Berhari-hari Fani terbaring sakit di kamarnya, wajahnya memucat, suhu tubuhnya yang mulanya dingin berganti demam hebat. Renata yang paling susah, Fani itu jarang banget sakit, sekalinya sakit suka sampai begini. Dibawa ke rumah sakit pun dia tak mau, lebih memilih di rumah saja, dirawat oleh Renata atau paling tidak mengundang dokter. Radit berulang kali menjenguk Fani, dari yang dilihat Radit, tak pernah sekali pun Fani menatapnya, selalu saja ia menatap lurus atau memejamkan matanya. Sering kali ia mengeluh pusing hebat yang membuat penglihatannya menghilang tiba-tiba, jika sudah seperti itu, Fani akan kembali pingsan dan terbangun beberapa jam kemudian. Arga gusar melihat sakitnya Fani kali ini, anak semata wayangnya itu tak pernah sakit sampai berulang kali pingsan, Radit juga tak

