29 - Selera Michiru dan Kazuyoshi!

1787 Kata
            Baru saja aku selesai membereskan barang bawaan untuk liburan ke villa milik keluarga Seika, ponselku berdering pelan menandakan ada pesan masuk. Ternyata, pesan itu dikirim oleh Seika, ia memberi tahu bahwa ia sudah memesan tiket kereta, dan kereta itu akan berangkat dua jam lagi … seperti yang diharapkan dari keluarga Rizumu! Mereka mengerjakan apa pun secara cepat.             Aku hanya membawa pakaian ganti untuk tiga hari. Karena pengalaman menginap di villa Seika sebelumnya, peralatan untuk mandi dan yang lainnya tentu sudah disiapkan di sana, jadi bawaanku tidak terlalu banyak.             Aku langsung keluar untuk memeriksa bagaimana Michiru menyiapkan barang bawaannya itu. Tetapi, ia tidak ada di kamarnya, aku pergi mencarinya ke dapur, dan tidak ada juga. Dengan kening berkerut, aku mengirim pesan pada Michiru menanyakan dia ada di mana. Pesan itu dibalas dengan cepat olehnya.             [Aku harus membeli beberapa baju! Kau pergi saja ke stasiun kereta terlebih dahulu~]             Aku mengusap keningku yang terasa mulai pusing. Bukankah  sudah kukatakan sebelumnya pakai baju yang biasa ia gunakan sehari-hari saja?             [Jangan terlalu lama. Ingat, Seika sudah memesan tiket untuk kita semua dan keretanya akan berangkat dua jam lagi!]             Aku mengirim pesan itu untuk mengingatkan Michiru, dan langsung berangkat menuju stasiun kereta. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke stasiun kereta itu dengan naik bus umum, dan lima menit berjalan untuk sampai di sana dari tempat pemberhentian bus itu.             Seperti yang kuduga dari mobil mewah yang terparkir di dekat pintu masuk stasiun kereta, pemilik mobil mewah itu tentu saja keluarga Rizumu. Terlihat dari plat nomer khusus keluarga Rizumu.             Aku langsung mendekat ke arah mobil itu. Seorang pekerja pria tua keluar dari pintu pengemudi, tentu saja aku kenal dengan orang itu. Dia adalah supir pribadi Seika yang sering kulihat mengantar dan menjemput Seika ke sekolahnya sejak Sekolah Menengah Pertama.             “Nona Kumo, kau sudah datang,” kata supir itu.             “Hallo, pak! Seika ada di dalam?” tanyaku padanya.             “Nona sedang beli makanan ringan, Nona Kumo.” Baru saja supir itu menjawab, aku langsung mendengar Seika yang memanggilku dari jauh.             “Akarii~ kau sudah dataaang!” katanya sambil berlari membawa kantong belanjaan di kedua tangannya.             Keningku sedikit berkerut. “Seika … bukankah hanya butuh waktu dua jam saja untuk sampai di stasiun dekat villa mu itu? Kenapa kau beli banyak sekali makanan ringan?” tanyaku sambil mengambil salah satu kantong yang dipegang Seika itu.             “Hehe~ terlalu asik ambil ini itu, pas sadar ternyata aku beli terlalu banyak! Lagi pula kalau tidak habis, bisa kita makan di kamar ’kan?”             Aku mendesah panjang. “Jangan bilang kau beli gurita bakar dan saus kacang—”             “Shhh! Jangan bilang siapa-siapa!” kata Seika dengan wajahnya yang nakal. “Michiru dan yang lainnya belum pernah coba, ‘kan?”             Aku terkekeh pelan. “Aku ga ikut tanggung jawab kalau sampai ada sesuatu yang terjadi dengan mereka, ya?”             “Sesuatu yang terjadi dengan siapa?” tiba-tiba suara Tetsushi terdengar dari belakangku. Aku dan Seika sama-sama terkejut dan menyembunyikan kantong makanan ringan itu di belakang kami.             “HHhHhh! Apa maksudnya, Tetsushi?” tanya Seika sambil tertawa panik.             Aku hanya tertawa geli melihat reaksi Seika. Kemudian, dari ujung mataku aku melihat sesuatu yang berwarna cerah mulai mendekat ke arah kami.             Di arah sana, aku melihat Kazuyoshi yang menggunakan baju kemeja lengan pendek bertuliskan ‘LOVE HAWAIIIII Maid dari Jepang!?” katanya yang entah kenapa sangat semangat.             Melihat jajaran pelayan yang menyambut mereka, Kazuyoshi berbisik pada Seika. “Rizumu, berapa banyak pelayan yang bekerja di villa ini?”             Kening Seika sedikit berkerut untuk mengingat jumlah yang pasti. “Jika dihitung dengan orang yang bekerja di dapur, lalu pengurus taman, lalu pengurus lantai ruangan dari satu sampai lima … sekitar tiga puluh?”              “Tiga puluh?” gumam Tetsushi sedikit kagum. “Tunggu, villa ini ada lima lantai!?”             Seika mengangguk bangga. “Lantai satu ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, kamar pelayan …” Seika terus menyebutkan berbagai macam ruangan yang ada di lantai satu villa itu. Ya, masih lantai satu.             “Lantai dua kamar tidur utama, kamar untukku ketika menginap, kamar khusus untuk tamu teman-teman orang tuaku, kamar khusus untuk teman-temanku, dan kamar khusus untuk Akari …”             “Tungguuu! Akari … kau punya kamar khusus di sini!?” tanya Michiru bingung.             Aku juga sedikit bingung, sejak kapan aku punya kamar khusus di villa milik Seika!? Melihat wajahku yang juga kebingungan, Seika tertawa terbahak-bahak. “Kau ingat terakhir kali saat kita berlibur ke sini, ‘kan? Katanya kau ingin tinggal di kamar yang menghadap langsung ke laut dan bisa melihat matahari terbenam dengan jelas dari sana.”             “Ah … apa memang ada kejadian seperti itu?” tanyaku semakin bingung. Karena sering menginap di villa Seika, dan tentu saja villanya sangat banyak aku hampir lupa villa mana saja yang pernah aku kunjungi, aku sedikit lupa kalau pernah ada kejadian seperti itu atau tidak.             “Itu benar! Aku membicarakan hal itu pada kedua orang tuaku, dan mereka setuju untuk mendekor ulang kamar yang kau sukai itu untukmu!” kata Seika senang.             Aku tidak tahu harus menangis atau tertawa di keadaan yang seperti ini. Tapi yang jelas, jika kau menolak sesuatu yang diberikan oleh keluarga Rizumu, mereka akan memberimu lebih banyak dari pada sebelumnya. Karena itu aku langsung berterima kasih pada Seika sebelum ia berpikir aku tidak puas dengan pemberiannya!             Seika mengangguk puas setelah mendengarku menerima ruangan itu … “Ayo kita masuk dan menyimpan barang-barang kalian di kamar masing-masing!”             “Tunggu, Seika … karena kita berlibur untuk bersenang-senang, lebih baik kita satu kamar, ‘kan?” tanya Michiru. Kemudian ia menambahkan dengan cepat, “Maksudku, aku, Kazuyoshi dan Tetsushi bisa satu kamar dan kau bisa dengan Akari.”             “Hm? Tapi aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian …” kata Seika dengan wajah yang sedih.             Melihat wajah tuannya yang seperti itu, para pelayan yang masih ada di sekitar mereka langsung berlutut dan mengeluarkan pisau kecil. “Kami tidak pantas bekerja di tempat ini!” katanya dengan suara yang seperti seseorang yang akan bunuh diri.             Dengan cepat aku langsung menghentikan semua pelayan itu dan menjelaskan pada Seika jika mereka satu kamar pasti akan lebih menyenangkan. Setelah menerima alasan itu, akhirnya Seika meminta para pelayan itu untuk kembali merombak kamar yang ada di sebelah kamar ‘milikku’ untuk menjadi kamar tidur Michiru dan yang lainnya.             Rasanya belum apa-apa, aku, Michiru, Kazuyoshi dan Tetsushi sudah sangat kelelahan …             Seika menarik tanganku untuk masuk ke dalam villa itu. “Untuk lantai tiga sampai lima, lebih baik kita lihat sendiri, ‘kan? Ayo kita simpan barang-barang kita!”             Aku terkekeh pelan sambil mengikuti Seika dari belakang. Semoga liburan singkat ini bisa membuatku lupa dengan kejadian yang berhubungan dengan iblis, sihir, dan juga Kirishima itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN