Apa? Kau mau mengancamku? Teriak saja! Tak akan ada yang menolongmu karena kakakmu tak ada disini.”
“Benar. Setelah kami menyanderamu, kakakmu Zhang Hao yang sok hebat itu akan kami taklukkan dengan mudah.”
Lian Hua mendengus pelan. “Jadi kalian ingin bermain kotor dengan menyanderaku? Yang benar saja, jika kalian tidak mampu mengalahkan Kak Hao, bagaimana mungkin kalian bisa mengalahkanku?”
“Apa maksudmu?”
Dengan gerakan anggun Lian Hua memelintir tangan pemuda yang masih mencengkeram rambutnya itu.
“Kau tahu kenapa? Karena Kak Hao tak pernah menang bertarung denganku.”
“Bocah sombong.” pemuda itu langsung menyerang Lian Hua.
Lian Hua menghindar dengan cepat saat pemuda itu melemparkan tinju ke arahnya. Dengan mudah ia menangkis bahkan menjatuhkan lawannya yang berbadan dua kali lipat lebih besar darinya.
Merasa tak terima temannya dipermalukan oleh gadis kecil, kesembilan pemuda itupun langsung menyerang Lian Hua tanpa ampun. Lei Feng terlihat panik. Ia tak pernah mengira jika akan terjadi hal seperti ini akhirnya. Benar-benar di luar rencana.
“He-hei. Hentikan! Kalian tidak boleh menyerang Nona Lian Hua. Ini bukanlah yang kita rencanakan. Hei, hentikan!” Lei Feng berusaha melerai, namun naas tanpa ia ketahui sebuah tinju melayang kearah wajahnya dan ia pun jatuh tak sadarkan diri.
Lian Hua yang masih dengan lincah menghindari setiap serangan, para pemuda itu hanya menggeleng ketika Lei Feng pingsan.
Tuan Muda yang malang, lain kali kau harus benar benar jeli dalam memilih teman. Dasar Lei Feng payah.
“Nona, sampai kapan kau akan menghindar terus menerus? Mana bualanmu tadi?” dengus salah satu pemuda yang nampak kesal karena serangannya selalu gagal.
Lian Hua memiringkan kepalanya sedikit sambil mengerutkan dahinya.
“Jadi kalian ingin aku serius?” Lian Hua menyeringai. “Baiklah.” Lian Hua bersiap memasang kuda-kuda. Angin bertiup mengelilingi tubuhnya. Semakin lama semakin kencang hingga tiba-tiba…
“Hua. Apa yang kau lakukan?” seorang pemuda sembilan belas tahunan berlari mendekatinya. Wajahnya sedingin es, dengan ekspresi yang terlihat begitu khawatir. Lian Hua memutar tubuhnya dan melempar sebatang ranting yang tadi ia gunakan untuk bertarung.
“Kak Hao, apa kau mendapatkan pesananku?” tanpa wajah berdosa Lian Hua tersenyum penuh semangat melihat bungkusan yang dipegang kakaknya itu.
Melihat wajah polos adiknya itu, hati Zhang Hao melunak dan tanpa sadar memberikan bungkusan yang ada di tangannya.
Namun, baru saja tangan Lian Hua akan menggapai bungkusan itu, Zhang Hao tersadar dan menarik kembali tangannya.
“Jelaskan! Mengapa pemuda-pemuda ini tergeletak disini?”
Lian Hua memanyunkan bibir mungilnya. “Mereka yang menggangguku. Mereka yang memulainya duluan, aku hanya membela diri.” bela Lian Hua.
Zhang Hao mendesah pelan, lalu ia dengan lembut mengelus kepala adiknya.
“Kau ini, berhenti membuatku khawat...”
“Kakak. Awas!” teriak Lian Hua.
Terlambat. Semua terjadi begitu cepat. Salah satu pemuda itu bangkit dan menusukkan pisau pada perut sebelah kiri Zhang Hao.
Darah mengalir deras. Wajah Lian Hua mengeras, dengan tatapan penuh amarah Hua mengibaskan tangannya. Pemuda itu terpental jauh menubruk pohon. Bunyi debaman yang ditimbulkan dari tumbukan itu membuat Zhang Hao ngeri.
Ah, semoga saja pemuda itu masih hidup. Walaupun aku tak yakin tulangnya akan baik baik saja. Lian Hua memang mengerikan jika sudah marah.
Lupa akan lukanya sendiri Zhang Hao malah mengasihani pemuda itu.
“Kakak, kau terluka...”
“Aku tidak apa-apa, hanya...aargh !” Zhang Hao tersenyum getir, lukanya cukup dalam. “Mengapa aku seceroboh ini?” batin Zhang Hao.
Dalam diam Lian Hua mengumpulkan energi di tangan kanannya. Cahaya biru berpendar indah. Perlahan ia menempelkan telapak tangannya ke atas luka Zhang Hao.
“Hua, kau tak boleh melakukan ini. Kau bisa...”
“Diamlah Kak. Hanya sebentar.”
Zhang Hao mengernyitkan dahinya. Perlahan lukanya mulai menutup. Cahaya hangat itu mulai membuatnya nyaman, tapi konsekuensinya....
“Hua...”
Tubuh mungil itu langsung merosot kelelahan. Untunglah Zhang Hao segera menangkapnya.
“Kau lihat perbuatanmu?” Hao mendelik melihat adiknya yang lemah itu masih tersenyum. “Luka bisa dengan mudah disembuhkan. Tapi jika sesuatu terjadi padamu, aku bisa mati dihukum Ayah.”
“Jangan salahkan aku. Ayahlah yang harus disalahkan. Karena peraturan anehnya itu aku terus saja digoda pemuda b******k. Aku ini laki-laki. LAKI-LAKI. Kenapa aku harus berpakaian wanita?” protes Hua masih dalam pelukan Hao.
Zhang Hao tersenyum geli sambil menggendong adiknya bak seorang putri.
“Itu karena kau sangat cantik, Nona Lian Hua. Lebih cantik dari gadis manapun.”
“Kakak.”
Tawa Zhang Hao memecah kesunyian senja. Berjalan diantara daun-daun maple yang berguguran sambil bercanda ria. Semua terlihat normal. Ya, cuaca yang normal, namun mereka tak pernah tahu kapan badai akan datang.
**