Aku harus menutup mulut Michiru yang tidak bisa berhenti terbuka ketika melihat bagian dalam villa Seika itu. Tentu saja, keadaan Kazuyoshi dan Tetsushi sama sepertinya.
Aku dan Seika sama-sama tertawa geli melihat reaksi mereka. Setelah berjalan cukup jauh dari pintu masuk dan naik lift ke lantai dua, Seika mengantar kami untuk menyimpan barang di kamar.
Seika mengantarku terlebih dahulu ke kamar yang katanya dibuat untukku. Aku sedikit mengingat letak kamar itu, berada di ujung lorong dan menghadap ke arah barat. Kamar itu memiliki balkon dengan pintu kaca, sehingga ketika matahari terbenam pemandangan di sana sangat indah. Laut yang perlahan-lahan berubah warna menjadi keemasan karena cahaya dari matahari yang terbenam.
Entah Seika yang melakukannya atau memang dari dulu cat kamar itu sudah berwarna biru muda, warna kesukaanku. Iseng, aku membuka lemari pakaian yang ada di dalam kamar itu. Sedikit terkejut melihat banyak pakaian yang ada di dalam sana. Aku tidak ingin berpikir kalau Seika membelikan baju ini untukku …
“Bagaimana, Akari? Aku tahu ukuran tubuhmu, pasti baju itu pas untukmu!” kata Seika membuat pemikiran tadi menjadi kenyataan.
“Kalau tahu seperti ini, aku tidak perlu bawa pakaian ganti!” kataku terkekeh pelan. Mungkin ulang tahun Seika nanti aku harus membelikannya hadiah yang mahal. Meski tidak seberapa, setidaknya rasa bersalahku sedikit berkurang karena Seika yang terlalu baik padaku.
“Nona-nona? Kami masih berada di siniii!” kata Michiru yang bergerak canggung di pintu masuk kamar.
Seika terkekeh pelan. “Pintu kamar kalian tepat di depan kamar ini! Kalian bisa pergi ke sana sendiri, ‘kan?” kata Seika.
Michiru langsung memukul keningnya pelan. “Kenapa tidak bilang dari tadi?” katanya terdengar sedikit sedih. “Ayo, sobat seperjuangan! Kita lihat kamar kitaa!”
“Ah, kalau kamarnya sempit bilang padaku, ya? Aku akan menyiapkan kamar yang lebih besar!” kata Seika sambil menarikku keluar kamar.
Kazuyoshi yang membuka pintu kamar itu langsung kaku terdiam di tempatnya. Michiru dan Tetsushi yang sedikit penasaran mengintip dari bahu Kazuyoshi ke dalam sana.
Kamar untuk mereka berbeda dengan kamarku. Tentu saja, karena kamar itu tidak dibangun ulang. Berarti, kamar Michiru dan yang lainnya bergaya Eropa seperti kamar yang lainnya.
“Ini … ini sepertinya berlebihan,” gumam Tetsushi.
“Karpet beludru!” kata Kazuyoshi yang sudah berlutut sambil mengelus karpet yang memenuhi seluruh lantai ruangan itu.
“Wehey kasurnya empuk! Jika dibandingkan dengan kasur yang ada di rumah Akari, seperti tidur di atas awan melawan tidur di atas batu!” kata Michiru yang sudah berguling-giling di atas kasur itu.
“Ey dasar ga tahu terima kasih!” kataku protes.
“Jadi bagaimana? Apa kamarnya cukup luas? Kamar yang sudah disediakan untuk kalian masing-masing masih kosong, kok,” tanya Seika.
“Sudah cukup!” kata Michiru, Kazuyoshi dan Tetsushi bersama.
Seika terkekeh pelan. “Kalau begitu, ayo kita periksa lantai tiga sampai lima!”
.
.
Perasaan terkejut Michiru, Kazuyoshi dan Tetsushi belum juga habis ketika mereka mengikuti Seika yang mengajak mereka berkeliling di villa itu. Bahkan aku juga sedikit terkejut karena ada beberapa perubahan di villa itu.
Lantai tiga, seperti sebelumnya adalah lantai untuk bermain. Seperti yang dikatakan, bermain. Ada ruangan teater, ruangan penuh dengan mesin permainan seperti yang ada di pusat permainan, meja tenis sampai lapangan basket dalam ruangan ada di sana.
“Tolong bawa aku pergi dari sini sekarang juga sebelum aku kehilangan kendali,” kata Michiru cepat sambil mencengkeram bahuku keras.
“Kenapa? Main saja sekarang!” kata Seika yang menarik Michiru, Kazuyoshi dan Tetsushi ke dalam ruangan itu semakin jauh.
“Tidak! Izinkan aku melihat lantai yang lain sebelum aku lupa waktu!” kata Kazuyoshi yang juga mencengkeran bahu Michiru. Rasanya sekarang aku, Michiru dan Kazuyoshi seperti bermain kereta-keretaan.
“Apa lantai yang lain juga seperti ini?” bisik Tetsushi padaku.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu, lalu menekan tombol lift untuk pergi ke lantai empat. Ketika pintu lift terbuka, tulisan besar Pria yang tertulis di kain berwarna biru dan tulisan besar Wanita yang tertulis di kain berwarna merah muda menyambut kami.
“Jangan-jangan ini … seperti apa yang kupikirkan?” tanya Tetsushi pelan.
Aku menganggukkan kepalaku. “Itu benar. Lantai empat ini hanya ada pemandian air panas dalam ruangan!” kataku sedikit heboh seperti pemandu wisata.
“Ohhhh, pemandian air panas … Sento[1], berarti Onsen[2], ini Onsen, ‘kan!? Tempat untuk berendam air panas dan ditemani oleh kera—”
“Ah. Sayangnya tidak ada kera di sini … apa aku perlu melepas mereka?” kata Seika memotong perkataan Michiru.
Kazuyoshi langsung menutup mulut Michiru dengan keras. “Jangan bicara yang macam-macam!”
“Kalau begitu tinggal lantai lima!” kata Seika senang sambil menekan tombol lift ke lantai lima.
Michiru, Kazuyoshi dan Tetsushi yang rasanya sudah tidak bisa merasa lebih kagum pada keluarga Rizumu merasa tidak kuat untuk melihat apa yang ada di lantai lima.
Untung saja di lantai lima yang menjadi atap villa itu hanya ada taman. Meski hanya taman, ukurannya lebih besar dari pada taman kota. Dengan rumput halus yang hampir memenuhi lantai atap itu, dan beberapa pohon pendek yang menghias taman itu menjadi lebih indah. Bahkan ada alat pemanggang barbeque.
Setidaknya jantung Michiru, Kazuyoshi dan Tetsushi tidak terlalu terkejut melihat apa yang ada di lantai ini jika dibandingkan dengan lantai sebelumnya.
“Nanti malam kita bisa main di sini! Membuat barbeque atau main kembang api atau melihat bintang atau bercerita seram atau—”
Kata-kata Seika terhenti karena ponselnya berdering menandakan telepon masuk. Seika melihat ke arah ponselnya sebentar kemudian melihat ke arah kami lagi. “Tunggu sebentar, ada panggilan dari orang tuaku!” katanya sambil berjalan menjauh dari kami.
“Akari … bagaimana bisa kau berteman dengan Seika?” tanya Michiru yang wajahnya terlihat lebih lelah. “Ini sih rasanya berteman dengan anak sultan …”
Aku sedikit tersenyum miris. “Mau kuceritakan bagaimana aku bertemu dengan Seika pertama kali?”
Dari ujung mata, aku bisa melihat tubuh Kazuyoshi merinding. “Ah, tolong jangan ceritakan hal itu.”
Michiru dan Tetsushi sama-sama memiringkan kepalanya bingung. Melihat wajah mereka, rasanya aku semakin ingin tertawa. “Aku pertama kali bertemu Seika berbeda denganmu yang pertama kali bertemu dengannya, Kazuyoshi!”
“Saat itu Rizumu mengerikan sekali …” gumam Kazuyoshi pelan.
Sayangnya saat itu Seika sudah kembali. Melihat wajah Kazuyoshi yang entah kenapa sedikit pucat, Seika bertanya, “Ada apa? Apa kau sakit, Kazuyoshi?”
Kazuyoshi menggelengkan kepalanya cepat. Aku terkekeh pelan dan berkata, “Mungkin karena lapar!”
Seika melihat jam yang ada di ponselnya. “Hmm, sebentar lagi jam makan malam, kalau begitu aku minta pelayanku menyiapkan makanan terlebih dahulu! Nanti setelah selesai makan, kita bisa main di sini!”
“Hmm, aku memang mau main di sini. Tapi, udara malam di sini dingin, ‘kan? Karena masih pertengahan musim semi,” kata Tetsushi.
Seika mendecakkan lidahnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Atap ini punya pemanas, Tetsushi! Jika kau ingin merasa seperti musim panas, dengan alat itu aku bisa mengabulkan keinginanmu!”
“Maaf, aku hanya bercanda. Tentu, ayo kita main di sini malam nanti,” kata Tetsushi cepat.
Aku terkekeh pelan. Jangan sampai meragukan kemampuan dari keluarga Rizumu! “Bagaimana jika malam ini kita main di lantai tiga saja, Seika? Sepertinya mereka ingin bermain di lantai yang terlihat seperti toko pusat permainan itu!”
“Ah, kenapa tidak bilang dari awal kalian mau main di sana, hm? Kalau begitu ayo turun terlebih dahulu dan makan malam!”
Note:
[1] Sento: Sentō (**) adalah tempat pemandian air panas untuk umum di Jepang. Orang yang ingin mandi dipungut biaya masuk. Pria dan wanita mandi di kamar mandi terpisah. Satu bak mandi digunakan untuk mandi berendam bersama-sama oleh beberapa orang sekaligus.
[2]Onsen: Onsen (**) adalah istilah bahasa Jepang untuk sumber air panas dan tempat mandi berendam dengan air panas yang keluar dari perut bumi.