"Ingat apa yang kau katakan. Aku paling tidak suka dengan seseorang yang mengingkari janji mereka," kata Kirishima dengan wajahnya yang masih tersenyum cerah. Dengan cepat ia mengendalikan Flying Gear miliknya untuk melayang ke sampingku.
Aku memohon tanpa mengatakan apa pun pada Kazuyoshi sekali lagi. Tetapi ketika melihat wajahnya yang semakin pucat, dan berpikir jika aku terus keras kepala seperti ini... sepertinya di akhir kami berdua yang akan jatuh ke dasar jurang.
Kirishima membuka kedua tangannya, terlihat seperti ingin menerima pelukan dariku. "Akan kubantu, Nona~" kata Kirishima dengan nada riang, yang malah membuatku semakin takut padanya.
Meski takut, rasa takutku dengan pemikiran kalau aku dan Kazuyoshi akan berakhir di dasar jurang membuatku lebih takut. Akhirnya, aku menggenggam salah satu tangan Kirishima dengan erat.
Kirishima tersenyum tipis, kemudian menarikku pelan sampai kedua kakiku berada di atas Flying Gear miliknya. Aku menyiapkan diri untuk menerima apa yang akan dilakukan Kirishima selanjutnya.
Tetapi tidak seperti yang kubayangkan, Kirishima langsung menurunkanku kembali ke atas tanah yang sedikit jauh dari tepian jurang. Perasaanku langsung campur aduk, entah harus berterima kasih atau tidak, karena mengingat kejadian sebelumnya saat Kirishima yang mencoba untuk memanggangku dan Kazuyoshi dengan bola api miliknya.
Aku langsung berlari ke ujung tebing di mana Kazuyoshi masih berusaha menahan tubuhnya untuk tidak jatuh ke dasar jurang.
Dengan cepat aku menarik tangan Kazuyoshi, dan membantunya naik ke ujung tebing. Di sisi lain, Kirishima hanya melihat kami yang masih sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing.
Setelah aku dan Kazuyoshi berada jauh dari sisi jurang, akhirnya kami berdua bisa bernapas lega. Aku langsung melihat tangan Kazuyoshi yang dipenuhi oleh luka sayatan, beberapa di antaranya sudah mengeluarkan darah. Setidaknya lukanya tidak terlalu parah dari apa yang kubayangkan.
Tetapi, kebahagiaan sesaat itu langsung menghilang ketika kami berdua mendengar kekehan pelan menyebalkan yang selalu dilakukan oleh Kirishima.
Aku langsung menatap Kirishima dengan mata yang disipitkan padanya, berjaga-jaga kalau dia akan melakukan hal yang membahayakan kami berdua lagi.
Kirishima langsung memasang wajah tersakiti, dengan dramatis ia menekan dadanya dengan kedua tangannya sambil berkata, “Ada apa dengan tatapan mata kalian itu? Bukankah aku sudah menolong kalian berdua? Bukankah aku orangnya sangat baik?”
“Orang baik macam apa yang harus menerima sesuatu dari orang yang meminta tolong padanya?” kataku ketus.
Kirishima tertawa geli. “Ayolah, bukankah prinsip dunia ini seperti itu? Memberi dan diberi?”
Keningku sedikit berkerut ketika mendengar istilah itu. Tetapi jika orang yang mengatakan prinsip itu memiliki sikap seperti Kirishima, di akhir artiannya akan memiliki makna berbeda. “Kami berada di situasi yang berbahaya seperti tadi karena kau, Kirishima! Apa kau memang sengaja melakukannya? Sengaja melakukannya untuk melukai kami? Bukankah sudah beberapa kali kau mencoba untuk melakukan hal itu pada kami?”
“Apa? Jadi kau ingin menarik kembali kata-katamu setelah aku menolongmu? Karena itulah aku benci orang-orang di dunia ini! Dunia ini sudah terlalu kotor karena dipenuhi oleh orang-orang yang tidak tahu terima kasih seperti kalian!” sentak Kirishima.
Tanpa sadar aku sudah menggigit bagian bawah bibirku. Kebiasaan jika aku merasa kesal tetapi tidak bisa melakukan apa pun.
Kazuyoshi yang memegang teguh prinsip ‘Seorang lelaki tidak boleh menarik kata-katanya!’ pasti sebentar lagi akan berkata sesuatu.
“Lalu, apa yang kau inginkan? Meski aku sadar kau orang yang berbahaya, tetapi janji tetaplah sebuah janji,” kata Kazuyoshi pelan.
‘Benar, ‘kan?’ batinku.
Kirishima tersenyum tipis. “Benar juga, ya? Seorang perempuan seperti Akari tidak akan mengerti kalau seorang lelaki tidak boleh menarik kata-katanya lagi, ‘kan?”
Keningku sedikit berkedut karena kesal. “Sejak kapan kau jadi berpihak pada Kirishima, Kazuyoshi!? Kalau kau tahu dia orangnya berbahaya, kenapa kau masih melakukannya? Seharusnya kau sadar kalau Kirishima memang berencana untuk membuatmu berhutang padanya!”
Kedua alis Kazuyoshi langsung terajut, tetapi pandangannya tetap tertuju pada Kirishima, menunggu jawabannya.
Ah … rasanya berhadapan dengan Kazuyoshi yang seperti ini kesabaranku sudah mencapai batasnya. Leherku tiba-tiba terasa sakit, apa tekanan darahku naik?
Dengan senyuman yang tidak hilang juga dari wajahnya, Kirishima mengusap dagunya seperti memikirkan permintaannya dengan sepenuh hati. “Hmm, sepertinya permainan tadi membuat kalian cepat bosan …”
“Apanya yang cepat bosan!? Kau hampir saja membunuh kami!” sahutku semakin kesal.
“Arere~ apa kau pikir aku benar-benar akan membunuh kalian? Jika memang aku memiliki pemikiran seperti itu, kenapa aku menolong kalian? Bukankah keinginanku akan terpenuhi jika melihat kalian yang jatuh ke dasar jurang itu?”
Aku kembali menyipitkan mataku pada Kirishima. “Orang sepertimu itu … mungkin kau pikir akan lebih menyenangkan jika kau melakukan hal ini, ‘kan? Membuat kami berhutang padamu, lalu melihat kami yang dengan senang hati menuruti semua perkataanmu, begitu?”
Kirishima menjentikkan jarinya sekali. “Bagaimana kau tahu, Akari? Ah~ semakin lama, kau semakin membuatku tertarik.”
Sikap protektif milik Kazuyoshi kembali muncul, dengan cepat ia menarikku ke balik punggungnya. “Jangan berpikir hal yang tidak-tidak, Kirishima.”
Kirishima menaikkan kedua alisnya, wajahnya terlihat sangat terhibur. “Apa yang KAU pikir tentang sesuatu yang kupikirkan, Kazuyoshi Yusuke?”
“Sesuatu yang tidak menyenangkan?” balas Kazuyoshi.
“Hehe, salah! Oh, setidaknya apa yang kupikirkan itu menyenangkan menurutku …” kata Kirishima yang kemudian menaikkan sebelah tangannya tiba-tiba.
Seketika, tubuhku dan Kazuyoshi tidak bisa bergerak sedikit pun. Ah, tentu hal ini akan terjadi, ‘kan? Apa jatuh ke dalam jurang sana pilihan yang lebih tepat dibandingkan dengan ditolong oleh seseorang yang ingin melepaskan segel para iblis?
Kirishima mulai berjalan mendekat ke arahku sambil berkata, “Ayolah, tidak perlu memperlihatkan wajah yang ketakutan begitu, Akari … aku tidak akan melukaimu …”
“Kirishima!” sahut Kazuyoshi sambil menggertakkan giginya berusaha untuk bergerak sedikit saja.
“Lama-lama kau berisik sekali, Kazuyoshi Yusuke.” Kirishima menjentikkan jarinya sekali lagi, kemudian Kazuyoshi langsung berlutut di atas tanah sambil berteriak kesakitan.
“Kirishima! Kumohon hentikan!” sahutku karena terlalu panik ketika melihat Kazuyoshi yang terlihat kesakitan seperti itu.
“Oh, apa kau baru saja memohon padaku? Apa kau baru saja melakukannya?” kata Kirishima sambil mengusap pipiku pelan.
Aku berusaha menjauhkan kepalaku dari tangan Kirishima itu. Tetapi seluruh tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali.
Kirishima tertawa geli sekali. “Sejak pertama kali melihatmu, aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirimu itu, Kumo Akari.”
Aku memalingkan pandanganku cepat, dilihat semakin dekat, senyuman di wajah Kirishima itu semakin mengerikan.
“Perlihatkan padaku, Akari. Perlihatkan padaku kekuatan yang ada di dalam dirimu itu,” katanya sekali lagi dengan suara yang lebih pelan.
Keningku langsung berkerut. “Apa maksudmu dengan kekuatan yang aku miliki, Kirishima? Kau sadar kalau aku hanya manusia biasa, ‘kan?”
Kirishima mengusap pelan pipiku lagi. Ah, jika saja aku bisa bergerak, mungkin aku sudah meninju ulu hatinya. “Kekuatan unikmu yang bisa membuat kutukan iblis menjadi lemah, Akari. Tidak hanya itu … sepertinya kau juga memiliki kekuatan yang lain. Dari mana kau bisa mendapatkannya?”
Ujung bibirku mulai berkedut kesal mendengar omong kosong Kirishima ini. “Sudah kukatakan aku tidak tahu, ‘kan? Tentang sihir atau iblis yang menggambarkan tujuh dosa besar manusia itu nyata saja aku baru tahu ketika bertemu dengan Michiru!”
Kirishima mengedipkan matanya sekali. “Ah, tentu saja. Tetapi sungguh menggelikan, dunia ini memiliki imajinasi seperti sihir dan iblis itu ada, kemudian dengan seenaknya mereka menggunakan kedua kekuatan itu menjadi hiburan untuk mereka …”
“Hah, aku anggap itu sebagai pujian!” kataku masih kesal pada Kirishima.
Mungkin apa yang kulakukan itu salah, karena pandangan Kirishima terlihat semakin terhibur karena kata-kataku itu. “Ah, apa aku harus membawamu kembali pulang ke negeri sihir bersamaku? Rasanya aku ingin membelah tubuhmu dan melihat apa yang ada di dalam sana …”
“Kirishima, kata-katamu itu terdengar sangat menggelikan, kau tahu?”
Kirishima kembali terkekeh pelan. “Ah, akan kuanggap itu sebagai pujian~” katanya mengulangi kata-kataku dengan nada yang lebih menyebalkan.
Sayangnya belum sempat aku membalas atau meninju Kirishima yang sangat menyebalkan itu, wajah Kirishima tiba-tiba berubah dan ia langsung menarikku dengan cepat ke atas Flying Gear miliknya.
Karena tububhku masih belum bisa bergerak, aku hanya bisa pasrah dan membiarkannya menarik tubuhku dengan keras. Meski sedikit panik entah karena apa, ternyata Kirishima tetap tidak lupa untuk menahanku dan juga Kazuyoshi. Tapi … sesuatu yang membuatnya panik seperti ini hanya berarti satu hal, ‘kan?
“Kirishima!!” sahut suara seseorang yang tentu saja sudah sangat kukenal.
“Michiru! Kau terlalu menghayati peranmu sebagai pahlawan kesiangan, kau tahu!?” kataku kesal pada Michiru yang selalu datang terlambat.
Kirishima tertawa geli, kemudian dengan seenaknya ia memanggulku di atas bahunya seperti sebuah karung beras. “Aku akan mengambil temanmu sebentar, monster dari keluarga Wienan! Tenang saja, aku hanya ingin melihat kekuatan apa yang berada di dalam tubuhnya!”
“Kembalikan!” sahut Michiru marah. Karena saat ini aku berada di tangan Kirishima, mungkin Michiru tidak bisa langsung menyerang dan bergerak secara gegabah. Khawatir di akhir Kirishima akan melakukan hal yang bisa membahayakanku.
“Kembalikan? Kau sadar kalau gadis ini bukan milikmu, ‘kan?” tanya Kirishima dengan wajahnya yang tersenyum puas.
“Michiru … Michiru tolong Kazuyoshi! Kirishima melakukan sesuatu padanya yang membuatnya kesakitan seperti itu!” kataku cepat ketika melihat kondisi Kazuyoshi yang belum membaik juga.
Kedua mata Michiru langsung bergetar. Mungkin ia takut jika ia melihat ke arah Kazuyoshi, saat itu juga Kirishima akan membawaku pergi ke entah berantah.
Aku menelan ludahku dengan susah payah ketika mengingat kalau Kirishima akan membelah tubuhku dan melihat apa yang ada di dalam sana …
Kirishima mendecakkan lidahnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Monster dari keluarga Wienan, yang tega menarik orang-orang yang tidak bersalah masuk ke dalam masalah yang ia buat sendiri. Ketika mereka kesakitan, kau bahkan tidak berpikir untuk memberi mereka bantuan …”
“Kirishima, aku tidak akan membiarkanmu pergi hidup-hidup dari sini!” gertak Michiru.
Tetapi dengan sikap yang dimiliki oleh Kirishima, tentu ia tidak merasa takut sedikit pun. Malahan, tangannya yang bebas membuat gerakan seperti mulut yang dibuka-tutup. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi!” katanya dengan nada yang mengejek, kemudian ia tertawa geli lagi. “Bukankah sebelumnya kau juga sudah mengatakan hal yang sama? Tetapi di akhir … aku tetap bisa pergi darimu.”
Michiru mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Melihat hal itu, Kirishima semakin senang dibuatnya. Sekali lagi, ia menjentikkan tangannya dan Kazuyoshi kembali berteriak kesakitan.
“Kirishima, hentikan!” sahutku kencang sengaja di telinganya. Sayangnya hal itu tidak memberikan reaksi apa pun darinya.
Kazuyoshi yang awalnya berlutut di atas tanah sudah terbaring sambil mendekap dadanya dengan kencang, terlihat jelas kalau ia kesulitan bernapas.
Mendengar suara Kazuyoshi yang kesakitan, akhirnya Michiru melirikkan pandangannya pada Kazuyoshi. Saat itu, Kirishima tertawa geli sambil berkata, “Kau membiarkanku lolos lagi, monster dari keluarga Wienan.”
Sedetik kemudian, aku yang masih dipanggul seperti karung beras di bahu Kirishima sudah melesat menjauhi Michiru. Dari jauh, aku melihat wajah Michiru yang kesulitan. Tetapi untung saja, ia tidak langsung menolongku tetapi memeriksa keadaan Kazuyoshi terlebih dahulu. Sedetik setelahnya, aku tidak bisa melihat Michiru lagi karena seluruh pandanganku berubah menjadi hitam pekat.