Michiru mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Melihat hal itu, Kirishima semakin senang dibuatnya. Sekali lagi, ia menjentikkan tangannya dan Kazuyoshi kembali berteriak kesakitan.
“Kirishima, hentikan!” sahutku kencang sengaja di telinganya. Sayangnya hal itu tidak memberikan reaksi apa pun darinya.
Kazuyoshi yang awalnya berlutut di atas tanah sudah terbaring sambil mendekap dadanya dengan kencang, terlihat jelas kalau ia kesulitan bernapas.
Mendengar suara Kazuyoshi yang kesakitan, akhirnya Michiru melirikkan pandangannya pada Kazuyoshi. Saat itu, Kirishima tertawa geli sambil berkata, “Kau membiarkanku lolos lagi, monster dari keluarga Wienan.”
Sedetik kemudian, aku yang masih dipanggul seperti karung beras di bahu Kirishima sudah melesat menjauhi Michiru. Dari jauh, aku melihat wajah Michiru yang kesulitan. Tetapi untung saja, ia tidak langsung menolongku tetapi memeriksa keadaan Kazuyoshi terlebih dahulu. Sedetik setelahnya, aku tidak bisa melihat Michiru lagi karena seluruh pandanganku berubah menjadi hitam pekat.
Kegelapan yang sangat pekat itu tidak berlangsung terlalu lama, hanya beberapa detik saja. Tetapi dari apa yang kulihat di sekitarku, sepertinya kita berpindah cukup jauh dari tempat sebelumnya. Apa tadi itu sihir teleportasi!?
Meski sebagian besar hanya terlihat pepohonan saja, tetapi tidak seperti hutan lindung milik keluarga Rizumu, rasanya apa yang ada di bawah sana seperti hutan liar.
Perutku mulai terasa kram karena berada di posisi yang tidak nyaman dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya aku masih belum bisa bergerak sedikit pun.
“Kirishima … apa kau sadar kalau tubuhku sedikit berat?” tanyaku pada Kirishima yang belum berkata apa pun. Entah kenapa aku merasa kalau Kirishima yang tidak berbicara sedikit pun lebih mengerikan dibandingkan dengan Kirishima yang terus mengoceh berbicara omong kosong.
“Oh? Sekarang kau ingin berbicara padaku?” tanya Kirishima dengan nada mengejek. “Mmm, setelah dipikirkan tubuhmu memang berat, Akari.”
Padahal aku sengaja mengatakan hal itu dengan tujuan membuat Kirishima menurunkanku dari bahunya. Tetapi ketika mendengar jawaban dari mulut Kirishima kalau tubuhku berat, entah kenapa perasaan kesal karena disebut seperti itu lebih kuat dibandingkan dengan rasa takut memikirkan apa yang akan Kirishima lakukan padaku.
Aku menggertakkan gigiku kemudian berkata, “Nah, kau sadar kalau tubuhku berat, ‘kan? Bisa kau ganti posisi saat membawaku atau semacamnya? Dipanggul seperti karung beras di bahumu seperti ini rasanya membuat perutku sedikit kram …”
“Hm~ Tapi bagaimana jika kau lari dariku, Akari?” tanya Kirishima lagi-lagi dengan nada mengejek. Terlihat jelas kalau ia merasa terhibur.
“Kau pikir aku akan lari ke mana? Terjun ke bawah sana tanpa menggunakan parasut dan mati muda dengan perasaan yang menyenangkan?” kataku ketus.
Kirishima langsung tertawa terbahak-bahak. Kali ini ia pasti tertawa dengan senang hati. Setidaknya tawanya yang terbahak-bahak ini lebih baik dari pada tawanya yang terkekeh pelan seperti tokoh penjahat yang ada di dalam drama.
“Kau ada benarnya. Tetapi, aku tidak memiliki pemikiran untuk merubah posisi ini,” katanya pelan.
‘Hiiiiih! Sangat menyebalkannn!’ batinku menangis.
“Setidaknya dengan posisi ini, kau bisa menjaga punggungku, Akari.”
“Lalu apa maksudnya itu?”
Pertanyaanku langsung terjawab, tetapi bukan dari mulut Kirishima, melainkan dari sesuatu yang berbentuk seperti kilatan cahaya yang tiba-tiba menyambar tidak terlalu jauh.
Aku menelan ludahku dengan susah payah, kemudian berkata, “Kirishima … terbang setinggi ini di cuaca yang tidak baik ini sangat berbahaya, ‘kan?”
“Apa maksudmu dengan cuaca yang tidak baik? Dilihat bagaimana pun, langit di atas sana sangat cerah!” jawab Kirishima langsung.
“Tapi … tapi tadi aku melihat kilatan petir tidak terlalu jauh. Bagaimana kalau petir itu menyambar kita?”
Kirishima tertawa pelan. “Apa kau pikir petir seperti itu akan muncul di cuaca secerah ini? Kau juga pernah melihatnya, ‘kan? Melihat petir seperti ini.”
Pertanyaan itu langsung membuatku teringat dengan Michiru. “Err … apa ini kekuatan Michiru?”
“Itu benar~ Karena itu, aku ingin kau menjaga punggungku, Akari!”
Di keadaan yang seperti ini, pikiranku langsung kosong seketika. Aku harus menolong Kirishima, atau aku harus menolong Kirishima? Karena jika tidak kutolong dan aku hanya diam melihat serangan petir Michiru, berarti sama saja aku akan terkena serangannya, ‘kan!?
Kilatan cahaya itu kembali terlihat. Kali ini terlihat lebih dekat dari sebelumnya. Ah, jika itu benar Michiru seharusnya aku senang karena ia akan menolongku, ‘kan? Tetapi kenapa rasanya aku lebih ingin menangis sekarang!?
Sekali lagi, kilatan cahaya itu semakin dekat. Siluet seseorang bisa terlihat jelas. Awalnya hanya berupa titik hitam dari kejauhan, tetapi lama kelamaan rambut berwarna pirang itu terlihat tidak asing.
“Michiru!” kataku senang. Tetapi senyuman di wajahku langsung kaku ketika Michiru menembakkan petir ke arahku … atau lebih tepatnya ke arah Kirishima.
“Oy! Kirishima, menyingkir! Menyingkir!” kataku panik dan menyuruh Kirishima untuk cepat-cepat berpindah. Untung saja Kirishima berhasil menghindari serangan Michiru.
“Akari!” sahut Michiru.
“Michiru, apa kau gila!? Apa kau berniat untuk melukaiku juga, hah!?” sahutku kesal. Di sebelahku, aku bisa mendengar Kirishima yang tertawa.
Mata Michiru yang saat ini berubah warnanya menjadi perak terlihat sangat asing. Wajahnya sedikit murung dan berkata, “Aku tidak akan melukaimu, Akari!”
“Tenang saja~ Jika kau terluka dan mati karena serangan monster gila itu, ia dapat dengan mudah melakukan ritual untuk kembali menghidupkanmu. Benar ‘kan?” kata Kirishima yang akhirnya menurunkanku dari bahunya ke depannya. Tetapi tetap saja, di atas Flying Gear milik Kirishima ini aku tidak bisa bergerak.
Dengan cepat Kirishima langsung memutar Flying Gear miliknya, membuatnya berhadapan langsung dengan Michiru. Aku yang berdiri di depan Kirishima hampir saja terjatuh karena pergerakan yang tiba-tiba. Untung saja dia menggenggam kedua bahuku cukup kuat sehingga aku tidak terlempar.
Michiru langsung menyipitkan matanya melihat ke Kirishima. “Kembalikan Akari,” katanya singkat.
Kirishima terkekeh pelan sambil mengusap pipiku dengan menggelikan sekali lagi. “Kembalikan? Bukankah sudah kukatakan kalau Akari bukan sesuatu yang kau miliki?”
Karena kali ini aku bisa bergerak, dengan mudah aku menghindari tangan Kirishima yang mencoba untuk mengusap wajahku lagi.
Mata berwarna perak Michiru terlihat memiliki kilatan amarah di dalamnya. “Kau akan menyesal jika kau tidak melakukannya.”
“Heh, menyesal? Katakan padaku, aku harus menyesal seperti apa jika seseorang yang memiliki kekuatan yang unik seperti ini berada di sebelahku?”
Michiru menyipitkan kedua matanya, tubuhnya langsung dikelilingi oleh kilatan cahaya dari petir. Ah, rasanya melihat Thor yang menggunakan kekuatannya secara langsung. Eh tidak, lebih tepatnya mungkin Dewa Zeus?
“Err … Michiru … tenanglah sedikit …” kataku pelan berusaha untuk menyelamatkan diriku sendiri dari tembakan petir liar.
Kedua alis Michiru langsung terajut. “Sejak kapan kau berada di pihaknya, Akari?” tanyanya dengan suara yang terdengar mengerikan.
Daguku langsung berkerut. “Aku berada di pihakku sendiri, mengerti!? Jika kau menyerang Kirishima dengan petirmu itu, kau pikir aku masih bisa selamat?”
Wajah Michiru langsung terlihat terluka. Aku langsung merasa bersalah ketika melihatnya. “Kau tahu aku tidak akan menyakitimu, ‘kan?” tanyanya dengan suara yang terdengar sedih.
Ah, apakah sekarang aku yang jadi orang jahat?
Michiru langsung membentangkan tangannya. “Kemari, Akari.”
Pegangan tangan di bahuku terasa lebih kencang. Cengkeraman tangan dari Kirishima memberiku sebuah kode yang terasa berbahaya.
“Michiru, sepertinya kau lupa saat ini kau berada di dalam kondisi seperti apa …” kata Kirishima pelan.
Uluran tangan Michiru sedikit menurun. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Kirishima. “Apa kau baru saja mengancamku?”
“Bagaimana menurutmu?” tanya Kirishima sambil tersenyum tipis.
Entah apa yang memicu Michiru, tetapi sepertinya perkataan Kirishima membuat Michiru lupa kalau aku masih berada di dekat Kirishima. Atau, Michiru hanya tidak peduli padaku karena ia kembali menyerang Kirishima dengan kekuatan sihirnya.
Entah harus merasa senang karena serangan dari Michiru berhasil ditahan oleh Kirishima, atau merasa kesal karena Kirishima tidak terluka. Apakah ini rasanya menjadi seorang sandera?
Serangan sihir dari Michiru kembali melesat ke arahku. Tetapi lagi-lagi Kirishima menahannya dengan mudah. Kali ini Michiru menyerang dengan kristal es, tubuhku langsung menggigil karena belum pernah merasakan sesuatu yang sedingin itu! Bahkan musim dingin terparah saja tidak pernah terasa sedingin ini!
Entah karena tahu aku yang merasa kedinginan atau memang karena dirinya juga merasa kedinginan, Kirishima mengembalikan serangan Michiru dengan bola api. Seketika suhu di sekitarku terasa panas. Tetap saja, ini terlalu panas jika hanya untuk menghilangkan rasa kedinginan itu! Menjadi seorang penyihir yang bertarung itu sangat merepotkan!
Michiru dan Kirishima terus membalas serangan satu sama lain tidak ada hentinya. Kepalaku mulai sangat pusing dan bernapas mulai sangat sulit.
“Oi kalian berdua hentikan!” sahutku kencang sambil berharap di dalam hati kalau penyihir yang gila-gilaan menyerang satu sama lain ini berhenti.
Yang sedikit membuatku terkejut, ternyata mereka berdua benar-benar berhenti. Sebelum kedua penyihir ini kembali menyerang satu sama lain, aku berkata, “Bisakah kalian meninggalkanku di suatu tempat dan bertarung sepuas hati setelahnya?”
Baik Michiru maupun Kirishima belum ada yang mau bergerak sedikit pun. Akhirnya aku kembali melanjutkan, “Jika diingat baik-baik, bukankah aku hanya seorang manusia biasa yang kebetulan tinggal di Jepang yang kebetulan menjadi tempat benda terkutuk itu berada yang kebetulan mengenal kalian berdua dari kejadian itu, ‘kan?”
Kirishima terkekeh pelan. “Terkadang aku bingung dengan logikamu itu, Akari.”
‘Permisi! Harusnya aku yang mengatakan hal itu tepat di wajahmu!’ batinku.
Michiru kembali mengulurkan tangannya. “Ini yang terakhir kalinya, Kirishima. Bebaskan Akari sekarang juga sebelum kau menyesalinya,” kata Michiru pelan.
Kirishima tersenyum tipis kemudian berkata, “Baiklah. Tapi lakukan dengan usahamu sendiri.” Setelah mengatakan hal itu, tubuhku langsung terdorong ke depan.
Sedikit terkejut dengan apa yang terjadi, sebelah kakiku yang berada di atas Flying Gear milik Kirishima kehilangan pijakannya. Sedetik kemudian, aku hanya bisa mendengar deru angin yang bertiup di kedua telingaku, dan melihat wajah Kirishima yang penuh senyuman serta wajah Michiru yang terlihat sangat panik dan pucat mulai menjauh.