Setelah makan malam, Marlon melihat Aro dan Bianca saling tersenyum dalam cinta. Keduanya terus bercengkrama dalam romansa sederhana, namun tampak membahagiakan. Pada saat yang bersamaan, Marlon kembali terbayang wajah Safira yang tersenyum sambil menatap ke arah dirinya. Sambil memegang kepala yang semakin terasa menyiksa, Marlon berjalan lambat ke arah kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. "Selalu saja begini ketika saya lelah," gumam Marlon ketika sudah berbaring di atas sofa. Ia mengangkat tangan kanan di atas dahi untuk memberi beban pada kepalanya yang dirasa mampu meringankan rasa sakit itu. "Safira, siapa kamu?" tanya Marlon dengan suara yang tipis. "Kamu seperti bunga yang sangat indah." Pada saat yang bersamaan, Marlon merasa sengatan listrik di dalam otaknya semakin menya

