Suasana subuh yang dingin berbalut embun, menjadi saksi bagaimana kaki jenjang milik Bianca terus berlari mengikuti langkah Aro yang juga sudah tampak terseok. Bahkan luka di punggung laki-laki bertubuh kekar itu kembali berdarah. Tidak, bukan hanya dia saja yang berjuang keras, Castil juga begitu. Tidak ada waktu untuk berhenti ataupun menangis. Walaupun napas mereka terasa semakin sesak dan berat. Aro mulai lelah, demi menguatkan diri, ia menggenggam erat tangan kanan Bianca. Begitu juga dengan gadis manja yang selalu tenang hidupnya. Bianca tidak pernah menyangka bahwa pertemuan dirinya dengan Arogan adalah awal dari sebuah petualangan kejam dan mempertaruhkan nyawa. Setelah berlari lebih dari dua jam, tubuh Aro tidak dapat dikendalikan lagi. Tanpa sadar, kaki kanannya menyandung

