32 - Uji Nyali!

1279 Kata
            “Ah, sangat seram! Kalau begitu, ayo sekarang kita mulai permainan selanjutnya!” kata Seika semangat.             “Hah? Kau belum mau tidur juga, Seika?” tanyaku.             “Apalah tidur! Kita sedang liburan dan tidur lebih cepat adalah hal yang tabu! Ayo kita mulai uji nyali!”             Michiru dan Kazuyoshi langsung setuju, sedangkan aku dan Tetsushi langsung mendesah panjang.             “Hm, karena jumlah kita ganjil … berarti kelompoknya di bagi dua, dua dan satu!” kata Seika dengan nada yang terlalu senang. “Ayo kita tentukan dengan Hompimpa![1]”             Karena kalah suara, aku dan Tetsushi akhirnya mengikuti apa mau Seika yang ingin uji nyali. Ketika kami melakukan Hompimpa, aku satu kelompok dengan Kazuyoshi, Michiru dengan Tetsushi dan Seika sendiri.             Seika menatap tangannya yang berbeda sendiri dari yang lain. Dengan mata yang semakin lama semakin basah, akhirnya Seika menyuarakan protesnya, “Apa ini!? Aku ga mau sendirian!”             Aku tersenyum meledek pada Seika. “Arere~ siapa ya yang mau uji nyali dan penentuan kelompoknya pakai hompimpa?”             Dagu Seika langsung berkerut. “Akariii~ izinkan aku denganmu, ya? Ya?”             Kazuyoshi langsung menarik tanganku dan menyembunyikanku di belakang punggungnya. “Ga boleh! Seorang lelaki tidak boleh menarik kata-katanya lagi!”             “Tapi aku kan perempuan!” kata Seika semakin protes.             Michiru tertawa geli. “Yasudah kalau gitu, Seika, bagaimana jika kau sama Tetsushi saja? Biarkan aku sendiri!”             Mata Seika langsung berbinar cerah pada Michiru. “Sungguh? Apa kau tidak akan menarik perkataanmu lagi?”             Michiru menganggukkan kepalanya dengan wajah yang dibuat sombong. “Tentu, karena aku seorang lelaki!” katanya sambil menunjuk dirinya dengan ibu jari.             “Ohh Michiru! Aku berjanji akan memasak masakan yang sangat enak untukmu sebagai tanda terima kasih!” kata Seika sambil menggenggam tangan Michiru keras.             Wajah Michiru langsung terlihat kesulitan. Mungkin dia tidak tahu harus senang karena ada seorang perempuan yang mau memasak untuknya, atau merasa takut karena masakan Seika membuatnya pingsan sebelumnya.             .             .             Pelayan yang bekerja di villa itu langsung menyiapkan perlengkapan uji nyali dalam waktu yang sangat singkat. Tidak hanya senter, tetapi kotak pertolongan pertama, makanan dan minuman ringan yang katanya untuk di perjalanan(?) dan bahkan sampai menyiapkan peta. Akhir dari uji nyali ini adalah rumah kaca yang kira-kira berjarak satu kilometer dari villa. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat juga.             Villa dekat laut milik keluarga Rizumu ini berada di tanah pribadi dengan luas kurang lebih 2,5 hektar, termasuk luas villa, pantai pribadi dan hutan lindung. Dengan luas tanah sebesar itu, ‘uji nyali’ yang berada di tanah pribadi milik keluarga Rizumu ini rasanya menjadi uji nyali yang selalu diadakan ketika kegiatan kemah sekolah yang selalu diadakan ketika musim panas di gunung.             Karena Michiru tidak memiliki pasangan, Seika menyuruhnya untuk pergi terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh pasangan Seika dan Tetsushi. Kemudian akhirnya aku dan Kazuyoshi mulai memasuki hutan itu.             Dengan mengikuti arahan dari peta yang sudah diberikan sebelumnya, perjalanan menuju rumah kaca itu melewati jalan setapak yang dibuat dengan baik. Sehingga tidak terasa lelah sama sekali.             Merasa hutan ini sangat aman, tidak mungkin akan ada hewan buas yang menyerang tiba-tiba, aku menjadi lebih santai dan hanya menikmati perjalanan itu. Rasanya tidak seperti uji nyali sama sekali.             Tiba-tiba Kazuyoshi terkekeh pelan. Aku sedikit merinding karena dia tiba-tiba seperti itu. “Kenapa?”             Senyum Kazuyoshi masih ada di sana. “Hm, tidak. Aku hanya tiba-tiba ingat ketika kemah liburan musim panas yang diadakan Sekolah Menengah Pertama kita dulu.”             Aku langsung memalingkan wajahku berusaha untuk tidak mengingat kejadian itu. “Oh? Perkemahan yang diadakan saat Sekolah Menengah Pertama, ya?”             Kazuyoshi kembali terkekeh sambil menatapku dengan pandangan meledek. “Hmm, saat itu kelas satu, ya? Kau masih takut dengan hantu saat itu.”             Aku langsung memukul lengan Kazuyoshi kencang berusaha untuk menutupi rasa maluku. “Tolong jangan ingat hal itu lagi …”                Kazuyoshi langsung tertawa terbahak-bahak. Saat itu keadaannya seperti ini.  Aku dan Kazuyoshi satu kelompok ketika uji nyali. Rasanya aku ingin sekali memarahi diriku yang dahulu karena masih takut dengan hantu padahal sudah kelas satu di Sekolah Menengah Pertama!             Di depan wajahku tiba-tiba ada tangan Kazuyoshi yang terulur. “Bagaimana? Perlu seseorang memegang tanganmu lagi?”             Aku menerima uluran tangan Kazuyoshi, tetapi tidak dengan niat yang baik. Dengan kencang aku meremas tangannya sekuat tenaga. Tetapi Kazuyoshi malah tertawa terbahak-bahak dan menggenggam tanganku sama kencangnya, bahkan lebih kencang!             Jadi ini rasanya ketika menerima kenyataan terkadang kekuatan seorang perempuan tidak bisa menandingi kekuatan laki-laki … sepertinya aku harus mulai latihan karate lagi.             Genggaman tangan Kazuyoshi masih terasa sangat kencang, tetapi lama kelamaan ia mengendurkan tangannya dan menggenggam tanganku dengan lembut. Di situ aku baru sadar kalau tangan Kazuyoshi lebih besar dari pada tanganku.             “Bagaimana? Kali ini cengkeraman tanganku lebih kuat dibandingkan ketika aku masih kelas empat di Sekolah Dasar, ‘kan?” tanya Kazuyoshi tentu dengan nada meledek.             Aku mencubit tangan Kazuyoshi dengan tanganku yang bebas, malah makin membuatnya tertawa. Hah, sepertinya sikap jahil Kazuyoshi juga semakin parah dibandingkan dengan sebelumnya.             Karena tidak banyak cahaya di sekitar, langit terlihat sangat gelap karena bulan baru saja berganti baru. Tetapi banyak bintang yang bertaburan di sana.             “Lagi pula, kenapa harus club astronomi?” tanya Kazuyoshi tiba-tiba.             Aku yang terlalu fokus melihat bintang di atas sana sedikit telat menyadari pertanyaan itu. Aku sedikit memiringkan kepalaku dan menjawab, “Karena mau saja?”             “Bilang saja kegiatan club astronomi tidak terlalu banyak, ‘kan?” tanya Kazuyoshi.             Sekali lagi aku mencubit tangan Kazuyoshi. “Kau sendiri bagaimana? Kenapa tidak bergabung dengan club karate atau bola seperti dulu?”             “Karena mau saja?” balasnya sambil memiringkan kepalanya sok imut. Sekali lagi aku mencubitnya lebih keras, tetapi dia langsung tertawa setelah mengaduh singkat.             “Lagi pula awalnya aku bergabung karena idemu dan Michiru, ‘kan?”             Aku mengerutkan keningku karena merasa Kazuyoshi baru menyalahkanku dan Michiru. Tetapi ketika mengingat tujuan awalnya kalau Kazuyoshi, Seika dan Tetsushi menjadi anggota club astronomi karena ingin melihat ‘hantu’ yang ada di sekolah malam hari, aku langsung terdiam.             “Ah, lagi pula apa yang terjadi dengan hantu berwarna merah itu?” katanya sambil mengusap pelan dagunya dengan sebelah tangannya yang bebas. “Kenapa rasanya aku melupakan sesuatu yang penting …”             Aku langsung tertawa canggung di tempat. “Haha! Itu karena kejadiannya sudah lama sekali … di akhir, kita semua tumbang karena kue buatan Seika, ‘kan? Lalu hantu itu … entahlah, karena tidak ada lagi cerita tentangnya mungkin dia menghilang?” kataku penuh dengan omongan yang tidak jelas.             “Hmm.” Kening Kazuyoshi semakin berkerut berusaha untuk mengingat kejadian itu. Tetapi ia akhirnya menyerah dan aku baru bisa mendesah lega setelahnya.             Beberapa menit setelahnya, tidak ada seorang pun dari kami berdua yang berbicara. Ketika melihat persimpangan jalan di depan, aku kembali memeriksa peta yang diberikan oleh pelayan Seika.             “Ke arah kiri, ‘kan?” kataku sambil memperlihatkan petanya pada Kazuyoshi.             Kazuyoshi melihat peta untuk memastikan, kemudian menganggukkan kepalanya. Kami pun langsung memilih jalan sebelah kiri, yang jalan setapaknya semakin lama semakin menghilang dan perjalanan menuju sana sedikit lebih sulit.             Kazuyoshi menggaruk kepalanya bingung. “Kenapa rasanya kita malah semakin jauh dari tujuan kita?”             Aku sekali lagi melihat peta itu. Tetapi benar, di sini juga ada informasi untuk memilih jalan ke arah kiri. “Ayo kita jalan sebentar lagi, mungkin mereka memang sengaja melakukannya agar lebih menarik?”             Kazuyoshi terkekeh pelan. “Uji nyali tanpa hantu tidak akan menarik, ‘kan?”             Kami berdua setuju untuk melanjutkan perjalanan menembus hutan yang semakin gelap itu, rumput tinggi yang tumbuh menutupi jalan, sedikit membuatku ke susahan dan harus terus menatap tanah agar tidak salah langkah dan terjatuh. Kazuyoshi yang kemungkinan sadar kalau aku sedikit kesusahan ikut memerhatikan kakiku.             “Yo! Akhirnya kalian datang juga!”             Aku dan Kazuyoshi sama-sama mengangkat wajah kami melihat ke arah sumber suara. Rasanya darah di wajahku langsung berhenti mengalir, pasti saat ini sudah terlihat pucat.             Kazuyoshi mengerutkan keningnya lalu menarikku ke balik punggungnya. “Kirishima, ya?”             “Oh~ kau masih mengingatku?” tanya Kirishima sambil memiringkan kepalanya terlihat senang. “Hallo~ kita bertemu lagi!”   Note:     [1] Hompimpa: Hompimpa atau hompimpah adalah sebuah cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan telapak tangan yang dilakukan oleh minimal tiga peserta. Biasanya hompimpa digunakan oleh anak-anak untuk menentukan giliran dalam sebuah permainan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN