“Yo! Akhirnya kalian datang juga!”
Aku dan Kazuyoshi sama-sama mengangkat wajah kami melihat ke arah sumber suara. Rasanya darah di wajahku langsung berhenti mengalir, pasti saat ini sudah terlihat pucat.
Kazuyoshi mengerutkan keningnya lalu menarikku ke balik punggungnya. “Kirishima, ya?”
“Oh~ kau masih mengingatku?” tanya Kirishima sambil memiringkan kepalanya terlihat senang. “Hallo~ kita bertemu lagi!”
“Kau … bisakah kau tidak mengganggu kami?” kataku pada Kirishima. Meski sedikit ngeri karena kejadian terakhir kali, rasa kesalku lebih besar dari pada takut saat ini.
Diam-diam aku membuka ponselku dan mengetik pesan pada Michiru, sekalian juga mengirim lokasiku saat ini padanya. Michiru … tolong jangan terlambat seperti sebelumnya!
Kirishima memiringkan kepalanya sedikit untuk melihatku yang ada di balik punggung Kazuyoshi. Spontan, Kazuyoshi sedikit menaikkan tangannya untuk menghalangi pandangan Kirishima.
Kirishima tersenyum tipis. “Ayolah~ Bukankah teman satu kelas seharusnya saling menyapa satu sama lain?”
“Kau tidak belajar dari pengalaman sebelumnya, ya?” tanya Kazuyoshi.
Aku langsung menatap bingung ke arahnya. Dari pengalaman sebelumnya? Apa … apa Kazuyoshi sebenarnya ingat kejadian saat aku diserang oleh Kirishima dan dia yang terluka karena berusaha untuk menolongku?
Kirishima malah terkekeh pelan. “Arere~ tumben sekali penyihir ternama dari Merqopolish membiarkan dua manusia biasa seperti kalian mengetahui rahasianya.”
“Kazuyoshi … Kazuyoshi, jadi ternyata kau pura-pura tidak ingat dengan kejadian terakhir, ya?” bisikku pada Kazuyoshi.
Dari samping, aku melihat ujung bibir Kazuyoshi yang sedikit terangkat. “Sampai melupakan kejadian heboh seperti itu … kau pikir aku bodoh, Kumo?”
Aku mengedipkan mata beberapa kali. “Lalu bagaimana dengan kejadian pertama saat berada di koridor sekolah? Apa kau juga mengingatnya?”
“Ingatan itu sedikit buram, tetapi ketika melihat Kirishima yang awalnya kukira mengeluarkan sinar laser dari tangannya ke arahmu, aku langsung mengingat semuanya.”
Sinar laser? Mungkin maksudnya sihir? Terkadang aku semakin takjub dengan pemilihan kata oleh Kazuyoshi ini …
Kirishima saat ini terlihat seperti duduk sambil menyilangkan kakinya di udara, sedangkan dagunya tertumpu pada sebelah tangannya. “Kenapa malam-malam seperti ini kalian pergi keluar, sih?”
Aku sedikit mengerutkan keningku padanya. “Kenapa? Apa kau iri karena tidak ada seorang pun yang mengajakmu main?”
Kedua alis Kirishima terangkat, ekspresi terkejut tergambar di wajahnya. Beberapa detik kemudian tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. “Akari … ah, sekarang aku mengerti kenapa penyihir dari Merqopolish itu menginginkanmu.”
“Ha-Ha! Seperti biasa candaanmu itu sangat lucu, Kirishima!”
Kirishima yang sebelumnya tersenyum tipis padaku, melirikkan matanya melihat ke arah bawah. Sadar dengan tatapannya, aku langsung menyembunyikan ponselku di balik punggung. Sekali lagi, Kirishima kembali tertawa. “Coba saja kau meminta pertolong padanya. Dia pasti akan terlambat datang seperti biasanya.”
Kazuyoshi langsung melirik ke arahku, dan aku melirik ke ponselku. Di layar tertulis kalau pesannya tidak terkirim. Beberapa kali aku coba mengirimnya kembali, bahkan sudah tidak memikirkan untuk sembunyi-sembunyi dari Kirishima ketika melakukannya. Tetapi pesan itu masih tidak bisa terkirim.
Saat itu aku baru sadar. Meski saat ini aku dan Kazuyoshi terlihat berada di hutan, hutan tempat kami berada merupakan hutan lindung milik keluarga Rizumu. Tentu saja, sinyal ponsel pasti akan terus ada. Tetapi kali ini, tanda bahwa ponselku tidak mendapat sinyal terlihat jelas di ujung layar ponsel itu.
“Sayang sekali. Manusia biasa seperti kalian tidak bisa melakukan telepati,” gumam Kirishima. Semakin lama, senyumnya semakin merekah di wajahnya. “Ah … benar juga. Karena tidak ada yang mengajakku main, bagaimana kalau kita main sebentar?”
Kazuyoshi mundur satu langkah, kemudian dengan suaranya yang hanya terdengar olehku dia berkata, “Akari, dalam hitungan tiga mulailah berlari.”
“Kau tidak berpikir untuk menyuruhku lari terlebih dahulu dan membahayakan dirimu untuk menahan Kirishima, ‘kan?” kataku cepat. “Aku sudah mengenalmu sangat lama, Kazuyoshi. Aku bisa tahu apa yang kau pikirkan.”
Kazuyoshi tersenyum miris. “Kumo, kau pikir aku masih bisa bersikap seperti seorang pahlawan ketika melawan seseorang yang lebih kuat dariku?”
“Kalau begitu, ayo kita lari bersama, Kazuyoshi,” kataku dengan suara yang dibuat tegas.
“Baiklah, aku mengerti. Asalkan kau lari dan tidak melihat ke belakang, akan aku lakukan,” kata Kazuyoshi cepat. Tentu bukan saatnya untuk berkelahi hal seperti ini di dalam situasi yang berbahaya.
Kirishima yang masih duduk di udara itu mulai tidak bisa diam. “Ayolah~ apakah kalian ingin bermain denganku? Oh, atau kalian malu karena belum pernah bermain denganku? Tenang saja, aku bisa memainkan permainan apa pun!”
Aku dan Kazuyoshi sama-sama menatap ke arah Kirishima yang masih tersenyum mengerikan. Aku mundur beberapa langkah ke belakang sambil menarik Kazuyoshi, memberinya kode kalau aku sudah siap berlari. Tidak lupa aku menggenggam tangan Kazuyoshi dengan kencang, aku tidak akan membiarkannya menjadi umpan seperti sebelumnya.
Kazuyoshi mulai menghitungkan bisikan sampai tiga, setelahnya kami berdua langsung lari menjauh dari Kirishima.
“Oh, main kejar-kejaran? Kalau begitu, aku yang jadi iblisnya, ya?” kata Kirishima dengan suara yang senang. Akhirnya, Kirishima yang masih duduk di udara itu turun dari singgasana tidak terlihatnya. Dengan senyuman mengerikan yang kembali terpasang di wajahnya, ia mulai berlari mengejarku dan Kazuyoshi.
Aku langsung menghadap ke depan, tidak berani melihat ke belakang untuk memeriksa Kirishima lagi. Tanganku masih menggenggam Kazuyoshi dengan kencang, merasa kalau ia berlari di belakangku.
Entah kenapa, melarikan diri dari kejaran Kirishima rasanya memakan waktu sangat lama. Apa kita berdua baru saja mengambil jalan yang salah? Seharusnya jika sudah lari sejauh ini, persimpangan jalan yang kami salah ambil seharusnya sudah dekat.
Tetapi persimpangan itu masih belum juga terlihat. Apa Kirishima menggunakan sihir untuk membuat kami semakin tersesat?
Belum sempat aku mengumpat dalam hati karena trik kotor yang dilakukan oleh Kirishima, sebuah bola api melesat melewati kepalaku. Sontak, aku berhenti berlari dan menarik tubuh Kazuyoshi yang hampir jatuh karena aku yang tiba-tiba melakukan hal itu.
Bola api yang baru saja melewati kepalaku menabrak pohon yang ada di depan. Seketika, api mulai menyebar dan membakar pohon itu. Tidak sampai di sana, apinya juga mulai menyebar ke pohon yang lain.
“Lewat sini!” sahut Kazuyoshi. Kali ini, peran kami bertukar. Kazuyoshi yang ada di depan sambil menarikku berlari menuju arah yang lain.
“Kirishima! Menggunakan senjata itu tidak diperbolehkan saat main kejar-kejaran!” sahutku entah bisa didengar oleh Kirishima atau tidak.
“Senjata? Aku tidak menggunakan senjata~ Aku hanya menggunakan kemampuanku sendiri,” jawab Kirishima. Entah aku harus tertawa atau menangis ketika mendengar jawaban dari Kirishima itu.
Rasanya bola api yang melewati atas kepalaku malah semakin banyak ketika Kirishima selesai mengatakan hal itu. Kami berdua terus berlari tidak tentu arah untuk menghindari api yang semakin lama semakin membesar.
Rasanya kakiku hampir copot karena terlalu lama berlari. Napasku juga semakin sesak dan mataku terasa pedih karena asap dari pohon yang terbakar. Bahkan kecepatan lari Kazuyoshi yang berada di depanku semakin melambat.
Saat itu, pepohonan yang ada di depan sana rasanya tidak terlalu lebat seperti sebelumnya. Berpikir kalau sebentar lagi aku dan Kazuyoshi keluar dari hutan ini, aku berlari semakin kencang ke arah sana.
Tetapi, tidak seperti yang kubayangkan, ternyata bukan jalan keluar dari hutan yang terlihat. Tetapi jurang yang sangat dalam. Untung saja aku dan Kazuyoshi berhasil berhenti berlari sebelum kami terjun bebas dengan perasaan yang menyenangkan ke dalam jurang itu.
Namun, permainan Kirishima belum juga berakhir. Sebuah bola api melesat ke arah kami berdua, tetapi untungnya bola api itu tidak mengenai kami.
Sayangnya, biasanya jika kau merasa beruntung, kau harus membayarnya dengan sesuatu. Bola api yang tidak mengenai kami ternyata meledak dengan kuat tidak jauh dari kaki Kazuyoshi, membuat retakan pada tanah yang mulai menuju pada kami berdua.
Selanjutnya, aku dan Kazuyoshi yang berada di ujung jurang mulai merasakan getaran, tanah yang kami injak mulai runtuh dengan cara yang mengerikan.
Layaknya seorang karakter dalam kartun yang belum sadar ketika ia akan jatuh, mataku perlahan-lahan melihat ke arah bawah, di mana seharusnya ada tanah yang aku injak saat ini digantikan oleh kegelapan.
Genggaman tangan Kazuyoshi semakin keras, sebelah tangannya yang lain memegang bagian tanah yang belum runtuh di ujung jurang.
“Akari! Bertahanlah!” Mata Kazuyoshi terlihat sangat panik.
Aku langsung menggenggam balik tangan Kazuyoshi dengan erat. Sebelah tanganku yang lain mencoba untuk berpegangan pada batu yang berada di dinding jurang, sedangkan kedua kakiku berusaha untuk mencari pijakan, berniat untuk mengurangi beban Kazuyoshi yang menahan tubuhku agar tidak jatuh ke dalam jurang.
Wajahku kembali menghadap ke atas untuk melihat Kazuyoshi. Bibirnya yang ia gigit untuk menahan rasa sakit mulai berdarah, keringat dingin membasahi keningnya.
“Yusuke,” gumamku memanggil nama depan Kazuyoshi. Entah kenapa di saat genting seperti ini, aku malah mengingat ketika aku dan Kazuyoshi saat masih Sekolah Dasar ... atau bukan? Ingatan itu tiba-tiba menjadi rabun. Rasanya … rasanya pernah ada kejadian seperti ini dulu sekali …
Aku semakin panik ketika melihat Kirishima yang sudah berdiri tepat di atasku dan Kazuyoshi. Senyuman yang menyebalkan tidak juga hilang dari wajahnya.