bc

4 Juta Euro Milik Emilio

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
love after marriage
fated
friends to lovers
badboy
goodgirl
mafia
gangster
heir/heiress
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

Emilio Ruggiero — 30 tahun, pewaris tunggal keluarga berpengaruh dengan jaringan usaha luas yang tersebar di berbagai negara. Ia dikenal cerdas, tenang, dan sangat teliti dalam segala hal, namun menyimpan rahasia besar yang tak boleh diketahui sembarang orang. Suatu hari, sebuah angka besar — 4 juta Euro — menjadi pusat perhatian yang mengubah jalannya hidupnya. Uang itu bukan sekadar angka di rekening, melainkan peninggalan yang menyimpan petunjuk, janji lama, dan pertemuan tak terduga dengan Larasati Kirana — 26 tahun, gadis sederhana yang hidup mandiri, jujur, dan tak tergoda kemewahan. Awalnya keduanya bertemu karena kesalahpahaman dan tugas yang berat. Emilio mengira Larasati terlibat masalah terkait uang itu, sementara Larasati merasa disalahkan tanpa bukti yang jelas. Namun seiring berjalannya waktu, mereka sama‑sama menyadari bahwa di balik angka tersebut ada kisah masa lalu yang menyatukan dua dunia yang sangat berbeda. Di tengah upaya menjaga keamanan dan mencari kebenaran, perlahan tumbuh rasa yang tak direncanakan. Kisah ini menceritakan perjalanan mereka membedakan antara hak milik, kewajiban, dan makna cinta yang tak bisa dibeli dengan jumlah uang berapapun.

chap-preview
Pratinjau gratis
Empat Juta Euro di Malam Lelang
"Lihat, Tuan. Malam ini akan dilelang sebuah perhiasan kuno bernilai sangat tinggi. Tuan wajib memilikinya," ucap seorang anak buah dengan nada penuh keyakinan. Pandangannya tertuju pada sosok di hadapannya—wajah tegas, tampan, namun memancarkan aura sedingin es, cukup membuat siapa saja menahan napas hanya dengan satu tatapan. Itulah Emilio Ruggiero, 30 tahun. Pemimpin Famiglia Ruggiero—kelompok paling berpengaruh dan disegani di seluruh Sisilia hingga sebagian wilayah Napoli. "Benar, Tuan. Kabarnya malam ini juga akan ada lelang khusus yang melibatkan beberapa wanita muda..." sambung orang lain, namun kalimatnya terhenti tanpa tanggapan. Emilio sama sekali tidak merespons. Ia duduk tenang di kursi, jari-jemarinya menggenggam gelas kristal. Tanpa ekspresi, ia meneguk minumannya perlahan—seolah seluruh keramaian di sekitarnya tak lebih dari gangguan yang tak berarti. Suara musik bergema kencang, lampu berkelip berlebih, suasana terasa riuh dan tak terkendali. Beberapa wanita dengan pakaian terbuka mulai mendekat, mengelilinginya dengan senyum menggoda dan gerakan tubuh yang memancing perhatian. Namun Emilio tetap diam. Tatapannya kosong, dingin, tak tersentuh sedikit pun. Seolah tak ada satu pun yang layak mendapat tempat di pandangannya. Hingga seorang pelayan muncul dari balik kerumunan, membawa nampan berisi minuman. "Minuman Anda, Tuan," ucapnya sopan sambil menuangkan cairan berwarna keemasan ke gelas kosong Emilio. Detik berikutnya, sikapnya berubah drastis. Gerakannya cepat, terlatih, dan berbahaya. Dari balik punggungnya, ia menarik senjata api dan langsung mengarahkannya tepat ke wajah Emilio. Dor! Suara ledakan memecah keramaian. Tapi peluru itu meleset—bukan kebetulan. Sesaat sebelum tembakan dilepas, Emilio sudah menggeser tubuhnya sedikit, cukup untuk membuat peluru hanya menembus langit‑langit ruangan. Brakk! Belum sempat penyerang itu sadar, tubuhnya sudah terlempar keras ke belakang, menabrak meja kaca hingga pecah berkeping‑keping. Senjata di tangannya kini sudah berpindah ke tangan Emilio. Emilio berdiri perlahan. Tatapannya yang tadinya kosong kini berubah tajam, setajam bilah pisau yang siap mengiris. Ia mengarahkan senjata tepat ke kepala orang yang terkapar itu. "Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya rendah namun penuh tekanan, membuat udara ruangan terasa makin berat. Di sekelilingnya, suasana berubah menjadi kacau balau. Para tamu berteriak panik dan berlarian menyelamatkan diri. Sementara itu, belasan pria berjas hitam mulai keluar dari sudut ruangan, mendekat dengan gerakan terukur—bukan tamu biasa, melainkan orang yang datang dengan satu tujuan: menghabisi nyawa. Dua anak buah Emilio segera melangkah maju, berdiri tegak di depan pemimpinnya. "Tuan, ini jebakan," bisik salah satu dengan waspada. Emilio justru tersenyum tipis—senyum tanpa rasa takut sama sekali. "Bagus," gumamnya pelan. Ia memiringkan kepala sedikit, menatap para pengepungnya. "Sudah lama aku tidak berlatih..." Tatapannya menyapu seluruh lawan. Napas mereka berat, langkah pasti—jelas bukan orang sembarangan. Lalu— Klik. Di luar dugaan, Emilio menurunkan senjata dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas hitamnya. Anak buahnya saling pandang kaget. "Tuan...?" Emilio tak menjawab. Ia melangkah satu langkah ke depan, meregangkan otot lehernya pelan—seolah tubuhnya baru saja bangun dari istirahat panjang. "Kalian terlalu berisik," ucapnya datar. Salah satu penyerang menggeram marah. "Sialan! Serang dia!" Mereka bergerak bersamaan—cepat, kasar, dan penuh kekuatan. Namun bagi Emilio, kecepatan itu masih terasa lambat. Pria pertama melayangkan pukulan lurus ke wajahnya. Emilio tidak menghindar. Ia menangkap pergelangan tangan itu dengan cengkeraman kuat... Krek! Suara tulang patah terdengar jelas. Jeritan nyaring meledak dari mulut pria itu, namun Emilio belum berhenti. Ia menarik tangan lawan, memutar tubuhnya, lalu— Bugh! Sikutnya menghantam rahang dari arah bawah. Kepala pria itu terangkat paksa. Dengan gerakan dingin tanpa emosi, Emilio mencengkeram dagunya dan memutarnya. KRAKK!! Tubuh itu langsung lemas seolah boneka rusak. Belum sempat jatuh sepenuhnya, Emilio sudah bergerak lagi. Dua orang maju dari kiri dan kanan, membawa senjata tajam yang berkilau. Bukannya mundur, Emilio justru melangkah masuk ke jarak terdekat. Tangannya bergerak secepat bayangan—menepis pergelangan tangan kiri lawan. Krak! Tulang tertekuk ke arah yang tak wajar. Senjata terlepas. Di saat yang sama, kakinya menghantam lutut lawan sebelah kanan. Krak! Lutut itu ambruk, pria itu jatuh sambil mengerang kesakitan. Emilio menangkap kepala orang di kirinya dengan satu tangan, lalu tanpa ragu membenturkannya ke kepala orang di kanannya. Bugh! Noda merah memercik. Keduanya langsung tumbang. Suasana seketika berubah kacau. Suara benturan, jeritan kesakitan, dan bunyi tulang bergema di ruangan. Namun di tengahnya, Emilio tetap tenang—seolah sedang menjalankan tugas rutin. Satu orang mencoba menyerang dari belakang. Emilio seolah sudah membaca gerakan itu. Mundur setengah langkah, menangkap kepala penyerang dari belakang, lalu membenturkannya ke meja marmer. BRAKK!! Permukaan meja retak. Pria itu tak bergerak lagi. Dua anak buahnya hanya bisa berdiri terpaku, mata terbelalak dan napas tertahan. Sudah lama mereka mengabdi, namun setiap melihatnya bertarung, perasaan itu tak pernah berubah: kagum sekaligus ngeri. “Dia… seolah bukan manusia biasa…” bisik salah satu dengan suara bergetar. Sementara itu, tiga orang terakhir saling pandang. Keberanian mereka runtuh, tersisa hanya ketakutan. Emilio melangkah mendekat. Perlahan. Tegas. Sepatunya menginjak pecahan kaca, menimbulkan suara berderak halus. “Kenapa berhenti?” ucapnya dingin. Tak ada jawaban. Salah satu dari mereka nekat berbalik hendak lari. Belum sempat melangkah kedua—Emilio sudah berdiri di hadapannya. Secepat kilat. Tangannya mencengkeram wajah pria itu, mengangkatnya sedikit, lalu membantingnya ke lantai dengan seluruh tenaga. Bruakkk! Lantai bergetar saat kepala pria itu menghantam keras. Tubuhnya langsung diam tak bergerak. Dua orang yang tersisa gemetar hebat. Emilio menoleh. Tatapannya seperti jurang yang tak berdasar. “Sekarang…” ucapnya pelan. “Kita lanjutkan.” Anak buahnya hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan bagaimana pemimpinnya melumpuhkan lawan satu per satu—dengan tangan kosong. Tanpa ragu. Tanpa ampun. * * “Silakan, Tuan,” ucap salah satu anak buahnya sambil membukakan pintu mobil dengan sigap. Emilio berhenti sejenak sebelum masuk. Ia melirik singkat ke arah pria itu. “Kenapa tanganmu gemetar?” suaranya datar, namun cukup membuat udara terasa menekan. Pria itu menelan ludah. “Bagaimana tidak gemetar, Tuan? Saya terus‑menerus melihat Tuan melawan orang yang datang untuk mencelakai Tuan… dengan cara yang sangat keras.” Emilio menatapnya tanpa ekspresi. “Mereka datang untuk membunuhku. Aku hanya memastikan rencana mereka gagal,” jawabnya dingin, seolah membicarakan hal sepele. Ia melangkah mendekat—cukup dekat hingga pria itu menahan napas refleks. “Dan Marco,” tambahnya pelan, “kau sudah cukup lama bersamaku. Seharusnya mentalmu lebih kuat dari ini.” Marco tersenyum kaku, berusaha menutupi rasa ngeri. “Baik, Tuan. Saya akan berusaha.” Emilio tak menjawab lagi. Ia masuk ke dalam mobil dengan tenang. Marco segera menutup pintu, bergegas mengelilingi kendaraan dan duduk di kursi depan, di samping pengemudi. Di balik kemudi, Elio sudah siap, tangannya menggenggam setir dengan posisi sempurna. “Kita ke mana, Tuan?” tanyanya sopan. Namun Emilio justru bersandar santai di kursi belakang. “Bagaimana dengan penampilanku?” tanyanya tiba‑tiba. Marco dan Elio saling pandang sejenak, lalu serempak menoleh ke belakang. Di sana, Emilio duduk dalam balutan jas hitam rapi. Brewok tipis membingkai wajahnya yang tegas, garis rahangnya tajam, sorot matanya dingin—terlalu dingin untuk pria setampan itu. Ia tampan, namun tak ada yang berani melupakan fakta: pria ini juga… mengerikan. “T‑Tuan… tampan. Sangat tampan,” jawab Elio cepat, sedikit gugup. Ia melirik Marco. “Bukan begitu?” Marco mengangguk mantap. “Tentu saja. Tuan… luar biasa tampan.” Suasana di dalam mobil sempat terasa canggung. Lalu senyum tipis terukir di sudut bibir Emilio—bukan senyum hangat, melainkan senyum yang membuat bulu kuduk merinding. “Bagus.” Ia menatap lurus ke depan, matanya sedikit menyipit seolah membayangkan sesuatu yang menarik. “Kita menuju acara lelang itu,” ucapnya tenang. Ada jeda sekejap. “Aku ingin tahu… apa saja yang bisa kudapatkan di sana.” “Ayo, Elio!” seru Marco sambil menepuk bahu rekannya. “Kita ke acara lelang itu!” Elio hanya tersenyum tipis, lalu menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin mobil menderu halus, membelah jalanan kota hingga akhirnya tiba di sebuah aula megah yang penuh tokoh terpandang di Vespera. Lampu kristal berkilau menggantung di langit‑langit tinggi, menyebarkan cahaya ke seluruh ruangan. Kemewahan itu tampak kontras dengan dunia gelap yang diam‑diam bersembunyi di baliknya. “Tuan, kita sudah sampai,” ujar Marco sambil menoleh ke belakang. Ia menyeringai tipis. “Ah, rasanya saya sudah tak sabar ikut menawar wanita cantik di sini.” Begitu Emilio turun dari mobil, suasana di pintu masuk langsung berubah. Bisik‑bisik terdengar berdesir. Tatapan beralih. Wajah‑wajah yang tadi angkuh kini berubah tegang. Siapa yang tak mengenal Emilio Ruggiero? Bahkan pengusaha terkaya kota itu pun segera menghampirinya dengan senyum ramah yang dipaksakan. “Tuan, silakan duduk di sini,” ucapnya sopan, menawarkan kursi di sebelahnya. “Apakah Tuan juga mengincar perhiasan kuno itu? Jika Tuan menginginkannya, saya bisa membantu.” Emilio melirik sekilas, dingin. “Kalau aku menginginkannya, aku bisa mendapatkannya tanpa bantuanmu.” Kalimat sederhana itu cukup membuat pria itu menelan ludah. “T‑Tentu… tentu saja, Tuan. Silakan duduk,” jawabnya cepat, lalu mundur setengah langkah. Emilio pun duduk tenang, menyilangkan kaki seolah dialah pemilik tempat itu. Di sisi lain, Marco dan Elio berdiri di pinggir ruangan dekat dinding. “Marco, jangan lengah. Ingat pesan Tuan, musuh bisa datang dari mana saja,” bisik Elio pelan. Marco