28 - Villa Keluarga Rizumu

1446 Kata
            Karena takut keluarganya khawatir melihat tubuhnya yang penuh luka, akhirnya Kazuyoshi memilih untuk menginap di rumahku malam ini. Ia tidur di kamar Michiru malam ini, untuk pakaian ganti ia juga meminjamnya dari Michiru. Jika ia pulang terlebih dahulu untuk mengambil pakaian ganti, bukankah akan percuma?               Setelah Kazuyoshi menghabiskan makan malamnya, Michiru menanyakan beberapa hal untuk memastikan kalau dia tidak ingat dengan kejadian Kirishima yang menyerangnya dengan sihir dan juga kejadian ketika Michiru menghilangkan kutukan iblis pertama kali.             Dilihat dari jawaban yang diberikan oleh Kazuyoshi, sepertinya ia tidak mengingat kejadian apa pun tentang Michiru dan Kirishima yang menggunakan sihir. Aku dan Michiru diam-diam bernapas lega bersama.             Satu pembicaraan mengarah pada pembicaraan lain. Saat ini, aku dan Kazuyoshi entah kenapa menceritakan kejadian saat kami berdua masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama. Kali ini topiknya berbicara tentang bagaimana sikap Seika dulu.             Michiru mendengar pembicaraan kami sambil tertawa dan sesekali menanyakan beberapa hal. Tanpa sadar, malam semakin larut dan akhirnya kami semua tidur setelah tengah malam berlalu cukup lama.             .             .             Tentu saja, kami bertiga bangun sedikit siang keesokan harinya. Aku membereskan kamarku terlebih dahulu dan keluar menuju ruang tengah. Sepertinya Michiru dan Kazuyoshi masih tertidur.             Sambil menahan kuap, aku berjalan ke arah dapur dan mulai membuat sarapan. Saat sarapannya hampir selesai, Kazuyoshi keluar dari kamar Michiru dengan mata yang masih sulit dibuka. Ia melihat ke arahku yang masih ada di dapur sambil mengusap matanya pelan.             “Pagi, Kumo,” katanya yang lebih terdengar seperti gumaman tidak jelas.             “Pagi! Michiru belum bangun juga?” tanyaku sambil menyiapkan piring.             Kazuyoshi berjalan ke arah dapur dan membantuku memindahkan sarapan ke atas meja. “Hah, aku tidak tahu kalau Michiru tidur seperti batang kayu.”             Aku terkekeh pelan. Sepertinya kalau Seika dan Michiru sudah tertidur pulas, mereka sulit untuk dibangunkan. “Kalau begitu aku akan coba membangunkannya. Mungkin cara yang kugunakan untuk membangunkan Seika juga bisa digunakan untuknya,” kataku dan langsung pergi ke kamar Michiru.             Di dalam sana, Michiru berbaring di atas kasur dengan posisi tidur seperti SuperMan yang sedang terbang. Aku menggelengkan kepalaku pelan, membayangkan Kazuyoshi yang pasti saat malam hari terjatuh dari kasur karena Michiru mendorongnya. Aku langsung berjalan mendekat ke arah kasur dan mencubit pelan hidung Michiru sampai ia tidak bisa bernapas, biasanya hal ini aku lakukan pada Seika jika ia masih tidak bisa bangun meski sudah kulakukan dengan berbagai cara.             Tetapi, sepertinya Michiru lebih mahir dalam hal tidur pulas dibandingkan dengan Seika. Ketika hidungnya aku tutup, dia langsung bernapas melalui mulutnya. Sekalian kututup juga mulutnya.             Beberapa detik berlalu, tetapi Michiru masih belum bangun juga. Khawatir dia kehabisan napas dan aku dipenjara karena membunuh seseorang ketika ia tidur, akhirnya aku menarik kembali tanganku. Tetapi, Michiru belum bangun juga …             Akhirnya aku kembali ke dapur, mengambil segelas air dan kembali ke kamar Michiru. Mengetahui apa yang akan aku lakukan, Kazuyoshi tertawa terbahak-bahak ketika melihatku yang membawa senjata itu.             “Michiruu, bangun!” kataku mencoba sekali lagi untuk membangunkannya.             Tetapi, Michiru hanya bergumam pelan dan tidak ada tanda-tanda kalau ia akan bangun. Tidak ada pilihan lain, sepertinya aku harus menggunakan senjata itu.             Awalnya aku sedikit mengambil air di dalam gelas untuk memercikkannya pada Michiru. Tetapi karena tidak berhasil juga, aku menumpahkan semua air di dalam gelas itu pada wajah Michiru.             Reaksi yang kubayangkan tidak terjadi. Seharusnya, jika seseorang disiram air ketika tidur, ia akan bangun dengan panik, ‘kan? Tetapi tidak untuk Michiru. Ia malah membuka matanya seperti biasa, tidak sadar dengan wajahnya yang sudah basah.             “Hm? Selamat pagi, Akari,” katanya sambil menahan kuap.             Aku mengusap keningku tidak percaya. “Ayo kita sarapan, Michiru.”             “Mmm, sebentar,” katanya kembali menyandarkan kepalanya pada bantalnya lagi.             “Aahhh bangun!” Aku langsung menariknya sampai ia terjatuh dari atas kasur.             .             .             Akhirnya, setelah terjatuh dari kasur Michiru tidak tertidur lagi. Ia sedikit bingung kenapa bajunya basah, membuatku terkesan dengan sikapnya itu. Bersama dengan Kazuyoshi, aku dan Michiru pergi ke ruang makan dan sarapan.             Setelah selesai, aku kembali ke kamarku untuk mengambil ponsel, dan sadar ada pesan masuk dari Seika. Aku membukanya dan membaca isi pesan itu.             [Akarii~ Karena kemarin aku tidak jadi menginap di rumahmu, bagaimana jika kita menginap di Villa milikku?]             [Hehe, maaf! Kemarin ada panggilan vidio dari orang tuaku. Kau tahu, ‘kan kalau orang tuaku sudah melakukan panggilan vidio, mereka akan terus bicara sampai tengah malam? Berlibur di Villa milikmu? Yang mana?]             Aku langsung mengirim pesan dengan berisi alasan kenapa Seika tidak bisa menginap kemarin dan bertanya villa yang mana. Saat Sekolah Menengah Pertama, beberapa kali aku pernah menginal di villa milik keluarganya ketika sedang berlibur, jadi aku tahu Seika memiliki villa lebih dari satu.             [Bagaimana kalau yang ada di dekat laut? Atau yang di dekat gunung? Ah, kau saja yang pilih! Ah, ajak Michiru, Tetsushi dan Kazuyoshi juga! Rasanya seperti liburan anggota club Astronomi, ‘kan?]             Membaca pesan itu aku hanya bisa tersenyum miris. Dasar orang kaya yang tidak sadar dengan kekayaannya sendiri! Dengan cepat aku membalas pesan itu. [Bagaimana jika yang ada di dekat laut? Karena tidak banyak bangunan yang berada di dekat villamu itu, saat malam hari akan lebih gelap dari pada yang ada di pusat kota, ‘kan?]             Pesanku dibalas dengan cepat oleh Seika, sepertinya ia menggenggam ponselnya sambil menunggu balasan dariku. Sambil terkekeh pelan aku membaca balasannya.             [Hehe, oke kalau begitu! Aku akan meminta seseorang menjemput kita!]             [Kalau tidak salah, ada stasiun kereta di dekat villa milikmu itu, ‘kan? Bagaimana jika kita naik kereta bersama saja? Bukankah lebih menyenangkan?]             [Ohhh, ide bagus! Hari ini juga kita akan berangkat! Aku akan menyiapkan tiket keretanya. Kau dan yang lainnya hanya perlu membawa pakaian ganti, aku akan mengabarkanmu lagi nanti setelah semuanya selesai~]             Aku terkekeh pelan melihat balasan itu. Keluarga Rizumu memang selalu bisa diandalkan. Aku langsung keluar kamar dan melihat Michiru dan Kazuyoshi yang asik nonton TV. “Aku dapat pesan dari Seika, dia mengajak kita untuk berlibur di villa miliknya yang ada di dekat laut. Kau mau ikut tidak, Michiru?”             Mata Michiru langsung berbinar cerah. “Jika aku menolakknya, pasti aku meninggalkan otakku di suatu tempat! Tentu aku ikut!”             Kazuyoshi sedang melihat ponselnya, sepertinya ia sudah menerima pesan dari Seika. “Ah … yang pernah kau kunjungi ketika liburan musim panas kelas dua saat di Sekolah Menengah Pertama, ya?”             Kedua alisku terangkat ketika mendengar perkataan Kazuyoshi. “Itu benar. Wow, aku kagum kau bisa mengingatnya, Kazuyoshi!”             Kazuyoshi tersenyum meledek. “Tentu, karena ketika sekolah sudah dimulai, kau dan Rizumu tidak berhenti membicarakan liburan kalian berdua di villa itu.”             Aku terkekeh pelan, kemudian menggodanya dengan berkata, “Arere~ Sepertinya ada yang kesal karena tidak diajak~”             Michiru melingkarkan lengannya di bahu Kazuyoshi. “Tenang, sobat. Kau tidak sendirian di sini.”               Kazuyoshi menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menepuk keningnya pelan seperti teringat sesuatu. “Ah, berarti sama saja aku harus pulang terlebih dahulu untuk mengambil pakaian ganti …”             Aku melihat jam ke arah jam dinding, sebentar lagi jam sepuluh, dan hari ini juga hari minggu. “Kazuyoshi, bukankah ibumu selalu pergi ke taman di dekat sini setiap hari minggu?”             “Ah … maksudmu bergosip dengan ibu-ibu lain yang tinggal di sekitar blok sini, ya?” kata Kazuyoshi sambil tertawa pelan. “Benar juga. Ayahku pergi ke luar kota untuk pekerjaannya, berarti hanya ada ibuku di rumah …”             “Lalu kau bisa pulang ketika ibumu sedang pergi!” kata Michiru.             Kazuyoshi menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Kalau begitu aku akan memastikannya dulu sebentar …” katanya sambil menelepon ibunya.             Ia mendekatkan ponselnya ke telinganya. “Ah, Ibu? Kau ada di rumah? … Ya, aku masih ada di rumah Kumo … Niatnya begitu, kau ingat teman saat aku masih ada di Sekolah Menengah Pertama bernama Rizumu? … Ya, yang kaya itu … hahaha! … Oh, dia mengajakku untuk berlibur di villanya … hah? Tentu saja dengan Kumo dan teman bulenya itu! … Baik, aku akan pulang sebentar dan mengambil pakaian ganti.” Kazuyoshi sibuk menjelaskan pada ibunya melalui telepon.             “Kalau begitu cepat kau siapkan bawaanmu itu, Michiru!” kataku sambil mendorong Michiru kembali ke kamarnya.             “Hah? Apa yang harus kubawa? Baju seperti apa yang harus kugunakan?” tanyanya sedikit bingung.             “Baju biasa yang sering kau gunakan saja!”             “Tapi … mendengar dari ceritamu sepertinya villa milik Seika sangat mewah. Bagaimana jika nanti Seika ditertawai karena membawa teman dengan pakaian yang lusuh?”             “Kau terlalu banyak menonton drama! Hanya ada Seika dan beberapa orang yang mengurus villa itu di sana. Tidak perlu khawatir!” kataku kembali menyuruh Michiru cepat-cepat membereskan barang bawaannya.             “Kalau begitu, aku juga akan langsung pulang! Berhubung ibuku sudah pergi dari rumah,” kata Kazuyoshi sambil mengambil tas sekolahnya yang aku simpan di ruang tengah.             “Tentu. Kau tahu kemampuan keluarga Rizumu, ‘kan?” tanyaku pada Kazuyoshi dengan wajah yang serius.             Kazuyoshi menganggukkan kepalanya dengan tampang yang serius juga. “Jika dia bilang hari ini kita akan berangkat … berarti hari ini kita benar-benar akan berangkat.”             Aku terkekeh pelan. “Itu benar! Cepat siap-siap kalau begitu!”             Kazuyoshi mengangguk tegas kemudian berkata, “Sampai jumpa di stasiun kereta kalau begitu!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN