Makan malam di rumah keluarga Rizumu rasanya seperti makan malam ala bangsawan Eropa. Michiru dan Kazuyoshi yang memang banyak makan dengan senang hati menghabiskan setiap menu yang disajikan dari makanan pembuka, sup, salad, makanan utama sampai pencuci mulut.
Tentu, dari semua menu yang paling aku tunggu adalah pencuci mulut! Sepertinya Seika masih ingat kalau aku pernah bilang kue keju dengan selai blueberry yang dibuat di villa ini sangat enak, karena kue itu yang menjadi pencuci mulut.
Aku yang biasanya makan dengan lauk, sayur dan nasi ditambah dengan puding sebagai pencuci mulut rasanya terlalu kenyang ketika makan malam di sini. Tetapi sedikit berbeda dengan Michiru dan Kazuyoshi yang tanpa malu minta tambah. Mungkin hanya Tetsushi yang masih ingat untuk menjaga tata kramanya di rumah orang lain …
Karena terlalu serius mengomentari sikap Michiru dan Kazuyoshi yang tidak tahu malu itu, kue yang ada di depanku habis tanpa kusadari. Seika yang mungkin sadar dengan gerakan canggungku yang ingin kue tambahan langsung meminta seorang pelayan untuk membawakan pencuci mulut lebih banyak.
Saat itu wajahku terasa sangat panas karena malu, baru saja aku mengomentari Michiru dan Kazuyoshi yang tidak tahu malu karena minta porsi tambahan terus … sekarang malah giliranku.
Setelah makan malam dan perutku rasanya sudah terisi sangat penuh, kami semua pergi ke lantai tiga untuk bermain di ruang permainan yang terlihat seperti toko pusat permainan itu. Karena tidak perlu menukarkan uang dengan koin untuk memainkan semua permainan itu, tanpa ragu aku, Michiru dan Kazuyoshi langsung mencoba semua permainan yang ada di sana.
Tetsushi setidaknya sedikit bisa mengendalikannya, Seika yang katanya sudah sering memainkan permainan seperti ini merasa bosan dan hanya mengikutiku saja. Di sini terlihat jelas kalau yang bersikap dewasa hanya Tetsushi saja …
Anehnya, meski sudah main semalaman dan jam menunjukan pukul sepuluh malam, kami semua belum ada yang kelelahan sedikit pun. Di akhir, Seika yang sebenarnya mudah takut dengan hantu, malah mengajak aku dan yang lainnya untuk cerita sesuatu yang menyeramkan di atap villa.
Angin malam terasa sangat dingin di atap itu bahkan setelah menggunakan jaket. Seika langsung mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, membuka aplikasi yang belum pernah kulihat dan menekan beberapa tombol.
Tiba-tiba atap villa yang awalnya ruangan terbuka bergetar pelan dan sebuah kubah mulai menutupi atap itu. Michiru, Kazuyoshi dan Tetsushi yang sudah melihat kehebatan keluarga Rizumu rasanya tidak bisa lebih terkejut lagi dengan hal itu. Sekali lagi Seika menekan beberapa tombol di ponselnya, dan udara yang awalnya sedikit dingin lama-lama menjadi hangat dan sangat nyaman.
“Seika, apa seseorang yang baru lulus Sekolah Mengengah Atas bisa melamar kerja di tempatmu?” tanya Kazuyoshi tiba-tiba.
Seika sedikit memiringkan kepalanya. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
Kazuyoshi tersenyum cerah. “Apa aku boleh bekerja di sini?”
Tetsushi langsung mengusap keningnya pelan. “Bukankah sebelumnya kau bilang ingin bekerja sebagai pengacara atau apalah itu?”
Seika terkekeh pelan. “Hm, aku akan tanyakan pada orang tuaku!”
“Tunggu, Seika … sepertinya Kazuyoshi hanya bercanda?” kataku mencoba untuk menghentikan Seika yang mengikuti kegilaan Kazuyoshi.
Michiru langsung mengangkat tangannya tinggi. “Aku, izinkan aku untuk tinggal di sini—maksudnya bekerja di sini!”
Aku langsung menyikut rusuk Michiru. “Bukankah kau hanya akan tinggal di Jepang sebentar saja, Michiru?” kataku sambil tersenyum penuh makna pada Michiru.
Michiru tertawa terbahak-bahak. “Apalah, di sini lebih asik dan lebih damai!”
Seika mengangguk puas dengan wajah yang terlihat sedikit sombong. “Kalau begitu, bagaimana jika kalian sudah lulus semua bekerja di kantor papaku saja?”
“Bukankah kita ke sini awalnya berniat untuk cerita sesuatu yang menyeramkan?” kataku berusaha untuk menyadarkan mereka dari pemikiran yang semakin liar.
Seika menepuk tangannya sekali. “Oh, Itu benar! Siapa yang akan mulai terlebih dahulu!?”
Setelah Seika menanyakan hal itu, tidak ada satu pun dari kami yang menjawab. Dagu Seika langsung berkerut dan kembali berkata, “Ayolah, apa kita nonton film hantu saja?”
Aku mendesah panjang. “Aku tidak mau. Malam ini kau tidur bersamaku, ‘kan? Jika sebelum tidur kau nonton film hantu, aku khawatir kau akan mencekikku sampai mati ketika tidur!”
Seika memiringkan kepalanya bingung. “Hah? Kenapa kau berkata seperti itu, Akari?”
Aku langsung mengingat kejadian ketika Seika yang menonton film hantu dan menginap di rumahku. Tengah malam dia tiba-tiba mengigau dan terbangun dengan setengah sadar. Berpikir kalau aku yang tidur di sebelahnya adalah hantu yang mengejar dia di dalam mimpi, Seika menutup wajahku dengan bantal. Untung saja aku terhindar dari akhir mati muda setelah berhasil menjatuhkan Seika dari kasur …
Dagu Seika semakin berkerut. “Kalau begitu, Michiru! Kau mulai cerita terlebih dahulu! Aku penasaran dengan cerita seram dari luar negeri!”
Michiru mengibaskan rambutnya dengan wajah yang sombong. Hm, rasanya aku ingin memukul wajahnya itu terlebih dahulu. “Hohoho tidak masalah! Biarkan seseorang bernama Michiru ini menawarkan kepuasan untukmu, Seika,” katanya panjang lebar.
“Cepat lah, mau cerita atau tidak!?” kataku tidak sabaran.
Michiru terkekeh pelan, kemudian akhirnya bercerita, “Saat itu aku dan sepupuku yang seumuran sama denganku berkumpul untuk bermain bersama. Karena sedikit lapar dan haus, akhirnya aku dan salah satu sepupuku pergi ke toko untuk membeli minuman dan cemilan.
Kami pulang dengan membawa banyak sekali minuman dan cemilan. Sambil bermain, kami semua makan dan minum tidak ada hentinya. Mungkin karena terbawa suasana, entah kenapa sepupuku itu sedikit mabuk, padahal minuman yang kubeli tidak mengandung alkohol sama sekali.
Saat itu wajahnya sudah sedikit hijau, mungkin merasa mual. Karena itu aku mengantarnya ke toilet untuk menghilangkan rasa mualnya itu. Tetapi … ketika ia di dalam sana …”
Ini … seharusnya ini saat yang tepat untuk hantunya keluar, ‘kan?
“Semua makanan ringan dan minuman yang sebelumnya ia masukkan ke dalam perutnya kembali keluar. Tetapi yang membuatku sedikit terkejut adalah, ada seekor cacing yang menggeliat di sana …”
Kami semua menunggu selama tiga detik penuh untuk kelanjutan ceritanya. Tetapi, Michiru malah mengibaskan rambutnya lagi dengan wajahnya yang sombong. Tunggu, jangan-jangan ceritanya selesai?
Belum sempat aku ingin protes, Seika tiba-tiba berteriak dan memelukku kencang. “Ah! Aku tidak akan makan makanan ringan dan minum terlalu banyak lagi!!”
Seperti yang diharapkan, padahal cerita Michiru tidak jelas sama sekali, tetapi entah kenapa Seika malah ketakutan …
Kazuyoshi mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menepuk punggung Michiru pelan sambil berkata, “Tidak buruk juga, Michiru. Tetapi sepertinya ceritaku akan lebih seram dari pada yang kau miliki.”
Michiru menyeringai pada Kazuyoshi sambil melipat tangannya di d**a. “Hah! Aku terima tantanganmu.”
Tunggu, sejak kapan ini jadi ajang kompetisi!?
Kazuyoshi berdeham pelan kemudian bercerita, “Aku ingat saat itu aku masih berumur sepuluh tahun. Saat itu, ada makanan ringan yang terkenal pada masanya. Keripik wortel yang dibungkus oleh rumput laut.”
Kenapa cerita yang seharusnya menyeramkan selalu ada makanan ringan di dalamnya, sih!?
“Karena makanan ringan itu terlalu enak, seharian aku memakannya berpuluh-puluh bungkus. Bahkan aku menolak untuk makan nasi saat itu demi memakan makanan ringan itu. Tetapi, keesokan harinya tubuhku tiba-tiba berubah menjadi oranye seperti warna wortel!”
“Tidak! Aku tidak ingin makan wortel lagi!” teriak Seika.
Seika … bukankah tingkatan mudah takutmu itu terlalu tinggi!?
Semua mata langsung tertuju pada Tetsushi setelah itu. Tetsushi tersenyum miris kemudian berkata, “Bolehkah aku menyerah dan memilih untuk tidak ikutan bercerita?”
“Eh kenapaaa?” tanya Seika dengan wajahnya sedikit sedih.
Tetsushi menggaruk bagian kepalanya sedikit canggung. “Aku tidak mahir dalam bercerita …”
“Tidak masalah, Tetsushi. Kau sudah dengar cerita dari Michiru dan Kazuyoshi yang tidak bagus itu, ‘kan?” tanyaku.
“Apa maksudmu, Akari!?” ; “Tidak bagus apanya!?” protes Michiru dan Kazuyoshi bersama.
Aku terkekeh pelan kemudian berkata. “Kalau Tetsushi tidak ingin bercerita, berarti selanjutnya giliranku, ‘kan?”
Seika menepuk tangannya sekali. “Oooh, cerita Akari! Aku ingin dengar!”
Aku berdeham pelan sebelum berkata, “Apa kalian tahu tentang Kuma onna? Untuk seseorang yang tinggal di Jepang pasti sudah tahu. Tapi aku menceritakan hal ini untuk Michiru. Rumor nya Kuma onna ini seorang gadis yang selalu membawa boneka beruang kemana pun dia pergi.
“Gadis ini muncul jika ada seseorang yang pulang larut malam dan melewati terowongan di salah satu kota.0 Kuma onna akan muncul, dan mengambil perhiasanmu. Tapi ... dia mengambilnya secara langsung dengan memotong bagian tubuh korban yang menggunakan perhiasan itu, ya seperti itu ceritanya,” kataku menutup cerita dengan wajah datar.
Meski begitu, reaksi Seika yang berlebihan langsung datang setelahnya. Kazuyoshi dan Tetsushi mulai menambahkan informasi tentang cerita yang baru saja kukatakan. Di sisi lain, Michiru menatapku sambil mengelus dagunya.
Aku membalas tatapannya dengan penuh makna. Jika … jika suatu hari akan ada sebuah benda yang dikutuk dengan kekuatan iblis Mammon yang melambangkan keserakahan mungkin akan ada kejadian seperti itu … ‘kan?
Semoga pemikiranku salah.
“Ah, sangat seram! Kalau begitu, ayo sekarang kita mulai permainan selanjutnya!” kata Seika semangat.
“Hah? Kau belum mau tidur juga, Seika?” tanyaku.
“Apalah tidur! Kita sedang liburan dan tidur lebih cepat adalah hal yang tabu! Ayo kita mulai uji nyali!”
Michiru dan Kazuyoshi langsung setuju, sedangkan aku dan Tetsushi langsung mendesah panjang.