mendengus ringan. “Kalau ada bahaya, kita berdua yang siaga. Tuan pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Adapun kita… ah, sudahlah.” Ia mengangguk ke arah panggung. “Sepertinya acara segera dimulai.” Di atas panggung, dua pembawa acara muncul dengan busana elegan, menyapa tamu dengan senyum profesional. Satu per satu barang antik diperkenalkan: emas, berlian, hingga benda bersejarah bernilai luar biasa. Angka‑angka disebutkan—puluhan ribu, ratusan ribu. Bagi mereka yang kaya, jumlah itu terasa sekadar permainan. Kemudian giliran lelang manusia. Para pria berpengaruh saling menaikkan harga dengan angka fantastis, seolah yang diperebutkan bukan nyawa, melainkan benda pajangan. Namun Emilio sama sekali tak tertarik. Ia bersandar santai, menyalakan rokok, mengisapnya perlahan. Asap tipis melayang di udara. Tatapannya kosong, tak benar‑benar menatap panggung. “Membosankan,” gumamnya. “Untuk apa aku datang ke sini…” Pesona para wanita yang dipamerkan pun tak mampu mengusiknya. Ia hampir berdiri—hampir pergi. Namun langkahnya terhenti. Pintu samping aula terbuka. Bunyi engselnya berat, namun cukup menarik perhatian. Seorang wanita dibawa masuk. Langkahnya terhuyung, wajah pucat penuh ketakutan yang nyata—bukan sandiwara. Air mata mengalir deras tanpa bisa ditahan. Berbeda sekali dengan gadis‑gadis sebelumnya yang pasrah. Wanita ini menolak. Pakaiannya minim dan tidak pantas, tubuhnya gemetar. Ia dimasukkan ke dalam sangkar besi berwarna emas yang mencolok di bawah sorot lampu. Keindahan sangkar itu justru menonjolkan penderitaan di dalamnya. Seketika suasana berubah. Sorakan dan siulan menggema. Tatapan penuh nafsu tertuju padanya, seperti pemangsa menemukan mangsa baru. “Inilah lelang utama malam ini!” seru pembawa acara lantang. “Wanita muda, cantik, belum terjamah. Siap menjadi milik siapa pun yang berani menawar! Kita buka dari sepuluh ribu dolar!” Suasana meledak. Angka naik cepat: dua puluh ribu, lima puluh ribu, delapan puluh ribu… “Lepaskan aku! Aku bukan barang!” teriak wanita itu, mengguncang jeruji sangkar dengan putus asa. Tak ada yang peduli. Hingga satu suara terdengar—tenang, dingin, memotong keributan. Emilio berdiri. “Empat juta Euro… Cukup untuk membawanya pergi bersamaku?” Suara itu tak keras, namun membungkam seluruh ruangan. Sunyi total. Napas tertahan. Semua mata tertuju padanya. Bagi semua orang, itu bukan sekadar tawaran—itu keputusan yang tak bisa dibantah. “Marco…?” bisik Elio tak percaya, matanya terbelalak. “Tuan yang selama ini dingin, tak peduli wanita… malam ini ia rela mengeluarkan empat juta Euro demi gadis itu?” Ia menelan ludah. “Cubit aku, apakah ini nyata?” “Aukhhh!” Marco memekik saat cubitan Elio mendarat keras di lengannya. “Apa‑apaan kau!” “Kau sendiri yang minta bukti,” jawab Elio datar. “Sialan! Tapi jangan sekeras itu juga!” “Diam!” Elio menyikutnya pelan, lalu menunjuk panggung. Keduanya terdiam. Di sana, Emilio melangkah naik ke panggung tenang seolah semua tatapan tak berarti. Tepuk tangan bergema, namun tak mampu menghangatkan aura dinginnya. Ia berdiri di depan sangkar, melihat tubuh gadis itu gemetar dan air matanya tak berhenti. Tanpa banyak bicara, Emilio mengeluarkan kartu hitam dari jasnya dan menyerahkannya kepada penyelenggara. Pria itu menerimanya dengan hormat. Detik terasa panjang. “Silakan, Tuan. Gadis ini milik Anda. Boleh dibawa pergi,” ucapnya sambil mengembalikan kartu. Kunci diputar. Ceklek. Pintu besi terbuka perlahan. Namun gadis itu tak keluar. Ia meringkuk di sudut, memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetar. “Tolong… lepaskan aku…” suaranya parau penuh ketakutan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
767.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
994.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
368.1K
bc

Not just, the Beta

read
353.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook